Pagi hari ketiga di Kampus Darul Ta'zim, Rafi bangun lebih awal dari biasanya. Azan subuh masih menggema di menara masjid kampus ketika ia selesai wudhu dan shalat di kamar. Suara desahan malam tadi masih terngiang di telinga, membuat tidurnya tak nyenyak. Ia mencoba mengusir pikiran itu dengan membaca wirid pagi seperti yang diajarkan ayahnya, tapi setiap kali mata terpejam, bayangan Aisyah muncul—senyumnya yang manis, jilbab krem yang melambai pelan, dan imajinasi pembohong yang tak seharusnya ada di kepala seorang siswa baru.
Setelah sarapan roti dan teh hangat di warung dekat asrama, Rafi memutuskan untuk berjalan-jalan ke taman utama sebelum kelas dimulai pukul 08.00. Taman itu adalah salah satu tempat favorit pelajar: luas, hijau, dengan bangku-bangku batu di bawah pohon mahoni dan pohon-pohon palem yang tinggi. Di pagi hari, biasanya sepi, hanya ada beberapa yang sedang menghafal Al-Quran atau membaca buku sambil menikmati udara segar. Rafi ingin mencari ketenangan, mungkin duduk di bangku sambil membaca catatan kuliah kemarin.
Ia melangkah pelan di jalan setapak yang berbatu, tas selempang berisi buku fiqih tergantung di bahu. Udara masih sejuk, embun pagi menempel di rumput. Saat mendekati bagian taman yang lebih dalam—di belakang deretan pohon bambu yang membentuk semacam lorong alami—Rafi mendengar suara pelan. Awalnya ia kira angin, atau mungkin burung. Tapi semakin dekat, suara itu semakin jelas: tawa kecil perempuan, disusul bisikan lelaki yang intim.
Rafi berhenti, jantungnya berdegup kencang. Ia seharusnya berbalik dan pergi, tapi rasa penasarannya lebih kuat. Dengan hati-hati, ia menuntut ke balik semak rendah, mengintip dari celah dedaunan. Di sana, di bangku batu yang tersembunyi oleh bayangan pohon besar, ada sepasang pelajar. Cowoknya mengenakan kemeja koko putih khas ikhwan, celana kain panjang, dan peci hitam. Di dekatnya duduk seorang akhwat berjilbab biru muda, rok panjang hitamnya sedikit terangkat posisi karena duduk yang dekat. Mereka tidak bersentuhan secara terang-terangan, namun jarak mereka hanya beberapa senti. Tangan laki-laki itu menyentuh punggung tangan akhwat itu pelan, sementara akhwat itu menunduk malu-malu tapi tak menarik tangannya.
“Enggak takut ketahuan?” bisik cowok itu.
Akhwat itu tertawa kecil. "Pagi-pagi gini siapa yang ke sini? Lagian... aku kangen."
Rafi menahan napas. Ia mengenali akhwat itu—bukan Aisyah, tapi salah satu yang sering terlihat di majelis ta'lim mingguan. Namanya mungkin Nadia, semester 5 Jurusan Pendidikan Agama Islam. Ia sering jadi pembaca Al-Quran di acara kampus, suaranya merdu dan penuh khusyuk. Tapi sekarang, di taman sepi ini, terlihat berbeda. Jilbabnya masih rapi, tapi matanya berbinar penuh gairah saat cowok itu mendekatinya.
Cowok itu—Rafi tak kenal namanya—mencium pipi akhwat itu pelan. Bukan mencium mesra seperti di film, tapi cukup untuk membuat Nadia menggigit bibir bawahnya. “Kemarin malam aku mimpiin kamu,” bisik Nadia. "Kita...di kamar kos."
Rafi merasa tubuhnya panas. Dia tahu seharusnya dia pergi sekarang, tapi kakinya seperti berbaring. Tangan cowok itu naik ke pinggang Nadia, menariknya lebih dekat. Mereka berciuman lagi, kali ini lebih lama, lebih dalam. Rafi bisa mendengar suara napas mereka yang berburu. Nadia mengeluarkan desahan kecil, memegang lengan pria itu erat-erat. "Jangan di sini... nanti ada yang lewat," katanya setengah berbisik, setengah menggoda.
"Tapi aku pengen sekarang," balas cowok itu sambil tersenyum nakal.
Mereka bangun dari bangku, berjalan ke arah semak yang lebih rapat—tepat ke arah tempat Rafi bersembunyi. Rafi panik, mundur pelan-pelan, tapi daun kering berderit di bawah sepatunya. Pasangan itu berhenti sejenak, mencari sumber suara. Rafi membeku, berdoa dalam hati agar mereka tak melihatnya. Untungnya, mereka mengira itu angin atau kucing pembohong. Mereka melanjutkan langkah ke belakang pohon besar, menghilang dari pandangan.
Rafi menunggu beberapa menit sampai yakin mereka tak kembali, baru berani keluar dari persembunyian. Napasnya tersengal, wajahnya memerah. Ia berjalan cepat meninggalkan taman itu, pikirannya kacau balau. Nadia, akhwat yang rajin shalat sunnah, yang sering ceramah kecil-kecilan di grup WA kelas tentang menjaga pandangan—ternyata punya sisi lain. Dan cowok itu, siapa pun dia, tampak begitu percaya diri, seolah ini bukan yang pertama kali.
