Hari itu, matahari pagi menyinari gerbang besar Kampus Darul Ta'zim dengan cahaya keemasan yang seolah-olah menghalangi setiap batu bata yang menyusunnya. Rafi, seorang pemuda berusia 19 tahun dari desa kecil di pinggiran Jawa Tengah, berdiri di depan gerbang itu dengan tas ransel besar di belakangnya dan koper sederhana di tangan kanannya. Ini adalah hari pertama kuliahnya, dan jantung berdegup kencang, campur antara gugup dan antusias. Kampus Darul Ta'zim terkenal sebagai pusat pendidikan Islam yang bergengsi, di mana ilmu pengetahuan bertemu dengan nilai-nilai agama. Di mata Rafi, ini adalah tempat suci di mana ia bisa menimba ilmu sambil memperdalam imannya.
Rafi lahir dan besar di keluarga sederhana, ayah seorang guru ngaji di masjid desa, dan ibunya mengurus rumah tangga. Sejak kecil, ia diajari untuk menjaga adab, shalat tepat waktu, dan menghormati sesama. Kampus ini adalah impiannya, setelah lulus SMA dengan nilai bagus dan lolos seleksi masuk yang ketat. Ia membayangkan hari-harinya akan diisi dengan kajian Al-Quran, diskusi fiqih, dan kuliah tentang ilmu sosial yang Islami. Tapi yang paling membuatnya penasaran adalah para akhwat—mahasiswi berjilbab yang sering ia lihat di brosur kampus. Mereka tampak begitu anggun dengan jilbab lebar yang menutupi dada, rok panjang, dan senyum yang penuh kelembutan. Rafi belum pernah berpacaran, apalagi berdekatan dengan perempuan sebanyak ini. Di desanya, interaksi antar lawan jenis dibatasi ketat oleh norma adat dan agama.
Saat melangkah masuk melalui gerbang, angin sepoi-sepoi membawa aroma bunga melati dari taman kampus yang luas. Kampus Darul Ta'zim memang indah, dengan bangunan-bangunan bergaya arsitektur Islam modern: kubah-kubah kecil di atas gedung kuliah, masjid megah di tengah kampus, dan pohon-pohon rindang yang menaungi jalan setapak. Di papan pengumuman, terpampang jadwal majelis ta'lim mingguan, pengajian rutin, dan kegiatan dakwah. "Selamat datang di Darul Ta'zim, Rumah Ilmu dan Taqwa," bunyi slogan di depan. Rafi tersenyum kecil, merasa seperti mimpi yang menjadi kenyataan.
Ia langsung menuju gedung administrasi untuk registrasi ulang. Di sana, antrian panjang siswa baru sudah terbentuk. Rafi berdiri di belakang seorang gadis berjilbab hitam panjang, rambutnya tertutup rapat, dan tas selempang berisi buku-buku tebal. Gadis itu berbalik sebentar, tersenyum ramah. "Kamu jurusan apa?" tanyanya dengan suara lembut. Rafi tersentak, wajahnya memerah. "Eh, Hukum Islam," jawabnya gagap. Gadis itu mengangguk. "Aku Ekonomi Islam. Selamat bergabung di Darul Ta'zim ya. Semoga betah." Rafi hanya bisa mengangguk, hatinya berbunga-bunga. Ahwat di sini memang cantik-cantik, pikirnya. Kulit putih, mata sipit, dan sikap yang sopan. Ia membayangkan betapa indahnya jika bisa berteman dengan mereka, mungkin belajar bersama di perpustakaan atau ikut kajian bersama.
