Pagi itu, Rafi bangun dengan kepala berat dan badan pegal-pegal. Malam tadi terasa seperti mimpi buruk yang nikmat sekaligus menjijikkan. Suara Rina dan Faisal, desahan murid Ustadz Hilmi, semuanya masih bergema di telinganya seperti rekaman yang tak bisa di-delete. Ia shalat subuh dengan gerakan mekanis, pikirannya melayang ke mana-mana. Setelah itu, ia memutuskan untuk mandi air dingin agar otaknya kembali jernih. Air mengguyur tubuhnya, tapi panas dalam dada tak kunjung padam.
Hari ini jadwalnya padat: pagi ada mata kuliah Akidah Islam dengan Ustadzah Nadia—bukan Nadia yang di taman, tapi Ustadzah Nadia yang baru bergabung sebagai dosen muda di Fakultas Ushuluddin. Rafi sering mendengar nama itu dari senior: ustadzah berusia 26 tahun, fresh graduate S2 dari universitas Islam di Timur Tengah, cantik, pintar, dan sangat disiplin. Banyak mahasiswa laki-laki yang diam-diam mengaguminya, termasuk Rafi sendiri. Foto profilnya di grup kelas saja sudah cukup membuat jantung berdegup: wajah oval, kulit cerah, mata besar di balik kacamata tipis, jilbab segi empat krem yang selalu rapi menutup dada.
Rafi tiba di kelas lebih awal, memilih duduk di baris ketiga agar bisa melihat jelas tanpa terlalu mencolok. Kelas mulai pukul 07.30. Saat pintu terbuka, Ustadzah Nadia masuk dengan langkah tegap, membawa tas laptop dan buku tebal berjudul “Konsep Tauhid dalam Al-Quran”. Ia mengenakan gamis hitam polos dengan jilbab senada, aroma parfumnya samar-samar tercium sampai baris belakang—wangi mawar dan oud yang khas ustadzah muda.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” sapanya dengan suara lembut tapi tegas.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab seluruh kelas serentak.
Ustadzah Nadia tersenyum tipis, lalu mulai menjelaskan materi tentang bahaya syirik kecil. Rafi mencatat dengan rapi, tapi matanya sesekali mencuri pandang. Ustadzah itu bergerak lincah di depan kelas, menulis di papan tulis, menjelaskan dengan gestur tangan yang anggun. Setiap kali ia membungkuk sedikit untuk menulis di baris bawah, gamisnya menempel di tubuh, memperlihatkan lekuk pinggang yang proporsional. Rafi langsung menunduk, merasa bersalah. “Astaghfirullah,” gumamnya dalam hati.
Tapi pikiran itu tak bertahan lama. Saat istirahat 10 menit di tengah kuliah, Ustadzah Nadia duduk di kursi dosen sambil membuka laptop. Beberapa mahasiswi mendekat bertanya, termasuk Aisyah. Rafi memperhatikan dari jauh. Ustadzah Nadia tertawa kecil saat menjawab pertanyaan Aisyah—tawa yang manis, hampir genit. Rafi tak bisa menahan diri: ia membayangkan suara tawa itu berubah menjadi desahan, seperti yang ia dengar malam tadi dari kamar Ustadz Hilmi.
Setelah kuliah selesai, Rafi keluar kelas dengan pikiran kacau. Ia memutuskan untuk ke perpustakaan kampus, berharap bisa fokus membaca buku. Tapi di koridor lantai dua perpustakaan, ia melihat sesuatu yang membuatnya berhenti mendadak.
Di sudut koridor yang sepi, dekat ruang audiovisual yang jarang dipakai siang hari, Ustadzah Nadia berdiri berhadapan dengan seorang ikhwan senior—mungkin semester akhir, berbadan tegap, berjenggot tipis rapi. Mereka tak bersentuhan, tapi jarak mereka sangat dekat. Ustadzah Nadia menunduk, wajahnya memerah, sementara cowok itu berbisik sesuatu di telinganya. Rafi bersembunyi di balik rak buku, mengintip dari celah.
“Ustadzah… malam ini bisa?” bisik cowok itu pelan.
Ustadzah Nadia menggeleng pelan, tapi bibirnya tersenyum kecil. “Jangan di kampus, Mas. Terlalu riskan.”
“Di kosan saya aja. Kamar sebelah kosong, pintu belakang bisa dilewati.”
Ustadzah Nadia diam sejenak, lalu mengangguk tipis. “Jam 10 malam. Jangan telat. Dan… jangan kasar seperti kemarin. Aku masih pegal.”
