Di balik setiap keputusan yang diambil, tersembunyi benih-benih takdir yang tak terduga. Terkadang, jalan keluar yang tampak terang justru mengarah pada lorong gelap yang penuh godaan, sebuah jurang yang siap menelan tanpa ampun.
Senja mulai turun di kota, melukis langit dengan gradasi warna oranye, merah muda, dan ungu. Mila bergegas meninggalkan butik dengan langkah ringan, tas bahunya berayun mengikuti irama langkahnya yang penuh semangat. Dadanya bergemuruh membayangkan reaksi ibunya saat mendengar kabar bahagia ini, sebuah kelegaan yang begitu dinanti setelah sekian lama dihantui kecemasan. Jalanan mulai ramai dengan orang-orang yang hendak pulang kerja, suara klakson dan percakapan samar memenuhi udara. Mila mempercepat langkahnya, gamis cokelatnya melambai lembut tertiup angin sore, membelai kakinya. Kerudung dan cadarnya yang senada bergerak lembut mengikuti gerakannya yang anggun.
“Alhamdulillah, ya Allah. Terima kasih atas rezeki-Mu.” Batinnya, meresapi setiap detik kebahagiaan yang ia rasakan. Aroma udara sore, yang dingin dan sedikit basah setelah panasnya hari, terasa menenangkan. Meski masih ada kekhawatiran tentang kontrak yang ditandatanganinya, sebuah ganjalan kecil, namun untuk saat ini ia hanya ingin fokus pada kabar gembira untuk ibunya tercinta.
Mila akhirnya tiba di depan rumah sederhananya yang terletak di pinggiran kota. Bangunan mungil itu tampak bersahaja dengan dinding batu bata dan kayu yang dilapisi cat putih yang mulai memudar, memberikan kesan usia yang hangat. Atap genteng tanah liat memberikan kesan tradisional, sebuah kontras yang menenangkan dengan hiruk pikuk di luar. Halaman depan rumahnya dihiasi kebun kecil yang asri. Beberapa pot tanah liat berjejer rapi, menampilkan aneka bunga berwarna-warni yang mekar dengan indahnya, merah muda, kuning, dan putih. Aroma mawar dan melati yang semerbak menyambutnya, memeluknya dengan kehangatan yang tak ia dapatkan di tempat lain.
Meskipun sederhana, setiap sudut rumah ini menyimpan kehangatan dan kenangan bersama ibunya tercinta. Pot-pot bunga yang tertata rapi adalah bukti kasih sayang mereka dalam merawat tempat ini. Meski cat dindingnya mulai kusam, namun kebersihan dan kerapian tetap terjaga berkat ketelatenan kedua perempuan yang menghuni rumah mungil ini.
“Rumah ini adalah surgaku. Aku harus bekerja keras agar Ibu bisa hidup lebih baik.” Pikirnya, menatap ke dalam rumah dengan penuh cinta.
"Assalamu'alaikum, Bu. Mila pulang," sapa Mila lembut, suaranya dipenuhi kerinduan. Mila melangkah masuk ke dalam rumah sederhana itu dengan hati-hati. Suara langkah kakinya yang lembut bergema di ruangan yang sunyi, terasa lapang. Aroma obat-obatan bercampur dengan wangi bunga dari halaman masuk melalui jendela yang terbuka, menciptakan campuran bau yang khas, sebuah wangi yang kini identik dengan rumahnya.
Jemarinya menyentuh dinding bercat putih yang mulai mengelupas, menuntunnya menuju kamar ibunya. Gamisnya coklat bergerak pelan mengikuti setiap langkahnya yang penuh kehati-hatian, menelusuri lorong sempit. Dadanya berdebar kencang, tak sabar ingin membagi kabar gembira tentang pekerjaan barunya, sebuah harapan yang membuncah.
Suara batuk kering memenuhi kamar yang remang. Ibu Mila terbaring lemah di atas kasur usang, tubuhnya yang kurus semakin mengkhawatirkan. Gamis dan cadar cokelat Mila bergerak pelan saat ia mendekat ke sisi tempat tidur, menciptakan desiran lembut.
"Uhuk uhuk uhuk," terdengar lagi batuk kering dari ibunya.
Dua tahun berlalu sejak kepergian ayahnya saat Mila masih di bangku SMA. Kini kondisi ibunya yang semakin memburuk membuat hatinya mencelos, sebuah nyeri yang menusuk. Semangat yang tadi membuncah perlahan surut, digantikan kekhawatiran yang menusuk, menggerogoti jiwanya.
