Perkenalkan, aku Dedi. Kalau dilihat sekilas, aku ini orangnya biasa-biasa saja. Badan tak terlalu tinggi, tak terlalu pendek. Rambut ikal ala kadarnya yang selalu susah diatur. Wajah? Ya wajah orang kantoran pada umumnya, kadang segar di pagi hari, lesu menjelang sore. Kerjaanku? Staff administrasi di perusahaan percetakan. Gaji cukup buat hidup sederhana, asal tak banyak mimpi.
1661Please respect copyright.PENANAJ8zMRhejMJ
Aku bukan tipe suami yang romantis. Sudah 20 tahun menikah dengan Tania, tapi aku lebih sering bengong di depan TV sambil ngupil daripada ngajak dia jalan-jalan. Dulu waktu pacaran, sempet juga sih aku bikin kejutan ulang tahun pakai lilin dan kue tar. Sekarang? "Uangnya buat belanja aja ya, Than," begitu biasanya. Untungnya Tania nggak pernah komplain. Atau... mungkin aku yang nggak peka kalau dia sebenarnya kesal.
1661Please respect copyright.PENANA7WNmR1WMtT
Rumah kami kecil tapi cukup. Dindingnya sudah mulai kusam, catnya mengelupas di beberapa sudut. Ada bekas coretan Devita waktu masih kecil yang sampai sekarang nggak aku hapus, gambar bunga-bunga aneh dengan spidol merah. Sekarang Devita sudah kuliah. Anakku itu... kalau dipikir-pikir, tumbuh terlalu cepat. Rasanya baru kemarin aku menggendongnya waktu pertama kali masuk TK, sekarang udah semester lima di kampus negeri.
1661Please respect copyright.PENANAJYDhKJ7NvE
Aku ini orang yang mudah percaya. Kata Tania sih, terlalu mudah. Waktu ada tukang service AC bilang kompresornya harus diganti padahal cuma perlu dibersihkan, aku percaya saja. Waktu tetangga nawarin investasi emas dengan iming-iming bagi hasil besar, aku nyaris tergiur kalau nggak dilarang Tania. "Kamu ini baik sih, Ded, tapi kadang baiknya kebangetan," begitu katanya sambil geleng-geleng.
1661Please respect copyright.PENANA2l6mSXWm2T
Yang paling kupercaya? Kyai-kyai dan ustadz. Sejak kecil, Ibu selalu bilang kalau mereka itu penerang umat. Jadi kalau ada pengajian di musholla dekat rumah, aku jarang absen. Apalagi semenjak Kyai Farid sering datang. Suaranya... itu lho, merdu banget. Kalau ngaji bikin merinding. Kalau ceramah, kayak air mengalir, pelan tapi pasti nyemplung ke hati. Aku sering duduk di shaf paling depan biar nggak ketinggalan sepatah katapun.
1661Please respect copyright.PENANAmflmCJA9Pw
***
1661Please respect copyright.PENANALrUFgpcPeU
Perkenalkan juga, Tania istriku. Tania itu… kalau dipikir-pikir, istriku ini perempuan yang unik. Badannya padat berisi, tapi bukan gemuk. Lebih tepat disebut ‘berbentuk’, pinggangnya ramping, tapi pinggulnya melebar dengan lekuk yang selalu bikin aku penasaran meski sudah bertahun-tahun menikah. Dulu waktu muda, dia pernah bilang merasa kurang percaya diri dengan bentuk tubuhnya. "Aku terlalu besar, Ded," bisiknya sambil menatap cermin. Tapi sekarang? Aku sering melihatnya berdiri di depan lemari sambil memeriksa pantulan bajunya dengan puas, tangan meraba-raba lekuk tubuhnya sendiri seperti sedang mengingat-ingat sesuatu.
1661Please respect copyright.PENANA4N0lapQzvC
Rambutnya hitam pekat, panjang sampai ke pinggang. Kalau dibiarkan tergerai, seperti tirai sutra yang bergoyang setiap kali dia menoleh. Tania jarang mengikatnya ketat. Biasanya dia membiarkannya terurai bebas di rumah, atau kalau ke luar, dikepang longgar yang selalu membuat beberapa helai terlepas dan menggelitik tengkuknya. Aroma samponya sederhana, kadang seperti kemiri, kadang seperti bunga melati murah. Tapi entah kenapa, baunya selalu mengingatkanku pada hal-hal yang hangat: sarapan pagi, selimut yang baru dijemur, atau hujan pertama di musim kemarau.
1661Please respect copyright.PENANAeAuOpYQ7Rw
Di luar rumah, Tania selalu rapi. Jilbabnya lebar, gamisnya longgar sampai ke mata kaki, warnanya kebanyakan krem, coklat muda, atau biru dongker. Tetangga-tetangga sering memujinya. "Istri Pak Dedi sholehah ya," kata mereka. Tania hanya tersipu, tangannya merapikan jilbab yang sebenarnya sudah rapi. Tapi di dalam rumah? Ah, di dalam rumah semuanya berbeda. Daster-daster tipisnya, yang sering aku belikan di pasar karena tahu itu satu-satunya hal mewah yang dia mau terima, melekat di tubuhnya seperti lapisan kedua kulit. Warnanya cerah: merah muda, kuning muda, kadang motif bunga-bunga kecil. Dan tanpa BH. Aku tahu ini karena terkadang, ketika dia membungkuk mengambil sesuatu atau meraih piring di rak atas, bentuk payudaranya yang padat terlihat jelas di balik kain tipis itu.
