Setelah kejadian di halaman belakang masjid, Rafi tak lagi bisa tidur nyenyak. Setiap malam, tubuhnya seperti sudah terprogram untuk menunggu suara-suara itu. Ia berbaring di kasur sempit kamar nomor 12, lampu dimatikan, hanya cahaya samar dari lampu koridor yang menyusup melalui celah pintu. Jam menunjukkan pukul 23.45, dan seperti biasa, Asrama Taqwa mulai hidup dengan cara yang tak pernah dibayangkan Rafi sebelumnya.
Malam ini lebih parah. Suara dari kamar sebelah—kamar nomor 11—mulai terdengar lebih awal dari biasanya. Awalnya hanya bisikan pelan, seperti orang berbincang biasa. Rafi mengenali suara Faisal, kakak kelas yang sering nyengir penuh rahasia itu. Tapi suara kedua...perempuan. Jelas sekali perempuan. Rafi mendekatkan telinga ke dinding tipis yang memisahkan kamar mereka. Dinding gipsum itu tidak cukup tebal untuk menahan suara, apalagi di malam yang sunyi.
“Mas Faisal… pintunya udah dikunci kan?” suara perempuan itu lembut, agak bergetar karena gugup sekaligus bersemangat.
"Iya sayang. Tenang aja. Keamanan nggak pernah patroli jam segini," jawab Faisal dengan nada tenang, hampir sombong. Rafi bisa membayangkan Faisal tersenyum lebar seperti biasa.
Ada suara yang menjual kain, mungkin jilbab yang dilepas atau rok yang diangkat. Lalu desahan kecil pertama terdengar.
“Mmm…dingin nih AC-nya,” gumam perempuan itu.
“Biarkan aja dingin, nanti juga panas sendiri,” balas Faisal sambil tertawa pelan.
Rafi menelan ludah. Ia tahu seharusnya ia memasang earphone atau pergi ke ruang bersama, tapi kakinya tidak mau bergerak. Tubuhnya sudah bereaksi—darah mengalir lebih cepat, napasnya pendek-pendek. Ia duduk di tepi kasur, telinga menempel ke dinding.
Suara ciuman mulai terdengar: basah, lambat, lalu semakin intens. “Ah… Mas… pelan-pelan dong,” desah perempuan itu lagi. Suaranya familiar, tapi Rafi belum bisa mengenalinya. Bukan Siti, bukan Nadia. Lebih muda, lebih genit.
“Kamu yang minta datang malam-malam gini. Sekarang protes?” Faisal menggoda, suaranya serak karena nafsu.
“Aku… kangen aja. Dua hari nggak ketemu,” jawab perempuan itu sambil tertawa kecil. Lalu suara itu berubah menjadi erangan panjang saat Faisal—mungkin—mulai menyentuh bagian sensitif.
“Ahhh… ya… di situ… Mas… lebih dalam…” Desahannya naik turun, seperti irama yang tak beraturan. Rafi bisa mendengar suara kain lagi, mungkin celana Faisal yang dilepas, atau rok perempuan itu yang sudah tersingkap sepenuhnya.
Tiba-tiba suara kasur berderit pelan. Mereka pindah ke tempat tidur. Deritannya semakin ritmis, disertai napas Faisal yang memburu.
“Enak nggak, sayang?” tanya Faisal di sela-sela gerakan.
“Enak… banget… ahh… lebih cepat… Mas… aku mau…” Suara perempuan itu semakin pembohong, tak lagi berusaha menahannya. Erangannya memenuhi ruangan sebelah, dan karena dinding tipis, terdengar jelas di kamar Rafi.
Rafi tak tahan lagi. Tangannya turun ke celana training-nya, menyentuh dirinya sendiri dengan gerakan yang sama ritmenya dengan derit kasur sebelah. Ia membayangkan wajah perempuan itu—siapa pun dia—dengan jilbab yang sudah dilepas, rambut tergerai, mulut setengah terbuka mengeluarkan desahan.
Tapi suara itu belum berhenti. Malah semakin bertambah. Dari kamar seberang koridor—mungkin nomor 10 atau 9—terdengar suara lain. Suara perempuan kedua, lebih dalam, lebih dewasa.
“Ustadz… pelan… aku takut sakit,” desah suara itu.
Rafi tersentak. Ustadz? Di kosan laki-laki?
Suara cowok menjawab, rendah dan berwibawa. “Tenang, Nak. Ini untuk mendekatkan diri pada Allah… dengan cara yang berbeda.” Rafi hampir tak percaya. Itu suara Ustadz Hilmi, dosen muda mata kuliah Tafsir yang sering dipuji karena wajahnya ganteng dan ceramahnya menyentuh hati. Ustadz Hilmi tinggal di lantai bawah, kamar khusus untuk staf pengajar yang masih single.
