Sore hari di rumah sakit selalu memiliki suasana yang ganjil. Cahaya matahari yang memudar menciptakan bayangan panjang di lantai koridor, sementara suara langkah kaki perawat terdengar lebih pelan, seolah-olah mereka tidak ingin membangunkan kesunyian yang mencekam.
1213Please respect copyright.PENANAPomCNb4j7O
Aku duduk di tepi ranjang, sengaja membiarkan kancing atas pakaian rumah sakitku terbuka. Aku sedang menunggu. Dan aku tahu, dia akan datang.
1213Please respect copyright.PENANAxrY1YBCc7V
Pintu terbuka tanpa ketukan yang keras. Dr. Vania melangkah masuk. Dia tidak lagi mengenakan jas putih panjangnya, hanya kemeja kerja berwarna biru pucat yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sangat pas, dipadukan dengan rok span hitam yang menonjolkan pinggulnya yang sintal.
1213Please respect copyright.PENANAkm2Zkhe3j4
[Analisis Target: Vania Clarissa]
Logika: 82/100 (Masih Tertekan)
Kepatuhan: 18/100
Gairah: 28/100 (Meningkat Secara Alami)
Mood: Gelisah, Terobsesi.
1213Please respect copyright.PENANAg62td4wwrh
"Ini hasil pemeriksaanmu," katanya dengan suara yang mencoba tetap datar, namun matanya tidak bisa berbohong. Dia tidak melihat ke arah tablet di tangannya; dia melihat ke arah dadaku.
1213Please respect copyright.PENANALB2zBVIFHk
"Hanya itu, Dok? Tidak ada penjelasan medis yang lebih... mendalam?" tanyaku sambil berdiri perlahan.
1213Please respect copyright.PENANARh3CQotXrq
Vania mundur satu langkah saat aku mendekat. "Secara fisik, kamu sudah pulih dengan sangat cepat. Hampir tidak masuk akal. Besok kamu sudah bisa pulang."
1213Please respect copyright.PENANAq82CxFsIYV
"Tapi bagaimana dengan mental saya, Dok? Rasanya ada sesuatu yang bergejolak di sini," aku meraih tangannya yang memegang tablet, menariknya perlahan hingga tablet itu terlepas dan jatuh ke atas kasur.
1213Please respect copyright.PENANAbhnRmrURtP
Vania bernapas dengan pendek. "Erlan, ini salah. Aku adalah doktermu"
1213Please respect copyright.PENANA7VCWTomlWU
"Dan aku adalah otoritasmu saat ini," bisikku tepat di depan wajahnya. Aku bisa melihat pupil matanya melebar, mencerminkan angka Gairah-nya yang melonjak ke 35.
1213Please respect copyright.PENANA8REtBVE0d8
Aku tidak punya poin, tapi aku punya pengaruh yang sudah kutanamkan sebelumnya. Aku menarik pinggangnya dengan kasar, menekan tubuhnya yang ramping ke arahku. Vania tersentak, tangannya sempat mendorong bahuku, namun sentuhan itu segera berubah menjadi remasan pada kain bajuku.
1213Please respect copyright.PENANA9GVnZKFGdZ
"Kamu... kamu menggunakan sesuatu padaku," desisnya, suaranya parau. "Aku tidak bisa berpikir jernih."
1213Please respect copyright.PENANAuyOHOgyzQK
"Jangan berpikir, Vania. Rasakan saja," aku membungkam bibirnya dengan ciuman yang menuntut.
1213Please respect copyright.PENANALoQreTuR2G
Awalnya dia kaku, sebuah perlawanan terakhir dari logikanya yang tinggi. Namun, saat lidahku menyapu bibirnya, pertahanannya runtuh. Dia membalas ciumanku dengan lapar, seolah-olah dia telah menahan dahaga ini selama bertahun-tahun. Tangannya merayap ke belakang kepalaku, menarik rambutku untuk memperdalam kontak kami.
1213Please respect copyright.PENANAe874O1RRhZ
[Pemberitahuan Sistem]
Stimulasi Fisik Intensif Terdeteksi.
Vania Clarissa - Gairah: 45... 55... 65!
Poin Otoritas yang didapat: +5 Poin.
1213Please respect copyright.PENANADKhZRvYkgt
Aku menyeringai di tengah ciuman kami. Poin yang kubutuhkan akhirnya mengalir kembali.
