Devita muncul dari kamar mandi dengan wajah masih berkilat air, crop top merahnya, yang lebih pantas disebut kain pengikat dada, memperlihatkan setiap lekuk tubuhnya yang muda. Aku tersedak kopiku melihat bagaimana putingnya yang keras sesekali mencuat dari balik kain yang terlalu tipis, terlalu ketat. "Ayah, kok nelen kopi?" godanya sambil menjatuhkan diri di kursi seberangku, kakinya yang panjang terentang di bawah meja hingga menyenggol pahaku.
1270Please respect copyright.PENANAK6qAyVu7PD
Tania datang membawa telur dadar yang masih mengepul, dress kuningnya, tanpa hijab, memperlihatkan bahu mulusnya yang biasanya tersembunyi. "Sarapan dulu, nanti sholat Dhuha," ujarnya dengan nada yang terlalu riang untuk pagi yang mulai terasa pengap ini. Aku mencoba fokus pada piringku, tapi mataku tertarik pada cara Devita membungkuk mengambil sambal, crop top-nya melorot ke depan dan, Astaghfirullah, sebagian payudaranya yang bulat hampir terlihat utuh.
1270Please respect copyright.PENANAhz6PLbXmZi
"Ada apa, Ded?" Tania menusukku dengan garpu, matanya berbinar seperti tahu persis apa yang membuatku berkeringat dingin. "Kamu dari tadi melamun," bisiknya sambil tanpa malu menyandarkan dada ke lenganku. Bau sabun mandinya bercampur sesuatu yang manis, mungkin lipgloss yang biasa dipakai Devita, membuat kepalaku sedikit pusing.
1270Please respect copyright.PENANAzTgTeVuFIw
Devita mengunyah dengan mulut sedikit terbuka, "Kok Ayah dari tadi diam aja?" Tangannya yang halus menyentuh pergelanganku, jarinya dingin dari air cucian muka. Aku melihat areola-nya yang lebar seperti ibunya, membuat tonjolan kecil di kain crop top. Tania mengetuk piringku dengan sendok, "Dedi, kamu mau kopi lagi?" Suaranya tiba-tiba lebih rendah, lebih berat, seperti saat dia memanggilku tengah malam ketika hujan mulai reda.
1270Please respect copyright.PENANAr7MMsGAVAQ
Aku menggeleng terlalu cepat, membuat kopiku tumpah ke atas meja. Devita langsung melompat, tanpa sadar memperlihatkan bagian bawah crop top-nya yang terangkat. "Ayah!" protesnya sambil mengelap tumpahan dengan tangan kosong, tapi matanya tertuju pada sesuatu di bawah meja. Aku baru sadar apa yang dilihatnya ketika Tania menendangku pelan di betis, senyum kecilnya terlalu manis untuk sesuatu yang seharusnya membuatku malu.
1270Please respect copyright.PENANA33nSBhR7jU
***
1270Please respect copyright.PENANArlD5fN1hkG
Kopi yang tumpah merembes di atas meja kayu seperti noda dosa yang tak bisa dihapus. Devita mengelapnya dengan tangan kosong, jari-jarinya yang ramping bergerak lambat di atas permukaan basah, sementara mata besarnya, dipoles eyeliner tebal, menatapku dengan ekspresi separuh menantang, separuh main-main. "Ayah kok malah diam?" bisiknya lagi, kakinya yang telanjang menyenggol pahaku di bawah meja, lebih lama dari yang seharusnya. Aku menghela napas, mencoba mengumpulkan kata-kata yang sudah kusiapkan.
1270Please respect copyright.PENANA2q4VZx5DIq
"Devita, Ayah mau bicara serius," mulutku terasa kering saat kuangkat wajah untuk menatapnya. Crop top merahnya, Astaghfirullah, masih sama menggodanya seperti tadi, memperlihatkan setiap lekuk tubuhnya yang seharusnya hanya untuk suaminya kelak. "Pakaianmu... di luar rumah, harus lebih sopan. Tidak pantas pakai begini di kampus."
1270Please respect copyright.PENANAzYJzkQZoe8
Devita berhenti mengunyah roti bakar, alisnya yang rapi terangkat. "Tapi kan sekarang di rumah, Yah," protesnya sambil mengecupku cepat di pipi, terlalu dekat dengan sudut bibir, bau lipgloss strawberry-nya menyergap hidungku. Tangannya yang masih basah dari kopi tadi menyentuh lenganku, meninggalkan bekas basah yang perlahan mengering di kulit.
1270Please respect copyright.PENANA6ZdGRahIbK
Aku melihat Tania mengunyah perlahan di seberang meja, matanya berbinar seperti tahu sesuatu yang tak kuketahui. "Ayah benar, Dev," katanya dengan suara yang terlalu lunak untuk sebuah teguran. Tangannya yang halus memainkan ujung sendok, menggores-garis pola acak di atas taplak meja. "Di rumah kita bebas, tapi di luar harus tertutup rapat." Tiba-tiba aku melihat caranya menekankan kata 'rapat', lidahnya menyentuh langit-langit mulut dengan cara yang membuatku teringat malam-malam tertentu.
