Situasi pagi keluarga Bara lebih kalem dari biasanya. Empat penghuni rumah sarapan secara damai, dengan menu nasi goreng handmade yang akan Ibu Bara titip kala suaminya ke sekolah nanti.198Please respect copyright.PENANAi3PoOukC2r
Mereka semua sarapan dengan lahap, tapi Bara agak gelisah lantaran bekas tangan Sekar masih menyisakan nyeri di sekitar pipinya.
"Ada apa tho, Bar? Dari semalam Bapak perhatiin, kamu pegang pipi terus." Bapak Bara jelas heran melihat tingkah absurd sang anak bujang.
"A-anu, Pak, sakit gigi." Bara mau nggak mau bohong agar dirinya nggak sampai diberondong pertanyaan.
"Tuh kan?" alih-alih sang Bapak, malah Ibu Bara yang menyambar jawaban tadi.
"Udah berapa kali Ibu bilang, 'sikat gigimu, Bar, sikat', kamu nggak mau dengar, rasain sekarang."
Bara cengar-cengir menanggapi. "Hehe..."
"Berobat sana, Bang, mana tau lubang gigi Abang udah segede ban branwir." celetuk Reni, yang berhadiah kepretan ringan dari kursi sebelahnya. "Enak aja, gigi Abang nggak se-terlantar itu ya."
"Adikmu ada benarnya sih, Bar, pas pulang nanti, singgah ke dokter gigi. Periksa."
Keluarga itupun berpisah sesaat, seturut persiapan masing-masing sebelum pergi beraktivitas masing-masing.
"Ingat, Bar, kerjaanmu resikonya tinggi, kurangi cerobohmu. Ibu nggak mau kamu kenapa-napa pas kerja." Ibu Bara kasih nasehat, sambil merapikan kerah seragam Bara di ambang pagar.
"Siap, Ndan." canda Bara, sembari kasih gestur hormat hingga bikin si Ibu mesam-mesem sendiri.
Bara pun bersiap berangkat, tapi saat mau pamit ke Ibunya...
"HUWAAAAAAAA..." teriakan Reni seketika bikin mata keduanya beralih.
"Siapa yang geletakin cicak mati di sepatu Reni nih?"
"Waduh, Bu, Bara berangkat dulu ya? Assalamualaikum." Bara mendadak sibuk mendengar teriakan tadi. Kayaknya dia dalang di balik cicak dalam sepatu Reni.
"Eh, jangan lupa ini!" Ibu Bara memberi segera kotakan isi roti potong ke Bara.
Bara menerima dan berucap terima kasih, lalu melesat tepat saat Reni menyusulnya ke luar pagar.
"BANG BARAAAAAAAAAA!!!"
======
"Nah, ini mereka." celoteh Idah bikin Bara, Jono, serta Fandi yang baru pulang makan siang, hilang senyum dan bingung bareng.
"What happened, Mbak?" Bara mewakili heran teman-temannya.
"Ditunggu tuh." sambil terus ngemil keripik, Idah hanya berisyarat mata memberitau informasinya pada tim Bara.
Trio itu lantas menoleh sisi kiri, di mana seorang pria paruh baya tampak duduk dengan setelan kaus kumal dan sarung motif kotak di bawah.
"Oh ya, Pak, ada yang bisa kami bantu?" tanya Bara ramah, sembari mendekat ke arah tuh bapak.
"I-iya, Bang, N-nama saya, K-Kasiman." bapak itu sepertinya ada penyakit gagap dalam berbicara.
"Oh, baik, Pak, boleh tau apa aduannya?"
"R-rumah saya, Bang," Pak Kasiman mulai menjelaskan walau tertatih. "Bohlamnya ng-nggak bisa dinyalain, t-tolong baikin dong, Bang."
Bara, Fandi, dan Jono, saling tatap dengan bingung.
"B-bisa kan, Bang?"
"Bisa kok, Pak, tenang aja." dengan pede, Fandi menyanggupi permintaan si bapak paruh baya.
Tuh cowok lantas merangkul tubuh Pak Kasiman, dan membimbing sang bapak keluar meninggalkan Bara dan Jono.
"Makin aneh aja tugas kita, Jon." ucap Bara yang hanya disenyumi rekan berlogat Ngapak-nya itu.
Tim damkar pun segera melaju, hingga tiba di sebuah rumah yang tampak belum terbangun sepenuhnya.
"Ini rumah Pak Kasiman?" Bara nggak tahan menumpah rasa bingung buat nih rumah.
"I-iya, Bang, b-baru dibangun d-dua bulan lalu. Buat bini muda."
"Pantas." Jono awalnya cuek, tapi seketika terkesiap menyadari jawaban akhir Pak Kasiman.
"Buat siapa, Pak?"
