Bunyi kunci yang berputar terasa seperti deklarasi kekuasaan yang mutlak di telingaku. Di ruangan yang sempit ini, dengan bau obat yang masih menggantung, aku baru saja menciptakan ruang privasi pertamaku. Shinta berdiri mematung di dekat pintu, tangannya masih memegang gagang besi itu, napasnya memburu hingga seragam putihnya naik-turun dengan ritme yang tidak beraturan.
1395Please respect copyright.PENANAnRkaxvxuT4
"Mas... kalau ada dokter yang lewat dan coba buka pintu, saya bisa kena sanksi," bisiknya, suaranya mengandung campuran antara ketakutan dan antisipasi yang aneh.
1395Please respect copyright.PENANAjRl23EyEtx
Aku memperhatikan statusnya yang berpendar di kegelapan bangsal.
1395Please respect copyright.PENANApM8PYDRI0L
[Analisis Target: Shinta Rahayu]
Kepatuhan: 70/100
Gairah: 42/100
Poin Tersedia: 10
1395Please respect copyright.PENANAXEShNyySdR
Angka Gairah-nya merangkak naik hanya karena suasana tegang ini. Aku merasa seperti seorang konduktor yang sedang mengatur simfoni hasrat manusia. Sepuluh poin yang baru kudapatkan berdenyut di benakku, memintaku untuk segera membelanjakannya.
1395Please respect copyright.PENANAcGqL7Ql5UG
"Mendekatlah, Shinta," perintahku pelan namun tegas.
1395Please respect copyright.PENANAStZazdVnpm
Dia ragu sejenak, tapi kakinya bergerak seolah memiliki kemauan sendiri. Dia berjalan perlahan menuju sisi ranjangku. Cahaya bulan yang menembus celah gorden memberikan garis perak pada lekuk tubuhnya.
1395Please respect copyright.PENANA9FgzTA075f
"Duduk di sini," kataku sambil menepuk sisi kasur.
1395Please respect copyright.PENANAlLPJkEQg5t
Shinta menurut. Saat dia duduk, ranjang rumah sakit yang kaku itu sedikit amblas di bawah beban tubuhnya yang mungil namun berisi. Jarak kami sekarang begitu dekat hingga aku bisa merasakan panas yang memancar dari kulitnya.
1395Please respect copyright.PENANAjFYuONHaQd
"Kamu bilang akan menjagaku, kan?" tanyaku, tanganku perlahan meraih dagunya, memaksanya untuk menatap mataku secara langsung.
1395Please respect copyright.PENANAhAK4R2sUHZ
"I-iya, Mas," jawabnya terbata.
1395Please respect copyright.PENANA8a37LQSsPg
Gunakan 5 Poin untuk meningkatkan Kepatuhan Shinta Rahayu, perintahku dalam hati.
1395Please respect copyright.PENANArUJOSnLguL
[Sistem Mengonfirmasi...]
Target: Shinta Rahayu
Kepatuhan: 70 -> 75
Sisa Poin: 5
1395Please respect copyright.PENANAsyMNNQQuMY
Seketika, sorot mata Shinta berubah. Ketakutan yang tadi sempat menghiasi pupilnya kini melebur menjadi sesuatu yang lebih gelap, lebih dalam. Dia tidak lagi terlihat seperti perawat yang sedang melanggar aturan, tapi seperti seorang abdi yang sedang menunggu perintah tuannya.
1395Please respect copyright.PENANAqRLTAXzvw1
"Lepas ikat rambutmu," bisikku.
1395Please respect copyright.PENANAkFCAKpSqmV
Tanpa membantah, Shinta mengangkat tangannya. Karet rambut hitam itu ditariknya lepas, membiarkan rambut hitamnya yang sebahu jatuh berantakan, membingkai wajahnya yang kini terlihat sangat pasrah. Aura profesionalnya runtuh seketika, menyisakan seorang wanita yang sepenuhnya berada di bawah kendaliku.
1395Please respect copyright.PENANAHZHaeRwZeu
"Mas Erlan... apa yang sebenarnya terjadi sama saya?" gumamnya, suaranya terdengar seperti orang yang sedang bermimpi. "Rasanya... saya tidak bisa bilang 'tidak' pada Mas."