Setelah registrasi selesai, Rafi diberi kunci kamar kos yang sudah diatur oleh kampus. Kosan ini adalah bagian dari fasilitas kampus, khusus untuk pelajar laki-laki, bernama Asrama Taqwa. Berbeda dengan kosan biasa, di sini setiap siswa mendapat kamar sendiri untuk menjaga privasi dan fokus belajar. Rafi senang sekali; ini pertama kali ia punya kamar sendiri, tanpa harus berbagi dengan saudara-saudaranya di desa. Kosan itu terletak di belakang kampus, hanya 10 menit jalan kaki dari gerbang utama. Bangunannya sederhana tapi bersih: dua lantai dengan koridor panjang, setiap kamar dilengkapi tempat tidur, meja belajar, lemari, dan kamar mandi dalam. Di lantai bawah ada ruang bersama untuk shalat berjamaah dan diskusi kelompok.
Rafi membuka pintu kamar nomor 12 di lantai dua. Ruangan itu kecil tapi nyaman, sekitar 3x4 meter, dengan jendela menghadap taman kecil. Ia meletakkan barang-barangnya, menyusun buku-buku agama di rak, dan memasang poster ayat Al-Quran di dinding. "Ini rumah baru ku," gumamnya sambil merebahkan diri di kasur. Pikirannya melayang ke akhwat tadi. Bagaimana rasanya kalau punya teman dekat seperti itu? Ia menggelengkan kepala, mengingat nasihat ayahnya: "Jaga pandangan, Nak. Kampus itu tempat belajar, bukan tempat pacaran." Tapi entah kenapa, imajinasinya mulai pembohong. Ia membayangkan berjalan-jalan di taman kampus dengan seorang akhwat, berbincang tentang hadits atau sekadar berbagi cerita.
Siang itu, setelah istirahat sebentar, Rafi memutuskan untuk menjelajahi kampus. Ia berjalan ke taman utama, di mana pohon-pohon tinggi menaungi bangku-bangku batu. Di sana, ia melihat kelompok-kelompok siswa sedang belajar. Beberapa akhwat duduk melingkar, membaca buku dengan jilbab mereka berkibar pelan ditiup angin. Satu di antaranya menarik perhatian Rafi: seorang gadis berjilbab krem, kulit sawo matang, dan senyum manis saat berbicara dengan temannya. Mereka tampak begitu fokus, tapi ada sesuatu yang membuat Rafi penasaran. Dibalik kesucian itu, apakah ada sisi lain? Ia puas dengan kepala lagi, merasa bersalah atas pikiran itu.
Sore harinya, Rafi ikut mengorganisir siswa baru di aula besar. Ratusan siswa baru duduk rapi, laki-laki di sisi kanan, perempuan di sisi kiri, dipisahkan oleh tirai tipis sesuai aturan kampus. Pembicara adalah seorang ustadz terkenal, Ustadz Ahmad, yang berbicara tentang pentingnya menjaga hati dari godaan dunia. “Di Darul Ta'zim ini, kalian akan belajar ilmu, tapi juga belajar taqwa. Jauhi zina mata, zina hati, dan segala yang mendekatinya,” katanya dengan suara tegas. Rafi mengangguk setuju, tapi matanya sesekali melirik ke sisi perempuan. Di sana, akhwat-akhwat duduk dengan postur tegak, jilbab mereka sempurna, tapi ada satu-dua yang tersenyum ke arah laki-laki saat ustadz tak melihat. Apakah itu imajinasi Rafi saja?
Malam pertama di kosan, Rafi merasa kesepian. Kamarnya sunyi, hanya suara azan maghrib dari masjid kampus yang terdengar samar. Ia shalat sendirian, lalu makan malam sederhana dari warung dekat kosan. Saat kembali, koridor kosan mulai ramai. Beberapa ikhwan—mahasiswa laki-laki—berbincang di ruang bersama. Salah satunya, seorang kakak kelas bernama Faisal, mendekati Rafi. "Kamu pelajar baru ya? Selamat datang di Asrama Taqwa. Di sini enak, kamar sendiri, bisa fokus belajar. Tapi hati-hati malam-malam, kadang ada suara-suara aneh," katanya sambil tertawa. Rafi bertanya, "Suara apa, Kak?" Faisal menyuntikkan mata. "Ah, nanti juga tahu sendiri. Kampus ini suci di depan, tapi manusia bisa punya nafsu." Rafi tertawa gugup, tak mengerti maksudnya.
