Aku sering duduk di tengah-tengah mereka berdua saat menonton film di akhir pekan, merasa seperti raja kecil diapit 2 permaisuri yang cantik dan manja. Tania di sebelah kiriku dengan mangkuk popcorn buatannya yang selalu gurih di pangkuan, sementara Devita di sebelah kanan, kakinya seringkali menumpang di pangkuanku seperti anak kecil meski umurnya sudah dua puluh. "Ayah, tolong pijitin kaki Vita dong, abis jalan-jalan tadi sakit nih," rayunya sambil menyodorkan kaki mungilnya yang bercat kuku merah muda. Aku tahu ini triknya biar aku tidak protes ketika dia mengubah channel ke drama Korea kesukaannya untuk kesepuluh kalinya.
1436Please respect copyright.PENANA8BlmuWeWSs
Bagi keluarga kecil ini, kasih sayang di dalam rumah tak jauh beda di tempat umu. Di mal, kami seperti trio yang membuat orang lain melirik, bukan karena berisik, tapi karena kehangatan yang memancar. Devita bisa tiba-tiba menggandeng lenganku sambil berbisik, "Ayah beliin es krim dong, yang rasa green tea itu," sambil mencondongkan tubuhnya seperti anak umur lima tahun. Tania akan tersenyum dari belakang, lalu tanpa diminta membelai rambutku yang kusut dengan jari-jarinya yang halus. "Sudah tua-tua begini masih dimanja sama dua perempuan cantik," katanya suatu kali sambil tertawa kecil ketika seorang bapak-bapak melirik kami dengan wajah heran.
1436Please respect copyright.PENANAWiKvwzrump
Tidak hanya itu. Waktu sholat Isya kemarin, saat aku berdiri menjadi imam bagi mereka berdua di musholla kecil di rumah, hatiku bergetar. Suara Tania yang lembut mengamini doaku bersahutan dengan suara Devita yang lebih lantang. Karpet sholat kami bertiga sudah lapuk di bagian sajadahku karena sering dipakai, sementara milik mereka masih cukup baru. "Ayah keren deh kalau ngaji," bisik Devita usai sholat sambil memijat pundakku. Tania hanya tersenyum sambil merapikan mukenanya yang tersingkap sedikit, memperlihatkan betisnya yang halus untuk sepersekian detik sebelum kembali tertutup kain panjang.
1436Please respect copyright.PENANA27im2yAHQA
Ada satu momen tiga bulan lalu yang masih jelas di ingatanku. Kami sedang makan malam di restoran padang sederhana dekat rumah ketika hujan turun deras. Devita memakai jaketku yang terlalu besar untuknya karena kedinginan, sementara Tania dengan sigar mengambil sapu tangan dari tasnya dan menyekaa pelan tetesan air di pipiku. "Bapak-bapak begini masih saja tidak bisa lindungi diri dari hujan," godanya sambil menyuapiku sepotong rendang. Di meja sebelah, sepasang suami istri muda memandang kami dengan ekspresi yang sulit kubaca, mungkin iri, mungkin heran melihat keluarga sepertiku dikelilingi wanita-wanita yang begitu penyayang.
1436Please respect copyright.PENANA74shxqJKUB
Pagi ini, seperti biasa, Tania membangunkanku dengan secangkir kopi dan roti panggang. Aroma tubuhnya yang hangat, campuran sabun mandi murah dan sesuatu yang sangat khas Tania, membuatku membuka mata sebelum alarm berbunyi. "Dedi, bangun. Kamu kan kerja" bisiknya sambil menarik selimut pelan-pelan. Di luar kamar, suara Devita yang sedang menyanyi lagu pop sembari menyiapkan tas kuliahnya terdengar jelas. Aku menarik napas dalam-dalam, mencium bau kopi yang dicampur gula pasir seperti kesukaanku. Inilah kebahagiaan sederhana yang kurindukan setiap hari: dikelilingi oleh dua wanita yang membuat hidupku terasa penuh warna, meski kadang membuat jantungku berdegup tak karuan.
1436Please respect copyright.PENANAy1BhZC8KLW
***
Mungkin terdengar sombong, tapi aku tahu betul betapa beruntungnya aku punya Tania dan Devita. Bukan cuma karena cantiknya, yang memang bikin aku sendiri kadang masih susah percaya, tapi juga karena cara orang-orang memandang mereka. Setiap kali jalan di komplek, pasti ada ibu-ibu yang melirik Tania dengan tatapan iri, sambil memuji jilbabnya yang selalu rapi. "Istri Pak Dedi sholehah ya," begitu bisik mereka. Padahal kalau tahu yang terjadi di rumah, mungkin mereka bakal kaget. Tania yang di luar tampak anggun itu di dalam rumah sering duduk bersila di sofa sambil tertawa terbahak-bahak nonton komedi, daster tipisnya kadang tersingkap sampai paha.
1436Please respect copyright.PENANAaMgBrcpadk
Suatu sore waktu arisan bapak-bapak RT di rumah Pak RT, aku dengar mereka membahas istri-istri masing-masing. "Istriku tuh kalau pulang kerja langsung tidur, nggak pernah masak," keluh salah seorang. Yang lain menambahkan, "Anakku yang kuliah itu pulang malem terus, pacaran mulu." Aku cuma diam, sesekali tersenyum kecil saat mereka mulai membandingkan dengan Tania dan Devita. "Dedi mah beruntung banget, istrinya rajin, anaknya pinter, cantik lagi," kata Pak RT sambil menepuk punggungku. Ada rasa bangga yang menggelitik dadaku.