1213Please respect copyright.PENANA8CHxSByMnV
Vania mengerang pelan, tubuhnya mendadak lemas di pelukanku. Ia tidak lagi peduli pada etika medis atau harga dirinya yang selama ini ia jaga dengan ketat. Tangannya yang gemetar mulai membuka kancing pakaian rumah sakitku dengan terburu-buru, memperlihatkan kulitku yang kian memanas karena kehadirannya.
1213Please respect copyright.PENANAht6iVo4gLT
Aku mengangkatnya, mendudukkannya di atas meja periksa yang dingin di sudut ruangan. Vania menarik napas tajam saat kulit pahanya yang mulus bersentuhan dengan permukaan meja yang keras, namun ia segera melingkarkan kakinya yang jenjang di pinggangku, menarikku lebih dalam ke dalam dekapan posesifnya.
1213Please respect copyright.PENANAohlnE6R0a1
"Buat aku lupa siapa aku, Erlan..." bisiknya di sela-sela napas yang memburu.
1213Please respect copyright.PENANArC5NksjiZq
Aku menelusuri lehernya dengan bibirku, meninggalkan tanda kemerahan di kulitnya yang putih susu. Tanganku merayap masuk ke bawah kemejanya, merasakan detak jantungnya yang berpacu liar. Di atas kepalanya, angka Gairah kini menyentuh 80, sementara Kepatuhan-nya melonjak drastis karena pengaruh fisik yang intens.
1213Please respect copyright.PENANA4b3v9V4y85
Gunakan 5 Poin untuk menurunkan Logika Vania Clarissa!
1213Please respect copyright.PENANAf79yyByTEq
[Sistem Mengeksekusi...]
Vania Clarissa - Logika: 82 -> 77
Mood: Terdistraksi, Kewalahan secara Sensual.
1213Please respect copyright.PENANA48gDscHPu2
Meski penurunannya terlihat kecil secara angka, dampaknya pada mental Vania sangat terasa. Di angka 77, ia mulai kehilangan kemampuan untuk memproses konsekuensi dari tindakannya. Prinsip medisnya masih ada, namun ia memilih untuk mengabaikannya demi sensasi yang sedang membakar syarafnya.
1213Please respect copyright.PENANAPBbmdyaGow
Tepat saat suasana semakin panas dan jemariku mulai menjelajahi bagian yang lebih intim di balik rok spannya, suara pintu bangsal diketuk dengan pelan. Bukan ketukan drastis, tapi ketukan yang ragu-ragu dan penuh harap.
1213Please respect copyright.PENANAtIHCP8jF0O
"Mas Erlan? Ini Maria... boleh saya masuk?"
1213Please respect copyright.PENANA1tl13ETVxy
Suara Maria Adeline dari balik pintu membuat Vania tersentak kecil, namun ia tidak melepaskan pelukannya. Matanya yang berkabut menatapku, seolah-olah ia sedang memohon agar aku tidak membiarkan siapa pun mengganggu momen penaklukan ini.
1213Please respect copyright.PENANADNJ7aZDlM4
Aku menatap pintu kayu itu, lalu kembali menatap Vania yang sedang berantakan di bawah kendaliku. Rambutnya yang rapi kini acak-acakkan, dan kacamata intelektualnya hampir merosot dari hidungnya yang mancung.
1213Please respect copyright.PENANATHBYkuDQtw
"Biarkan dia masuk," bisikku di depan bibir Vania.
1213Please respect copyright.PENANAU7ZQNuP9pc
"Erlan... jangan... ini gila," rintih Vania, namun tangannya justru semakin erat memeluk leherku.
1213Please respect copyright.PENANAAx0WJc0l4O
"Maria. Masuklah," seruku sedikit keras ke arah pintu.
1213Please respect copyright.PENANABwSy26ZnWN
Suara knop yang berputar dari luar menandakan bahwa Maria telah mengikuti instruksiku. Pintu terbuka perlahan, dan sosok Maria Adeline muncul dengan gaun hitamnya yang elegan. Ia terpaku di ambang pintu, matanya membelalak lebar melihat dr. Vania dokter spesialis yang paling disegani di rumah sakit ini sedang berada dalam posisi yang sangat tidak senonoh denganku.
1213Please respect copyright.PENANASvEAxamrs0
"Dokter Vania?" bisik Maria, suaranya bergetar antara syok dan rasa panas yang mulai menjalar di tubuhnya sendiri akibat pengaruh sistem yang kutanamkan tadi pagi.
