Malam itu, setelah Rafi menyelesaikan onani keduanya di kamar kos, ia merasa lebih lemas dari biasanya. Tubuhnya basah keringat, nafasnya masih memburu, dan pikiran tentang Aisyah serta adegan di taman bersama Nadia terus berputar seperti film yang tak henti-hentinya. Ia mencoba tidur, mematikan lampu kamar dan selimut menarik tipis hingga menutupi dada. Jam dinding menayangkan pukul 11 malam, dan suara dari kamar sebelah sudah reda, meninggalkan keheningan yang aneh di Asrama Taqwa. Tapi tidur tak kunjung datang. Rasa penasaran yang Faisal tanamkan siang tadi—tentang spot-spot rahasia di kampus—membuatnya nyaman. “Di belakang masjid malam-malam,” kata Faisal. Apa maksudnya?
Akhirnya, Rafi terbangun dari kasur. Ia memutuskan untuk keluar, mungkin jalan-jalan sebentar ke halaman kosan untuk menghirup udara segar. Menggunakan sandal jepit dan jaket tipis di atas kaus lonjong, ia menegaskan keluar kamar. Koridor kosan sepi, hanya lampu temaram yang menyinari. Ia turun tangga pelan-pelan, tak ingin membangunkan yang lain. Di luar, angin malam Kampus Darul Ta'zim terasa dingin, membawa aroma tanah basah setelah hujan sore tadi. Rafi berjalan tanpa tujuan pasti, tapi kakinya seolah mengarah ke kampus utama, melewati pagar belakang asrama yang tak terkunci.
Kampus malam hari tampak berbeda. Lampu-lampu jalan menyinari jalan setapak dengan cahaya kuning samar, membuat bayang-bayang pohon memanjang seperti tangan-tangan gelap. Masjid utama kampus, dengan kubahnya yang megah dan menara tinggi, berdiri di tengah-tengah, seperti penjaga setia. Rafi sering shalat di sana siang hari, bersama ratusan pelajar lain. Tapi malam ini, masjid sepi. Hanya suara jangkrik dan angin yang berhembus. Ia berjalan ke halaman masjid, yang luas dengan rumput hijau dan bangku-bangku kayu di pinggirnya. Di belakang masjid, terdapat area kecil yang lebih tersembunyi: dikelilingi pagar tembok rendah dan pohon-pohon tinggi, sering digunakan untuk kajian kecil atau sekadar istirahat.
Rafi duduk di salah satu bangku, menatap langit berbintang. Pikirannya kembali ke Nadia di taman. Bagaimana rasanya mencium seorang akhwat seperti itu? Bibir yang lembut, aroma parfum yang Islami—mungkin campuran mawar dan musk. Ia menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran itu. "Ini tempat suci," gumamnya. Tapi tiba-tiba, dari balik pagar tembok di sudut halaman, terdengar suara pelan. Awalnya seperti angin, tapi semakin jelas: nafas tersengal, diikuti desahan perempuan yang ditahan.
Rafi membeku. Suara itu datang dari area gelap di belakang masjid, dekat gudang kecil yang jarang digunakan. Ia berdiri pelan, mendekat dengan hati-hati, bersembunyi di balik pohon. Dari celah dedaunan, ia bisa melihat siluet dua orang. Seorang ikhwan tinggi kurus, mungkin semester atas, dengan kemeja koko yang sudah kusut. Di depannya, seorang akhwat berjilbab hitam lebar, rok panjangnya terlipat naik hingga lutut. Mereka berdiri dekat tembok, tubuh saling menempel. Cowok itu memeluk pinggang akhwat itu erat, sementara akhwat itu memegang bahu cowok itu, kepalanya menengadah.
"Ah...pelan-pelan mas," desah akhwat itu pelan, suaranya seperti bisikan yang penuh gairah. Rafi mengenali suara itu—itu suara Siti, akhwat semester 3 yang aktif di majelis ta'lim perempuan. Ia sering jadi MC di acara kajian, dengan bacaan doanya yang fasih. Tapi sekarang, suaranya berbeda: lebih dalam, lebih basah, seperti orang yang haus.
Cowok itu—Rafi tak kenal, mungkin bernama Andi dari cerita Faisal—tersenyum sambil mencium leher Siti. “Kamu yang minta malam ini, kok sekarang bilang pelan,” bisiknya sambil tangan turun ke pinggul Siti sambil meremasnya perlahan. Siti menggigit bibir bawahnya, matanya terpejam. "Tapi... takut ketahuan. Masjid ini... ahh..." Desahannya memanjang saat Andi menekan tubuhnya lebih kuat ke dinding, pinggulnya bergoyang pelan.
