Mata Alex terpaku pada sosok mungil di hadapannya. Jemarinya yang kekar mengetuk pelan di atas meja mahoni yang mengkilap, mengamati setiap gerak-gerik Mila yang anggun dalam balutan abaya cokelat mudanya. Sorot matanya menyiratkan ketertarikan mendalam, sebuah hasrat terpendam yang membakar saat menatap wanita bercadar yang kini duduk tegak di hadapannya. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya, sebuah respons yang tidak bisa ia kendalikan.
Aroma tajam parfumnya yang mahal bercampur dengan wangi natural vanila samar yang menguar lembut dari Mila. Keheningan sesaat menyelimuti ruangan, hanya diterangi cahaya keemasan dari jendela besar, menciptakan atmosfer yang anehnya terasa intens. Di balik abayanya yang rapi, detak jantung Mila berdegup kencang, memukuli tulang rusuknya, seolah ingin meledak. Handsock cokelatnya bergerak perlahan saat ia merapikan lipatan kain gamis di pangkuannya, berusaha menyamarkan kegugupan. Meski tahu penampilannya yang syar'i mungkin akan menyulitkan dalam mendapatkan pekerjaan, tekadnya untuk tetap menjaga nilai agama tak tergoyahkan, seolah menjadi perisai bagi jiwanya.
“Pria ini… tatapannya membuatku tidak nyaman.” Batinnya, meremas ujung abayanya. “Apakah dia akan menolakku karena penampilanku?”
Sepasang mata Alex berkilat penuh rasa ingin tahu, nyaris melahap. Sosok wanita bercadar di hadapannya ini benar-benar berbeda dari pelamar kerja lainnya. Ada aura kuat yang terpancar dari caranya membawa diri, misterius namun menawan, membuat Alex semakin tertarik untuk menggali lebih dalam tentang kepribadiannya, tentang apa yang tersembunyi di balik kain itu.
“Ada apa dengan gadis ini? Ada daya pikat yang tidak bisa dijelaskan. Dia bukan sekadar calon karyawan.” Pikir Alex.
Takdir seolah berpihak pada Alex ketika sosok mungil berbalut abaya cokelat muda itu melangkah masuk ke ruang wawancaranya. Matanya tak lepas mengamati setiap gerak-gerik Mila yang anggun namun penuh misteri di balik cadarnya, setiap desiran kainnya seolah memanggil. Tanpa perlu melihat selembar pun pengalaman kerja atau kemampuan yang tertera di CV, Alex sudah memutuskan dalam hati. Ada sesuatu yang lebih dalam, hasrat terpendam yang mendorongnya untuk menerima Mila sebagai karyawan barunya, sebuah dorongan primitif yang tak bisa ia jelaskan.
“Aku harus memilikinya. Dengan cara apa pun. Dia akan menjadi milikku.” Batinnya, sambil tersenyum licik.
Jemarinya yang kekar menggenggam berkas lamaran Mila dengan erat, membayangkan kelembutan yang tersembunyi di balik kain syar'i itu, sebuah fantasi yang memanas di benaknya. Postur tubuhnya yang tegap dan gagah seolah ingin mendominasi sosok mungil di hadapannya, menjadikannya miliknya. Aroma natural dari tubuh Mila membangkitkan naluri primitif dalam diri Alex, mengalirkan sensasi panas ke seluruh tubuhnya. Jabatan kosong itu hanyalah kedok dari keinginan terlarang yang mulai tumbuh liar dalam benaknya, sebuah rencana yang baru saja terbentuk, sebuah jebakan yang siap ia pasang.
Alex menatap Mila dengan sorot mata yang lembut namun jelas menyimpan hasrat terpendam. Jemarinya yang kekar meraih selembar kertas kosong di atas meja mahoni yang mengkilap, gerakannya terasa lambat dan disengaja, seolah menikmati setiap detik yang berlalu.
