Sekar baru pulang dari 'PAWsitive'. Ia lalu masuk ke rumah tinggalnya, usai sesaat menata mobil agar parkir teratur dalam garasi.
Sekar pun melangkah pelan memasuki rumah bak istana disney itu. Kehadirannya terlihat 2 orang paruh baya, yang tampak asyik nonton sambil duduk di kursi ruang tengah rumah tersebut.
"Eh, Sayang, udah pulang?" sang wanita kontan berdiri menyambut kedatangan Sekar.
"Iya, Ma, baru sampai." Sekar membalas singkat walau muka es itu masih terlihat jelas.
"Masih tahan aja kamu, kerja di klinik nggak jelas itu?" beda dengan si wanita, pria di sampingnya malah sinis seolah nggak suka kegiatan Sekar selama ini.
"Maksud Papa apa? Sekar capek nih, baru pulang." tensi kontan tinggi seiring sikap melawan yang Sekar tunjukkan.
"Ya ampun, Kar, berapa kali sih Papa mesti bilang ke kamu? Papa pengin kamu jadi dokter spesialis kayak Papa, bukan dokter hewan gini."
"Mau dokter hewan ataupun spesialis, kayaknya nggak ada yang jelek deh, Pa, Papa kenapa sih, selalu bikin Sekar serba salah?" Sekar semakin ngotot hingga bikin Papanya bangkit.
"Kamu sekarang berani melawan Papa ya? Kenapa kamu nggak pernah nurutin ortu? Beda kayak Ling-Ling anak Om Jimmy itu. Lihat dia sekarang! Sukses di rumah sakit besar Jakarta."
"Karena Om Jimmy nggak pernah tuntut Ling soal karir, Pa, Ling lebih tenang dan tanpa beban jadinya."
"Jadi menurutmu, Papa tipe ortu diktator yang selalu menuntut anaknya, gitu?" Papa Sekar kian emosi putrinya terus mendebat.
"Menurut Papa?" sambar Sekar lugas, sambil lantas berlalu tanpa hirau Papanya yang kian melengking.
"Sekar, hey, Sekar..."
"Udah, Pa, biar nanti Mama yang omongin Sekar, mungkin dia lelah banget, makanya bad mood gitu." Mama Sekar pun turun tangan dan menenangkan suaminya pakai pelukan.
"Itu anak susah banget diomongin, ini kan demi kebaikannya juga."
Papa Sekar lalu mematikan televisi, dan masuk ke dalam diiringi langkah sang istri di belakang.
======
Mata Sekar benar-benar sembab. Dirinya merasa sangat sendiri, dan kebingungan menghadapi tekanan Papanya yang begitu mendesak dari hari ke hari.
Sekar sendiri hanya bisa pangku tangan sembari sesekali menyeka air matanya di ranjang. Nafasnya terasa sesak, seiring isak tangis yang coba dia kedap supaya nggak terdengar hingga luar kamarnya.
"Nak, Sayang..." suara lembut Mama Sekar seketika muncul mengiring ketuk dari luar kamar.
Sekar menyeka kuat matanya, dan segera beranjak membuka pintu yang dari tadi ia kunci.
"Boleh Mama masuk?" Sekar nggak jawab, tapi badannya ia geser tanda mengiyakan permintaan sang Mama.
Mereka pun melangkah masuk, dengan Sekar mengekor di belakang punggung Mamanya.
"Mama tau kok profesimu itu baik, sama mulianya sama Papa." Mama Sekar mulai memberikan wejangan.
"Tapi sesekali, cobalah dengar Papamu, Mama yakin Papamu nggak maksud hina profesimu, dia cuma pengin yang terbaik buat kamu, cuma itu."
"Sekar juga nggak akan gini, Ma, kalau Papa nggak tekan Sekar." perlahan Sekar menumpahkan isi hatinya soal sang Papa.
"Mama tau kan, dari Sekar sama Mbak Diah kecil, Papa selalu menuntut kita buat jadi yang Papa mau. Sekar bukan robot, Ma, Sekar juga punya hati, Papa selalu ingin Sekar hidup di zaman Papa, bukan zaman Sekar."
Mendengar omongan Sekar, Mama Sekar jadi ingat Diah, kakak Sekar yang memang langsung minggat setelah ambil sumpah dokter tiga tahun lalu. Keluhan Sekar malam ini, sama persis dengan alasan utama Diah memutuskan dinas di luar kota hingga kini.
"Sekar udah besar, Ma, Sekar juga berhak menentukan pilihan hidup Sekar."
"Iya, Sayang, Mama paham," Mama Sekar kembali meneruskan bicara. "tapi dalam situasi tertentu, Papamu ada benarnya juga, dia cuma perhatian dengan profesi yang kamu jalani, dia nggak mau kamu kenapa-napa di masa depan."
Mama Sekar pun merangkul bahu Sekar, yang hanya disambut getaran oleh anak gadis kesayangannya itu.
"Udah, nggak usah dipikir, mending kita keluar, kamu pasti belum makan kan? Mama udah bikin karaage kesukaanmu di dapur, yuk!"
Keduanya pun keluar kamar, dengan sang Mama mengusap air yang masih nyangkut di kelopak mata Sekar.
======
"Bruessssssh..." air kumuran keluar dari mulut Papa Sekar. Beliau lalu meletakkan sikat gigi ke tempatnya, dan membetulkan piyama sebelum balik ke kamar bagian luar.
"Gimana Sekar? Masih ngeyel dia?" Papa Sekar tanpa basa-basi bertanya ke istrinya di meja rias.
"Aman, Mas, dia udah tidur." sambil rapikan krim malam, Mama Sekar menjawab dengan nada dan gaya bahasa adem.
"Anak itu makin lama makin melawan aja, mentang-mentang udah pegang duit sendiri."
Omelan Papa Sekar kontan bikin Mama Sekar bangkit menghampiri Beliau.
"Sekar bukannya melawan, Mas, Sekar cuma pengin pilihannya kita hargai." ucap Mama Sekar seraya menggenggam bahu tua tapi tegap suaminya.
"Suka nggak suka, kita harus akui Sekar udah dewasa. Sebagai ortu, kita boleh kasih dia masukan, tapi jangan sekali-kali atur hidup dia lagi."
"Meilia, suamimu ini DOKTER SUBRATA DHARMA WIJAYA, direktur utama RS 'Bintang Sehat', satu-satunya faskes kota ini, yang review google-nya tembus lima bintang." nggak ada angin nggak ada hujan, Papa Sekar malah pamer jabatan di depan istrinya.
"Biar gimana juga, Papa punya reputasi yang harus Papa jaga. Apa kata relasi-relasi nanti kalau mereka tau pekerjaan Sekar nggak bonafit? Kita sekolahin tinggi-tinggi dia, dan ternyata hanya kerja buat sebuah klinik, klinik hewan lagi."
"Terus kenapa, Pa? Apa relasi-relasi Papa bantu pas Sekar pertama kali cari kerja? Nggak tho?" Mama Sekar kembali coba mencabut kunci otak suaminya.
"Jadi buat apa Papa risau sama mulut mereka? Biar aja Sekar berkembang, nggak perlu dikekang kayak kuda gitu."
Papa Sekar hanya tarik nafas. Matanya masih menyorot marah, namun jantung Beliau kayaknya telah reda efek sentuhan lembut sang istri.
"Udahlah, Pa, nggak perlu dipikir, lebih baik kita tidur, besok Papa kan kerja lagi?" ujar Mama Sekar, sembari merapikan posisi bantal yang bakal jadi alas kepala mereka.
***195Please respect copyright.PENANAkkvbuKvDCn