1395Please respect copyright.PENANAyesr4iqN7A
Aku tersenyum, ujung jariku membelai bibir bawahnya yang lembap. "Itu karena kamu tahu, di ruangan ini, akulah satu-satunya otoritas yang perlu kamu dengar. Dokter-dokter itu? Mereka hanya mengobati fisikmu. Tapi aku... aku bisa mengabulkan apa yang paling diinginkan oleh batinmu."
1395Please respect copyright.PENANARHN84T83h6
Aku bisa melihat angka Gairah-nya melonjak ke angka 50. Ambang batas yang menarik.
1395Please respect copyright.PENANARWzZFxpxVH
Pintu tiba-tiba diketuk dari luar. Shinta tersentak hebat, hampir melompat dari ranjang, tapi aku menahan pinggangnya dengan kuat.
1395Please respect copyright.PENANAWDMakVK6m3
"Suster Shinta? Kamu di dalam?" suara dr. Vania terdengar dari balik pintu. "Kenapa pintunya dikunci? Saya perlu memeriksa grafik saturasi pasien Erlan."
1395Please respect copyright.PENANA5DeoQYXetZ
Shinta menatapku dengan mata lebar yang penuh kepanikan. Logikanya yang tersisa mencoba mengambil alih. "Mas... dr. Vania! Saya harus buka!"
1395Please respect copyright.PENANAB4VXZNARcU
Aku tetap tenang. Di atas kepala Shinta, statusnya berkedip-kedip antara Kepatuhan dan Panik.
1395Please respect copyright.PENANANJShk1YSDp
"Jangan bersuara," perintahku dingin. "Biarkan dia berpikir kamu sedang sibuk atau sedang di kamar mandi."
1395Please respect copyright.PENANAMgTiUhg2f7
"Tapi Mas....."
1395Please respect copyright.PENANAck9ykoGMJ2
Aku menariknya lebih dekat, hingga wajahnya terbenam di ceruk leherku. Aku bisa merasakan napasnya yang panas dan gemetar menyapu kulitku. "Diam, Shinta. Itu perintah."
1395Please respect copyright.PENANAsMClkinKh4
Kepatuhan 75 menang telak. Shinta menutup matanya rapat-rapat, menggigit bibirnya sendiri untuk menahan suara napasnya yang memburu. Kami terdiam dalam keheningan yang menyesakkan, hanya suara detak jantung kami yang saling berpacu yang terdengar.
1395Please respect copyright.PENANANZgF6aeMIY
Di luar, gagang pintu dicoba diputar beberapa kali.
1395Please respect copyright.PENANAPYUFgGyFXb
"Shinta? Aneh sekali," gumam Vania. Aku bisa membayangkan wajah cantiknya yang berkerut karena curiga.
1395Please respect copyright.PENANAYIZWhNh05M
Aku melihat ke arah pintu, membayangkan status Vania yang dingin tadi. Kepatuhan: 15. Dia adalah tantangan sesungguhnya. Wanita sehebat dia tidak akan bisa ditaklukkan hanya dengan beberapa poin kecil. Aku butuh strategi. Aku butuh dia meragukan logikanya sendiri.
1395Please respect copyright.PENANAhkH4Krr700
Setelah beberapa saat yang terasa seperti selamanya, suara langkah kaki Vania menjauh.
1395Please respect copyright.PENANAaEgvAEMm6F
Shinta menghembuskan napas lega yang panjang, tubuhnya mendadak lemas dan bersandar sepenuhnya padaku. Keringat dingin membasahi pelipisnya.
1395Please respect copyright.PENANAKiC0Frdf4T
"Dia sudah pergi," bisikku sambil membelai punggungnya. "Lihat? Tidak terjadi apa-apa selama kamu menuruti perintahku."
1395Please respect copyright.PENANA9uGRDafGe9
Shinta mendongak, matanya berkaca-kaca. Ada sesuatu yang patah di dalam dirinya, tapi ada juga sesuatu yang baru yang sedang tumbuh. "Mas Erlan jahat... tapi kenapa saya malah merasa... senang?"
1395Please respect copyright.PENANAhkNKjiJrVe
[Pemberitahuan Sistem]
Gairah Shinta Rahayu: 50 -> 58
Mood: Teradiksi, Tunduk.