"Saya senang Anda datang ke sini, Mila," Ucapnya, suaranya terdengar ramah, namun menyembunyikan maksud tersembunyi. "Pakaian Anda menunjukkan bahwa Anda mempertimbangkan nilai-nilai agama sebagai bagian penting dari kepribadian Anda. Saya menghargai itu."
Senyum penuh arti tersungging di bibir tebalnya, menampakkan kilatan di matanya, sementara pandangannya sesekali mencuri pandang ke arah tubuh mungil Mila yang terbalut abaya, menelusuri setiap lekuk yang samar terlihat. Alex mencondongkan tubuhnya ke depan, membuat kursi kulit mahalnya berderit pelan. Aroma parfumnya kini terasa lebih kuat, menusuk hidung Mila.
"Saya berharap kita bisa berbicara lebih banyak tentang latar belakang dan pengalaman Anda. Bolehkah aku memulainya?"
Jemarinya yang kekar memainkan pena dengan gerakan sensual, memutarnya di antara jempol dan telunjuk, matanya tak lepas mengamati lekuk tubuh mungil di balik abaya cokelat muda itu. Hasrat terlarang semakin menggelitik benaknya setiap kali melihat gerak-gerik Mila yang anggun, setiap hembusan napasnya.
"Tentu saja, Pak Alex. Mila siap untuk menjawab pertanyaan Bapak," suara lembut Mila yang teredam cadar membuat darah Alex berdesir hangat. Dia menjilat bibirnya yang mendadak kering, membayangkan kelembutan yang tersembunyi di balik kain syar'i itu. Pikirannya dipenuhi fantasi liar tentang gadis di hadapannya yang begitu tertutup, menciptakan kesan misterius yang memancingnya. Tubuh mungilnya menegak, bersiap menghadapi pertanyaan wawancara. Aroma tubuh Mila yang samar itu membuat Alex semakin gelisah di kursinya, seolah ada magnet tak terlihat yang menariknya.
"Sudah lama kau memakai cadar, Mila?" Alex bertanya dengan suara berat, matanya menatap intens ke arah mata Mila yang berkilau di balik cadar, mencoba membaca lebih dalam.
"Cukup lama, Pak. Sejak Mila lulus SMA dua tahun lalu," Mila menjawab dengan nada ragu, jemarinya bergerak gelisah di pangkuannya, sebuah kebiasaan yang menunjukkan kegugupannya. Ia merasa tidak nyaman dengan pertanyaan yang tidak biasa ini.
“Kenapa dia menanyakan hal pribadi seperti ini? Apa ini relevan dengan pekerjaan?” Batinnya, semakin waspada.
"Berapa umurmu?" suara Alex semakin dalam, tubuh gagahnya condong ke depan, sedikit mengintimidasi.
Keringat tipis membasahi tengkuk Mila, membuat kulitnya yang tersembunyi di balik abaya terasa lengket. Pertanyaan yang tidak lazim dalam wawancara kerja ini membuatnya sedikit waspada, namun ia berusaha tetap profesional dengan beranggapan bahwa usia mungkin menjadi pertimbangan penting dalam proses rekrutmen.
"Kini saya berusia 20 tahun, Pak." Suara lembut Mila yang teredam cadar membuat Alex menelan ludah dengan berat, membayangkan betapa polos dan muda gadis di hadapannya, bagaikan mangsa yang tak berdaya.
"Sangat muda dan begitu anggun," kata Alex dengan suara serak, matanya berkilat penuh hasrat saat membayangkan lekuk tubuh mungil di hadapannya, sebuah imajinasi yang membakar.
Senyum tipis tersungging di balik cadar cokelat muda Mila. Jantungnya berdegup kencang merasakan tatapan intens dari pria di hadapannya. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya, terasa lengket dan tidak nyaman.
"Terima kasih, Pak." Mila berusaha menjaga suaranya tetap tegas meski tubuhnya gemetar halus, sebuah perjuangan internal.
Alex menggeser kursinya lebih dekat, membuat Mila dapat melihat dengan jelas otot-otot yang menyembul di balik kemeja putihnya. Jemarinya yang kekar mencengkeram pena dengan erat, seolah menahan hasrat liar yang bergejolak dalam dirinya, sebuah pertarungan internal Alex.