"S-sini, Bang, saya lihatin." Pak Kasiman berlalu tanpa merespon kaget Jono. Tim damkar pun dibawa ke kamar mandi, di mana ruang tersebut masih belum tertata rapi dan kering tanpa air sebulir pun.
Bara pun mulai mengeluarkan obeng guna buka saklar. Pelan tapi pasti tuh cowok melakukannya, hingga ketemu satu cicak mati nggak lama usai saklar terbuka total.
"Ini sebabnya," Bara menggumam, seraya melirik Fandi yang berdiri di sebelah kanan dia. "Fan, sumpit!"
Fandi pun mengeluarkan 2 sumpit dari tas pinggangnya, dan menyodorkan ke Bara demi finishing kerja lebih singkat.
Si cicak gosong pun terangkat walau cukup memakan peluh Bara. Dan setelah membuang bangkai reptil itu, Bara pun mengembalikan saklar kayak kondisi sedia kala.
"Silakan coba, Pak!"
Pak Kasiman pun menjajal, namun yang terjadi...
"DUAAAAAR..." saklar tadi meledak tepat di hadapan mereka.
"Huk uhuk..." Fandi yang paling kasihan, gara-gara asap ledakan masuk banyak ke mukanya. "Hadeh, Bara, kamu apain lagi tuh barang?"
Bara pun mengecek ulang, usai sejenak bersihin wajah dari buliran debu kapur.
"Astaga, kabel lepas nggak kulihat, pantas meledak." jawaban Bara bikin Fandi kesal, tapi lebih kesal lagi, tuh anak bicara sambil cengengesan seolah nggak terjadi apa-apa di situ.
"P-pokoknya saya ng-nggak mau tau, A-abang semua harus g-..." Pak Kasiman tau-tau ngamuk walau masih terhalang nada gagap.
"Iya, iya, kita ganti." Jono auto memotong impak jengkel dicuekin Pak Kasiman tadi. "Ribet amat, udah dibantu juga."
Bara pun terpaksa merogoh handphone, dan mentransfer sejumlah uang sebagai ganti rugi kekonyolan barusan.
======
"Kalian nanggap ludruk di mana? Pulang-pulang pada cemong gini." Bang Erwin terang heran melihat wajah tim damkar persis badut nyasar gitu.
"Habis baikin saklar, Bang, di komplek 'Mutiara Hijau'."
"Terus kenapa muka kalian pada putih gitu? Baikin saklar kayaknya nggak perlu tepung deh." keheranan Bang Erwin jelas nggak habis oleh keterangan singkat Jono barusan.
"Biasa, Bang, kesalahan teknis." Fandi yang masih kesal, gantian bicara di depan sang danru.
"Kesalahan teknis? Insiden lagi?"
"Iya, Bang, dan pelakunya pasti bisa Abang tebak."
Alih-alih tertunduk, Bara malah tambah cengengesan kala dipandangi Fandi dan Bang Erwin.
"Ada-ada aja," Bang Erwin bangkit sambil geleng-geleng kepala. "ya udah, kalian cuci muka dulu di toilet, habis itu ke ruangan saya! Ada yang mau saya bicarain."
Bang Erwin pun beralih melihat Idah yang masih kalem di bangku resepsionis.
"Belum ada aduan kan, Dah?"
"Aman, Bang,." sahut Idah, seraya acung jempol dari singgasananya dalam kantor damkar.
Bara, Jono, dan Fandi pun bergegas, dan langsung menghadap Bang Erwin usai wajah mereka bersih.
"Ini!" Bang Erwin menyodorkan proposal ke tangan Fandi yang baris di tengah.
"PT. Bangun Persada Develop minta kita adain Diklat di kantor mereka, tau kan di mana?" trio damkar mengangguk bareng.
"Karena itu sabtu nanti, saya harap kalian stand by sebelum jam 8! Kita berangkat dari sini jam segitu, yang telat ditinggal."
"Soal peralatan, Bang?" Jono berinisiatif kasih pertanyaan ke Bang Erwin.
"Urusan itu biar saya yang handle, saya hanya minta, kalian tampil bagus di sana!"
Mata Bang Erwin tau-tau menyorot Bara yang baris di sebelah kiri.
"Terutama kamu, saya nggak ingin Diklat ini kacau gara-gara kecerobohan yang nggak perlu, paham ya?"
"Siap, Bang, paham." jawab Bara, walau tetap diiringi gestur garuk-garuk kepala.
Bang Erwin pun menarik lagi proposal dari Fandi, dan menaruh tuh dokumen ke meja kerjanya kembali.
"Ya udah, kalian boleh lanjut. Jangan lupa hari sabtu!"
***198Please respect copyright.PENANAHNXeZbCnTL