1213Please respect copyright.PENANAKqBvkNyGdw
Maria Adeline berdiri mematung. Matanya beralih dari wajahku ke tungkai kaki dr. Vania yang masih melingkari pinggangku, lalu ke bibir Vania yang membengkak kemerahan. Suara klik dari kunci pintu bergema di ruangan yang sunyi itu, kecuali untuk suara napas Vania yang kini terdengar seperti lenguhan tertahan.
1213Please respect copyright.PENANAktXmb10yAD
"A-apa yang terjadi di sini?" Maria berbisik, namun kakinya melangkah maju seolah ditarik oleh benang tak terlihat.
1213Please respect copyright.PENANAe20kUYFbtC
Aku menoleh ke arah Maria dengan senyum predator. "Jangan hanya berdiri di sana, Maria. Bukankah kamu merasa kesepian?"
1213Please respect copyright.PENANAVGrTVVUxzg
Vania membuang muka karena malu, namun ia tidak turun dari meja periksa. Sebaliknya, ia justru semakin menenggelamkan wajahnya di pundakku, menyerahkan seluruh martabatnya pada otoritas yang aku pegang.
1213Please respect copyright.PENANA2VpTpF8Txe
[Status Terkini]
Maria Adeline - Gairah: 25 -> 32
Vania Clarissa - Gairah: 65 -> 72
Poin Otoritas: 0 (Aura Dominasi Aktif secara Pasif)
1213Please respect copyright.PENANA6z9D4P2XQ6
"Dokter Vania sedang membantuku... melakukan pemeriksaan khusus," kataku sambil meremas pinggul Vania lebih keras, membuatnya melepaskan desahan pendek yang lolos dari sela giginya.
1213Please respect copyright.PENANAxiQBVvmoRW
"Ahhh... Erlan, hentikan... ada orang lain..." rintih Vania, namun tubuhnya justru melengkung ke arahku, mencari kontak kulit yang lebih luas.
1213Please respect copyright.PENANAeCv22Jnjuk
Aku menoleh ke arah Maria yang kini berdiri hanya satu meter di samping meja periksa. Gaun hitamnya yang elegan tampak kontras dengan pencahayaan ruangan yang dingin. Aku bisa melihat dadanya naik-turun dengan cepat; pengaruh 5 poin yang kutanamkan tadi pagi sedang bekerja maksimal di tengah situasi yang provokatif ini.
1213Please respect copyright.PENANAZoWzwvhVTk
"Kemarilah, Maria," perintahku lagi.
1213Please respect copyright.PENANAPvCWY7nqpJ
Maria mendekat. Tangannya yang gemetar terulur, menyentuh bahu Vania yang terbuka karena kemejanya sudah berantakan. Vania tersentak, namun bukannya menghindar, ia justru menyandarkan kepalanya pada tangan Maria. Dua wanita dari kelas sosial yang berbeda ini kini berada dalam satu frekuensi yang sama frekuensi yang aku ciptakan.
1213Please respect copyright.PENANAl8dlWxQdGG
"Begitu panas..." Maria bergumam, matanya mulai berkabut oleh gairah yang tidak masuk akal. "Kenapa aku merasa... sangat menginginkan ini?"
1213Please respect copyright.PENANAybCmWVMCJq
Aku melepaskan ciumanku dari leher Vania dan beralih ke telinga Maria. "Karena kamu bosan menjadi istri yang berduka, Maria. Kamu ingin merasa hidup kembali, dan Vania... dia butuh seseorang untuk mematahkan keangkuhannya."
1213Please respect copyright.PENANAz3kxR2FLS4
"E-erlan... hhh... kumohon," Vania mendesah, suaranya pecah menjadi lenguhan yang semakin tak terkendali saat tanganku mulai menyelinap ke balik pakaian dalamnya. "Jangan... jangan di depan dia..."
1213Please respect copyright.PENANAeM847NcPYo
"Kenapa tidak?" sahutku, menatap Vania dengan pandangan predator. "Biarkan dia melihat bagaimana dokter bedah terbaik di rumah sakit ini menyerah pada tubuh pasiennya."
