Setelah kejadian di koridor perpustakaan, Rafi merasa seperti orang yang baru saja membuka pintu terlarang. Ustadzah Nadia—sosok yang selama ini ia kagumi dari jauh—ternyata bukan malaikat tanpa dosa. Ia manusia biasa, dengan nafsu yang sama seperti yang Rafi rasakan setiap malam. Pikiran itu membuatnya tak bisa tidur nyenyak. Setiap kali mata terpejam, ia membayangkan detail yang tak seharusnya: bagaimana Reza—cowok senior itu—menyentuh ustadzah muda itu, bagaimana suara lembut mengajarnya berubah menjadi erangan tertahan di kamar kosan sempit.
Malam itu, Rafi memutuskan untuk tidak langsung tidur. Ia keluar kamar sekitar pukul 22.30, berpura-pura mau ke dapur bersama di lantai bawah untuk mengambil air minum. Koridor Asrama Taqwa sudah mulai sepi, tapi ia tahu: di balik pintu-pintu tertutup, aktivitas malam sedang berlangsung. Ia berjalan pelan, telinga menangkap suara-suara samar dari berbagai kamar.
Dari kamar nomor 8—kamar milik seorang kakak kelas bernama Dimas—terdengar suara tawa perempuan yang genit, disusul desahan pendek. Rafi berhenti sejenak di depan pintu itu, tak berani terlalu dekat. Suara cowok—Dimas—terdengar jelas meski ditekan:
“Udah puas belum, Mbak? Baru setengah jam loh.”
Suara perempuan sambil tertawa kecil, agak terengah-engah:
“Belum… aku masih pengen lagi. Kemarin kan cuma sekali. Malam ini dua ronde ya?”
Rafi menelan ludah. Mbak? Berarti bukan mahasiswi biasa. Mungkin kakak kelas atau bahkan alumni yang masih sering datang. Ia melanjutkan langkahnya, tapi rasa penasaran membuatnya berhenti di setiap pintu yang terdengar suara.
Di kamar nomor 5, suara lebih halus. Cowok yang bicara suaranya familiar—itu Adi, teman satu angkatan Faisal yang pendiam di kelas. Tapi malam ini, suaranya berubah:
"Besok pagi kamu ngajar apa, Sayang? Masih sempat tidur?"
Suara perempuan menjawab dengan nada manja:
“Ngajar mata kuliah Pengantar Ekonomi Islam jam 8. Tapi aku nggak apa-apa capek… asal sama kamu.”
Lalu terdengar suara ciuman basah, diikuti erangan pelan perempuan itu:
“Ah… Adi… pelan… aku masih lemes dari tadi sore.”
Rafi tersentak. Tadi sakit? Berarti mereka sudah mulai sejak sore? Dan perempuan itu… suaranya mirip dengan salah satu asisten dosen muda di fakultas ekonomi. Rafi ingat pernah melihatnya di kantor: berjilbab lebar, wajah manis, selalu membawa map tebal. Namanya mungkin Lina.
Ia terus berjalan, sampai ke ujung koridor lantai dua. Di sana, kamar nomor 11—kamar yang biasanya paling sepi karena penghuninya jarang terlihat—ternyata kehidupan malam ini. Pintu sedikit terbuka, mungkin lupa tidak terkunci rapat. Dari celah itu, Rafi bisa mendengar suara cowok yang sama sekali tak asing: Faisal.
“Tadi sama Rina udah dua ronde, sekarang giliran kamu. Kamu bisa bilang pengen yang lebih lama.”
Suara perempuan kedua tertawa kecil, lebih dewasa dari Rina:
"Rina kan masih muda, aku beda. Aku suka yang lambat, yang bikin merinding."
Rafi hampir tak percaya. Faisal mau ganti pasangan dalam satu malam? Rina tadi, sekarang yang ini. Suara perempuan itu terdengar lebih dewasa, mungkin berusia 24 atau 25 tahun. Rafi mengintip sekilas dari celah pintu—cukup untuk melihat siluet: Faisal duduk di tepi kasur, telanjang dada, sementara seorang perempuan berjilbab krem (masih terpasang) berlutut di depannya. Jilbabnya belum dilepas sepenuhnya, tapi gamisnya sudah terbuka di bagian atas.
Faisal menarik perempuan itu naik ke panganannya.
"Kamu hari ini pakai yang mana? Yang hitam renda?" tanya Faisal sambil meraba tangan ke bawah.