1436Please respect copyright.PENANAJ0nHqFcYPh
Tapi puncaknya ketika Mas Herman, tukang tambal ban yang biasa nongkrong di warung kopi, bercanda dengan suara lantang, "Ntar kalau Devita lulus, saya mau lamar ya, Pak Dedi! Biar saya yang urus dari sekarang." Semua tertawa, termasuk aku, meski tiba-tiba kerongkonganku terasa kering. Dia melanjutkan, "Beneran loh, saya sudah kebelet pengen punya anak cewek cantik kayak Devita. Dijamin bakal saya hamilin tiap hari!" Tawa mereka makin keras, tapi matanya, ah, aku tahu itu, ada binar yang bikin jidatku berkeringat dingin.
1436Please respect copyright.PENANAA59DTBN2xt
Aku cuma bisa minum kopiku yang tiba-tasa terasa pahit. Mereka semua tahu Devita masih kuliah, masih anakku yang harusnya dilindungi. Tapi obrolan makin panas, beberapa mulai ikutan mengomentari Tania. "Kalau istrinya sih... wah, nggak usah ditanya. Lihat aja lekuk tubuhnya waktu lewat tadi, bikin mata saya melotok," goda seorang bapak yang biasa jualan sayur keliling. Aku pura-pura tersenyum, tapi tangan di bawah meja sudah mengepal tanpa kusadari.
1436Please respect copyright.PENANAD2wo2gVTmi
Pulang dari situ, aku berjalan pelan. Di depan rumah, kulihat Tania sedang menjemur pakaian di halaman belakang. Daster kuningnya yang tipis berkibar ditiup angin sore, memperlihatkan siluet tubuhnya yang, sekarang aku menyadari, memang sempurna. Tiba-tiba bayanganku melayang ke kata-kata Mas Herman tadi. Bagaimana jika suatu hari nanti ada yang benar-benar berniat pada Devita? Atau... pada Tania? Aku menggigit bibir bawahku.
1436Please respect copyright.PENANAgLNk3bc5DH
***
1436Please respect copyright.PENANA8XhY9R5WnC
Aku menghela napas panjang, memandang Tania yang sedang membungkuk mengambil jemuran, lenggak-lenggok tubuhnya mengalir seperti aliran sungai di musim kemarau, pelan tapi memesona. Daster kuning itu menempel di pinggulnya, mengikuti gerakannya yang gemulai. Tadi pagi, ketika dia mengantarku kopi dengan senyum malasnya yang khas, ada seberkas sinar matahari yang jatuh tepat di lekuk lehernya. Aku sempat berpikir, betapa mudahnya bagi siapapun untuk terpana oleh hal-hal kecil seperti itu.
1436Please respect copyright.PENANALszEQCfWhU
Di meja makan, Devita sedang asyik mengunyah roti sambil kakinya diayun-ayunkan di bawah meja. Kaus oblongnya yang putih, yang jelas terlalu tipis untuk dipakai di depan ayahnya, memperlihatkan bayang-bayang tubuh di baliknya. "Ayah liatin terus nih, nanti Vita malu," godanya tanpa benar-benar berusaha menutupi diri. Tania cuma menggeleng sambil menyuapiku sepotong telur dadar. "Biarin aja, biar dia ingat masih punya tanggung jawab ngelindungin kita berdua," katanya dengan nada main-main, tapi matanya menatapku dalam-dalam seolah menyimpan kode rahasia.
1436Please respect copyright.PENANAYY5yNgclcY
Komplek perumahan kami sebenarnya cukup aman. Pagar-pagar rumah saling berdempetan, tetangga saling mengenal. Tapi semakin sering aku memperhatikan cara orang-orang melirik Tania saat dia berjalan ke warung dengan jilbab longgarnya, atau bagaimana mata para pemuda nongkrong di pos ronda mengikuti gerak Devita yang berlari kecil mengejar angkot, hijabnya rapi tapi celana jeansnya menempel terlalu sempurna di bagian belakang, semakin keras pula jantungku berdebar. Aku tahu ini mungkin hanya paranoia. Tapi malam itu, ketika aku pulang larut dan melihat lampu kamar Devita masih menyala, kudapati dia sedang video call dengan seseorang. Wajahnya berseri-seri, tapi cepat-cepat dia menutup layar ketika aku masuk. "Temen kampus, Ayah," katanya terlalu cepat. Tanganku gatal ingin meraih ponselnya.
1436Please respect copyright.PENANA9Gyu9rZ58O
Sholat Maghrib berjamaah di musholla komplek sore ini hampir membuatku tersedak air liur sendiri. Kyai Farid, yang suaranya biasanya membuatku tenang, ternyata diam-diam memperhatikan Tania yang duduk di shaf wanita dengan tatapan yang membuat tengkukku panas. Aku melihatnya dari balik saf laki-laki, bagaimana matanya yang biasanya teduh itu menyipit seperti sedang mengukur sesuatu, lalu tersenyum puas ketika Tania tidak sengaja menyingkap betisnya saat berdiri. Devita yang duduk di sebelah ibunya malah melirik ke arah Kyai dengan ekspresi aneh, bukan jijik, tapi lebih seperti penasaran. Aku pulang dengan perut mual.
1436Please respect copyright.PENANA9KttXEEktp
"Kamu kenapa akhir-akhir ini? Sering melamun," Tania membelai rambutku suatu malam di teras, bau sabun mandinya bercampur udara malam yang lembap. Aku ingin bercerita tentang kecemasanku, tapi suaraku macet ketika tangannya tanpa sengaja menyentuh leherku. "Nggak ada apa-apa," akhirnya aku bergumam, menikmati sentuhannya yang hangat.
1436Please respect copyright.PENANAlHDoOJTTsl