Poin Otoritas yang didapat dari stimulasi emosional: +2 Poin.
1395Please respect copyright.PENANALXoCENRUnu
Aku tertawa kecil. Ternyata membangkang otoritas lain bersamaku bisa menghasilkan poin tambahan. Ini adalah informasi yang sangat berharga.
1395Please respect copyright.PENANAXNb59RY13D
"Besok pagi, aku ingin kamu membawakan daftar pasien yang ada di lantai ini. Terutama yang memiliki pengaruh atau kekayaan," kataku sambil menatap matanya dalam-dalam. "Dan Shinta... pastikan dr. Vania sering mampir ke ruangan ini. Aku ingin bermain dengannya sedikit lebih lama."
1395Please respect copyright.PENANA8SgrMLa1Nl
Shinta mengangguk pelan, wajahnya masih memerah. "Iya, Mas. Apa pun yang Mas minta."
1395Please respect copyright.PENANAk8NbuIMSBN
Matahari pagi mulai menyelinap masuk melalui celah gorden, membelah kegelapan bangsal dengan cahaya yang tajam. Shinta sudah lama pergi dia harus menyelesaikan laporan shift-nya dengan wajah yang masih sedikit sembab dan bibir yang terlihat lebih ranum dari biasanya.
1395Please respect copyright.PENANAoqPnOiaMFm
Aku masih bersandar di ranjang, merasakan sensasi asing di balik kelopak mataku. Angka-angka itu kini terasa lebih hidup, lebih haus.
1395Please respect copyright.PENANAO76v2FsloH
Status Pribadi, bisikku dalam hati.
1395Please respect copyright.PENANAmuSk0qGbtH
[Status Erlan]
Level Otoritas: 2
Poin Otoritas: 5
Daya Tarik: 65/100
Kekuatan Mental: 70/100
Skill Aktif: Mata Analisis (Lvl. 2), Sugesti Suara (Lvl. 1)
1395Please respect copyright.PENANA5eqI089kzp
Lima poin. Cukup untuk membuat kerusakan kecil, atau investasi besar.
1395Please respect copyright.PENANA271iF2WlP3
Pintu kamar terbuka. Bukan Shinta yang masuk, melainkan dr. Vania. Dia mengenakan jas dokter yang baru disetrika rapi, tapi ada bayangan gelap di bawah matanya. Sepertinya kejadian semalam pintu yang terkunci dan keheningan yang mencurigakan telah mengganggu tidurnya.
1395Please respect copyright.PENANAciuy4CnWuS
"Selamat pagi, Erlan," suaranya sedingin es pagi ini. Dia tidak membawa papan catatan medis, melainkan sebuah tablet digital.
1395Please respect copyright.PENANAb7gvvQIPgn
"Pagi, Dok. Tidur nyenyak?" tanyaku, sengaja memasang senyum tipis yang penuh teka-teki.
1395Please respect copyright.PENANAHq1e4P3G5z
Vania berhenti di kaki ranjang. Dia menatapku tajam dari balik kacamatanya.
1395Please respect copyright.PENANApBGkHCeFf8
[Analisis Target: Vania Clarissa]
Logika: 92/100
Kepatuhan: 15/100
Gairah: 10/100
Mood: Curiga, Tegang.
1395Please respect copyright.PENANAlUnyd0oYrX
"Saya memeriksa rekaman akses semalam. Shinta tidak keluar dari ruangan ini selama hampir satu jam saat pintu terkunci. Apa yang kalian lakukan?" tanyanya lugas. Tidak ada basa-basi. Inilah dr. Vania yang sebenarnya seorang perfeksionis yang tidak suka ada variabel yang tidak ia ketahui.
1395Please respect copyright.PENANADuC3tRIMkU
Aku memajukan tubuhku sedikit, membiarkan selimut merosot hingga ke pinggang, memamerkan dada yang masih diperban namun memberikan kesan maskulin yang mentah. "Shinta hanya menjalankan tugasnya, Dok. Menenangkan pasien yang sedang ketakutan karena ancaman orang asing. Bukankah itu bagian dari perawatan?"
1395Please respect copyright.PENANA6IeZazCnJq
Vania mendengus kecil. "Mengunci pintu bukan bagian dari SOP."