Saat tiba di gedung kuliah, Rafi masih terguncang. Ia duduk di bangku koridor, mencoba menenangkan diri. Tapi semakin dia coba lupakan, semakin jelas gambar itu di kepalanya: bibir mereka yang bertemu, desahan Nadia yang pelan, tangan yang meraba. Rafi merasa ada sesuatu yang bergerak di celananya—reaksi tubuh yang tak bisa ia kendalikan. Ia buru-buru menutup tas di pangkuan, malu sendiri.
Di kelas pertama hari itu, mata kuliah Ushul Fiqih, Rafi duduk di baris belakang. Aisyah masuk terlambat sedikit, tersenyum ke arah sebelum duduk di baris perempuan. Rafi mencuri pandang. Aisyah terlihat polos seperti biasa, jilbabnya rapi, buku catatan terbuka, fokus mendengar dosen. Tapi sekarang, setelah apa yang ia lihat di taman, Rafi tak bisa berhenti bertanya-tanya: apakah Aisyah juga punya rahasia seperti Nadia? Apakah di balik senyum manisnya ada keinginan yang sama?
Sepanjang kuliah, pikiran Rafi melayang. Ia membayangkan jika ia yang duduk di taman itu bersama Aisyah. Jika tangan yang menyentuh punggung tangan Aisyah. Jika rekomendasi yang... Astaghfirullah. Ia mengokohkan kepala keras, mencoba fokus pada penjelasan dosen tentang qiyas. Tapi nafsunya sudah terbangun, dan tak mudah ditidurkan lagi.
Siang hari, setelah makan siang di kantin, Rafi memilih duduk sendirian di sudut. Ia melihat Faisal lewat, membawa nampan makanan. Faisal melihatnya, lalu duduk di depannya tanpa diundang. "Kamu kelihatan aneh hari ini. Masih mikirin suara malam-malam?" tanya Faisal sambil nyengir.
Rafi ragu sejenak, lalu memutuskan untuk bercerita. "Tadi pagi...di taman. Aku lihat pasangan berduaan. Mereka... berciuman."
Faisal tertawa pelan. "Biasa itu. Taman sepi kan spot favorit. Ada yang lebih parah lagi di kelas kosong sore hari, atau di belakang masjid malam-malam."
Rafi terbelalak. "Serius, Kak?"
"Serius. Kampus ini besar, banyak sudut tersembunyi. Asal jaga gambar di depan dosen dan ustadz, aman. Yang penting jangan ketahuan keamanan atau ketua himpunah yang galak."
Rafi diam, mencerna informasi itu. Faisal melanjutkan, "Kamu baru tahu dunia ini ya? Di desa pasti beda banget. Di sini, banyak akhwat cantik yang kelihatannya alim, tapi pas malam... wah. Bahkan ada yang suka main di kosan sendiri. Pintu kamar dikunci, tapi suaranya bocor ke mana-mana."
Rafi ingat suara dari kamar sebelah. "Jadi... itu cewek dari luar yang masuk?"
"Bisa dari luar, bisa dari asrama putri yang nyelonong lewat pagar belakang. Atau kadang... ustadzah muda yang lagi 'stres' ngajar." Faisal menyuntikkan mata. "Pokoknya, kalau kamu penasaran, nanti aku ajak liat-liat. Tapi pelan-pelan, jangan buru-buru."
Rafi menggeleng cepat. "Enggak, Kak. Aku... cuma kaget aja."
Faisal tertawa. "Santai. Semua orang di sini pernah kaget pertama kali. Nanti juga biasa. Yang penting, jaga hati. Tapi kalau nafsu udah bangun... susah dilupain."
Sore itu, Rafi kembali ke kosan lebih awal. Ia berbaring di kasur, menatap langit-langit. Gambar Nadia dan cowoknya terus berputar di kepala. Ia mencoba membaca buku, tapi tak bisa fokus. Akhirnya, tangannya turun ke bawah, menyentuh dirinya sendiri lagi. Kali ini lebih lama, lebih intens. Ia membayangkan bukan Nadia, tapi Aisyah. Bayangan itu membuatnya mencapai puncak lebih cepat dari malam sebelumnya. Setelahnya, ia lemas, campur antara nikmat dan rasa puas yang ada di dalamnya.
Malam harinya, suara desahan dari kamar sebelah kembali terdengar. Kali ini lebih jelas, lebih pembohong. Rafi tak lagi menutup telinga. Ia mendengarkan, membiarkan nafsunya ikut terbakar. "Ini kampus suci," gumamnya pada diri sendiri. "Tapi bayang-bayangnya...gelap sekali."
Dan di balik semua itu, Rafi mulai menyadari: ia tak lagi ingin hanya menjadi penonton. Rasa penasaran telah berubah menjadi keinginan. Keinginan untuk mengetahui lebih dalam, untuk merasakan apa yang mereka rasakan. Bayang-bayang taman sepi telah membuka pintu baru di hati—pintu yang tak mudah ditutup lagi.3429Please respect copyright.PENANAlvwBkeGFan


