Setiap langkah adalah sebuah pilihan. Setiap pilihan, sebuah konsekuensi. Dan di persimpangan jalan kehidupan, seringkali keputusan pahit harus diambil, memaksa kita berjalan di jalur yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Mila meringkuk di kursi ruang santai kampus yang dingin, tubuhnya gemetar samar, terbungkus sempurna dalam ketakutan yang menghimpit. Pikirannya berp utar tak karuan, terbelenggu bayangan tumpukan hutang orang tua yang kian menggunung. Sebagian besar beban itu adalah biaya kuliahnya yang tidak sedikit. Gejolak batinnya meronta, terus-menerus mendesaknya untuk memilih antara menunda kuliah atau segera mencari pekerjaan. Setiap serat kayu pada kursi dan meja yang menjadi sandarannya kini seolah menjadi saksi bisu atas prahara yang bergolak di dalam dadanya. Namun, cadar hitam yang membalut wajahnya dengan sempurna berhasil menyembunyikan kekalutan yang m enghantuinya dari siapa pun yang lewat. Bahkan gamis longgar senada yang membalut lekuk tubuhnya pun turut menyamarkan kegelisahan yang begitu kuat menggerogoti batinnya, menjadikannya tampak tenang di luar, meskipun di dalam ia terasa hancur lebur.
“Ya Allah, bagaimana caranya aku bisa keluar dari lubang ini ? Utang itu seperti raksasa yang siap menelanku hidup-hidup.” Batinnya, remas ujung gamisnya dengan jari-jari yang gemetar. Dinginnya kursi ruang santai yang tak berpenghuni terasa menusuk hingga ke tulang, seolah menyuarakan kesendirian yang ia rasakan.
Dari kejauhan, derap langkah yang semakin mendekat membuat jantung Mila berdegup kencang, memukuli tulang rusuknya seolah ingin melarikan diri dari tubuhnya sendiri. Selur uh tubuhnya tiba-tiba menegangkan, disergap kesadaran akan kehadiran seorang pria yang kini telah berdiri berdiri di hadapannya. Dengan jemari gemetar, ia perlahan mengangkat wajahnya yang tersembunyi di balik cadar hitam. Sorot matanya yang hanya terlihat sedikit itu memancarkan kewaspadaan yang intens, nyaris tidak melindungi. Pria itu tinggi, dengan bahu lebar yang memenuhi pandangan matanya. Aroma maskulin yang lembut, perpaduan mint dan kayu, tiba-tiba memenuhi indra penciumannya, menambah ketegangan yang sudah ada.
"Siapa dia? Kenapa dia mendekatiku? Ya Allah, jangan sampai ada hal buruk terjadi." Pikirnya, menunduk sedikit untuk menghindari kontak mata. Ajaran agama yang tel ah tertanam begitu dalam di pemikirannya membuatnya merasa sangat tidak nyaman harus berinteraksi langsung dengan pria yang bukan mahramnya. Rasa cemas dan gelisah pun kian menjalar, menimbulkani setiap inci kulitnya, hingga rasanya seluruh sarafnya ikut menegangkan.
"Assalamualaikum, mohon maaf mengganggu," sebuah suara bass yang ramah memecah keheningan, meskipun terdengar jelas si empunya suara menjaga jarak yang sopan. "Saya Andri. Sepertinya kamu sedang memikirkan sesuatu?"
Mila menarik napas panjang, berusaha keras menenangkan deburan di dada. Udara dingin yang ia hirup terasa kering di tenggorokannya. Jemarinya saling bertaut erat di atas meja, berusaha mengingat getaran yang masih menjalar samar ke seluruh tubuh. Suaranya terdengar begitu lembut, nyaris berbisik, namun jelas sekali ada kehati-hatian yang kuat saat ia menjawab pertanyaan Andri.
"Wa'alaikumsa lam, Kak. Iya, Mila memang sedang mencari pekerjaan sekarang," jawabnya, matanya menatap lurus ke depan, menghindari pandangan langsung ke arah pria itu. "Ada sedikit masalah di rumah yang perlu Mila selesaikan, dan ada uang yang harus dibayar secepatnya."