1395Please respect copyright.PENANApJjyaJQCGI
"Lalu, apa yang membuat Dokter begitu terganggu?" aku merendahkan suaraku, menggunakan Sugesti Suara yang baru saja kudapatkan. "Apakah karena Shinta yang di sini, atau karena Dokter merasa... kehilangan kontrol atas apa yang terjadi di ruangan ini?"
1395Please respect copyright.PENANANtdavWOZxQ
Vania terdiam sejenak. Angka Logika-nya sedikit bergetar, turun menjadi 90. Dia merasa tertantang secara intelektual, dan itu adalah celah pertamanya.
1395Please respect copyright.PENANAaHNvfbBMEB
"Jangan mencoba mempermainkan saya, Erlan. Saya bukan perawat muda yang mudah terpesona dengan kata-kata manis," katanya sambil mendekat untuk memeriksa monitor di samping ranjangku.
1395Please respect copyright.PENANAx7Uer11s8c
Saat tangannya bergerak di dekat wajahku, aku bisa mencium aroma sabun mewahnya lagi.
1395Please respect copyright.PENANA70hufeW8ZP
Gunakan 5 Poin untuk menurunkan Logika Vania Clarissa, perintahku secara impulsif. Aku ingin melihat apa yang terjadi jika benteng pertahanannya mulai retak.
1395Please respect copyright.PENANAQB97z6fJaI
[Sistem Memproses...]
Efek Dark Romance Aktif: Memanipulasi Rasionalitas Target. Vania Clarissa - Logika: 90 -> 85
1395Please respect copyright.PENANAXlAufbVrsk
Vania tiba-tiba goyah. Dia memegang pinggiran ranjang untuk menyeimbangkan diri. Matanya yang biasanya fokus kini sedikit berkabut.
1395Please respect copyright.PENANAFdsrMTFv9Z
"Dok? Anda tidak apa-apa?" tanyaku dengan nada yang terdengar sangat prihatin, padahal aku sedang menikmati setiap detik kehancuran kecilnya.
1395Please respect copyright.PENANAFBtSjSGtD7
"Saya... saya hanya sedikit pusing. Kurang tidur," gumamnya. Dia mencoba kembali ke sikap profesionalnya, tapi saat matanya bertemu dengan mataku, ada percikan gairah yang tidak seharusnya ada di sana.
1395Please respect copyright.PENANAieOaUHUi2m
Gairah: 10 -> 18.
1395Please respect copyright.PENANAEm9hBcNKel
"Mungkin Dokter butuh istirahat. Atau mungkin... Dokter butuh seseorang untuk melepaskan beban itu," aku meraih tangannya. Kulitnya terasa sangat halus, namun dingin karena AC rumah sakit.
1395Please respect copyright.PENANAMC2v5YNsWJ
Vania seharusnya menarik tangannya. Secara logika, seorang dokter spesialis bedah tidak akan membiarkan pasiennya memegang tangannya seperti ini. Tapi logikanya yang sudah ku-down grade membuatnya ragu. Dia membiarkan jemariku membelai telapak tangannya, menelusuri garis-garis halus di sana.
1395Please respect copyright.PENANARgQgOHWrD4
"Lepaskan, Erlan..." bisiknya, tapi tidak ada kekuatan dalam perintahnya.
1395Please respect copyright.PENANAa9SR1BmuWH
"Kenapa? Dokter takut menyukai sentuhan ini?" aku menarik tangannya lebih dekat ke bibirku, mencium punggung tangannya dengan lembut namun penuh tekanan.
1395Please respect copyright.PENANAeXgPjyUPih
Napas Vania memburu. Dia menatap ke arah pintu, takut ada staf lain yang masuk. Posisi ini sangat berbahaya baginya bagi kariernya, bagi harga dirinya. Namun, kegelapan di dalam dirinya seolah-olah mulai menyambut otoritas yang kutawarkan.
1395Please respect copyright.PENANA4u3QT91zHj
"Kamu... kamu adalah pasien yang sangat berbahaya," desisnya, tapi dia tidak bergerak menjauh.
