Keesokan harinya, aku bangun kesiangan dengan mulut terasa kering. Sinar matahari sudah menusuk lewat celah gorden, mengejek jam tubuhku yang biasanya bangun sebelum adzan Subuh. Tania, tempat tidurnya sudah kosong, hanya tersisa lekukan tubuhnya dan aroma kemiri yang samar. Aku mengusap wajah, mencoba mengusir sisa-sisa mimpi aneh tadi malam yang membuat pahaku berkeringat dingin.
1335Please respect copyright.PENANACXmACwTIze
"Tania?" panggilku pelan sambil membalikkan badan. Tidak ada jawaban, hanya suara burung pipit di luar jendela yang ribut seperti anak bocah yang sedang bermain. Aku menggeliat, kaki menyentuh lantai yang dingin. Hari Minggu. Biasanya Tania sudah menyiapkan sarapan di dapur, tapi pagi ini rumah terasa terlalu sunyi. Mungkin dia sedang menjemur pakaian? Atau sholat Dhuha di teras belakang?
1335Please respect copyright.PENANAkgDNwp8Dis
Aku memutuskan mengecek kamar Devita. Pintunya sedikit terbuka, kebiasaan buruknya sejak kecil yang tak pernah bisa kami hilangkan. Perlahan kudorong pintu itu, dan...
1335Please respect copyright.PENANAocVC8a6LAU
Astaga.
1335Please respect copyright.PENANAnzNv5WVAJ3
Devita tergeletak di atas kasur seperti pelaut yang terdampar. Tank top hitamnya, yang jelas dua nomor lebih kecil, nyaris tidak bisa menampung payudaranya yang menggembung seperti buah pepaya matang di musim panen. Setiap tarikan napasnya membuat kain tipis itu bergerak naik turun dengan susah payah, memperlihatkan tepian bra putih yang sudah kelewat longgar. Celana hotpants-nya... ya Tuhan, celana itu lebih pendek dari kesopanan, memperlihatkan celana dalam putih berenda yang terlipat di bagian paha belakang. Kakinya yang mulus terentang sembarangan, satu kaki menindih guling, yang lain menjuntai ke lantai seolah mencari keseimbangan.
1335Please respect copyright.PENANA1IN7n6FhZA
Aku berdiri di ambang pintu kamar Devita, lidah terasa seperti dilapisi kapas. Matahari pagi menyelinap lewat jendela, mengeja bentuk tubuhnya dalam garis-garis emas yang seharusnya tidak kupahami dengan detail seperti ini. Tank top hitam itu bergerak naik turun dengan ritme yang terlalu santai untuk seseorang yang seharusnya sudah bangun sholat Dhuha. Guling yang ia peluk erat justru membuat lekuk pinggangnya semakin jelas, seperti relief yang dipahat terlalu dalam.
1335Please respect copyright.PENANAnryNrPzvXY
1335Please respect copyright.PENANAsGaFCtXyUY
***
1335Please respect copyright.PENANAVbSns1lqCj
Tanganku bergerak sendiri menyentuh betis Devita yang tergeletak lemas di atas kasur. Kulitnya halus seperti sutra basah, hangat meski kamarnya tidak panas sama sekali. Kuku-kuku kecilku mengelus perlahan dari pergelangan kaki naik ke betis, menggambar pola acak yang kuhafal sejak dia masih kecil. "Dek... bangun," bisikku, tapi yang kudapat hanya gerakan kaki refleks yang menyentak lalu kembali diam.
1335Please respect copyright.PENANAZ8TRWci3FN
Jari-jariku sekarang berkelana lebih tinggi, menyelinap di bawah ujung tank top hitamnya yang sudah melorot. Punggungnya berkeringat tipis, lengket di ujung jemariku. Napasnya masih teratur dalam, dadanya naik turun dengan irama yang membuat kain tipis itu bergerak naik turun seperti ombak kecil. "Devita," suaraku lebih keras, tapi anakku ini hanya menggeliat dan mengubur wajahnya lebih dalam ke bantal.
1335Please respect copyright.PENANAYKm54XO0FR
Tiba-tiba tanpa sadar tanganku sudah bergerak lebih jauh, menyibak rambut sebahu yang menutupi lehernya. Kucup lembut bagian belakang telinganya yang selalu sensitif, seperti dulu ketika dia masih balita dan sulit dibangunkan untuk sekolah. Bau sabun mandi kemirinya bercampur keringat pagi memenuhi hidungku. "Ayah..." gumamnya tiba-tiba, suaranya serak dan berat dari tidur, "nanti saja..."