1213Please respect copyright.PENANARuaAACKjTP
Logika Vania di angka 77 masih mencoba memberikan perlawanan kecil, tapi Gairah yang kini menyentuh 80 menenggelamkan segalanya. Ia menarik kepala Maria ke bawah, dan secara mengejutkan, Vania-lah yang memulai kontak bibir dengan Maria. Sebuah pemandangan yang membuat darahku berdesir hebat.
1213Please respect copyright.PENANAyf7PcSISDx
Desahan dan lenguhan kini memenuhi ruangan steril itu. Bau antiseptik kalah telak oleh aroma gairah yang pekat campuran parfum mahal Maria dan wangi tubuh Vania yang mulai berkeringat.
1213Please respect copyright.PENANANwl8iNxY6H
"Hnnngghh..." Maria melenguh panjang saat aku menariknya masuk ke dalam pelukan kami, tanganku yang bebas kini menjelajahi lekuk tubuhnya yang matang di balik gaun sutranya.
1213Please respect copyright.PENANAPU4izFhBtO
Dunia di luar sana mungkin sedang sibuk dengan rutinitas medis, tapi di dalam kamar 4B, aku baru saja menyalakan api yang tidak akan pernah bisa mereka padamkan. Dua wanita yang tadinya tidak terjangkau, kini hanya menjadi kumpulan data yang merintih di bawah otoritas-ku.
1213Please respect copyright.PENANAgzHyOa8OFT
"Kalian berdua milikku malam ini," bisikku di tengah desahan mereka yang bersahut-sahutan.
1213Please respect copyright.PENANAt1uo9oYhaK
Suasana di dalam kamar 4B telah berubah menjadi medan pertempuran hasrat yang kental. Cahaya senja yang menembus celah gorden memberikan rona jingga pada kulit putih Vania dan gaun hitam Maria yang kini mulai merosot dari bahunya.
1213Please respect copyright.PENANAAuWC7vPYhC
"Hnnngh... Erlan... ahhh..."
1213Please respect copyright.PENANAVDnj9Mg7vV
Vania mengerang panjang saat tanganku bekerja dengan ritme yang menuntut di balik rok spannya yang ketat. Dokter bedah yang biasanya memiliki tangan paling stabil di ruang operasi itu kini gemetar hebat. Kepalanya mendongak, memperlihatkan urat lehernya yang menegang saat ia mencoba menelan desahannya sendiri.
1213Please respect copyright.PENANAp2qdD9b22z
Maria Adeline tidak lagi berdiri di samping. Ia telah berlutut di lantai rumah sakit yang dingin, tangannya yang lentur meraba kancing celanaku dengan napas yang memburu. Statusnya berkedip-kedip tepat di depan mataku.
1213Please respect copyright.PENANAg5Bzf1OZ8Z
[Status Terkini]
Maria Adeline - Gairah: 32 -> 45
Vania Clarissa - Gairah: 72 -> 85
Mood: Estase, Kehilangan Batas.
1213Please respect copyright.PENANAI3PufLr7Qs
"Cepat, Maria..." bisikku, tanganku yang bebas menjambak pelan rambut Vania agar ia menatapku.
1213Please respect copyright.PENANA0ldTDnN21W
Vania menatapku dengan mata yang benar-benar berkabut. Logikanya yang berada di angka 77 tidak lagi berfungsi sebagai rem, melainkan hanya sebagai penonton yang lumpuh. "Erlan... kumohon... lakukan sesuatu... aku... aku akan gila jika kau tidak..."
1213Please respect copyright.PENANAocOyWMnJ6a
"Apa yang kau inginkan, Dokter?" tanyaku dengan nada rendah yang memerintah.
1213Please respect copyright.PENANAvoGJ9FRsvb
"Aku... aku ingin kau memilikiku... ahhh! Sekarang!" Ia memekik pelan saat aku memberikan tekanan lebih dalam.
1213Please respect copyright.PENANAW91u6BMEvD
Di bawah, Maria akhirnya berhasil membebaskan 'otoritasku'. Ia mengeluarkan lenguhan kagum yang tertahan saat melihat kejantananku yang menegang sempurna. Tanpa perlu diperintah lagi, ia mulai menyambutnya dengan bibirnya yang ranum, memberikan sensasi hangat dan basah yang seketika membuat seluruh sarafku berdenyut.
1213Please respect copyright.PENANA7dNVz3qf5H
"Oughhh..." aku mengerang, menyandarkan kepalaku ke bahu Vania sementara Maria bekerja dengan penuh pengabdian di bawah sana.