1395Please respect copyright.PENANAcscHM1iU6v
Aku menatap statusnya sekali lagi. Ini baru permulaan dari Dark Romance yang akan kujalin dengannya. Vania bukan seperti Shinta yang bisa kutaklukkan dengan cepat. Dia adalah mangsa yang harus dikejar perlahan, dihancurkan logikanya sedikit demi sedikit, sampai dia sendiri yang memohon untuk menjadi milikku.
1395Please respect copyright.PENANAoiBHG1u0hC
"Bahaya adalah bagian dari evolusi, Dok," bisikku. "Dan Dokter baru saja masuk ke dalam kandangnya."
1395Please respect copyright.PENANAXTgzYa7d4u
Vania masih mematung, jemarinya yang dingin kini terperangkap dalam genggamanku. Aku bisa melihat konflik batin yang hebat berkecamuk di balik kacamata berbingkai tipis itu. Logikanya yang tinggi adalah benteng yang kokoh, namun aku sudah mulai mengikis fondasinya.
1395Please respect copyright.PENANAhF46cRvuiV
[Pemberitahuan Status]
Target: Vania Clarissa
Logika: 85/100
Gairah: 18/100
1395Please respect copyright.PENANABQNPTYBCW1
"Lepaskan, Erlan..." suaranya terdengar lebih seperti bisikan putus asa daripada sebuah perintah medis.
1395Please respect copyright.PENANAwqmd58cGdM
"Kenapa, Dok? Apakah detak jantung Dokter sedang mengkhianati kata-kata itu?" tanyaku dengan nada yang lebih dalam, hampir seperti geraman rendah.
1395Please respect copyright.PENANAI0Af80kjkG
Aku tidak melepaskannya. Sebaliknya, aku menarik tangannya perlahan menuju dadaku, tepat di atas jantungku yang berdetak kuat. Aku membiarkan dia merasakan ritme kehidupan yang seharusnya sudah hilang dalam kecelakaan itu. Kontak kulit ke kulit ini memicu desiran panas yang kurasakan menjalar hingga ke tulang belakangku.
1395Please respect copyright.PENANARUOyhAtarP
Vania menarik napas tajam. Matanya membelalak, bukan karena marah, tapi karena sensasi yang asing baginya. Sebagai seorang dokter spesialis bedah, dia terbiasa dengan tubuh manusia sebagai objek anatomi. Namun sekarang, dia dipaksa merasakan tubuhku sebagai sesuatu yang jauh lebih intim dan berbahaya.
1395Please respect copyright.PENANA0YkezJNQDk
"Kamu... kamu tidak tahu apa yang kamu lakukan," desisnya. "Ini pelecehan terhadap staf medis. Saya bisa melaporkanmu."
1395Please respect copyright.PENANACDMPLKF0O3
"Silakan, Dok. Tapi sebelum itu, coba tanya pada diri Dokter sendiri..." aku sedikit bangkit dari bantal, memperpendek jarak di antara wajah kami hingga aku bisa mencium aroma mint dari napasnya yang tertahan. "...kenapa Dokter tidak berteriak? Kenapa tangan Dokter justru bergetar karena... ingin?"
1395Please respect copyright.PENANAu03kFChMvJ
[Pemberitahuan Sistem]
Interaksi Dark Romance Terdeteksi.
Gairah Vania Clarissa: 18 -> 22
Mood: Terprovokasi, Konflik Internal.
1395Please respect copyright.PENANAvSrJNpQ07b
Vania menelan ludah. Lidahnya membasahi bibirnya yang kering, sebuah tanda bawah sadar bahwa pertahanannya sedang di ambang kehancuran. Logikanya yang tadinya di angka 85 kini tampak goyah, seolah siap untuk runtuh kapan saja jika aku memberikan dorongan sedikit lagi.
1395Please respect copyright.PENANAEfsPDuFRWh
"Saya harus pergi," katanya tiba-tiba, menyentak tangannya lepas dari genggamanku dengan tenaga yang tersisa.
1395Please respect copyright.PENANATuoVjASzNN
Dia berbalik dengan cepat, mencoba merapikan jas dokternya yang sebenarnya tidak berantakan. Namun, gerakannya kikuk. Tablet digital di tangannya hampir saja terjatuh jika dia tidak segera menangkapnya.