"Bagaimana keadaan Ibu?" Suaranya bergetar penuh kecemasan, nyaris pecah. Matanya mulai berkaca-kaca di balik cadar, menyaksikan sosok yang paling ia sayangi terbaring tak berdaya. Ia merasakan kehangatan dari tangan ibunya yang kurus dan rapuh saat ia menyentuhnya.
"Tidak usah khawatir, Nak, Ibu tidak apa-apa. Hanya sedikit batuk," ucap ibunya dengan suara lemah, berusaha menenangkan kekhawatiran putrinya, namun ada kepalsuan samar di sana.
Mila menatap wajah tirus ibunya yang pucat. Hatinya teriris menyadari kebohongan yang tersirat dari sorot mata sayu itu, sebuah kenyataan pahit yang harus ia telan.
"Ibu sudah makan? Bagaimana jika Mila suapkan? Sudah minum obat, 'kan?" tanyanya beruntun dengan nada cemas, tanpa jeda.
"Tidak perlu, Nak, Ibu sudah kenyang. Obat pun sudah Ibu minum," jawab ibunya pelan, sebuah senyum tipis terukir di bibir pucatnya. "Bagaimana dengan lamaran pekerjaanmu, apakah sudah membuahkan hasil, Nak?" Suara ibunya terdengar lemah dan serak, namun ada secercah harapan yang terpancar dari matanya yang sayu, sebuah cahaya kecil di tengah kegelapan.
"Alhamdulillah, Bu, Mila diterima bekerja di sebuah butik, sebagai sekretaris," Mila mendekat ke sisi ranjang, gamisnya bergerak lembut mengikuti gerakannya. Jemarinya menggenggam tangan ibunya yang kurus, terasa rapuh. "Gajinya lumayan, Rp2.300.000 per bulan," suaranya penuh semangat meski tersembunyi di balik cadar cokelatnya. Matanya berbinar membayangkan bisa membelikan obat-obatan yang lebih baik untuk ibunya dan keperluan hidup lainnya, sebuah impian yang terasa dekat.
"Dan mulai besok, per tanggal 16 Mei, Mila sudah bekerja di sana." Dadanya bergemuruh penuh harapan, meski ada setitik kekhawatiran tentang kondisi ibunya, sebuah bayangan gelap di tengah kebahagiaan.
"Alhamdulillah, Nak. Maaf sudah bersusah payah karena keadaan Ibu seperti ini," suara ibunya bergetar penuh penyesalan, tangannya yang kurus mengusap lembut jemari Mila, sebuah sentuhan penuh cinta.
"Tidak jadi masalah, Bu, Mila kan anak Ibu," Mila memeluk ibunya dengan penuh kasih sayang, mencium pipinya dengan lembut. Di balik cadarnya, air mata menggenang menahan kesedihan melihat kondisi ibunya, sebuah air mata yang tak terlihat namun terasa hangat.
Sore itu, Mila melanjutkan rutinitas hariannya menyiram tanaman di halaman. Gamis cokelatnya bergerak anggun mengikuti setiap langkahnya, kain itu berdesir lembut. Aroma basah tanah bercampur dengan wangi bunga yang tersiram air. Beberapa pejalan kaki dan tetangga mencuri pandang ke arahnya, takjub melihat sosok bercadar yang jarang terlihat di lingkungan itu, sebuah pemandangan yang menarik perhatian.
Mila berusaha mengabaikan tatapan-tatapan penasaran yang tertuju padanya. Terkadang ia merasa risih, namun lebih sering memilih untuk tidak menghiraukan. Tangannya yang tertutup manset terus bergerak menyiramkan air ke tanaman-tanaman yang mulai layu terpapar terik matahari, mengembalikan kesegaran.
Mila bergerak lincah membersihkan setiap sudut rumahnya dengan telaten, menyapu dan mengepel lantai hingga mengkilap. Aroma sabun pel memenuhi udara, menyegarkan ruangan. Debu-debu yang menempel di perabotan ia bersihkan dengan cermat, tanpa ada yang terlewat. Setelah semua pekerjaan rumah selesai, Mila melangkah ke kamarnya. Satu per satu pakaiannya ia lepaskan, gamis cokelat yang membalut tubuh mungilnya, jilbab panjang yang menutupi dadanya, dan cadar yang menyembunyikan paras cantiknya. Manset dan kaus kaki yang melindungi kulit halusnya pun ia tanggalkan, membiarkan kulitnya bernapas.
