Tim damkar Bara menjalani diklat mereka di kantor utama Bangun Persada. Acara ini memang udah dinanti para anggota tim, karena perusahaan tersebut termasuk level bintang 5 yang notabene masih bisa dihitung untuk standar kota tempat tinggal mereka.
Tim damkar sendiri berusaha profesional walau hati mereka tengah meledak parah. Berbagai tutor mereka praktekkan dengan lincah, sembari sesekali interaksi bersama para pegawai yang berkesempatan lihat langsung aksi cepat tanggap mereka ini.
"Gimana? Manteman ada pertanyaan?" sesi tanya jawab pun Bang Erwin buka usai tim melakukan pertunjukan terakhir.
"Pak..." seorang pegawai spontan unjuk tangan dan menerima mic yang disodorin Bara.
"Mmm, sebelumnya kenalin nama saya Jennifer, biasa dipanggil Jenni, posisi saya staff di divisi akunting."
"Oh iya, Mbak Jenni, Silakan."
"Jadi gini, Pak, ini sih sebetulnya bukan pertanyaan, tapi lebih ke permintaan." cewek bernama Jenni itu tampak malu-malu di hadapan Bang Erwin dan timnya.
"Boleh, silakan, mau minta apa?" walau awalnya kaget, Bang Erwin tetap kasih tuh cewek mengutarakan yang ia harap.
"Gini, Pak, saya kan ulang tahun minggu depan, tapi malming kemarin, saya habis diputusin sama pacar saya."
Uraian tuh cewek kontan bikin ruangan berisik dipenuhi riuh siul para peserta.
"Oke, oke," walau masih geli, Bang Erwin berusaha kalem dan balik fokus usai gelak mereda.
"Ya, Mbak, silakan terusin!"
"Jadi, apa boleh saya dibuatin party kecil-kecilan sama Abang-Abang ini?" ucapan susulan Jenni malah bikin ombak tawa jadi lebih heboh dari sebelumnya.
"Gimana ya, Mbak?" Bang Erwin garuk-garuk kepala saking bimbang menentukan pilihan.
"Nanti habis acara, langsung nego anak-anak ini, ya! Mereka sanggup kok, tenang aja."
Fandi, Jono, dan Bara, jelas kaget dengan kebijakan Bang Erwin tersebut. Sayangnya si danru pura-pura cuek, dan tetap show must go on walau bergantian dicolek tiga cowok itu.
======
PT. Bangun Persada develop memiliki dua kantin di masing-masing lantai. Kantin steril di lantai satu samping pintu utama, serta kantin fertil di area basement untuk para perokok dan pengguna vape di sana.
Tim damkar pun sepakat menuju kantin fertil mengingat Bang Erwin dan Jono termasuk ahli hisap. Mereka pun menaruh bareng vape di meja, sambil lalu meminta seorang waiter datang untuk kasih buku menu tuh kantin.
"Kamu ngapain tho, Bar? Gabut banget, segala hamster dipakanin." Fandi yang duduk di sebelah Bara, jelas heran melihat tingkah kompatriot birunya itu.
"Nggak apa-apa kali, Fan, kan dia butuh makan siang juga, kayak kita." tandas Bara sambil terus memberi sang hamster biji-bijian dari kantongnya.
"Ingat lho, Bar, itu properti, jangan sampai lepas!"
"Aman, Bang, tenang." Bara kembali santai menjawab warning Bang Erwin barusan.
4 piring rendang pun menghampiri begitu obrolan singkat mereka kelar. Mereka pun menghadapi segera piring masing-masing, dengan Bang Erwin dan Jono lebih dulu memasukkan vape dalam seragam yang mereka pakai.
"Seriuskah kita harus penuhi permintaan cewek tadi? Itu kayaknya terlalu jauh deh, Bang, dari jobdesk." Jono rupanya masih kurang sreg dengan tugas dadakan yang Bang Erwin kasih.
"Nggak ada batas jobdesk buat damkar, Jon, selama nggak disuruh nyolong atau nipu, kita sikat, itu komit nggak tertulis sejak kita diklat dulu." tegas Bang Erwin, menekankan timnya agar nggak sampai sombong pilih-pilih kerjaan.
"Tapi masa datangi rumah orang tengah malam sih, Bang? Mana cewek lagi, entar warga salah paham, gimana?" Fandi ikut komplain melengkapi keluhan awal Jono barusan.
"Kalau gitu kalian tunggu depan rumahnya aja, nggak perlu sampai masuk." Bang Erwin menjawab lugas kekhawatiran yang diutarakan Fandi.
"Lagian ya, kalian lupa alasan cewek itu? Dia baru diputusin. Rejeki nomplok kalian tuh, kali-kali dia nyangkut sama salah satu dari kalian. Nggak ada salahnya kan?"
