Jam delapan malam, rumah kami mulai dipenuhi bapak-bapak komplek yang berdatangan dengan peci putih dan baju kemeja bersih. Bau minyak wangi memenuhi ruang tamu yang sudah kami kosongkan, digantikan tikar anyaman hijau yang biasa dipakai arisan ibu-ibu. Aku melihat Kyai Farid masuk dengan langkah penuh wibawa, pecinya lebih putih dari yang lain, jubahnya lebih rapi, dan senyumnya lebih lebar saat menatap Tania yang berdiri di belakangku menyambut tamu.
1137Please respect copyright.PENANAy5s7eLa8VK
Kyai Farid melangkah masuk dengan langkah yang terlalu ringan untuk tubuhnya yang berjubah lebar, seperti kucing besar yang tahu setiap sudut rumah ini sudah menjadi wilayahnya. Matanya, Astaghfirullah, langsung menempel pada Tania yang berdiri di belakangku menyambut tamu, menyapu tubuhnya dari jilbab longgar sampai ujung jari kakinya yang bercat merah. "Subhanallah, rumah Ustadz Dedi sangat bersih," ucapnya dengan suara seperti madu yang dituang perlahan, tapi aku melihat bagaimana jarinya itu menyentuh lenganku terlalu lama saat bersalaman.
1137Please respect copyright.PENANA6dc5CeWtWs
Rumah kami bergemuruh dengan suara sandal yang diseret-seret di teras, suara tawa lelaki paruh baya yang saling menyapa dengan panggilan akrab "Pak RT" atau "Bang Herman". Aroma kopi dan kue camilan mengisi ruang tamu yang biasanya harum parfum ruangan favorit Tania.
1137Please respect copyright.PENANAs5X4Txog8n
Kyai Farid melangkah ke tengah ruang tamu kami dengan langkah seperti penguasa yang baru saja memasuki istananya. Matanya yang selalu berbinar itu menyapu setiap sudut ruangan, dari foto pernikahan kami yang tergantung di dinding sampai tirai tipis yang membatasi ruang tamu dan dapur tempat Tania sibuk menyiapkan hidangan. "Subhanallah, rumah Pak Dedi luas juga ternyata ya," ucapnya lagi, kali ini sambil menepuk bahuku dengan gemuruh, tapi telapak tangannya yang lembab itu bergerak terlalu rendah, hampir menyentuh pinggangku seperti orang yang sedang meraba-raba dalam gelap.
1137Please respect copyright.PENANAMftcuJbiKi
Setelah sekitar belasan bapak-bapak komplek terkumpul masuk di ruang tamu, Kyai Farid mengangkat kedua tangannya dengan gerakan melambai yang anggun, seperti wayang kulit yang digerakkan oleh dalang mahir. "Alhamdulillah, hari ini kita bisa berkumpul di rumah saudara kita, Pak Dedi," suaranya mengalun seperti azan maghrib, tapi matanya yang hitam pekat itu melirik tajam ke arah Tania yang sedang membungkuk mengambil kue di meja belakang. Jubah putihnya yang lebar bergerak perlahan saat ia memutar tubuhnya, secara tidak sengaja menyenggol bahuku dengan keras. "Subhanallah, jamuannya sangat lengkap."
1137Please respect copyright.PENANADVLVcPxYHN
Aku tersenyum kaku, sementara dari sudut mataku kulihat Mas Gino, yang datang tanpa diundang, berdiri di pojok ruangan dengan wajah merah padam menatap Tania. Bau sabun mandi murahnya masih menyengat di ruang tamu, bercampur dengan aroma minyak wangi Kyai Farid yang terlalu menyengat. Tania sendiri tampak asyik mengatur piring-piring kecil, tanpa menyadari bagaimana daster kuningnya yang longgar itu ternyata agak menerawang dan menghasilkan siluet tubuh seorang istri yang sangat merawat kecantikannya meski sudah memiliki anak gadis.