Andri mengangguk pelan, lalu mengambil posisi duduk di kursi seberang meja, tetap menjaga jarak yang sopan. Gerakan kecil itu membuat kain kemejanya bergeser, menampilkan sedikit lengan yang tegap. Raut wajahnya menunjukkan ekspresi yang tulus, terpancar dari sorot matanya yang lembut, meskipun ia berusaha keras agar tidak terlihat terlalu mendesak atau ingin tahu lebih jauh. Aku hanya duduk di sana, membiarkan kenyamanan melupakan mereka, seolah memberi ruang bagi Mila untuk merasa lebih nyaman dan lebih rileks. Aroma parfumnya kembali tercium, kini bercampur dengan kertas wangi dan buku-buku lama yang terselip di rak.
"Uang? Mohon maaf, masalah keuangan apa, Mila?"
Pert anyan lugas itu membuat bahu Mila semakin menegangkan, seolah setiap ototnya menegang dalam ketakutan. Cadar hitamnya bergerak pelan, naik turun mengikuti tarikan nafasnya yang kembali memberat, terasa begitu sesak di dalam dada. Dari balik kain hitam yan g menutupi wajahnya, kesedihan terpancar begitu jelas dari mata Mila yang kini berkaca-kaca, air mata menggenang di pelupuknya, siap tumpah. Bahunya yang mungil mulai bergetar samar, menahan isak tangis yang nyaris pecah, suaranya tercekat di kerongkongan.
"Aku tidak bisa menahannya lagi. Beban ini terlalu berat. Aku malu, tapi aku tidak punya pilihan lain." Pikirnya, merasakan pan asnya air mata yang siap jatuh. Dengan gerakan ragu, tangan yang gemetar perlahan meraih tas selempang berwarna cokelat di atas meja. Jemarinya yang lentik, meski sedikit gemetar, menarik keluar lembaran kertas yang sudah subur dan terlipat karena terla lu sering digenggam. Tinta merah yang tercetak di atasnya seolah-olah berteriak, menampilkan angka-angka mengerikan sebuah tagihan dengan jumlah fantastis dan jangka waktu yang sangat mendesak, memuatnya seperti batu raksasa yang siap menimpanya kapan saja.
Andri membungkukkan badannya sedikit, matanya melebar saat sekilas membaca deretan angka di kertas di tangan Mila. Ekspresinya tiba-tiba berubah tegang, rahangnya menahan rasa tegang yang begitu kuat. Keheningan yang c anggung dan berat membekukan keduanya selama beberapa saat yang terasa begitu panjang. Aroma lavender yang lembut dari pengharum ruangan di sudut ruang santai seolah menjadi kontras yang ironis dengan atmosfer mencekam yang kini menjebak mereka berdua.
“Ya Allah…” bisik Andri pelan, suaranya tercekat di tenggorokan, nyaris tak terdengar.
Mila menundukkan kepalanya ke dalam-dalam, jemarinya meremas gamis hitamnya hingga kusut, seolah ingin mengalirkan seluruh kekalutan di dalam di rinya. Suara Mila terdengar lembut bergetar, namun ia berusaha keras menyampaikan kegelisahannya dengan jelas, setiap kata terasa berat. Jemarinya yang gemetar masih memegang erat kertas tagihan itu, seolah tak ingin melepaskan beban yang menghimpitnya.
“Ini… ini adalah biaya kuliah Mila dan tagihan utang keluarga yang s elama ini tertunda,” suara Mila terdengar lembut namun penuh keputusasaan, masih bergetar samar. "Mila perlu cukup uang untuk membayar semua itu dalam waktu dekat, Kak. Mila... Mila tidak ingin orang tua kembali menanggung beban utang yang Mila timbulkan."
Bibir mungilnya yang tersembunyi di balik cadar hitam itu bergetar menahan kegelisahan yang memunca k. Pandangannya beralih ke luar jendela, menatap awan-awan yang berarak pelan di langit sore yang mulai menguning. Sebuah harapan akan jalan keluar, meski samar, terpancar jelas dari sorot matanya yang sendu, seolah mencari jawaban di luasnya Cakrawala.
