"Aku ambil kangkungnya ya, Mas," ucap Tania tanpa menyadari tatapan yang mulai menggelora. Tangannya yang halus mengangkat ikatan sayuran, gerakan itu membuat daster semakin tersingkap, memperlihatkan lekuk dadanya yang putih mulus. Mas Gino menggaruk-garuk tengkuk, wajahnya merah padam sambil matanya jelalatan. "Iya... iya Bu Tania," jawabnya sambil batuk-batuk kecil, "kalo mau... kalo mau yang lebih segar, di gerobak aku ada yang baru dipetik tadi pagi..." Suaranya serak.
1294Please respect copyright.PENANAHQ122R956M
Tania mengangguk polos, jilbabnya yang longgar hampir terlepas ketika ia berbalik mengikuti gerobak Mas Gino yang digeser lebih dekat ke pagar rumah. "Wah, beneran lebih hijau," ujarnya sambil menjulurkan tangan mengambil seikat bayam. Gerakan itu membuat sisi daster yang sebenarnya sudah longgar semakin terbuka lebar, memperlihatkan lebih banyak kulit yang seharusnya tertutup. Mas Gino berdiri kaku seperti patung, tangannya gemetar memegang timbangan.
1294Please respect copyright.PENANA33FutdozxR
Di balik jendela, jari-jariku mencengkeram kusen kayu sampai terasa akan patah. Tania tertawa kecil saat Mas Gino salah memberi kembalian, "Lho Mas, ini kelebihan lima ribu, " tatkala tiba-tiba angin kencang menerpa, menyibak daster dan jilbabnya sekaligus dalam satu hentakan. Sekejap, hanya sekejap, seluruh tubuh atasnya yang biasanya tersembunyi rapi terbuka untuk udara bebas. Mas Gino menjatuhkan uang receh yang ia pegang.
1294Please respect copyright.PENANAHFeeaX22X2
"Astaghfirullah!" Tania berusaha menutup dadanya dengan cepat, tapi wajahnya justru tidak menunjukkan kepanikan sebagaimana seharusnya. Ada sesuatu dalam cara ia membetulkan jilbabnya, terlalu lambat, jari-jemarinya seperti menikmati setiap lipatan kain yang kembali menutupi tubuhnya. Bibirnya yang biasanya terkunci rapat justru melengkung dalam senyum kecil ketika melihat reaksi Mas Gino yang terpana. "Habisnya anginnya kencang banget hari ini," ucapnya sambil menoleh ke arahku seolah baru menyadari keberadaanku di jendela, matanya berbinar seperti anak kecil yang ketahuan mengambil kue tanpa izin.
1294Please respect copyright.PENANAD68r5mxd9b
***
1294Please respect copyright.PENANAtGhr1dVgll
Aku berdiri kaku di balik jendela, mulut kering menyaksikan Tania tersipu malu namun tidak berusaha menyingkir saat Mas Gino melangkah setengah meter lebih dekat. "Ya Allah Bu Tania cakep banget hari ini," gumam Mas Gino dengan suara serak, tangannya yang penuh urat mencengkeram erat ikatan sayur bayam seperti orang kejang.
1294Please respect copyright.PENANAxrgzvzZVbw
"Ih, masa cuma pakai daster gini doang dibilang cakep," jawab Tania sambil memainkan ujung jilbabnya yang longgar, tapi aku melihat caranya membusungkan dada sedikit, gerakan kecil yang biasanya hanya kuliat saat dia memakai gaun baru untukku.
1294Please respect copyright.PENANApCOA4E3WFQ
"Jujur Bu Tania paling cakep sekomplek deh, hehe," Mas Gino menggaruk-garuk tengkuk, tapi matanya tetap menempel di belahan dadanya yang agak saggy dan jelas tanpa bra, kain daster tipis itu jatuh mengikuti gravitasi dengan jujur. Aku menelan ludah melihat Tania tidak segera menyilangkan tangan untuk menutupinya.
1294Please respect copyright.PENANASgeRtoX1aZ
"Nanti kalau istri Mas Gino cemburu gimana?" goda Tania dengan nada genit yang membuat perutku mual. Jari-jarinya memilin ujung jilbab, putingnya yang jelas terlihat menonjol di balik kain bergerak naik turun dalam tarikan napas yang sengaja dibuat berat.
1294Please respect copyright.PENANAKBMpPD8Z5C
Mas Gino tertawa pendek, "Ah istri saya mah jelek, gendut dan suka melawan saya, Bu Tania." Tangannya yang kotor mengusap keringat di dahi, tapi mata hitamnya tetap menatap fix pada payudara Tania. "Beda sama Bu Tania, yang cantik, indah, wangi..." suaranya turun ke bisikan serak, "...dan pasti nurut sama suami, hehehe."
1294Please respect copyright.PENANApBAOI4bqwG
Tangan Mas Gino yang tadinya memegang timbangan sayur kini bergerak pelan, tanpa sadar mengusap lengan Tania yang terbuka. "Bu Tania sering pake minyak wangi ya? Wanginya kaya bunga melati gitu," gumamnya sambil mendekatkan hidung, napasnya berat seperti orang yang baru lari maraton. Tania tidak menyikut, tidak menjauh, hanya tertawa kecil yang terdengar seperti bel masuk sekolah. "Sabun mandi biasa kok, Mas. Murahan pula," jawabnya sambil memain-main ujung jilbabnya yang hampir terlepas lagi.