Malam semakin larut. Rafi berbaring di kasurnya, coba tidur. Tapi tiba-tiba, dari kamar sebelah, terdengar suara pelan. Awalnya seperti bisikan, lalu menjadi desahan samar. Rafi mendengarkan lebih teliti. Itu suara perempuan? Mustahil, ini kosan laki-laki. Tapi suara itu semakin jelas: "Ah... ya... lebih dalam..." diikuti erangan lelaki. Rafi terkejut, suhunya memanas. Ia bangun, mendekatkan telinga ke dinding. Ya, itu jelas suara hubungan intim. Tapi bagaimana bisa? Kosan ini dijaga ketat, pengunjung perempuan dilarang masuk setelah maghrib.
Rafi merasa gairahnya bangkit untuk pertama kalinya sejak tiba. Ia belum pernah mendengar hal seperti ini di desanya. Tangannya tanpa sadar menyentuh dirinya sendiri, tapi ia menahannya. “Astaghfirullah,” gumamnya, mencoba mengalihkan pikiran dengan membaca Al-Quran.
Tapi suara itu terus berlanjut, kadang dari kamar lain juga. Rafi penasaran, siapa yang ada di kamar sebelah? Apakah kakak kelas yang tadi? Atau mungkin ustadzah? Tunggu, ustadzah? Itu tidak masuk akal. Kampus Darul Ta'zim punya ustadzah muda yang tinggal di asrama khusus, tapi tak mungkin mereka ke sini. Rafi gelisah sepanjang malam, tidurnya terganggu.
Pagi harinya, ia bangun dengan mata panda, tapi semangat untuk hari pertama kuliah. Saat keluar kamar, dia melihat Faisal lagi. "Gimana malam pertama? Dengar suara kan?" tanya Faisal sambil nyengir. Rafi mengangguk malu-malu. "Itu biasa di sini. Kampus suci, tapi manusiawi." Rafi berjalan ke kampus dengan pikiran campur aduk. Di taman, ia melihat lagi akhwat-akhwat cantik itu. Satu di antaranya, yang kemarin di registrasi, berayun ke arah. "Halaman! Mau ke kelas mana?" tanyanya. Rafi mendekat, jantungnya berdegup. Namanya Aisyah, jurusan Ekonomi Islam. Mereka berbincang sebentar, tentang mata kuliah dan kegiatan kampus. Rafi merasa nyaman, tapi ingat suara malam tadi. Apakah Aisyah mengetahui tentang bayang-bayang ini? Atau dia bagian dari itu?
Hari pertama kuliah berjalan lancar. Dosennya ramah, materi tentang dasar-dasar hukum Islam menarik. Tapi sepanjang hari, Rafi tak bisa lepas dari pikiran tentang akhwat-akhwat itu. Mereka begitu banyak, begitu cantik, dengan jilbab yang membuat mereka tampak misterius. Di kantin, ia melihat pasangan ikhwan dan akhwat duduk berdekatan, meski tak bermesraan. Di halaman masjid, ada yang berbisik-bisik. Rafi mulai bertanya-tanya: apakah Darul Ta'zim benar-benar suci seperti yang terlihat? Atau ada dunia lain dibalik bayang-bayang?
Malam kedua, suara desahan itu kembali. Kali ini lebih jelas, dari beberapa kamar. Rafi tak tahan lagi. Ia onani untuk pertama kalinya di kamar itu, membayangkan wajah Aisyah dan akhwat lainnya. Setelahnya, dia merasa bersalah, tapi juga ketagihan. "Ini baru awal," pikirnya. Kampus Darul Ta'zim menyambutnya, bukan hanya dengan ilmu, tapi juga dengan godaan yang tak terduga.
3962Please respect copyright.PENANAyRUEu7mjB3
3962Please respect copyright.PENANAIvr8O9fjpq


