Hari ini hari Jum'at. Dan seperti yang udah-udah, Jum'at adalah saat rutin Sekar merekap tabel mingguan soal kesehatan hewan-hewan dalam karantina.
Satu-satu hewan dalam kandang ia cek, termasuk kucing tim damkar yang dia tempatkan pada pojok karantina. Tugas ini memang khusus diembankan Dokter Willy, mengingat klinik masih belum mumpuni merekrut dokter yang sekualitas dengan Sekar.
Sekar pun beranjak ke rak pakan guna memberi makan makhluk-makhluk imut itu. Burung, kucing, anjing, hingga kelinci Sekar asup bergilir, sebelum akhirnya ia ambil kunci setelah memastikan mereka telah ternutrisi semua.
"Via, Glenn..." Sekar tentu kaget melihat dua rekannya asyik nongkrong di parkiran klinik.
"Kalian ngapain malam-malam ke sini?"
"Yo, Sekar, kami niat mau happy-happy, tolong kamu, janganlah tolak kami lagi." dengan gestur khas rapper Bronx, Glenn pun menyampaikan niat ingin ajak Sekar jalan-jalan.
"Apaan sih?" Sekar jelas risih dan ancang-ancang menghindar ke mobilnya.
"Kalau mau jalan-jalan, ya udah sana! Aku capek nih, mau langsung pulang."
"Sekar, come on," Novia pun mendekat dan tanpa ragu memegang bahu Sekar. "mau sampai kapan kamu hidup tanpa hiburan?"
"Kita nih manusia, Kar, udah hak badan untuk senang-senang, kalau kamu terus-terusan pikir kerjaan, sama aja kamu siksa dirimu sendiri. Wajar kamu cepat capek."
"Yo, Via, berhenti kamu marah-marah, biar Sekar ambil semua keputusannya." dari belakang setir, Glenn menasehati Novia walau tetap pakai gaya paling rappernya.
"Ayolah, Kar, nggak tiap hari ini lho."
"Aku sih sebenarnya mau aja jalan-jalan, Nov, tapi kamu tau kan gimana Papaku? Entar kalau..."
"Papamu biar kita yang handle! Aku sama Glenn bakal antar kamu duluan pas balik nanti." Novia pun memotong supaya Sekar berhenti merasa tertekan.
"Glenn, kamu duluan! Aku biar di mobilnya Sekar, nanti saling kontak aja kalo udah sampai!"
Sekar pun menurut, dan pasrah saat Via merangkulnya masuk mobil.
======
Sementara di rumahnya, Bara sedang memilih outfit untuk dikenakan pas diklat besok. Dia tau akan masuk ke lingkungan elite, hingga effort harus lebih maksimal dibanding hari-hari dinasnya selama ini.
Beberapa set Bara persiapkan guna di-mix up satu sama lain di badan. Tapi hingga 5 set lepas dari lemari, cowok ganteng itu tetap bingung menentukan setelan yang pas untuk dia pakai besok.
"Yang mana enaknya ya? Kalau berdasar kesepakatan sih, baju dongker artinya boot dongker." Bara tampak bimbang menimang dua boot lain warna di tangan.
"Tapi boot dongker-ku mau sobek gini, masa iya kubawa ke tempat bonafit kayak gitu? Bisa ngamuk Bang Erwin."
"Bara, Baraaaa..." suara Ibu Bara tiba-tiba terdengar dan bikin Bara menengok pintu. "Ya, Buuuu..."
"Kamu lagi apa sih? Betah betul di kamar, kayak cewek aja." Ibu Bara pun menelusup sambil menatap seisi kamar putranya.
"Ya ampun, Bar, kamu apa-apaan? Bagus-bagus seragam Ibu setrika, diberantakin lagi. Hadeeeeh."
"Itu udah, Bu, jawabannya. Bara lagi milih-milih outfit untuk diklat besok, makanya lama di kamar." sambil cengengesan, Bara memperjelas alasan dirinya nggak keluar kamar sejak tadi.
"Kamu tuh." Ibu Bara tetap ngomel, walau kini dibarengi sikap beres-beres efek naluri keibuan yang keluar.
"Udah, mending makan dulu sana! Urusan seragam, biar Ibu yang pilih, kamu terima beres aja."
Bara pun manut, dan keluar kamar menuju ruang makan di area tengah.