1661Please respect copyright.PENANAhFxJUGfJwH
Aku tidak pernah berkomentar tentang hal itu. Seolah ada kesepakatan diam-diam antara kami: aku pura-pura tidak melihat, dia pura-pura tidak tahu kalau aku melihat. Terkadang, saat duduk di kursi goyang sambil membaca koran, mataku menyelinap ke arahnya yang sedang menyapu lantai atau melipat baju. Gerakannya selalu pelan, seperti tidak terburu-buru, seakan setiap lenggok tubuhnya adalah sebuah kalimat yang sengaja dibiarkan menggantung. Tania jarang menatapku saat itu terjadi. Tapi aku bisa melihat senyum kecil di sudut bibirnya, seperti seseorang yang tahu dirinya sedang diam-diam dikagumi.
1661Please respect copyright.PENANAvMVhKcs11U
Pernah suatu sore, ketika hujan turun dan listrik padam, kami duduk di teras belakang sambil menikmati angin yang tiba-tiba menjadi sejuk. Tania mengenakan daster biru muda yang basah di bagian pundak karena kehujanan tadi. Kain itu menempel di kulitnya, memperlihatkan bentuk bahu yang membulat dan garis punggung yang biasanya tersembunyi. Aku melihatnya dari samping, lalu cepat-cepat menunduk ketika dia menoleh. Tapi rupanya Tania tidak memedulikan atau mungkin tidak menyadari pandanganku. Dia hanya duduk diam, menatap hujan sambil menggulung-gulungkan ujung rambutnya di jari. Saat itulah aku menyadari sesuatu: selama ini, mungkin yang membuatku selalu terpesona bukan hanya tubuh Tania, tapi juga semua hal yang tidak dia katakan, semua gerakan yang dia lakukan seolah tanpa kesadaran, seolah hanya untuk dirinya sendiri.
1661Please respect copyright.PENANAkrSlHdyN4v
***
1661Please respect copyright.PENANA6l142b67s8
Perkenalkan juga, anakku Devita. Kalau Tania itu seperti kopi tubruk yang pekat dan hangat, Devita lebih mirip soda rasa buah, manis, ceplas-ceplos, dan bikin mata serasa dijewer setiap kali muncul. Anakku itu... ya, aku akui, kadang bikin jantungku berdetak kencang bukan karena khawatir, tapi karena heran. Masih ingat waktu pertama kali dia pulang kuliah lalu langsung berganti pakaian dengan crop top ketat itu. Aku sampai nggak bisa ngomong lima menit, cuma bisa ngedip-ngedipin mata kayak orang kena debu.
1661Please respect copyright.PENANAudP16o6ab6
"Dek, kamu pikir ini rumah kos-kosan?" akhirnya aku bisa protes, tangan menunjuk ke perutnya yang terbuka. Devita cuma ketawa, sambil narik-narik ujung bajunya yang pendek banget. "Ayah, di rumah mah boleh lah. Lagian kan AC lagi rusak, panas!" Alasan yang sama yang dia pakai waktu memakai tank top tipis warna merah muda minggu kemarin, yang bikin lengannya, bahunya, dan... bagian lain yang seharusnya nggak aku perhatikan itu, terbuka lebar.
1661Please respect copyright.PENANA8i6Y3lhBEQ
Tapi Devita memang begitu. Sejak kecil, dia selalu punya cara sendiri untuk memutarbalikkan aturan. Jilbab? Dia pakai ke kampus dengan rapih, bahkan sering dapat pujian dari dosen karena kerapiannya. Tapi di rumah? Rambutnya yang hitam sebahu itu dibiarkan tergerai, kadang dikepang asal-asalan sambil ngerjakan tugas. Aku pernah memergokinya sedang tidur siang di sofa dengan baju tidur yang, astagfirullah, nyaris nggak menutupi apa-apa. Segera kubangunkan dia sambil melemparkan selimut. "Ayah lebay banget sih," keluhnya sambil menguap, tapi tetap menurut.
1661Please respect copyright.PENANAy08RKAVQKS
Dia tahu aku nggak bisa marah lama padanya. Sudah dari kecil, setiap kali dia melakukan kesalahan, yang keluar dari mulutnya bukan "maaf" tapi "Ayah sayang Vita kan?" dengan mata berkedip-kedip. Aku selalu kalah. Sekarang pun, meski kadang gerah dengan pakaian "rumahan"-nya itu, aku lebih sering mengelus dada daripada benar-benar menegur. Tania malah lebih sering cengar-cengir melihat kami berdebat. "Biarin aja, Ded. Namanya juga anak muda," katanya sambil menyuapiku sepotong tempe goreng, seperti upeti perdamaian.
1661Please respect copyright.PENANAo1FlbEt8XF
Tapi aku tahu Devita nggak sebandel yang kuduga. Suatu malam, saat aku bangun untuk buang air kecil, kulihat cahaya laptop masih menyala dari balik pintu kamarnya. Kukintip pelan, dia sedang mengetik dengan wajah serius, jilbab longgarnya yang biasa dipakai di rumah terikat longgar di leher seperti scarf. Aku baru sadar, selama ini mungkin terlalu fokus pada cara berpakaiannya, tapi lupa bahwa anak itu selalu ranking tiga besar di fakultasnya. Esok paginya, dengan mata berkantung, dia masih sempat membawakanku kopi sebelum berangkat kuliah. "Ini pahit, Ayah. Tapi nggak sepahit laporan keuangan yang harus Vita selesaikan tadi malem," godanya sambil mencium keningku.
1661Please respect copyright.PENANAJ10x87olTv


