Seperti yang udah-udah, rutinitas Sekar selalu diakhiri dengan mobil yang gesit menuju rumahnya. Cara menyetir Sekar memang tergolong cepat, karena selalu tertekan aturan sang Papa yang paksa dia di rumah sebelum pukul sembilan malam tepat.
Jarak 'PAWsitive' dengan rumah Sekar sendiri, relatif dekat dan hanya memakan waktu 20 menit mulus. Jam lembur yang normalnya berakhir pukul 8 pun, secara ideal tentu cukup dia pergunakan supaya nggak jadi benturan antara aturan rumah dan pekerjaannya.
Mobil sendiri terus melaju di bawah jemari Sekar, namun malam ini apes tiba lantaran mobil tuh cewek mendadak mogok dan bikin dia sedikit kaget oleh lompatannya.
Sekar pun gercep buka kap mesin, dan tentu bikin ia batuk-batuk disambut asap melayang usai kap 100% terbuka.
"Aduh, kenapa lagi sih nih mobil? Nggak tau orang dikejar waktu apa?" omel Sekar, walau kedengaran lemas saking hopeless dengan kondisi tuh mobil.
Cewek itu pun hanya terpekur gemetar, sebelum akhirnya...
"Dokter Sekar?" sepotong suara kontan mengalihkan Sekar yang dari tadi cuma fokus ke mobil. "Oh, kamu."
"Mobil Dokter mogok ya?" sosok yang ternyata Bara itu, seketika bertanya walau sekali lagi dicuekin Sekar.
"Boleh saya bantu baikin?"
"Memang kamu ngerti mesin?" Sekar pun menoleh, tapi tetap terlihat nggak yakin sama tawaran Bara kali ini.
"Dikit-dikit sih, Dok, kadang bantu baikin branwir juga, kalau pas di kantor."
Jawaban Bara bikin Sekar bergeser meski wajahnya tetap diliput keraguan.
Bara pun melepas jaket sejenak, untuk kemudian mengecek area kap sembari menjauhkan sisa asap dari mereka.
"Oooh." Bara tampak sumringah seolah telah menemukan sumber masalah. Ia lalu bergegas lari ke motornya, dan kembali bareng sebuah botol yang dia ambil usai sesaat membuka jok tuh kendaraan.
"Ini sih cuma radiator aja kekeringan, Dok, perlu dibasahin lagi dikit." tukas Bara, sambil menumpahkan isi botol yang tentu cairan pendingin radiator.
Bara pun mengizinkan Sekar ngetes usai merasa cukup dengan radiator mobil. Si dokter pun melakukan saran Bara, dan kemudian...
"Brum brum..."
Bara kontan mengepal saat mesin mobil kembali nyala.
"Tahan, Dok! Biar mobilnya agak hangat dulu, baru jalan."
Sekar pun menahan diri, tapi nggak lama...
"Ah iya, hampir lupa." tau-tau Bara random lagi dan kembali menghampiri jok motor.
"Boleh titip ini nggak, Dok? Buat si kecil di klinik."
Walau heran, Sekar terima juga dry food kucing yang dikasih Bara padanya.
"Iya, aku juga minta maaf ya, soal di klinik kemarin."
"Nggak apa-apa, Dok, udah sembuh ini." Bara cuma cengar-cengir sambil meraba tipis pipi yang sempat dicap Sekar.
Sekar pun berterima kasih ke Bara, dan kemudian jalan perlahan meninggalkan tuh cowok dalam girangnya.
======
Di taman samping rumahnya, Sekar tegak mematung ditemani purnama yang dikitari awan. Matanya begitu fokus pada pakan titipan Bara, tanpa sedikitpun berpaling walau derik kolam hadir menggoda dua kupingnya.
Nggak bisa diingkari sih, Sekar memang lagi kepikiran berat dengan momen tadi. Di sisa jalan, Bara seakan berputar di otak ia hingga tuh cewek jadi terngiang-ngiang dan sukar tidur terkenang beberapa menit manis tersebut.
"Ternyata dia baik juga, sayang hewan, penolong, pemaaf lagi. Jadi nyesal sendiri udah gampar dia." senyum tipis menghiasi Sekar saat bergumam mengingat Bara.
Sekar lantas menimang sejenak pakan di tangannya, namun kemudian...
"Eh, Mbak Diah, angkat ah." senyum Sekar kian mekar melihat nama Diah dari balik kelap-kelip ponselnya.
"Apa kabar, Mbak? Tumben malam-malam ngebel."
"Eh kamu, ditelepon Mbakyu kok gitu?"
"Iya, Mbak, maaf," cengengesan Sekar, jadi tanda kalau dirinya sangat dekat dengan sang Kakak. "Sekar cuma kaget aja, biasa kan Mbak selalu sore kalau ngebel Sekar?"
"Mbak nggak bisa tidur nih, habis ribut sama pacar Mbak sore tadi." Sekar auto nganga mendengar alasan insomnia Diah itu.
"Kenapa lagi Mas Firman, Mbak?"
"Bukan Firman, dia sih masa lalu. Ini lain lagi." balasan Diah bikin Sekar kian geleng kepala. Gadis itu paham betul sang Kakak memang lumayan player sebagai seorang perempuan.
"Astaga, Mbak, Mbak, nggak capek gonta-ganti cowok terus?"
"Sebenarnya Mbak capek sih, tapi gimana, namanya juga seleksi, Mbak kan maunya cowok spek bintang 5? Yang ganteng, tajir, royal, soft spoken, sabar, terus..."