Rafi menahan napas, tubuhnya mulai panas lagi. Ia tak bisa bergerak, hanya mengintip dari balik pohon. Andi mencium bibir Siti, lidah mereka saling bertaut dalam ciuman yang basah. Suara itu terdengar jelas di malam yang sepi: "Mmm... enak... lebih dalam lagi," gumam Siti di sela ciuman. Tangan Andi naik ke dada Siti, meremas lembut di balik jilbab yang masih terpasang. Siti mengerang pelan, "Ya Allah... jangan di sini... tapi... aku suka." Erangannya seperti campuran antara kesakitan dan kenikmatan, naik turun seperti gelombang.
Andi tertawa kecil, suaranya serak. "Kamu bilang jangan, tapi tubuhmu bilang iya. Lihat nih, sudah basah belum?" Tangannya turun lebih bawah, mengklaim ke bawah rok Siti. Siti menggelinjang, kakinya sedikit melebar. "Ahh... Mas... jahat... ya... di situ... lebih cepat." Desahannya semakin keras, namun masih ditahan agar menggemuruh terlalu jauh. Rafi bisa mendengar suara tiba-tiba kain, napas Andi yang berburu. "Kamu ketagihan ya? Kemarin di kelas kosong aja gak cukup?" tanya Andi sambil menikung bergerak lebih dalam.
Siti mengangguk lemah, tangannya memegang lengan Andi erat. "Iya... aku... ahh... pengen siapa lagi. Tapi janji, jangan bilang-siapa. Aku kan ketua majelis." Erangannya memuncak, seluruh tubuhnya bergetar. "Mas... aku... mau keluar... cepat..." Andi mempercepat gerakannya, mulut menutup mulut Siti untuk meredam suara. Desahan Siti berubah menjadi erangan tertahan: "Mmmph... ya... ya... ahhh!" Tubuhnya mengejang, lalu lemas di pelukan Andi.
Rafi merasa jantungnya mau copot. Tubuhnya sendiri bereaksi hebat—celananya terasa sempit, nafsunya bangkit seperti api. Ia mundur pelan, tak ingin ketahuan, tapi kakinya berbentuk batu kecil. Suara kecil itu membuat Andi dan Siti terdiam sejenak. "Ada apa?" bisik Siti panik. Andi mengintip ke sekitar. “Kayaknya angin. Lanjut yuk, giliran aku sekarang.” Siti tertawa kecil, tangannya turun ke celana Andi. "Oke, tapi cepat. Aku takut ada yang shalat tahajjud."
Rafi buru-buru mundur lebih jauh, berlari kembali ke arah kosan. Napasnya tersengal saat tiba di kamar. Ia mengunci pintu, merebahkan diri di kasur. Gambar itu tak hilang: desahan Siti yang panjang, dialog mereka yang penuh nafsu, gerakan tangan Andi yang lihai. “Ahh…pelan-pelan, Mas,” ulangnya dalam pikiran. "Lebih dalam lagi..." Rafi tak tahan lagi. Tangannya turun ke bawah, onani ketiganya malam itu. Kali ini lebih intens, membayangkan dirinya yang menggantikan Andi, dengan Siti yang mengerang di telinga.
Pagi harinya, Rafi bangun dengan badan pegal. Ia shalat subuh di masjid kampus, tapi matanya tak bisa lepas dari halaman belakang. Siti ada di sana, duduk di baris perempuan dengan jilbab rapi, wajahnya segar seperti tak terjadi apa-apa malam tadi. Saat kajian pagi, Siti membaca doa pembuka dengan suara merdu. “Ya Allah, jaga kami dari godaan syaitan,” katanya. Rafi nyaris tertawa getir. Hipokrisi ini... menarik sekaligus menakutkan.
Di kelas, ia bertemu Aisyah lagi. “Kamu kelihatannya capek,” kata Aisyah sambil tersenyum. Rafi mengangguk. "Malam tadi kurang tidur." Aisyah menuangkankan mata. "Jangan sering begadang ya. Nanti ikut majelis malam aja, biar hati tenang." Rafi tersenyum balik, tapi pikirannya pembohong: apakah Aisyah juga punya rahasia seperti Siti?
Siang itu, Faisal mendekatinya di kantin. "Gimana malam tadi? Dengar suara lagi?" Rafi cerita tentang halaman masjid, tanpa detail terlalu vulgar. Faisal tertawa. "Itu spot klasik. Banyak yang utama di sana. Bahkan ustadzah muda kadang ikut." Rafi terbelalak. "Serius?" Faisal mengangguk. "Nanti kalau berani, coba sendiri. Mulai dari akhwat biasa dulu."
Rafi diam, tapi dalam hati, ia tahu: keinginannya semakin kuat. Bayang-bayang masjid telah membuka mata lebih lebar. Dari penonton, ia ingin menjadi pemain. Tapi dengan siapa? Aisyah? Atau Siti? Atau yang lain? Kehidupan kampus ini semakin gelap, dan Rafi mulai menyukainya.
3622Please respect copyright.PENANAbYzw240kKZ
3622Please respect copyright.PENANAbG63yWGdX8