1137Please respect copyright.PENANAJiUWRmovAG
***
1137Please respect copyright.PENANAoOodLBsMrt
Lampu ruang tamu yang terlalu terang menggantung tepat di atas kepala Tania seperti sorot panggung teater, menyinari setiap lekuk tubuhnya yang bergerak gemulai saat ia melayani tamu-tamu. Daster kuningnya yang tipis itu, yang seharusnya sudah diganti sejak pagi, ternyata semakin transparan di bawah cahaya lampu halogen, memperlihatkan bayangan bra hitam yang menopang payudaranya yang besar dan kenyal. Aku melihat dengan mata yang semakin panas bagaimana bapak-bapak di ruangan ini perlahan mengalihkan pandangan mereka dari ceramah Kyai Farid, menuju siluet tubuh Tania yang membungkuk mengambil piring di meja rendah.
1137Please respect copyright.PENANAYtkr5wsr02
Kyai Farid berhenti di tengah ayat, mulutnya terbuka lebar seperti ikan yang kehabisan oksigen. Matanya yang biasanya berbinar dengan kharisma sekarang membeku, menempel pada siluet tubuh Tania yang membungkuk di bawah lampu, daster kuningnya yang tipis menjadi layar yang memproyeksikan setiap lekuk tubuhnya dengan presisi memalukan. Aku melihat dengan jelas bagaimana bibirnya yang biasanya lancar melantunkan ayat-ayat suci itu sekarang bergerak gemetar, mengeja sesuatu yang tidak pantas diucapkan di majelis taklim.
1137Please respect copyright.PENANAj7RsRVd9Gt
Tania sadar dan merasakan setiap mata yang menempel di tubuhnya seperti puluhan kupu-kupu yang hinggap di kulitnya. Dari sudut pandangnya yang rendah saat membungkuk mengambil piring, ia bisa melihat jelas bagaimana pipi Kyai Farid memerah, kedua tangannya mengepal erat di pangkuannya, posisi yang terlalu kaku untuk sekadar bersila biasa. Bibirnya yang biasanya fasih melantunkan ayat-ayat itu sekarang menggerakkan lidahnya dengan gerakan yang lebih mirip orang mencoba mengeluarkan biji durian dari mulutnya.
1137Please respect copyright.PENANAdKyNLWUEFH
Dengan gerakan yang disengaja pelan, Tania membiarkan daster kuningnya melorot lebih jauh saat ia bangkit dari posisi membungkuk, memperlihatkan garis leher yang dalam. Ia melihat dengan puas bagaimana Kyai Farid menggeser posisi duduknya dengan gelisah, kedua tangannya kini menekan sesuatu di antara pahanya seperti orang menahan sakit perut.
1137Please respect copyright.PENANACkxuvOzayp
Tania lalu dengan nada canda dan agak genit, "Iih bapak-bapak harus fokus ngajinya lho, masa ngeliatin saya terus? Hehehe." Suaranya melengking seperti anak SMA yang sedang menggoda pacarnya, sementara tangannya dengan sengaja mengangkat piring kue basah ke atas, membuat lengannya yang halus terekspos hingga ketiak. Perkataan itu membuat semua sadarkan diri dan menunduk malu, semua kecuali Kyai Farid, yang malah mengeluarkan tawa kecil seperti orang dewasa yang menertawakan kenakalan anak kecil.
1137Please respect copyright.PENANApardrXZOzn
Aku sadar, istri-istri mereka semua tidak secantik Tania. Di antara ibu-ibu komplek yang sudah melar dan jarang berdandan, Tania ibarat kupu-kupu tropis di antara ngengat malam. Kebanyakan dari mereka sudah gendut, kulitnya kusam oleh urusan dapur dan cucian, tidak mampu merawat diri seperti Tania yang selalu mandi dua kali sehari dan rajin mengoleskan lotion. Jauh sekali dengan Tania yang bahkan selepas melahirkan Devita masih bisa memakai baju ukuran S.
1137Please respect copyright.PENANAqsYk0gDZwl
Tapi ketika Tania jadi tontonan bersama seperti ini, daster kuningnya yang semakin transparan di bawah lampu halogen, bayangan bra hitamnya yang jelas terlihat setiap kali ia bergerak, ada yang aneh dalam pikiranku. Bukan cuma rasa cemburu biasa, tapi semacam kegelisahan bahwa sesuatu yang seharusnya privat kini dipamerkan secara tidak sadar. Atau mungkin... benar-benar disadari?