Andri mengamati kertas tagihan itu sekali lagi dengan sek sama, dahi berkerut ke dalam, otaknya berputar keras mencari solusi yang mungkin bisa membantu juniornya ini. Suasana ruang santai kampus yang sepi, nyaris tanpa suara lain selain napas mereka, semakin menambah ketegangan ketegangan yang menguar di antara keduanya.
“Angka ini terlalu besar untuk ditanggung sendiri oleh seorang siswa. Aku harus membantu, tapi bagaimana?” Pikir Andri. Ia menghela napas panjang, menyampaikannya menyiratkan rasa bersalah karena tidak bisa berbuat banyak.
Mila menegakkan tubuhnya, berusaha mengumpulkan setiap sisa keberanian yang ia miliki. Suaranya yang lembut kini terdengar penuh harap, meski masih menyiratkan keraguan yang mendalam.
“Mila tahu mungkin kedengarannya sulit untuk dilakukan, Kak, tapi… Mila sedang mencari pekerjaan untuk membantu membayar biaya kuliah dan tagihan utang keluarga,” ucapnya, suaranya sedikit tertahan. "Apa ada saran atau mungkin bantuan yang bisa Kakak berikan?"
Mata yang berkaca-kaca menatap Andri dengan sorot m e mohon , ekspresi yang begitu gamblang menunjukkan betapa rapuhnya ia saat ini. Jemarinya yang gemetar semakin erat menggenggam gamisnya, seolah mencengkeram satu-satunya penopang yang ia miliki, menunjukkan betapa beratnya beban yang ia tanggung sendirian.
“Maaf Mila, jika untuk keuangan aku juga mengalami kesulitan,” tutur Andri dengan nada menyesal. Pemuda itu menyandarkan punggung ke kursi, raut wajahnya menunjukkan ketidakberdayaan yang nyata. Ia merasakan desakan di dadanya, keinginan yang kuat untuk membantu namun terhalang oleh keterbatasan.
“Kalau saja aku punya uang sebanyak itu, aku akan membantu tanpa berpikir panjang. Dia gadis yang baik, tidak pantas menanggung beban seberat ini.” Batinnya, menatap nanar wajah Mila yang tertutup cadar.
Ang in sore yang berhembus melalui jendela menggerakkan tirai putih dengan lembut, seolah-olah menertawakan kenyamanan yang kini mengacaukan ruangan itu. Aroma kopi dari kedai di seberang ruang santai tercium samar, berbaur dengan atmosfer kecemasan yang semakin pekat.
Kepala Mila bergerak perlahan, memberikan anggukan lemah t anda memahami situasi. Mata yang sendu terus memandang ke arah luar jendela, seolah mencari secercah harapan dari langit senja yang mulai memerah. Pemandangan di luar sana, meski hanya sebentar, memberikan sedikit ketenangan bagi jiwa yang gundah.
"Mila mengerti. Tidak masalah," ucapnya dengan suara lembut yang tulus, meski ada nada mengecewakan samar di baliknya, bagai pecahan kaca yang tidak terlihat.
Andri mengamati sosok di hadapannya de ngan cermat. Gamis hitam yang membalut tubuh mungil itu bergerak perlahan tertiup angin sore yang masuk melalui celah jendela. Keheningan yang canggung kembali mengganggu ruangan itu, hanya sesekali terdengar gemerisik daun dari pohon tua di halaman kampus.
"Bagaimana aku bisa membantu? Pikir, Andri, pikir!" Pikirnya, menekan jemarinya di atas meja, mencari ide. Tiba-tiba sebuah ide terlintas di pikiran, sebuah saran yang mungkin bisa menjadi harapan kecil bagi gadis di hadapannya.
Mila menarik napas dalam-dalam, suaranya terdengar lebih tenang meski masih menyiratkan kekhawatiran.
“Mila tahu ini tidak mudah bagi siapa pun, Kak, dan Mila berharap punya cukup waktu untuk mencari pekerjaan yang dapat membantu memenuhi kebutuhan keuangan dan keluarga,” ujarnya, sedikit ragu.