Trio damkar pun pasrah, namun roman mereka seperti menerjemahkan dua kata dalam tiga muka. 'DANRU PE'A!'
Piring mereka sendiri perlahan licin seiring jam makan siang yang hampir habis. Tapi saat ingin beranjak melanjutkan aktivitas...
"Bar, hamster tadi mana? Kok kandangnya kosong?"
Celetukan Jono auto bikin Bara dan yang lain tersadarkan.
"Wah iya, kandangnya kebuka, duh," Bara auto celingak-celinguk cari keberadaan si hamster kini. "di mana lagi?"
"KYAAAAA..." sepotong teriakan menjawab bingung para damkar yang baru kenyang.
"TIKUUUUUUS, TOLOOOOONG..."
Nggak pakai lama, Bara pun menangkap hamster yang ternyata nangkring di heels seorang staff wanita.
"Iiiiiiiiiiih, Mas nih kalau piara hewan, jagain yang benar dong! jangan sampai kabur-kaburan gitu. Untung nggak sampai naik makanan saya." walau udah minta maaf, tetap aja Bara dikasih kalimat mutiara dari wanita korban hamsternya itu.
"Udahlah, jadi nggak selera makan saya."
Wanita itu lantas minggat dengan wajah ngambek, dan bikin Bara jadi target enam mata tajam dari meja tempatnya makan tadi.
======
Sesampainya di markas, aktivitas Bara nggak berubah dan terus kasih hamster itu makan. Namun dari wajah serta gestur lemasnya, kelihatan banget mood cowok itu lagi drop tajam kayak habis kehilangan ratusan juta dari meja judi.
Wajar sih Bara lesu. Gara-gara insiden di diklat tadi, Bang Erwin memberinya SP berupa bebas tugas selama dua pekan. Suratnya sendiri kini ada di samping Bara, usai Idah mengantarnya atas instruksi sang danru sepulang mereka diklat tadi.
"Hei, Bar," Fandi yang muncul bareng Jono, seketika menyapa sambil menepuk pelan bahu Bara. "belum pulang?"
"Hmm..." Bara hanya menggumam, seraya terus memberi himawari ke si hamster.
"Kenapa, Bro? Masih sedih diskors Bang Erwin?" Jono pun mendekat sambil erat merangkul pundak Bara.
"Gimana nggak sedih, Jon, dua minggu magabut, di rumah doang ngapain?"
"Ya udah, ambil hikmahnya, Bang Erwin cuma mau kamu introspeksi, biar besok masuk, nggak sampai diulang kesalahan tadi."
"Jono benar tuh, Bar," timpal Fandi, tanpa basa-basi mengiyakan omongan Jono itu. "kita kan berkali-kali bilang, hati-hati kalau kerja. Jangan sampai cerobohmu bikin rugi semua pihak."
"Tapi gara-gara ini aku nggak bisa bantu kalian minggu depan, Fan, aku jadi merasa bersalah nggak bisa ikut surprise party si mbak-mbak tadi."
"Oalah, itu tho?" Jono kontan melepaskan rangkulannya dari Bara.
"Kamu naksir tuh cewek?" Fandi kambuh kepo merespon tingkah dua sahabatnya itu.
"Elah, dikit-dikit naksir kamu tuh," Bara terang menampik sangkaan Fandi yang mulai menjurus suudzon. "aku pure mau bantu kalian, Bro, selama ini kita sama-sama terus bertiga kan? Jadi kok, kayak janggal aja gitu, kalau tiba-tiba salah satu dari kita nggak ikut."
"Gitu aja kamu pikir, Bar. Tenang, kamu bakal kita ajak juga kok, bisa diaturlah itu."
"Cuma ada sedikit syarat, Bro, kamu mesti cari kuenya dulu, terus kita urunan, kamu yang eksekusi belinya." Jono menimpal Fandi dengan sebuah ide yang kayaknya spontan.
"Atau kalau mau ringkas, kenapa nggak order ke Ibumu aja? Beliau kan jago bikin kue?"
"Jago sih jago, Fan, tapi segede itu." Bara tampak kurang setuju sama usul alternatif dari Fandi. "Belum lagi pengantarannya."
"Nggak perlu gede banget juga kali, Bar, 10 sampai 15 senti apa susahnya sih?"
"Nah soal distribusi, nanti biar aku sama Fandi yang ke sana," Jono melengkapi jawaban dari pertanyaan Bara ke Fandi. "kali-kali bisa ketemu Reni lagi kan?"
"Yeee, maunya." Bara pura-pura agresif, yang tentu reflek dihindari Jono walau sambil cengengesan.
"Ayolah! Udah jam 5 lewat nih."
***67Please respect copyright.PENANAXFYKmcS0FU