***
1137Please respect copyright.PENANAvoctL6uDn0
Akhirnya, setelah semua piring kue diberikan ke bapak-bapak, dengan bantuan Devita yang kini mengenakan baju sopan dan hijab lebar yang menutupi rambutnya sampai ke dada, bukan lagi crop top merah yang hampir mempertontonkan putingnya yang keras, pengajian pun dimulai. Tania dan Devita duduk di pinggir tikar, hanya mendengarkan ceramah Kyai Farid sesekali sambil sesekali berbisik, karena ini pengajian laki-laki, dan mereka hanya diizinkan hadir sebagai 'pelayan' acara.
1137Please respect copyright.PENANAgE9NsWJGTv
Kyai Farid memulai ceramahnya dengan suara yang mengalun seperti azan maghrib, tapi matanya yang hitam pekat itu tak pernah benar-benar meninggalkan sosok Tania yang duduk bersila di sudut ruangan. Daster kuningnya yang longgar tetap memperlihatkan siluet tubuhnya yang ramping, meski sekarang lebih tertutup dibandingkan tadi. Devita, di samping ibunya, sesekali mengoreksi posisi hijabnya yang terus melorot, seakan tak terbiasa dengan pakaian yang menutupi begitu banyak kulitnya.
1137Please respect copyright.PENANABdpHIeYhXe
Kyai Farid berceramah soal kerukunan bertetangga, tapi kupingku justru menangkap bisikan-bisikan kotor di barisan belakang. "Anaknya Dedi tobrut juga ya, hihihi," bisik Pak RT dengan suara serak, sementara Mat Gino menyahut dengan desahan, "Pasti jago ngentot hahaha." Mereka terkikik seperti anak SMP yang melihat gambar porno di buku pelajaran, tanpa peduli aku duduk hanya dua meter di depan mereka. Bau keringat mereka yang bercampur minyak wangi murah menyengat hidungku, lebih menusuk daripada kata-kata cabul yang mereka lontarkan tentang istri dan anakku.
1137Please respect copyright.PENANA2w8U3wAPg0
Devita menggeser posisi duduknya di sudut ruangan, hijab longgarnya bergerak perlahan mengikuti gerak tubuhnya yang gelisah. Aku melihat dengan mata yang semakin panas bagaimana pandangan Mas Herman, yang biasa meminjamkan aku gergaji, menyapu tubuh anakku dari balik kacamata kotak-kotaknya, lidahnya sesekali menjilat bibir atas yang pecah-pecah. "Kalau yang muda itu mah pasti masih ketat," bisiknya pada Pak RT, "beda sama ibunya yang udah pernah melahirkan." Tangannya membuat gerakan melingkar di udara, menggambarkan sesuatu yang membuat jantungku berdebar keras.
1137Please respect copyright.PENANAv9E0TI7Zw2
Tania duduk tegak di sebelah Devita, wajahnya tenang seperti tidak mendengar ejekan kotor itu. Tapi aku tahu persis caranya menggigit bibir bawah, tanda ia sedang menahan emosi, atau mungkin menahan sesuatu yang lain. Daster kuningnya masih terlalu transparan di bawah lampu halogen, memperlihatkan bayangan bra hitamnya yang bergerak naik turun mengikuti napasnya yang semakin cepat. "Istrinya Dedi mah dari dulu udah genit," bisik seseorang di barisan belakang, suaranya jelas terdengar di tengah ceramah Kyai Farid tentang akhlak mulia. "Dulu waktu masih gadis aja suka pakai rok mini."
1137Please respect copyright.PENANATrJwtDUOjt
Kyai Farid sendiri tampak kesulitan memusatkan perhatian. Matanya yang biasanya tajam mengawasi jamaah sekarang melayang-layang antara Tania dan Devita, seperti lebah yang bingung memilih bunga mana yang akan dihisap. Suaranya yang biasanya lancar sekarang tersendat-sendat saat ia melihat Tania membetulkan posisi daster yang melorot dari bahu kirinya, memperlihatkan kulit pucat yang biasanya hanya kulihat di kamar tidur. "Dan... eh... sebagai seorang muslim... kita harus..." ucapnya gagap, tangannya memegang erat buku catatan ceramah di pangkuannya seolah buku itu bisa menutupi reaksinya yang memalukan.
1137Please respect copyright.PENANAQTaHl9pv3m
1137Please respect copyright.PENANAKQ5vJPIhli