“Gadis ini suci, belum tersentuh. Aku akan menjadi yang pertama. Dia akan menjadi milikku.” Pikir Alex.
Alex membaca berkas lamaran dengan seksama, jemarinya yang kekar membalik halaman dengan gerakan lambat, seolah sengaja. Matanya berkilat nakal saat menemukan informasi yang dia cari.
"Oh, kau masih gadis, Mila?" suaranya terdengar serak dan dalam, penuh hasrat terpendam yang jelas tak profesional.
Tubuh mungil Mila bergetar halus mendengar pertanyaan itu, membuatnya sedikit tersentak.
"Ya, Pak. Mila belum menikah," jawabnya lembut dari balik cadar, suaranya nyaris berbisik.
Mila menarik napas panjang, membuat dadanya yang terbalut abaya bergerak naik turun dengan lembut. Matanya mengamati Alex yang masih fokus membaca berkas lamarannya. Keringat tipis membasahi lehernya yang tersembunyi di balik jilbabnya, menciptakan rasa tidak nyaman.
"Apakah ada sesuatu yang tidak Bapak pahami dari surat lamaran Mila, Pak?" suaranya terdengar lembut namun jelas, mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Aku paham dengan surat lamaranmu," Alex menjawab dengan suara berat, jemarinya yang kekar memainkan ujung kertas, seolah sengaja mengulur waktu. "Tapi ada yang perlu kau tahu, Mila."
Mila menunggu dengan sabar, jantungnya berdegup kencang merasakan tatapan intens Alex yang kini beralih padanya.
"Sebenarnya ini bukan perusahaan, tapi ini hanya sebuah Butik Muslimah. Apa kau tidak jadi masalah bekerja di sini, Mila?"
Mila tersenyum tulus di balik cadarnya, merasa sedikit lega. Jemarinya bergerak gelisah di pangkuan, tanda antusiasme.
"Mila tertarik untuk bekerja di Butik Muslimah ini, Pak. Mila akan sangat bangga jika bisa menjadi bagian dari butik ini dan membantu menjual produk-produk berkualitas tinggi yang dijual oleh Butik Bapak," ucapnya dengan semangat yang tulus.
"Tapi, Mila. Aku ingin tahu alasanmu melamar pekerjaan di toko ini?" Alex bertanya dengan suara serak, nada suaranya sedikit mengintimidasi.
"Mila ingin melamar pekerjaan di toko ini karena finansial Mila terbatas, Pak. Oleh karena itu, teman Mila, Andri, merekomendasikan untuk melamar pekerjaan di toko ini dalam rangka membantu untuk melunasi utang biaya kuliah saya dan sambil mengembangkan keterampilan. Mila sangat berterima kasih atas bantuan Andri dan akan berusaha keras bekerja di butik ini jika diterima."
Dada Mila naik turun saat menarik napas, membuat Alex menelan ludah dengan berat, matanya tak lepas dari gerakan itu. Kemejanya yang ketat memperlihatkan otot-otot dadanya yang bidang dengan jelas.
"Jadi itu alasan utama kenapa Mila melamar pekerjaan di sini, Pak. Saya berharap Mila bisa memberikan kontribusi yang maksimal dan bekerja di sini untuk mengembangkan butik ini menjadi lebih baik."
"Oh begitu ya."
Alex menyeringai dalam hati, membayangkan kesempatan sempurna yang terbentang di hadapannya. Matanya sesekali mengamati lekuk tubuh mungil yang terbalut abaya cokelat muda itu, sebuah fantasi yang kian nyata.
“Sempurna. Pintu perangkap sudah terbuka.” Batinnya, merasakan kegembiraan yang mengerikan. “Dia sangat membutuhkan uang. Ini adalah kelemahan terbesarnya.”
"Kalau boleh tahu, berapa besaran biaya utang dan biaya kuliah yang harus keluarga kalian bayar, Mila?"