Tubuh moleknya yang kini hanya terbalut pakaian dalam mulai basah oleh keringat, terasa lengket di kulitnya. Dengan gerakan anggun ia melepas bra dan celana dalamnya, membiarkan lekuk indahnya terbebas dari kungkungan kain, terlihat begitu menggoda. Handuk putih lembut ia lilitkan menutupi tubuh polosnya yang menggairahkan, sebelum bergegas ke kamar mandi karena waktu sudah menunjukkan pukul 17:30. Dinginnya air di bawah pancuran terasa menyegarkan, membersihkan keringat dan kegelisahan yang ia rasakan sepanjang hari.
Jam dinding menunjukkan pukul 20:00 malam. Lampu temaram menerangi kamar sederhana Mila. Tubuh rampingnya dibalut satu set baju tidur panjang putih bermotif bunga yang tampak lembut membelai kulitnya, terasa nyaman. Jilbab lebar instan menutupi rambut hitamnya dengan sempurna. Mila duduk bersandar di kepala ranjang, matanya menatap langit-langit kamarnya. Pikirannya melayang pada kontrak kerja yang baru saja ia tandatangani, sebuah kesepakatan yang akan mengubah hidupnya.
Hembusan angin malam yang dingin menyusup melalui celah jendela, membuat bulu kuduknya meremang, terasa dingin di kulitnya. Aroma obat-obatan dari kamar sebelah mengingatkannya akan kondisi ibunya yang masih terbaring lemah, sebuah beban yang tak pernah lepas. Lalu Mila duduk di meja belajarnya yang sederhana, jemarinya membalik halaman demi halaman buku dengan gelisah. Sesekali kepalanya menoleh ke arah pintu, telinganya awas mendengarkan suara batuk dari kamar sebelah, sebuah pertanda yang menyayat hati.
Baju tidur putih bermotif bunga membalut tubuhnya yang lelah setelah seharian beraktivitas. Matanya yang mulai berat berusaha fokus pada deretan kata di bukunya, namun pikirannya terus melayang pada kondisi ibunya, sebuah lingkaran kekhawatiran yang tak ada habisnya. Meski begitu, tidak ada keluhan yang terucap dari bibirnya. Dengan penuh kesabaran ia membagi waktunya antara belajar dan mengecek keadaan ibunya. Sesekali terdengar helaan napas pelan darinya saat mencoba menghafalkan materi yang tak kunjung masuk ke dalam ingatan, sebuah perjuangan yang sunyi. Namun tekadnya untuk membahagiakan sang ibu lebih kuat dari rasa lelahnya. Dengan ikhlas ia menjalani peran sebagai anak sekaligus perawat bagi ibunya tercinta, meski terkadang air mata menggenang di pelupuk matanya menyaksikan penderitaan sang ibu, sebuah pengorbanan yang tulus.
“Aku harus kuat. Untuk Ibu.” Pikirnya, menahan air mata yang mendesak keluar.
Ting ting ting.
Suara notifikasi ponsel memecah keheningan malam yang sunyi. Jemari Mila yang lelah meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja belajar. Cahaya layar menerangi wajahnya yang mulai mengantuk, memantulkan sedikit kelelahan. Matanya menyipit melihat pesan dari nomor tidak dikenal di aplikasi WhatsApp. Baju tidur putihnya bergerak pelan saat ia mengubah posisi duduknya agar lebih nyaman. Jilbab instannya sedikit merosot, memperlihatkan helaian rambut hitamnya yang terselip, sedikit berantakan.
Jantungnya berdegup kencang, bertanya-tanya siapa yang menghubunginya malam-malam begini. Perasaan was-was mulai menyelimuti hatinya, sebuah firasat samar. Dengan ragu, ibu jarinya bergerak untuk membuka pesan misterius tersebut.
Pesan: "Assalamu'alaikum Mila, Ini aku Bapak Alex."
Di ruang kerjanya yang mewah, Alex duduk di sofa kulitnya yang empuk. Jemarinya mengetik pesan dengan seringai licik di wajahnya. Matanya berkilat penuh nafsu membayangkan tubuh molek Mila yang terbalut gamis cokelat tadi. Celananya mulai menyempit saat membayangkan lekuk indah yang tersembunyi di balik pakaian muslimah itu, sebuah fantasi yang membakar. Ia menjilat bibirnya, membayangkan betapa nikmatnya jika bisa menyentuh kulit halus Mila yang tersembunyi di balik cadar dan gamis panjangnya. Tangannya yang besar menggenggam erat ponselnya, menanti balasan dari gadis polos yang akan menjadi mangsanya.
“Kau tidak akan bisa lari, Mila. Kau sudah masuk ke dalam jebakanku.” Batin Alex.
"Pak Alex pasti mendapatkan nomorku dari Surat Lamaran-ku siang tadi." Pikir Mila, merasa sedikit cemas. Jantung Mila berdegup kencang, jemarinya bergerak di atas layar ponsel, mengetik balasan.