1270Please respect copyright.PENANAX8YxGaoSOU
"Emangnya kenapa sih kalau aku pakai ketat?" Devita mendorong piringnya, kursinya berderit saat ia menyandarkan badan ke arahku. Kulit hangatnya menempel di lengan bajuku, aku bisa merasakan setiap tarikan napasnya melalui sentuhan itu. "Kan nggak semua cowok jahat, Yah." Bibirnya yang berkilap mengernyit, membuatku teringat saat ia masih kecil dan merajuk minta es krim.
1270Please respect copyright.PENANAZ9ea6XsWkg
Tania menyela sebelum aku bisa menjawab, "Tapi kamu nggak pernah tahu mana yang baik dan jahat, Sayang." Suaranya lembut tapi matanya tajam, seperti pisau tumpul yang tetap bisa melukai. Tangannya meraih botol saus tomat, gerakan itu membuat dress kuningnya yang terlalu longgar melorot, memperlihatkan bahu kanannya yang mulus. "Ayahmu cuma khawatir."
1270Please respect copyright.PENANAGhpHfqVL3J
"Jadi Ayah khawatir aku bakal digoda cowok?" Devita mencondongkan tubuh lebih dekat lagi, aku bisa melihat garis bra merahnya yang samar dari balik crop top transparan. Bau sabun mandinya bercampur parfum murah menyergap hidungku. "Atau..." senyumnya melengkung nakal, "Ayah sendiri yang nafsu sama aku?"
1270Please respect copyright.PENANAO04YrV8h45
Tumpukan piring di wastafel berdentang ketika Tania berdiri terlalu cepat. "Nonsense!" Suaranya terlalu tinggi untuk sekadar membela aku. Tangannya gemetar saat menuang kopi panas ke cangkirku yang sudah penuh. "Ayahmu nggak mungkin berpikiran seperti itu." Tapi matanya tidak menatapku ketika bicara.
1270Please respect copyright.PENANANw5gFOFY0n
Devita mengunyah perlahan, matanya berbinar seperti menemukan mainan baru. "Tapi Ayah sendiri bilang pakaianku mengundang nafsu," gumamnya sambil menjilat saus tomat di sudut bibir. Tangannya yang bertinta henna menyentuh lenganku, dingin dan lembab. "Kalau Ayah nggak nafsu, berarti pakaianku nggak seksi dong?"
1270Please respect copyright.PENANAd7luTcdecl
Tania menjatuhkan sendok dengan suara keras. "Devita! Jangan bicara seperti itu sama ayahmu!" Tapi aku melihat caranya melirikku dari balik tirai rambutnya, seperti ingin memastikan reaksiku. Wajahnya memerah, tapi bukan karena marah.
1270Please respect copyright.PENANAYgsTwryOBx
***
Tania menghela napas panjang saat suara pintu kamar Devita menutup dengan lembut. Tangannya yang biasanya lincah sekarang gemetar memegang serbet, melipatnya berkali-kali menjadi bentuk kecil yang rapi. "Aku minta maaf, Ded," ucapnya dengan suara serak yang tidak biasa. "Aku belum bisa mendidik Devita jadi lebih sopan." Matanya yang biasanya berbinar sekarang redup, menatap tumpukan piring kotor di wastafel seperti benda asing.
1270Please respect copyright.PENANAtY8HIRrVNZ
"Aku yang harus minta maaf, Tan." Jari-jariku menyentuh pergelangan tangannya yang halus, merasakan denyut nadi yang tidak teratur. "Wajar kok gadis seusia Devita begitu." Kata-kataku terdengar palsu di telingaku sendiri, terlalu kencang, seperti upaya untuk meyakinkan diri sendiri. Bau kopi yang tadi tumpah masih menyengat di udara, bercampur dengan aroma sabun cuci piring yang tajam.
1270Please respect copyright.PENANAxwcoqoi6f4
Tania tidak langsung menjawab. Ia mengumpulkan sisa roti bakar di piring dengan gerakan lambat, seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat. "Dia semakin mirip aku waktu SMA," gumamnya tiba-tiba, suaranya hampir tidak terdengar. Tangannya memegang erat pinggan kotor, air cucian piring membasahi lengan bajunya yang sudah tergulung. "Dulu aku juga suka pakai baju ketat ke sekolah, sampai kepala sekolah panggil ibuku."
1270Please respect copyright.PENANAWNj0pPdk3m
Di balik pintu kamar Devita, musik pop remaja terdengar redup. Aku tahu persis apa yang sedang dilakukannya, berbaring telentang di kasur sambil memainkan rambutnya, seperti yang selalu kulakukan saat menunggunya kecil tidur. Bedanya sekarang, aku harus memaksa diriku tidak membayangkan apa yang sedang dikenakannya, atau tidak dikenakannya, di balik pintu itu.
1270Please respect copyright.PENANADSsjUvrF0z