"Harus Mila akui, utang biaya kuliah Mila cukup besar, hampir Rp20 juta, Pak. Namun, Mila dan keluarga berkomitmen untuk membayar utang tersebut sesuai dengan kesepakatan yang kami buat, dengan harapan bahwa Mila dapat menyelesaikan studi Mila."
Alex menyeringai puas dalam hati, membayangkan betapa mudahnya dia bisa memanipulasi gadis suci di hadapannya dan memanfaatkan kesulitan finansial gadis polos ini. Darahnya berdesir panas setiap kali melihat gerak-gerik anggun Mila yang masih suci dan belum terjamah. Hasrat liarnya semakin bergejolak setiap kali melihat lekuk tubuh mungil yang tersembunyi di balik abaya cokelat muda itu, memicu imajinasinya.
“Eh, kalau keluargamu tidak bisa melunasi utangnya bagaimana, Mila?” Alex bertanya dengan nada dibuat-buat peduli, menyembunyikan niat aslinya.
"Mila percaya kami bisa menemukan solusinya, Pak. Keluarga Mila dan Mila sendiri berkomitmen untuk mencari jalan keluar. Kami tidak akan berhenti mencari solusi hingga menemukan jalan keluar yang terbaik, Pak," jawab Mila penuh keyakinan. Bulu kuduk Mila meremang merasakan Alex yang semakin intens, terasa menusuk. Dia berusaha menenangkan detak jantungnya yang berdegup kencang, sebuah alarm dalam dirinya.
"Bagaimana jika tidak menemukan solusi dari masalah itu, Mila?" Alex bertanya lagi dengan suara serak, mendorongnya ke sudut.
"Jika ada kemungkinan bahwa kami tidak menemukan solusi yang tepat, Mila mungkin harus mempertimbangkan untuk mencari pekerjaan lain dulu dan berjanji untuk melanjutkan studi," jawab Mila lirih, ada nada keputusasaan di sana.
Alex kurang puas, semakin informasi digali ia semakin membayangkan betapa mudahnya dia bisa memanipulasi gadis polos di hadapannya.
"Namun, Mila tetap berharap bisa menemukan solusi terbaik untuk masalah tersebut, dan saya akan tetap berusaha sekuat tenaga untuk menghindari situasi tersebut."
"Untuk akhirnya, Mila masih berharap diterima di Butik Muslimah ini dan akan berusaha sebaik mungkin untuk membantu Butik ini."
Alex berdesir panas mendengar nada putus asa dalam suara Mila, sebuah tanda kerentanan yang ia inginkan. Tangannya yang kekar merogoh dokumen peta, mengeluarkan selembar kertas sambil membayangkan kenikmatan yang akan dia dapatkan dari tubuh di hadapannya.
"Saat ini jabatan yang kosong adalah bekerja sebagai sekretarisku."
Alex melepaskan cerdik, tangannya yang kekar menyewakan kertas kontrak.
"Jika Anda berkenan bekerja di sini sebagai sekretarisku, maka tanda tanganilah surat kontrak ini."
"Terserah Anda, mau dibaca terlebih dahulu atau tidak."
“Baik, Pak, Mila akan menandatangani surat kontrak ini.”
Mila berusaha menjaga profesionali sme meski instingnya berteriak untuk segera pergi karena Alex. Tubuh mungilnya yang terbalut abaya bergerak gelisah di kursi, menciptakan pemandangan menggoda bagi Alex yang tak lepas mengamati setiap lekuknya, membayangkan apa yang ada di baliknya.
Alex mengamati sosok mungil di hadapannya dengan tatap dan lapar. Matanya menelusuri setiap lekuk tubuh Mila yang tersembunyi di balik gamis cokelat longgar. Meski pakaian muslimah itu menyembunyikan bentuk tubuhnya dengan sempurna, justru itulah yang membuat darah Alex semakin mendidih, memicu fantasi pembohongnya.
“Kau tidak akan pernah tahu apa yang menantimu, gadis manis.” Pikirnya, menatap Mila dengan penuh nafsu. “Kau akan menjadi milikku.”