1395Please respect copyright.PENANAXRcpkv5mPH
"Dokter Vania," panggilku sebelum dia mencapai pintu.
1395Please respect copyright.PENANAuFNOBlywSz
Dia berhenti, tapi tidak berani menoleh. Punggungnya tampak tegang, garis bahunya yang kaku menunjukkan betapa kerasnya dia mencoba mempertahankan martabatnya.
1395Please respect copyright.PENANAReO1dmF6aI
"Sore nanti, aku ingin hasil pemeriksaan lengkapku. Dan aku ingin Dokter sendiri yang mengantarkannya. Tanpa perawat lain. Tanpa gangguan."
1395Please respect copyright.PENANAO4m3eMkLv1
Vania terdiam sejenak. Aku bisa melihat statusnya berkedip-kedip dari belakang. Kepatuhan: 15. Angka itu terlalu rendah untuk membuatnya menuruti perintahku secara sukarela. Tapi, di sinilah letak permainannya.
1395Please respect copyright.PENANAmCfuthEdEe
"Kita lihat saja nanti," jawabnya singkat, suaranya kembali datar sebelum dia melangkah keluar dan menutup pintu dengan sedikit lebih keras dari biasanya.
1395Please respect copyright.PENANAUBpKMbSami
Aku menyeringai puas. Poin otoritas-ku masih tersisa 5. Aku sengaja menyimpannya. Aku ingin melihat seberapa jauh rasa penasaran Vania akan membawanya kembali ke ruangan ini tanpa perlu kupaksa sepenuhnya dengan sistem. Ada kepuasan tersendiri melihat wanita sombong sepertinya mulai meragukan kewarasannya sendiri.
1395Please respect copyright.PENANADPHcPsMKa0
Tiba-tiba, ponsel rumah sakit yang ada di nakas bergetar. Sebuah pesan masuk dari Shinta.
1395Please respect copyright.PENANA20CFPC3s9i
“Mas, aku sudah dapat daftar pasien VVIP di lantai ini. Ada satu nama yang menarik: Maria Adeline. Istri dari pengusaha properti yang sedang koma di kamar 501. Dia terlihat sangat tertekan... dan sangat cantik.”
1395Please respect copyright.PENANAalP2LjK73a
Aku mematikan layar ponsel itu. Poin otoritas 5 yang tersisa mulai terasa panas di benakku. Target baru, potensi baru.
1395Please respect copyright.PENANAmUeqpC7mRz
Pesan dari Shinta masih menyisakan getaran kecil di tanganku. Maria Adeline. Nama itu terdengar seperti simfoni yang elegan namun rapuh. Aku membayangkan seorang wanita kaya yang dunianya sedang runtuh, berdiri di samping ranjang suaminya yang sekarat, mencari pegangan yang tidak pernah ada.
1395Please respect copyright.PENANAtaW1vmqAnE
Aku mencoba turun dari ranjang. Rasa nyeri di dadaku masih ada, tapi sensasi kekuatan dari Sistem Otoritas seolah-olah bertindak sebagai anestesi alami. Aku berjalan menuju koridor VVIP, memanfaatkan situasi saat para staf sedang sibuk dengan pergantian shift. Kamar 501 adalah tujuanku kelas VVIP dengan pintu kayu jati yang tebal.
1395Please respect copyright.PENANAY9qScuWz9g
Tepat saat aku mendekat, pintu itu terbuka. Seorang wanita keluar dengan langkah yang gemulai namun lesu. Dia mengenakan gaun sutra hitam yang melekat sempurna di tubuhnya, menunjukkan lekukan yang sangat dewasa dan berkelas. Matanya sembap, namun kecantikannya justru terlihat lebih provokatif dalam kesedihan itu.
1395Please respect copyright.PENANAiLeNMFXnqy
[Analisis Target: Maria Adeline]
1395Please respect copyright.PENANAud0oUpYPp0
Status:
Logika: 60/100 (Menurun karena Depresi)
Kepatuhan: 40/100
Gairah: 5/100
Mood: Hampa, Putus Asa.
1395Please respect copyright.PENANA4u5ogXviDk
Logikanya sudah rendah secara alami. Ini adalah momen yang tepat untuk memasang jerat. Dia hampir menabrakku karena dia berjalan sambil menunduk.