Pesan: "Wa'alaikumsalam Pak. Mila juga bingung untuk berpakaian seperti apa besok. Karena ketika selesai wawancara Bapak tidak memberikan seragam atau menjelaskan tentang hal itu."
Alex menyeringai membaca balasan Mila. Pesan: "Soal seragam, sebenarnya butik telah menyediakan. Akan tetapi kami tidak menyediakan seragam untuk seorang yang berpakaian tertutup sepertimu."
Mila meremas ujung baju tidurnya dengan cemas. Pikirannya berkecamuk membayangkan kemungkinan terburuk Pak Alex akan memintanya melepas cadar dan berpakaian seperti karyawan lain. Perjuangannya selama ini untuk menjaga aurat dan istiqomah terasa begitu berat. Setiap helaan napasnya menyiratkan kegelisahan yang mendalam. Jilbab instannya terasa mencekik, seolah mengingatkan betapa beratnya konsekuensi yang harus ia hadapi. Matanya berkaca-kaca menatap layar ponsel, menanti dengan was-was pesan selanjutnya dari Pak Alex. Di tengah keheningan malam, suara batuk ibunya dari kamar sebelah semakin menambah beban pikirannya, sebuah melodi kesedihan.
“Tidak mungkin dia menyuruhku melepasnya. Aku tidak bisa.” Batinnya, merasa putus asa.
Pesan: "Maaf Pak. Jika Bapak menyuruh Mila bekerja tanpa berpenampilan seperti biasanya. Mila tak jadi masalah. Asalkan Mila dapat bekerja di butik."
Dengan berat hati, Mila mengirim pesan balasan itu. Jemarinya bergetar pelan menekan tombol di layar ponselnya. Air mata menggenang di pelupuk matanya, namun ia menahannya sekuat tenaga. Keputusan yang baru saja ia ambil terasa begitu berat, mengingat perjuangannya selama ini untuk tetap istiqomah. Namun bayangan ibunya yang terbaring sakit membuatnya harus mengalah. Ia butuh pekerjaan ini, apa pun konsekuensinya. Mila menghela napas panjang, berusaha menenangkan gejolak dalam dadanya yang kini terasa bergolak.
“Ini demi Ibu. Aku harus melakukannya.” Gumamnya lirih.
Pesan: "Bukan itu maksud Bapak Mila."
Pesan: "Jadi Pak, maksud Bapak?"
Pesan: "Tidak jadi masalah kau berpenampilan seperti itu. Lagipula kau bekerja sebagai sekretarisku bukan bagian penjualan yang berinteraksi dengan orang banyak."
Mila tersenyum lega membaca pesan itu dari bosnya. Hatinya tersentuh dengan pengertian yang ditunjukkan Pak Alex. Namun di balik sikap baik itu, tersembunyi niat jahat yang tak ia ketahui, sebuah bayangan gelap yang ia abaikan. Alex menyeringai licik di rumahnya yang mewah. Matanya berkilat penuh nafsu membayangkan tubuh molek Mila yang akan menjadi mainannya. Ia sudah membayangkan berbagai cara untuk menjinakkan gadis polos itu, membuatnya tunduk dan pasrah melayani hasrat birahinya yang tak terkendali, sebuah fantasi yang kini membanjiri benaknya.
“Tentu saja tidak jadi masalah. Aku tidak mau ada orang lain yang melihatmu. Hanya aku.” Batinnya, tertawa pelan.
Pesan: "Bapak tahu. Pasti sangat sulit jika kau melepas sesuatu yang kau pertahankan dan kau perjuangkan selama ini."
Mila terdiam membaca pesan itu. Hatinya menghangat, merasakan kebaikan yang tulus dari bos barunya itu. Ia merasa sangat beruntung, tanpa menyadari bahwa kalimat-kalimat itu hanyalah bagian dari jebakan yang lebih besar. Alex sedang memanipulasi emosinya, membuatnya merasa berutang budi dan percaya.
Pesan: "Terima kasih Pak, atas pengertian Bapak. Jadi pakaian seperti apa besok yang harus Mila pakai Pak."
Pesan: "Untuk itu, silakan berpakaian seperti biasa dan sopan, Mila."
Pesan: "Baik Pak. Terima kasih informasi. Maaf, merepotkan Bapak untuk mengabarkan hal ini malam-malam begini."
Pesan: "Tidak jadi masalah Mila. Itulah salah satu tugas Bos kepada karyawannya. Terutama padamu."