Jemari kekarnya meremas pena dengan erat, menikmati sensasi nikmat saat bisa menjamah tubuh suci di balik pakaian longgar itu. Fantasi pembohongnya semakin menjadi-jadi setiap kali melihat gerakan-gerik anggun Mila yang sedang membaca kontrak, setiap tarikan napasnya. Posisi meja memang menghalangi pandangan ke bagian bawah tubuh Mila, namun justru itu membuatnya semakin bergairah membayangkan kenikmatan tersembunyi yang akan dia dapatkan dari akhwat bercadar ini.
nya berdesir darah panas, membayangkan sensasi saat bisa merasakan setiap jengkal tubuh perempuan di hadapannya. Menatap laparnya tak lepas mengamati setiap gerakan Mila yang masih fokus membaca, seolah ingin menembus pandangan mata Mila.
Alex menggeser posisi duduknya dengan gelisah saat melihat Mila menandatangani kontrak. Tatapannya pada jemari lentik Mila, membuat hasratnya semakin membara membayangkan kelembutan kulit tangan.
“Sangat tertutup,” gumamnya dalam hati, sebuah tantangan baginya. "Lagipula mencari uang 20 juta itu akan sulit, melihat dari kondisinya yang kalang kabut mencari pekerjaan."
"Tidak mungkin ada uang jatuh dari langit tiba-tiba suatu saat nanti. Setidaknya dia mulai bekerja mulai besok di butik ini. Apalagi sebagai sekretarisku, hahaha,"
Seringai licik menghiasi wajah Alex, membayangkan berbagai cara untuk saya njebak mangsanya. Aroma natural dari Mila membuat Alex bersemangat, menciptakan atmosfer yang semakin intim. nya berdesir Darah panas setiap kali membayangkan lekuk di balik gamis longgar itu, membuat celananya terasa semakin sesak, menegangkan tak terkendali.
"Ini Pak, Mila sudah menandatangani Surat Kontrak ini."
Alex tersentak dari lamunan kotornya. Tangannya yang kekar bergetar pelan saat menerima kertas itu, merasakan sisa kehangatan dari jemari mungil Mila yang baru saja menandatangani kertas tersebut, sebuah sentuhan yang memicu gelombang gairah.
“Sentuhannya… begitu lembut. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi.” Batinnya, menelan ludah.
"Oh, baiklah."
Celananya terasa semakin sesak setiap kali melihat gerakan-gerik anggun di hadapannya, setiap gerakan tubuh Mila membakar imajinasinya.
"Mulai besok, pukul setengah tujuh pagi kau mulai bekerja, Mila. Untuk hari ini, silakan pulang dulu," Ucapnya, suaranya terdengar menahan gejolak nafsu.
"Sekarang kamu boleh pulang dan beristirahat untuk bekerja besok."
Alex menggeser posisi duduknya dengan nyaman, menelan ludah berat saat melihat Mila bangkit dari kursinya, tubuhnya kini terlihat lebih jelas.
"Baik, Pak, terima kasih banyak telah menerima bekerja di sini. Mila izin pamit pulang."
Mata Alex berkilat pembohong mengamati tubuh mungil yang terbalut gamis cokelat longgar itu. Meski tak ada celah untuk melihat lekuk indahnya, darahnya tetap mendidih membayangkan kenikmatan tersembunyi di baliknya. Celananya terasa semakin sesak setiap kali melihatnya saja, hasratnya membakar.
Aroma vanila samar dari tubuh Mila membuat jemarinya mencengkeram tepi meja dengan erat, menahan hasrat liar yang memuncak saat melihat pinggul Mila bergoyang pelan meninggalkan ruangan sambil membawa tas bahunya, sebuah pemandangan yang menyiksanya sekaligus menggoda. Pintu itu, yang baru saja ia buka untuk Mila, kini terasa seperti pintu perangkap yang siap ia tutup kapan saja.15423Please respect copyright.PENANAnVLDssxVDd