1335Please respect copyright.PENANAVdSlP3GQpF
Lalu, dengan gerakan yang begitu alamiah seolah sudah dilakukan ribuan kali, kepalanya yang berantakan itu berguling ke arahku dan menempel di pahaku. Tangannya yang awalnya memeluk guling sekarang merangkul lututku dengan erat. Nafasku tercekat, posisi ini membuat celana pendeknya yang sudah pendek semakin tersingkap, memperlihatkan paha bagian dalam yang halus dan sedikit menggembung karena tekanan.
1335Please respect copyright.PENANA87cUyDmP0L
"Kamu harus bangun, Dek. Sudah hampir Dzuhur," usahaku lagi, tapi tanganku justru membelai rambutnya yang kusut. Devita mengeluarkan suara gerutu kecil, lalu mendekatkan diri lebih erat. Aku bisa merasakan seluruh bentuk tubuhnya sekarang, dada yang padat, perut yang rata, pinggul yang, astaghfirullah, tertekan di sisi pahaku.
1335Please respect copyright.PENANAU3TuqhZv4X
Aku mulai membangunkan Devita dengan agak tegas, tangan mengguncang pundaknya yang hangat. "Nanti Ibu marah lho kalau anak gadisnya bangun siang begini," kataku dengan nada yang lebih keras dari biasanya, meski suaraku tetap terasa serak oleh perasaan bersalah yang tak jelas asalnya.
1335Please respect copyright.PENANA0kg2UbTzhn
"Ayah ih, sekarang kan hari Minggu," protes Devita sambil menggosok-gosok matanya yang masih berat. Bibirnya mengernyit saat dia akhirnya membuka mata, sinar matahari yang menyelinap lewat jendela membuatnya menyipitkan pandangan. Aku menarik napas dalam, mencoba mengalihkan perhatian dari cara tank top-nya melorot ke satu sisi, memperlihatkan bahu kanannya yang mulus. "Sholat Dhuha aja belum, masih aja ngeles," jawabku sambil memutar bola mataku, tapi suaraku terdengar seperti orang yang baru menelan pasir.
1335Please respect copyright.PENANAJKUBs2zS94
***
1335Please respect copyright.PENANASj8M9FAT3C
Setelah memastikan Devita cuci muka, meski dengan setengah merengek, aku menutup pintu kamarnya dan melangkah ke ruang tamu. Jendela depan yang terbuka sebagian memperlihatkan pemandangan yang membuatku berhenti di tengah jalan: Tania berdiri di pinggir jalan, berbincang dengan Mas Gino, tukang sayur keliling langganan kami sejak lima tahun terakhir.
1335Please respect copyright.PENANAZadqTOrc67
Dia memegang seikat kangkung di satu tangan, sementara tangan lainnya menekan pinggang dengan gerakan khas orang ibu-ibu yang sedang menawar. "Lha terus kapan harganya turun, Mas? Kemarin daging ayam masih empat puluh ribu, sekarang langsung naik lima ribu?" suaranya terdengar jelas meski aku berdiri tiga meter di belakang jendela.
1335Please respect copyright.PENANA23SdHDJZum
Mas Gino, badannya kekar dengan kaos oblong lusuh yang memperlihatkan lengan hitam manis, tertawa sambil mengusap dagu. "Ibu Tania mah nggak usah khawatir, kan suaminya pegawai kantoran," godanya sambil mata keranjangannya menyapu tubuh Tania dari atas ke bawah. Kukencangkan pegangan di kusen jendela.
1335Please respect copyright.PENANAELZYJiKhSF
"Ya tapi kan harus hemat juga," sahut Tania sambil melipat uang dua puluh ribuan dengan gemas. Gerakannya membuat daster kuning tipisnya, yang sama seperti kemarin, berkibar ditiup angin, memperlihatkan lekuk betis yang biasanya selalu tertutup kain panjang saat di luar rumah.
1335Please respect copyright.PENANAkmkianV7Ei
Angin pagi menyapu ujung jilbab longgar Tania yang hanya diselempangkan begitu saja di kepala, tidak seperti biasanya saat ia keluar rumah dengan jilbab rapi dan pakaian tertutup. Mas Gino tiba-tiba berhenti bicara, matanya terpaku pada belahan daster kuning tipis yang sedikit terbuka saat Tania membungkuk memilih sawi. Cahaya matahari pagi menyorot dari belakang, membuat siluet tubuhnya, termasuk payudara yang padat tanpa bra, terlihat jelas melalui kain yang menerawang.
1335Please respect copyright.PENANAcVPMQrKoFD