1294Please respect copyright.PENANAvesnnrV5BZ
Aku melihat dengan mata yang semakin panas bagaimana Mas Gino sekarang berdiri terlalu dekat, tubuhnya yang kekar menghalangi Tania dari pandangan tetangga. "Wangi kayak gini mah cocok buat istri orang," bisiknya, jarinya yang kotor menyentuh lembut pundak Tania. "Beda sama istri saya, baunya kaya bau kambing habis potong." Tania tersedu tawa, tangannya yang kecil menepuk dada Mas Gino, terlalu dekat dengan leher, terlalu lama menempel. "Mas Gino jahat banget sih," protesnya tapi dengan nada yang manja, seperti anak SMA yang digoda pacarnya.
1294Please respect copyright.PENANAUJCDfq7Sjz
***
Aku mencengkeram kusen jendela sampai kayunya berderak. Tania melangkah masuk dengan gerakan pinggul yang terlalu gemulai untuk sekadar membawa seikat bayam. Daster kuningnya yang tipis menempel sempurna di lekuk tubuhnya, memperlihatkan setiap ayunan pantatnya yang, aku tahu, tidak mengenakan apapun di balik kain itu. Mas Gino berdiri membeku di depan pagar, matanya terpaku seperti anjing yang melihat tulang. Aku melihat dengan jelas bagaimana bibirnya yang pecah-pecah itu bergerak, menelan ludah yang tidak pernah sampai tenggorokan.
1294Please respect copyright.PENANAmb3WtMx7rB
Tania melemparkan senyum kecil padaku saat melewati pintu depan, seolah mengatakan, *"Kamu lihat semuanya, kan?"* tapi tanpa setitik rasa bersalah. Bau sabun mandi murahnya bercampur keringat pagi memenuhi ruang tamu saat ia melenggok melewatiku, sengaja menyenggol bahuku dengan pinggulnya yang montok. "Dedi, kamu lihat tadi kan?" bisiknya sambil menjatuhkan bayam ke meja dapur dengan gerakan berlebihan yang membuat daster semakin tersingkap. "Mas Gino tadi hampir tidak bisa bicara melihat aku."
1294Please respect copyright.PENANAYAZoZUCWvk
Di luar, Mas Gino masih terpaku seperti patung. Tangannya yang kotor menggenggam erat timbangan besi, urat-urat di lengannya menegang seolah menahan dorongan untuk membuntuti Tania masuk ke dalam rumah. Matanya, ya Tuhan, matanya, jelas menatap fix pada pantat Tania yang bergoyang-goyang saat ia membungkuk mengambil panci di rak bawah. Daster itu melorot ke depan, memperlihatkan lebih banyak kulit daripada yang seharusnya.
1294Please respect copyright.PENANAjTNClfAtxy
"Aku tidak suka caranya memandangimu," gumamku dengan suara serak.
1294Please respect copyright.PENANAegIx53BV1n
Tania berbalik dengan ekspresi polos yang terlalu dipaksakan. Bibirnya yang biasanya terkunci rapat sekarang terbentuk dalam senyum kecil yang licik. "Masak sih? Dia cuma tukang sayur, Dedi." Tangannya meraih gayung di wastafel, air mengalir deras di antara jari-jarinya yang halus. "Lagipula..." ia menunduk, memungkinkanku melihat belahan dadanya yang jelas tanpa bra, "...kamu sendiri juga sering memandangiku seperti itu."
1294Please respect copyright.PENANAeMqH0VdVDn
"Bukan apa-apa kok, Mas," bisik Tania sambil memelukku, tapi tidak erat, hanya cukup untuk membuat bayangan tubuhnya yang hangat menyentuh dadaku tanpa benar-benar menempel. Matanya menatapku lagi dengan tatapan yang sama seperti tadi malam di kasur, ketika ia sengaja menindihku saat mengambil selimut. "Kamu cemburu ya, Mas?" Senyum kecilnya melengkung seperti bulan sabut, tapi ada sesuatu di balik sorot matanya yang membuat jari-jariku gemetar memegang pinggangnya.
1294Please respect copyright.PENANACrLJfKYTyT
Aku menghela napas, mencium aroma sabun mandi murahnya yang bercampur keringat pagi. "Aku... tidak suka caranya memandangmu," gumamku, tapi suaraku pecah di tengah kalimat seperti kerupuk basah. Tania menggeleng, jilbab longgarnya yang tadi nyaris terbuka bergoyang pelan. "Mas Gino cuma tukang sayur, Dedi. Setiap hari dia lihat ibu-ibu pakai daster." Tangannya yang halus menyentuh pipiku, jari telunjuknya menggambar lingkaran-lingkaran kecil di tulang pipiku yang menonjol. "Kamu pikir aku mau sama dia? Badannya bau keringat, kotor. Nggak mungkin aku mau sama yang kayak begitu"
1294Please respect copyright.PENANAyhTkcPO93d
1294Please respect copyright.PENANAN8FWtwPnGn