"Eh, Abang keluar juga. Reni kira Abang bertelur dalam kamar." sampai sana, Bara malah disambut ledek Reni yang stand by lebih dulu.
"Reni!" Bapak Bara seketika menegur lisan anak gadisnya yang dirasa kelewatan.
Bara sendiri memilih kalem, dan ambil piring untuk menuntaskan demo cacing-cacing di perutnya.
"Ngapain sih kamu di dalam tadi? Tumben banget."
"Siapin baju buat besok, Pak, kan Bara udah bilang, mau ikut kasih diklatsar di Bangun Persada." tandas Bara ringkas, usai menelan suapan yang agak menunda ia menjawab.
"Cieee, yang mau masuk perusahaan elite, hati-hati, Bang, entar kepincut karyawati bening di sana."
"Sirik?" Bara nggak tahan juga membalas ledekan saudari mudanya tersebut.
"Makanya, buruan lulus, beresin skripsi! Biar cepat kamu dapat kerja di tempat kayak gitu."
"Kalian ini kok ribut aja kerjanya, di depan tuh makanan lho, nggak baik berantem di depan makanan." ujar Bapak Bara, seraya menguyah udang yang baru Beliau cocol ke saus.
"Habisnya Reni sih, Pak, orang lagi..."
"Mau ribut habis makan! Sekarang beresin dulu yang ada di piring kalian!"
Teguran Bapak Bara auto bikin mereka mingkem.
======
Sekar, Novia, dan Glenn, tiba di sebuah night club area jantung kota. Ketiganya disambut hingar-bingar musik DJ, serta warna-warni dari lampu disko yang menari di atas tubuh para pengisi club.
Mendengar jedag-jedug sound, darah glamor Glenn jelas susah ditahan. Segera aja tuh cowok turun melantai, yang diikuti Novia usai sesaat menemani Sekar duduk.
Sekar sendiri hanya termenung sambil sesekali menyedot tequilla blast pesanan dia. Setengah jam hampa dilalui tuh gadis, sebelum akhirnya Via balik mendampingi walau kini dengan nafas ngos-ngosan.
"Nggak ikut joget kamu? Asyik lho."
"Malas ah, kurang kerjaan banget, kayak orang kesurupan." sahut Sekar tajam, sambil lantas menyeruput tequilla yang udah tinggal seperempat.
Novia lantas pesan minum untuk mengalih sejenak suasana. Dia tau mood Sekar lagi naik turun, dan jelas perlu effort ekstra untuk bikin sahabatnya itu lebih luwes berbicara.
"Kamu kok vibes-nya lesu gitu sih, Kar? Masih kepikir Papamu?" Novia akhirnya bocor usai didiamkan hingga seperempat jam.
Sekar cuma menarik nafas, lebih karena bimbang hendak menjawab tanya Novia apa nggak.
"Atau, soal teguran Bu Tami kemarin?" usaha kedua Novia baru deh bikin Sekar menoleh.
"Tau dari mana kamu?"
"Ayolah, Kar, tembok klinik banyak kuping. Jujur aja, aku sama Glenn bawa kamu ke sini, biar kamu bisa lupain itu."
Walau nafasnya berat, Sekar memang mengakui masih stres gara-gara situasi kemarin.
"Udahlah, yang penting kan kamu udah dimaafin? Terutama sama yang kamu tempeleng kemarin tuh. Ngapain kamu masih overthinking? Anggap aja itu insiden cuma mimpi sesaat."
"Aku masih ganjal, Nov, sebab kemarin kita nggak sempat ketemu. Permintaan maaf cuma dikasih Dokter Tami via telepon, itu pun yang dia call suaminya sendiri." Sekar akhirnya terbuka juga menumpah seluruh uneg-unegnya.
"Intinya, kamu masih merasa bersalah sama peristiwa kemarin?" terka Novia, yang tentu direspon Sekar pakai anggukan samar di balik nafasnya.
"Ya udah, kalau gitu ke sana lagi aja. Cari korban tanganmu, minta maaf langsung ke dia." Via to the point kasih Sekar saran.
"Kamu tuh ada-ada aja, Nov, masa aku yang datangin cowok? Itu kan..."
"Mau kelar nggak masalahmu? Apa perlu kutemani juga?"
Omongan Novia auto bikin Sekar terdiam kena mental.
***188Please respect copyright.PENANAfXsDXHQc7r