1395Please respect copyright.PENANAyr6r08rPfV
"Maaf... saya tidak melihat Anda," suaranya serak, namun memiliki nada yang sangat sensual di telingaku.
1395Please respect copyright.PENANAgOXaoDxS2k
Aku sengaja tidak menghindar. Tanganku meraih lengannya yang halus, menahannya agar tetap berdiri tegak. Kontak kulit ini terasa dingin, namun segera memanas saat aku menatap matanya dalam-dalam. "Anda terlihat seperti butuh sandaran, bukan sekadar permintaan maaf, Nyonya Adeline."
1395Please respect copyright.PENANAautvX6xvV8
Dia tersentak saat aku menyebut namanya. Dia mendongak, menatapku dengan mata yang basah. "Anda... siapa? Staf rumah sakit?"
1395Please respect copyright.PENANAW2dmBGLRku
"Aku adalah seseorang yang bisa melihat apa yang sebenarnya Anda butuhkan di balik gaun hitam ini," bisikku, melangkah lebih dekat hingga aroma parfum floral yang berat memenuhi indra penciumanku.
1395Please respect copyright.PENANAmfrZUEbXfe
[Pemberitahuan Sistem]
Target: Maria Adeline
Gairah: 5 -> 25
1395Please respect copyright.PENANA4BQDuC8SNS
Seketika, napas Maria tertahan. Rasa hampa yang tadi terpancar dari wajahnya tersapu oleh gelombang panas yang mendadak menyerang sistem sarafnya. Pupil matanya melebar, dan dia menatapku seolah aku adalah satu-satunya oksigen di koridor yang menyesakkan ini.
1395Please respect copyright.PENANAI6VfdfKL6Z
"Anda lancang sekali," katanya, tapi suaranya bergetar hebat. Jari-jarinya yang mengenakan cincin berlian besar itu justru meremas kain pakaian rumah sakitku, menarikku sedikit lebih dekat tanpa dia sadari.
1395Please respect copyright.PENANAxs23BPXKAm
"Lancang atau jujur? Anda sendirian di sini, meratapi pria yang mungkin tidak akan pernah bangun lagi. Tidakkah Anda ingin merasakan bahwa Anda masih hidup? Bahwa Anda masih diinginkan?"
1395Please respect copyright.PENANArWn2Odh4ve
Aku bisa melihat angka Kepatuhan-nya perlahan merayap naik karena pengaruh gairah yang melonjak. Kesedihan adalah pintu masuk terbaik bagi obsesi yang gelap, dan aku baru saja membukanya lebar-lebar.
1395Please respect copyright.PENANAIwBBrSom4H
"Datanglah ke kamarku, 4B, saat Anda merasa kesepian ini sudah tidak tertahankan lagi," bisikku tepat di telinganya, membiarkan uap napasku menyentuh kulit lehernya.
1395Please respect copyright.PENANA5WpMuNvczN
Aku melepaskan peganganku dan berbalik tanpa menunggu jawabannya. Aku tahu dia masih berdiri mematung di sana, menatap punggungku dengan kebingungan yang bercampur dengan hasrat yang baru saja kupaksakan tumbuh di rahim emosinya.
1395Please respect copyright.PENANAOvDvETxBGE
Aku kembali ke kamarku dan menutup pintu. Aku duduk di tepi ranjang, menatap layar sistem yang kini menunjukkan angka nol besar pada kolom poin. Kosong. Namun, aku tidak merasa lemah. Justru sebaliknya, aku merasa seperti pemburu yang baru saja menaruh umpan paling mematikan di dua tempat sekaligus.
1395Please respect copyright.PENANAs3tZ626qSw
Vania dengan logikanya yang mulai retak, dan Maria dengan gairahnya yang baru saja kubakar. Keduanya adalah kontras yang sempurna untuk eksperimen otoritas ini.
1395Please respect copyright.PENANAxpkWM7Ccp4
Aku merebahkan diri, memejamkan mata sambil membayangkan sore nanti. Saat Vania datang membawa hasil tesku, dia tidak akan menemukan pasien yang lemah, melainkan seorang predator yang siap menerkam satu-satunya hal yang ia banggakan: kendali dirinya.1395Please respect copyright.PENANA7bU64iITLZ


