Sesampainya di rumah, dan berdua di kamar tidur Tania bertanya padaku "Kamu kenapa akhir-akhir ini? Sering melamun," Tania membelai rambutku, bau sabun mandinya bercampur udara malam yang agak lembap. Aku ingin bercerita tentang kecemasanku, tapi suaraku macet ketika tangannya tanpa sengaja menyentuh leherku. "Nggak ada apa-apa," akhirnya aku bergumam, menikmati sentuhannya yang hangat.
1317Please respect copyright.PENANAjKzCJc0sZ0
"Nggak ada apa-apa," gumamku lagi, tapi kali ini suaraku pecah seperti gelas retak. Tania mengangkat kepalanya dari dadaku, alisnya naik membentuk tanda tanya. Matanya, yang selalu kupuji sebagai mata paling jujur di dunia, sekarang menatapku seperti sedang membaca lembaran koran basah. "Kamu bohong," bisiknya, jari telunjuknya menekan pelan tulang selangkaku.
1317Please respect copyright.PENANAScUSTkun4Z
Aku menarik napas dalam, mencium aroma sampo kemirinya yang bercampur keringat tipis. "Aku... takut," akhirnya meluncur juga, kata-kata itu terasa asing di lidahku. Tania diam, tapi tangannya mulai menggambar lingkaran-lingkaran kecil di dadaku, seperti penyihir yang sedang menyiapkan mantra penguat nyali. "Takut apa?" desaknya pelan, dan aku tahu ini bukan pertanyaan yang bisa kuhindari lagi.
1317Please respect copyright.PENANApjJnOqAFpg
"Kalian berdua... cantik. Terlalu cantik." Suaraku terdengar konyol di telingaku sendiri. Tania terkikik, tapi segera berhenti ketika melihat raut wajahku. "Maksudmu...?" "Aku lihat cara orang-orang memandang kalian. Mas Herman kemarin, bapak-bapak di RT... bahkan Kyai Farid." Nama terakhir itu keluar seperti batu panas dari mulutku. Tania mendadak diam. Di luar, suara Devita tertawa kecil mendengar video di ponselnya tiba-tiba terasa terlalu keras.
1317Please respect copyright.PENANAhERLCa07pl
Tania mencondongkan badan, sampai aku bisa melihat bayangan bulu matanya jatuh di pipinya. "Kamu pikir aku nggak tahu?" bisiknya, suaranya datar tapi tidak marah. "Setiap kali aku belanja ke warung, setiap kali Devita ngejar angkot... kami bukan boneka buta, Ded." Aku tercekat. Selama ini aku mengira mereka tak menyadari tatapan-tatapan itu, ternyata mereka hanya, seperti biasa, lebih kuat dariku.
1317Please respect copyright.PENANAB44sPaln66
"Tapi..." tanganku menggenggam erat lengannya yang halus, "Kiai Farid tadi, " "Aku tahu," potong Tania cepat, "Dia memang sering melirik. Tapi selama ini aku anggap itu ujian kesabaran biasa." Ada sesuatu dalam nada bicaranya yang membuatku bertanya-tanya: apakah 'ujian' itu sudah ia menangkan, atau justru ia mulai menikmatinya diam-diam?
1317Please respect copyright.PENANAIDjS5mipvE
***
1317Please respect copyright.PENANAG1Knxr7TtE
Kalau kamu tanya jujur..." Tania akhirnya bicara setelah jeda yang terasa seperti satu abad, jarinya berhenti menggambar pola di dadaku. Matanya tidak menatapku, melainkan fokus pada lipatan sprei di sebelahnya. "Aku bukan patung, Ded. Kalau ada yang memandang, ya... aku tahu." Suaranya kecil, hampir seperti bisikan angin malam yang menyelinap lewat jendela yang tak tertutup rapat.
1317Please respect copyright.PENANAYEwDUt9IDm
Aku menelan ludah. Jantungku berdetak lebih kencang ketika dia melanjutkan, "Tapi nggak berarti aku suka, kok." Tangannya naik ke leherku, memainkan rambut ikalku yang pendek. "Atau... nggak selalu suka." Ada senyum kecil di sudut bibirnya yang bikin perutku berdegup tak karuan.
1317Please respect copyright.PENANAXHPreNKsg2
"Kamu ini lucu banget," desisnya tiba-tiba, hidungnya menyentuh pipiku. "Puluhan tahun kita nikah, baru sekarang nanya gituan." Napasnya hangat di kulitku, baunya campuran kemiri dan sesuatu yang manis, permen jahe mungkin, yang biasa dia kunyah habis makan.