“Ustadz… ahh… lebih pelan… aku masih… baru pertama kali di sini,” desah perempuan itu lagi. Suaranya gemetar, campur antara takut dan nikmat.
“Ssst… izinkan Ustadz yang mengajar. Kamu kan murid kesayangan,” balas Ustadz Hilmi dengan nada lembut tapi penuh otoritas.
Derit kasur mulai terdengar dari sana juga. Lebih lambat, lebih dalam, seperti orang yang benar-benar menikmati setiap detik. Desahan perempuan itu panjang dan tertahan: “Ya Allah… Ustadz… enak sekali… ahhh… jangan berhenti…”
Rafi merasa dunia berputar. Di kosannya sendiri, baru seminggu tinggal, sudah ada dua pasangan sekaligus yang sedang berhubungan intim. Faisal dengan akhwat misteriusnya, dan Ustadz Hilmi dengan… muridnya? Siapa perempuan itu? Rafi mencoba mengingat-ingat. Mungkin salah satu mahasiswi yang sering duduk di baris depan kelas Tafsir, yang selalu mencatat dengan rapi dan bertanya dengan sopan.
Suara dari kamar Faisal semakin pembohong. “Aku mau keluar, sayang… di mana?” tanya Faisal dengan napas tersengal.
“Di… di dalam aja… aman kok… aku minum pil,” jawab perempuan itu cepat, suaranya penuh nafsu.
Rafi tak bisa menahannya lagi. Ia mencapai puncak bersamaan dengan erangan panjang dari sebelah: “Ahhh… Mas… ya… keluar sekarang… aku juga… ahhhh!” Derit kasur berhenti sejenak, lalu napas tersengal dan tawa kecil puas.
Tak lama kemudian, dari kamar Ustadz Hilmi juga terdengar puncaknya. Desahan perempuan itu lebih pelan, tapi dalam: “Ustadz… terima kasih… aku… merasa lebih dekat dengan Allah sekarang.” Suara Ustadz Hilmi tertawa pelan. “Itu baru mulai, Nak. Besok malam lagi ya?”
Rafi terbaring lemas di kasur, tubuhnya basah keringat. Ia menatap langit-langit kamar, pikirannya kacau. Kampus Darul Ta'zim yang ia kira suci, ternyata penuh rahasia. Di kosannya sendiri, nafsu mengalir seperti air sungai yang tak terbendung. Faisal yang santai, Ustadz Hilmi yang dihormati—semuanya bagian dari dunia ini.
Pagi harinya, Rafi keluar kamar dengan mata sembab. Di koridor, ia bertemu Faisal yang baru keluar dari kamarnya, rambut acak-acakan tapi wajah segar. Faisal menyuntikkan mata. "Malam tadi seru ya? Kamu dengar semuanya?"
Rafi mengangguk pelan, tak bisa bohong.
Faisal tertawa. "Itu temenku dari jurusan Psikologi Islam. Namanya Rina. Manis kan suaranya? Dia suka datang malam-malam gini. Kalau kamu mau, nanti aku kenalin."
Rafi menggeleng cepat. “Belum siap, Kak.”
Faisal mengangkat bahu. "Santai. Nanti juga kamu bakal nyaman. Lihat aja ustadz-ustadz muda di sini. Mereka juga manusia."
Saat sarapan di warung dekat asrama, Rafi melihat Ustadz Hilmi lewat mengenakan koko putih rapi, membawa tas berisi buku tafsir. Wajahnya tenang, tersenyum ramah kepada siswa yang menyapa. Tak ada tanda-tanda malam tadi. Rafi menunduk, merasa aneh campur kagum. Bagaimana bisa seseorang seperti itu melakukan hal demikian?
Di kelas siang itu, Aisyah duduk di baris depan seperti biasa. Saat istirahat, ia mendekati Rafi. “Kamu kelihatannya capek terus akhir-akhir ini. Kurang tidur ya?”
Rafi tersenyum tipis. “Iya… banyak pikiran.”
Aisyah mengangguk pengertian. “Kalau butuh temen curhat, bilang aja. Aku suka dengerin.”
Rafi menatap matanya. Untuk sesaat, ia membayangkan Aisyah yang datang ke kamarnya malam-malam, melepas jilbabnya, dan mendesah seperti Rina atau murid Ustadz Hilmi. Pikiran itu membuatnya malu, tapi juga semakin haus.
Malam berikutnya, suara desahan kembali terdengar—kali ini dari lebih banyak kamar. Rafi tak lagi kaget. Ia hanya mendengarkan, membiarkan nafsunya ikut membara. Rahasia kosan malam hari telah menjadi bagian dari rutinitasnya. Dan dia tahu, tak lama lagi, dia tak akan puas hanya mendengarnya.
Ia ingin merasakan dirinya sendiri.
3483Please respect copyright.PENANA1UAvyvwY0u
3483Please respect copyright.PENANA9vplYy8aIR