1213Please respect copyright.PENANANEPOfHpNrF
Vania yang melihat itu tidak menunjukkan kemarahan. Justru, ia ikut mengelus rambut Maria, jemarinya yang mengenakan sarung tangan medis yang tadi sempat ia pakai kini bersentuhan dengan bibir Maria yang sedang melayaniku.
1213Please respect copyright.PENANAlgh85i4AVw
"Begitu indah..." gumam Vania, suaranya parau oleh nafsu. "Kita berdua... hanyalah milikmu, Erlan..."
1213Please respect copyright.PENANADvON8X6MnU
Keadaan menjadi semakin tak terkendali. Lenguhan Maria yang tersedak bercampur dengan desahan Vania yang semakin keras. Bau keringat yang manis dan parfum mahal kini memenuhi udara, menciptakan atmosfer yang sangat jauh dari kata 'steril'.
1213Please respect copyright.PENANAbKuVHQkuJO
[Pemberitahuan Sistem]
Harmonisasi Hasrat Terdeteksi.
Poin Otoritas yang didapat: +10 Poin.
[Level Otoritas Meningkat: 2 -> 3]
1213Please respect copyright.PENANAceeFkJllEb
Aku merasakan ledakan energi di kepalaku. Pandanganku seolah menembus dinding-dinding bangsal ini. Aku bisa merasakan setiap detak jantung di lantai ini, setiap angka yang berkedip di luar sana. Tapi fokusku tetap pada dua wanita yang sedang berada dalam genggamanku sekarang.
1213Please respect copyright.PENANABIFO7mCiiP
Aku menarik Maria berdiri, lalu mendorongnya ke arah Vania di atas meja periksa. Maria mendarat di atas tubuh Vania, menciptakan tumpang tindih kulit dan kain sutra yang sangat provokatif.
1213Please respect copyright.PENANAtQhpOfx3bz
"Vania, layani dia. Maria, biarkan doktermu merasakannya," perintahku.
1213Please respect copyright.PENANA7Z6aq2Rp9L
Vania tidak ragu lagi. Ia membalikkan posisi, kini ia yang mendominasi Maria di bawahnya, sementara aku berdiri di belakang Vania, bersiap untuk memberikan penaklukan final.
1213Please respect copyright.PENANAZKSE3VAUYv
"Ahhh! Erlan... ya! Di sana!" Vania berteriak kecil saat aku memasukinya dari belakang dengan satu hentakan kuat.
1213Please respect copyright.PENANAzONhImMweI
Meja periksa itu berdecit, beradu dengan suara kulit yang bertemu dan lenguhan panjang dari kedua wanita itu. Maria menangkap tangan Vania, meremasnya kuat-kuat saat mereka berdua mencapai puncak kenikmatan yang belum pernah mereka rasakan seumur hidup mereka.
1213Please respect copyright.PENANA25VqJcdpwO
"Ahhnnngh! Erlaaaannn!"
1213Please respect copyright.PENANAZ8QjqLtU3G
Ruangan itu seakan bergetar saat kami semua mencapai titik estase bersamaan. Vania terkulai lemas di atas dada Maria, napas mereka bersahutan dalam irama yang kacau. Air mata nikmat mengalir di sudut mata Vania, sementara Maria hanya bisa menatap langit-langit dengan pandangan kosong yang penuh kepuasan.
1213Please respect copyright.PENANAugE2VZFo7E
Aku berdiri tegak di belakang mereka, napas sedikit memburu, namun merasa lebih berkuasa dari sebelumnya. Angka-angka di atas kepala mereka kini berwarna emas redup, tanda bahwa mereka telah sepenuhnya ter-reset oleh otoritas-ku.
1213Please respect copyright.PENANAIUA9owfgP1
Klik.
1213Please respect copyright.PENANAhXSORgpR7F
Suara pintu yang mencoba dibuka dari luar mengejutkan kami.
1213Please respect copyright.PENANAqa2PFxzxuD
"Mas Erlan? Aku bawa daftar pasien tambahannyaeh? Kok dikunci?" Itu suara Shinta.
1213Please respect copyright.PENANAHiy7rvynb0
Vania langsung tersentak, wajahnya pucat pasi menyadari posisinya. Namun, aku hanya tersenyum tipis. Poin otoritasku sekarang ada 10. Dunia ini benar-benar miliku sekarang. 1213Please respect copyright.PENANAu6UZiWHugs