Cowok itu tersenyum lebar. “InsyaAllah lembut. Tapi Ustadzah kan suka kalau agak kasar sedikit.”
Ustadzah Nadia memukul lengan cowok itu pelan, tertawa kecil. “Sudah, pergi dulu. Nanti ketahuan.”
Mereka berpisah. Cowok itu berjalan ke arah tangga, sementara Ustadzah Nadia kembali ke ruang dosen dengan langkah biasa, seolah tak terjadi apa-apa.
Rafi terpaku di tempatnya. Ustadzah Nadia—yang tadi pagi mengajar tentang tauhid dengan khusyuk—ternyata punya rahasia yang sama seperti muridnya malam tadi. Pikiran Rafi langsung liar. Ia membayangkan Ustadzah Nadia di kamar kosan, jilbab dilepas, gamis terbuka, tubuhnya yang putih mulus bergetar karena sentuhan. Desahan yang keluar dari mulutnya pasti lebih halus, lebih terkontrol, tapi tetap penuh nafsu.
Sepanjang siang, Rafi tak bisa fokus. Di kantin, ia bertemu Faisal lagi. Rafi tak tahan, langsung cerita apa yang ia lihat.
Faisal tertawa keras sampai hampir tersedak. “Ustadzah Nadia? Wah, kamu beruntung banget lihat itu. Dia emang salah satu yang ‘paling rahasia’ di sini. Katanya dia cuma sama cowok tertentu, yang bisa jaga mulut. Dan cowok tadi… itu senior favoritnya, namanya Reza. Semester 8, anaknya kaya, mobil pribadi.”
Rafi terbelalak. “Jadi… ustadzah juga?”
“Semua manusia, bro. Ustadzah muda gitu pasti punya nafsu juga. Apalagi dia single, belum nikah. Katanya dia sering bilang ‘menjaga kehormatan’ di depan umum, tapi malam-malam… beda cerita.”
Faisal menepuk bahu Rafi. “Kalau kamu penasaran, nanti aku kasih tahu jadwalnya. Tapi hati-hati, jangan sampe ketahuan. Ustadzah bisa marah besar kalau rahasianya bocor.”
Malam itu, Rafi tak bisa tidur lagi. Ia berbaring sambil menunggu suara dari kamar sebelah, tapi malam ini sepi. Mungkin Faisal dan Rina lagi libur. Tapi pikirannya malah tertuju ke Ustadzah Nadia. Ia membayangkan detail-detail yang tak seharusnya: bagaimana jilbab krem itu dilepas perlahan, rambut panjang hitam tergerai, bagaimana gamis hitam itu terbuka memperlihatkan bra renda putih, bagaimana suaranya yang biasanya lembut mengajar berubah menjadi erangan panjang.
“Ah… Mas Reza… lebih pelan… aku masih pegal dari kemarin…” Rafi membayangkan dialog itu, tangannya mulai bergerak sendiri di bawah selimut. Ia membayangkan Ustadzah Nadia berbaring di kasur kosan, kakinya terbuka, mata terpejam, mulut setengah terbuka mengeluarkan desahan halus: “Ya… di situ… lebih dalam… ahhh…”
Rafi mencapai puncak dengan cepat, napasnya tersengal. Setelahnya, ia terbaring lemas, menatap langit-langit. Rasa kagetnya berubah menjadi sesuatu yang lain: rasa iri, rasa ingin tahu, dan rasa haus yang semakin dalam.
Keesokan harinya, di kelas Akidah lagi, Ustadzah Nadia masuk seperti biasa—rapi, tenang, berwibawa. Ia menjelaskan tentang bahaya mengikuti hawa nafsu. “Jangan sampai nafsu menguasai akal dan iman kita,” katanya tegas, matanya menyapu seluruh kelas.
Rafi menunduk, tapi sudut matanya mencuri pandang. Saat ustadzah itu berbicara tentang “menjaga pandangan”, Rafi hampir tersenyum getir. Ia tahu rahasia di balik kata-kata itu. Dan untuk pertama kalinya, ia berpikir: bagaimana kalau suatu hari ia yang menjadi bagian dari rahasia itu?
Bayang-bayang kampus semakin gelap, dan Rafi mulai tak lagi takut—malah mulai tertarik untuk masuk lebih dalam.
3519Please respect copyright.PENANAFh9TXZ9G8C
3519Please respect copyright.PENANAgzXGG1FdBp