"I-iya, Mbak, iya, Sekar paham kok." Sekar segera memotong saking bosan dengar halu Kakaknya.
"Kamu sendiri gimana? Udah ada yang nempel belum, di hatimu?"
"Nempel apa, Mbak? Boro-boro pacaran, kerjaan aja masih diatur kok, sama Papa." giliran Sekar yang curcol di sisi telepon itu.
"Alah, ngapain monster badak didengerin?" Diah terdengar keki saat Sekar membahas Papa mereka.
"Kita udah dewasa, Kar, udah punya power buat tentuin langkah kita. Kenapa mesti takut sih sama tuh monster badak? Masuk kiri keluar kiri aja, kalau dia ngomong!"
"Andai aja aku punya nyali kayak Mbak."
"Justru itu ini lagi Mbak kasih. Kamu tuh harus lebih berani, Kar, mau sampai kapan kamu dikunciin monster badak itu? Udah waktunya kamu punya sikap."
Sekar hembus nafas mendengar nada bicara Diah yang berapi-api. Dia tau betul kakaknya punya nyali yang saat ini sedang ia butuhkan.
"Kar, Sekar..." suara Mama Sekar auto bikin yang dipanggil melirik pintu kamarnya.
"Mbak, udah dulu ya, Mama panggil tuh di luar."
"Ya udah, kamu hati-hati. Salam juga buat Mama, diingat tuh pesan Mbak tadi!"
Telepon pun putus, dan bikin Sekar gerak menuju pintu kamarnya guna menyambut sang Mama. "Iya, Ma..."
======
"Kue tart? Dalam rangka apa, Bar?" Ibu Bara jelas heran mendengar Bara tiba-tiba minta dibikinin kue tart.
"Duh, gimana cara ngomongnya ya?" Bara rupanya bingung juga memilih diksi yang cocok.
"Jadi gini lho, Bu, tadi kan pas diklat, ada cewek minta dikasih surprise party sama kita. Sama Bang Erwin, itu disetujui."
"Kok bisa? Perasaan pas diklat, nggak ada kamu dilatih gitu." Ibu Bara tambah heran dengan penjelasan ajaib bujangnya ini.
"Gimana ya, Bu? Namanya damkar, dikasih permintaan random, ya kami harus siap. Itu udah komitmen."
"Ada-ada aja kamu, nggak ah." Ibu Bara auto beranjak, tapi secara gesit disergap sang anak yang langsung merengek bak bocah minta dibeliin mainan.
"Duh, Bu, jangan gitu dong, Bara mohon banget, nggak enak sama yang lain. Entar Bara disangka nggak setia kawan lagi."
"Salahmu sendiri main iyain aja, nggak ngomong dulu sama Ibu." Ibu Bara tetap kekeh dan berusaha menghindari gelayut sang putra.
"Namanya dadakan, Bu, kita mana tau bakal dapat tugas gitu tadi." Bara terus aja nego, tapi si Ibu cuek bebek dan lenggang kangkung gitu aja menuju kamar.
Bara pun cuma melangkah lemas ketika memutuskan minggat ke belakang rumah. Awalnya ia ingin melarikan penat ke game online, tapi belum sempat HP diaktifkan...
"Dor..." kejutan Reni hampir bikin ponsel Bara terjun bebas ke tanah.
"Kamu bikin orang kaget aja, Ren, untung reflek Abang bagus." jelas aja Bara respon hal itu dengan omelan.
"Sori, Bang, canda doang." sambil mesam-mesem, Reni berujar dan duduk langsung menyanding Abangnya.
"Canda sih canda, tapi lihat kondisi dong, kalau sampai ini jatuh, gimana?"
"Tinggal ganti, Bang, konter banyak ini."
"Dih, enteng banget tuh bacot." Bara pun melengos, dan fokus ponsel lagi tanpa terlalu hirau Reni di sampingnya.
"Bang, boleh minta tolong nggak?"
"Minta tolong apa?" walau menyahut, Bara tampak masih cuek sama tingkah random adiknya kini.
"Bang, taruh dulu coba HP-nya! Abang nih game terus, susah jadinya kita ngomong." Reni yang mulai protes, jelas bikin kuping Bara merah dan akhirnya menolehi sang adik.
"Iya, iya, minta tolong apa?"
"Abang bisa nggak, ambilin kuesioner Reni di RS Bintang Sehat?" request Reni kali ini, benar-benar bikin Bara melotot.
"Kamu nggak salah, Ren? Kenapa nggak ambil sendiri aja?"
"Gimana, Bang? Matkul Reni padat banget besok, sampe jam 5 sore, belum tentu terkejar kalau Reni paksain ambil."
"Ya udah, lusa aja, tunda dulu!" Bara coba kasih alternatif supaya Reni nggak terlalu mendesaknya.
"Mana bisa, Bang? Lusa tuh deadline Reni, nggak bisa tunda-tunda lagi." jawab Reni, yang auto bikin Bara geleng-geleng sambil kembali hembus nafas lemas.
"Ya udah, tapi jam 10 aja ya? Jangan pagi banget."
"Iya deh, nggak apa-apa." ujar Reni girang, sambil lalu bangkit dan mencubit gemas pipi Abangnya.
"Abang Reni baik deh, ganteng lagi."
"Ih, genit banget jadi cewek." Bara yang risih coba menghindar, namun hanya dibalas tawa oleh sang adik yang lantas berlalu.74Please respect copyright.PENANAs04gFaelEQ