Mila mengernyitkan dahi membaca kalimat dari bosnya. Ada sesuatu yang janggal dari pesan itu. Jemarinya yang lentik menggenggam erat ponselnya, sementara otaknya mencoba mencerna maksud tersembunyi di balik kata-kata Pak Alex, sebuah teka-teki yang membingungkan.
“Apa maksudnya ‘terutama padamu’? Apa aku sebegitu spesialnya sampai dia harus repot-repot mengirim pesan malam-malam begini?” Pikirnya, merasa bingung.
Di ruang kerjanya, Alex mengusap selangkangannya yang mulai mengeras. Celananya menyempit membayangkan tubuh tertutup Mila yang akan segera menjadi miliknya. Lidahnya menjilat bibir dengan nafsu, sebuah gestur yang penuh hasrat.
"Terutama padaku," gumam Alex. "Apa hanya denganku saja, Pak Alex seperti ini?" Pikir Mila, merasa aneh. Ia menghela napas panjang, berusaha mengabaikan perasaan ganjil yang menggelayut di hatinya. Ia memilih untuk tidak memikirkan lebih jauh maksud tersembunyi di balik kata-kata bosnya itu. Lagipula, masih banyak hal yang harus ia pikirkan terutama kondisi ibunya yang masih terbaring sakit.
Tangannya meraih buku pelajaran yang tadi sempat terbengkalai, berusaha kembali fokus pada materi yang harus ia pelajari. Apalagi besok adalah hari pertamanya bekerja, ia harus mempersiapkan diri sebaik mungkin.
Pesan: "Iya Pak. Sekali lagi Terima kasih."
Pesan: "Tidurmu jangan terlalu larut. Karena biasanya hari pertama bekerja itu sangat melelahkan hingga membuat tubuhmu berkeringat. Apalagi dengan pakaianmu seperti itu."
Alex duduk di kursi, celananya semakin menyempit membayangkan aroma keringat yang akan menguar dari tubuh Mila yang terbalut pakaian tertutup. Membayangkan sensasi membelai kulit halus di balik cadar dan gamis panjang itu, fantasinya semakin liar. Napasnya memburu penuh nafsu. Akhirnya, setelah sekian lama, ia menemukan mangsa yang sesuai dengan fantasi liarnya seorang muslimah bercadar.
“Aku akan membuatmu lelah, Mila. Sangat lelah. Sampai kau tidak bisa lagi menolakku.” Batinnya, meremas celana panjangnya dengan kuat.
Pesan: "Terima kasih atas saran dan perhatiannya Pak. Mila akan mendengarkannya."
Mila mengangguk pelan, menyetujui saran dari bosnya untuk beristirahat lebih awal. Tanpa ia sadari, keistiqomahan yang selama ini ia jaga di balik gamis dan cadarnya akan segera diuji oleh nafsu bejat Pak Alex yang tak terkendali, sebuah nasib yang tak terhindarkan.
Alex mengusap selangkangannya lagi yang semakin membengkak. Celananya basah oleh precum yang merembes. Ia membayangkan aroma keringat yang akan keluar dari tubuh Mila, membuatnya semakin bernafsu untuk segera mencicipi tubuh gadis itu, fantasi yang terasa begitu nyata. Jemarinya yang kasar meremas batang kemaluannya yang mengeras, membayangkan sensasi membelai kulit halus Mila yang tersembunyi di balik pakaian tertutupnya. Mulutnya mengeluarkan erangan tertahan, tak sabar menunggu hari esok untuk memulai aksi bejatnya.
Setelah percakapan dengan Pak Alex berakhir, Mila membereskan buku-bukunya dengan rapi. Ia mengendap ke kamar ibunya, memastikan beliau sudah terlelap dalam tidurnya yang nyenyak. Langkahnya yang ringan membawanya kembali ke kamar pribadinya. Tubuhnya yang lelah akhirnya rebah di atas ranjang, merasakan keempukan kasur yang memanjakan.
Semangat dan harapan membuncah dalam dadanya yang ranum, membayangkan hari pertamanya bekerja besok. Senyum manis tersungging di bibirnya yang merah merekah, merasa beruntung memiliki atasan yang pengertian. Namun di balik semua itu, ia tak menyadari bahwa Alex telah mempersiapkan jebakan untuk memuaskan nafsunya, sebuah bayangan gelap yang melayang di atasnya. Tanpa ia ketahui, bosnya yang tampak baik hati itu kini sedang mengusap kejantanannya yang mengeras, membayangkan tubuh molek Mila yang akan segera menjadi mangsa nafsunya. Seringai licik tersungging di wajahnya yang tampan namun bejat, sebuah janji akan kebejatan yang akan segera terwujud.13071Please respect copyright.PENANAznFiaMlndC