Perempuan itu mengangguk, suaranya bergetar:
“Iya… yang kamu suka.Aku pakai khusus buat kamu malam ini.”
Lalu terdengar suara berkumpul kain, diikuti desahan panjang perempuan itu:
“Ah… Faisal… kamu selalu tahu caranya… lebih dalam… ya… seperti itu…”
Rafi mundur pelan, jantungnya berdegup kencang. Faisal bukan hanya punya satu pasangan tetap—ia punya beberapa, dan mereka datang bergantian. Rina malam sebelumnya, sekarang yang ini, mungkin besok lagi yang lain. Rafi tiba-tiba merasa iri sekaligus kagum. Bagaimana Faisal bisa mengatur semuanya tanpa ketahuan? Bagaimana dia bisa begitu percaya diri?
Kembali ke dalam ruangan, Rafi tak bisa diam. Ia awam, tapi pikirannya penuh dengan gambar-gambar itu. Faisal yang gonta-ganti, Dimas dengan “Mbak”-nya, Adi dengan asisten dosen. Semua di kosan yang sama, di bawah atap yang sama dengan masjid dan majelis ta'lim di depan mata.
Rafi mulai bertanya pada dirinya sendiri: kenapa mereka bisa? Apa yang membuat mereka berani? Dan yang lebih penting—kapan belahan ia?
Pagi berikutnya, di kantin kampus, Rafi bertemu Faisal lagi. Faisal duduk sendirian, minum kopi hitam sambil main HP. Rafi duduk di depannya tanpa diundang.
“Kak… malam tadi…” Rafi berhenti, tak tahu harus mulai dari mana.
Faisal nyengir lebar, seolah sudah tahu.
"Dengar ya? Maaf kalau suaranya bocor. Pintu lupa dikunci rapat."
Rafi mengangkat pelana.
“Itu… siapa yang kedua?”
Faisal tertawa kecil.
"Itu Mbak Sarah. Asisten lab di fakultas Syariah. Usia 25, single, suka datang kalau lagi stres ngerjain disertasi. Dia beda sama Rina—lebih pengalaman, lebih menuntut. Tapi enak, bro. Beda rasa."
Rafi menjawab. Faisal melanjutkan:
"Kamu kaget ya? Santai aja. Di kampus ini, hampir semua yang kelihatan alim punya sisi lain. Yang penting jaga image di depan umum. Gonta-ganti pasangan itu biasa, asal aman—jangan hamil, jangan ketahuan keamanan, jangan bikin drama."
Rafi menunjuk Faisal lama.
“Kak… bagaimana caranya memulai?”
Faisal mengangkat alis, lalu tersenyum lebar.
"Akhirnya nanya juga. Pertama, cari target yang kelihatan polos tapi sebenarnya penasaran. Kedua, dekati pelan-pelan—lewat chat dulu, ajak diskusi tugas, lalu ketemu di tempat sepi. Ketiga, jangan buru-buru. Biarkan dia yang minta duluan. Biasanya, akhwat yang kelihatan paling alim itu paling haus kalau sudah terbuka."
Rafi mengangguk pelan. Pikirannya langsung ke Aisyah. Atau mungkin ke akhwat lain yang sering duduk di kelas. Atau… bahkan Ustadzah Nadia, kalau berani.
Siang itu, di kelas, Rafi duduk di belakang Aisyah. Saat dosen menjelaskan, Aisyah menoleh sebentar, tersenyum ramah seperti biasa. Rafi balas senyum, tapi kali ini senyumnya berbeda—ada sedikit godaan di matanya.
Seusai kelas, Rafi memberanikan diri mendekat.
"Aisyah, nanti sore ada waktunya nggak? Mau diskusi tugas fiqih bareng. Di perpustakaan aja."
Aisyah mengangguk cepat, wajahnya agak memerah.
“Boleh. Jam 4 ya?”
Rafi tersenyum dalam hati. Ini baru permulaan. Bayang-bayang kosan malam hari, taman sepi, halaman masjid, dan sekarang gonta-ganti pasangan seperti Faisal—semuanya mulai terasa dekat. Rafi tak lagi hanya penonton. Ia mulai melangkah masuk ke dalam lingkaran itu.
Dan ia tahu, tak lama lagi, nama Rafi akan menjadi bagian dari cerita-cerita rahasia di Asrama Taqwa.
ns216.73.217.22da2


