Dokter Utami berdiri tenang di ruangan kerjanya. Beliau memandang lekat Sekar, yang kini terlihat lesu menunduk seolah ada dalam penyesalan.
"Kok bisa sih?" tanya Dokter Utami, sambil lantas merapat ke Sekar. "Ada apa kamu sama anak damkar itu?"
"Untung aja rekamannya saya duluan yang dapat, coba kalau Dokter Willy, habis kamu kena setrap."
"Habis dia kurang ajar sih, Dok, peluk-peluk orang sembarangan." Sekar coba bela diri dan menerangkan insiden yang terjadi hari itu.
"Peluk?" jidat Dokter Utami auto kerut. "Gimana ceritanya? Saya lihat di rekaman, kalian cuma jatuh bareng, nggak sampai pelukan."
Sekar pun bercerita ulang kronologi di lab, sedang Dokter Utami pasang kuping buat partner kerjanya hingga tuntas.
"Oalah, gitu tho," senyum terkembang dari Dokter Utami. Kayaknya beliau paham apa yang harus dilakukannya.
"Coba, Dok, cewek mana nggak marah digituin cowok nggak dikenal? Dokter juga pasti kan, andai ada di posisiku?" merasa dapat angin, Sekar menumpah kembali kekesalannya ke Dokter Utami.
"Tapi nggak perlu reaktif gitulah, Kar, ambil positifnya, barangkali dia nggak sengaja."
"Nggak sengaja apanya, Dok? Dia tuh..."
"Sekar, ingat, kita ini dokter." Dokter Utami memotong segera protes Sekar.
"Kita udah ambil sumpah, bakal melayani pasien secara profesional, apa pun yang terjadi. Sikapmu berlebihan kemarin."
Sekar kembali manyun di hadapan Dokter Utami.
"Gini aja, saya janji hapus itu rekaman, asal kamu mau ikut ke kantor Bang Erwin." Dokter Utami serta-merta kasih alternatif sebagai win-win solution.
"Buat apa, Dok?" giliran Sekar yang kini mengernyit.
"Minta maaf lah, Kar, gimanapun mereka tuh pasien, wajib kita bertanggung jawab kalau melakukan hal nggak terpuji ke mereka."
"Tapi..." Sekar mau ngeyel lagi.
"Saya telepon Dokter Willy ya?" gertak Dokter Utami, sambil memainkan dikit ponsel di tangannya.
Sekar pun menyerah, dan bersedia ikut walau terpaksa.
======
"Maaf ya, Dok, baru banget mereka berangkat." ujar Idah waktu Dokter Utami datang menanyakan posisi Bang Erwin dan tim. Di belakangnya, Sekar berusaha tenang walau gestur gelisah sulit untuk disembunyikan.
"Oalah, pantas saya call nggak diangkat." Dokter Utami pun paham, tapi matanya belum lepas dari sosok resepsionis gemoy itu.
"Barangkali ada pesan, Dok? Biar nanti saya sampaikan."
"Oh, nggak, nggak ada," jawab Dokter Utami, sambil menggelengkan kepala. "tapi kalau mereka balik, tolong minta Bang Erwin call back saya ya! Ada yang mau anak ini omongin, penting!"
"Siap, Dok, baik."
Dokter Utami pun menggandeng Sekar ke parkiran mobil mereka.
"Jangan sedih, Sayang, saya bukannya menghukum kamu kok." Dokter Utami ternyata peka melihat kondisi Sekar yang tertekan.
"Justru saya mau bantu kamu, biar semua clear tanpa harus ada masalah lagi."
Sekar hanya diam, dan pasang seat belt tanda ia telah siap jalan lagi.
"Ya udah, ini kan jam makan siang, gimana kalau kita mampir ke warung Padang langgananmu? Saya traktirin deh."
Sekar pun menoleh, lalu manggut manut usai Dokter Utami memberikan kode alis padanya.
Dokter Utami pun melajukan mobil, hingga tiba di satu warung berornamen Minang kental di sekelilingnya.
"Oh ya, omong-omong anak kucing milik mereka gimana?" di sela melahap tunjang, Dokter Utami kembali tanya soal titipan kecil tim damkar pada Sekar.
"Aku masukin karantina, Dok, mungkin sekitar sepuluh hari lagi lah, baru dilepas." Sekar pun menerangkan, yang serta-merta diiring angguk kepala Dokter Utami.
"Entar dulu, Kar." merasa ponselnya bunyi, Dokter Utami bereaksi dan membersihkan tangan sebelum menerima. "Iya, Bang..."
Dokter Utami sesaat menjauh menyahut telepon. Sekar sendiri hanya diam di meja makan, namun matanya tetap menyorot berharap damkar nggak memperpanjang insiden tempo hari.
"Tenang, Kar, Bang Erwin memilih nggak mempermasalahkan lebih jauh, kita bisa langsung ke klinik habis ini."
Aura lega kontan terasa dari hembusan nafas Sekar.
"Tapi ingat, jangan diulang lagi perbuatan kemarin! Jaga citra seorang dokter."
Sekar manggut beo, dan melanjutkan santap siang bareng Dokter Utami.
======
Di tempat makan lain, Bang Erwin juga menikmati nasi campur sebagai menu makan siang Beliau. Sang danru sendiri hanya ditemani Bara, yang duduk di depan Beliau usai memesan menu serupa pada pemilik warung nasi tersebut.
"Jadi merah kemarin tuh, karena kamu habis ditempeleng ya?" Bang Erwin langsung menembak di tengah lahapnya makan.
"Iya, Bang," sekali lagi, Bara menanggapi sambil cengengesan.
"Kenapa lagi memang? Dan kenapa kamu bohong, bilang tuh merah bekas jatuh?"
"Saya bohong apa, Bang? Yang bilang gitu kan Jono, bukan saya?" Bara sedikit protes sama pertanyaan terakhir Bang Erwin.
"Iya juga ya," Bang Erwin pun mengakui ucapan anak buahnya itu. "tapi soal kamu digampar, kenapa bisa waktu itu?"
Bara pun berkisah dari versinya, tapi itu bikin Bang Erwin kaget hingga nggak sengaja keselek nasi di mulut beliau.
"Jadi kamu peluk tuh dokter?" Bang Erwin menyambung usai keseleknya teredam.
"Astaga, Bar, pantas kamu ditampar, itu masuk ranah pelecehan udah, masih untung dia nggak laporin kamu ke polisi."
"Gimana, Bang? Namanya kecelakaan, lantai licin, kepleset deh saya."
"Persepsi orang beda-beda, kamu bisa aja ngomong kecelakaan, tapi tuh dokter? Bisa juga pikirannya lain." Bang Erwin menepis argumen yang disampaikan Bara.
Obrolan sejenak terjeda pemilik warung yang datang bareng order Bara. Dia pun menyusul lahap si danru, tapi kemudian...
"Siapa lagi telepon nih? Nggak tau orang lagi makan apa." Bang Erwin auto bereaksi saat merasakan getaran ponsel dari dalam saku celana.
"Iya, Dah, ada apa?" Bang Erwin merespon begitu tau sosok yang menghubunginya.
"Ha? Truk mogok? Fandi sama Jono di mana memang? Suruh mereka aja dulu! Shareloc aja, nanti saya sama Bara susul habis makan."
"Kenapa, Bang?" tanya Bara usai telepon Bang Erwin putus.
"Ada truk mogok di jalan tol, Bar, kita harus ke sana habis makan ini."
Bara senyum kecut, mendapati satu lagi tugas aneh singgah menghampiri tim damkar.
***180Please respect copyright.PENANAUOpcu20xyz