1317Please respect copyright.PENANAQR7QrN2I3y
Di luar, suara Devita tertawa di kamarnya tiba-tiba memecah kesunyian. Sepertinya ia sedang telfonan dengan temannya. Tania menghela napas, jarinya sekarang bermain dengan kancing bajuku. "Dulu waktu pertama kali kamu liat aku di acara pernikahan sepupumu, kamu ingat nggak reaksimu?" Aku mengerutkan kening. "Kamu jatohin piring kue bolu," katanya sambil menahan tawa. "Trus bilang 'maaf mbak' sambil mukanya merah kayak cabe."
1317Please respect copyright.PENANAREhSe5K1lx
Aku tersenyum kecut mengingatnya. Tania melanjutkan, "Waktu itu aku seneng, Ded. Karena aku tahu kamu nggak sengaja, kamu beneran kagum, bukan cuma ngiler kayak yang lain." Jarinya menekan pelan tulang selangkaku. "Sekarang? Aku udah bisa bedain mana yang kagum beneran, mana yang cuma..." Dia menggerakkan tangannya seperti orang memegang dua buah melon di udara.
1317Please respect copyright.PENANAg8Tt2q85UU
***
Di momen itu juga, napasku tersendat. "Kamu... suka diperhatikan laki-laki lain?" tanyaku lagi, suaraku serak seperti orang yang baru berlari. Tania tidak segera menjawab. Matanya, hitam pekat dengan bulu mata yang selalu terlihat basah, menatapku tanpa berkedip. Ada sesuatu dalam tatapan itu yang membuat dadaku sesak: bukan kemarahan, bukan juga penyesalan, melainkan semacam tantangan diam-diam. Seperti anak kecil yang sengaja menjatuhkan mainannya lalu menunggu reaksimu.
1317Please respect copyright.PENANAPOPZtQohoQ
Saat itulah dia bergerak. Tubuhnya yang hangat dan padat itu tiba-tiba menindihku dengan lembut, kedua tangannya mengepal di kedua sisi kepalaku. Bau sabun kemiri dan kehangatan kulitnya membanjiri indraku. Matanya masih menatapku, sekarang lebih dekat, sampai aku bisa melihat pantulan lampu tidur kecil di pupilnya yang membesar. Bibirnya, yang biasanya kering karena sibuk ngobrol, sekarang lembap dan sedikit terbuka. "Sudah tidur aja yuk, sudah malam," bisiknya tiba-tiba, pecah seperti gelembung sabun di udara yang tegang.
1317Please respect copyright.PENANAXUPJonzzyk
Kemudian dia mengecup pipiku. Bukan sekali, tapi berkali-kali, seperti burung gereja yang mematuk biji-bijian. Setiap ciuman singkat itu terasa hangat dan sedikit lembap, meninggalkan bekas tak kasatmata di kulitku. "Aku sayang kamu, Mas," suaranya lebih dalam dari biasanya, parau di bagian akhir kalimat, "Kamu tuh suamiku, aku nggak mungkin macam-macam." Tangannya sekarang meraih selimut dan menyelubungi kami berdua dalam satu gerakan ahli, seperti ibu yang membungkus anaknya dengan andal.
1317Please respect copyright.PENANASENV7v9iT6
Tapi matanya, itu yang membuatku terjaga, masih setengah terbuka ketika dia pura-pura tertidur. Di balik bulu matanya yang bergetar, ada kilatan liar yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Seperti api unggun yang masih menyala meski sudah ditutupi abu. Napasnya sengaja diperdalam, tapi jari-jarinya yang terletak di dadaku justru mengetuk-ngetuk pelan, mengikuti irama lagu yang hanya dia dengar.
1317Please respect copyright.PENANASbCjRvNT4n
Posisinya sekarang sempurna: pahanya yang montok menekan pinggulku, perutnya yang rata naik turun tepat di atas perutku, dan, astaga, dadanya yang padat itu tertekan di antara kami, membuat kain daster tipisnya melipat di bagian yang seharusnya tidak kupikirkan sekarang. Aku mencoba menggeser badan, tapi gerakanku justru membuat daster kuning itu tersingkap lebih tinggi, memperlihatkan pahanya yang halus dan berbentuk sempurna.
1317Please respect copyright.PENANAQjpqjk6Nl4