Bola matanya yang bening menatap Andri penuh harap, menunggu setiap kata yang mungkin bisa menjadi petunjuk jalan keluar dari masalah tersebut. Jemarinya yang lentik masih memegang erat gamisnya, seolah mencari kekuatan dari kain itu.
"Tapi, aku ada sedikit saran," Andri memulai, "Di butik akaian di ujung jalan ini, mereka lagi butuh karyawan wanita. Mungkin itu cocok buat kamu," sambil menunjuk ke arah luar jendela dengan dagunya.
"Semoga ini bisa membantu. Ini memang bukan solusi instan, tapi setidaknya ini adalah sebuah jalan." Batin Andri, merasa sedikit lega.
Kedua mata Mila berbinar di balik cadarnya. Tubuhnya yang mungil menegak penuh semangat mendengar saran yang diberikan Andri. Harapan yang sempat redup kini kembali menyala dalam dirinya, memancarkan cahaya kecil di tengah kegelapan.
"Terima kasih banyak, Kak! Mila akan segera mencari tahu lebih lanjut tentang perusahaan itu dan mencoba melamar sebagai karyawati di sana," ucapnya dengan nada riang, antusiasmenya jelas terpancar. Senyuman yang tersembunyi di balik cadar hitamnya terpancar jelas dari sorot matanya yang kini berbinar cerah. Beban berat yang sejak tadi menghimpit dadanya kira-kira terangkat sedikit. Angin sore yang berhembus lembut menggerakkan gamisnya, seakan turut berbahagia atas secercah harapan yang kini ia miliki.
Suasana ruang santai kampus yang tadinya terasa mencekam kini mulai terasa lebih ringan. Aroma manis dari taman bunga di luar jendela seolah menjadi pengiring suasana hati Mila yang mulai membaik.
Mila mencondongkan tubuhnya ke depan, jemarinya yang lentik mengetuk-nuk meja dengan penuh semangat, seolah tak sabar. Sorot matanya memancarkan harapan baru.
"Apakah ada informasi lebih lanjut yang mungkin bisa Kakak berikan kepada Mila tentang pekerjaan itu, atau cara terbaik untuk mencobanya?"
Andri sambil mengingat-ingat sejenak, memikirkannya sambil mengingat-ingat detail yang mungkin berguna. “Tidak banyak informasi, Mil,” jawabnya sambil tersenyum tipis. "Tapi, lebih baik kamu datang langsung ke perusahaan itu."
Kepala Mila terangguk penuh semangat. Bahunya yang mungil menegak, menunjukkan antusiasme yang menggebu. Gamis hitamnya berdesir lembut saat ia memperbaiki posisi duduknya.
"Terima kasih banyak, Kak. Mila akan segera mencari tahu tentang perusahaan itu," ucap Mila dengan mata berbinar penuh harapan. "Mila juga harus segera pergi dan mempersiapkan diri untuk wawancara kerja. Terima kasih sudah membantu!"
Tubuh mungilnya bangkit dari kursi dengan gerakan anggun. Jemarinya yang lentik meraih gelas minuman yang tersisa sebagian, menyesapnya perlahan dari balik cadar hitamnya. Ekor matanya melirik ke arah Andri yang masih duduk di hadapannya.
"Jika ada sesuatu yang bisa Mila lakukan untuk Kakak, bilang saja. Mila tidak ingin banyak melakukan budi pada seseorang. Terima kasih sekali lagi, Kak."
Bibir mungilnya tersenyum tulu s di balik cadar hitam yang menutupi wajahnya. Tubuhnya yang ramping berbalut gamis panjang itu berputar memunggungi Andri. Langkah kaki yang ringan perlahan menjauh, meninggalkan ruang santai kampus yang kini semakin sepi. Sinar keemasan matahari sore menerpa tubuhnya yang bergerak anggun, menciptakan bayangan panjang di lantai marmer yang mengkilap. Suara sepatu flat-nya beradu lembut dengan lantai, berirama dengan desiran angin yang memainkan ujung gamisnya, mengiringi kepergiannya yang penuh harapan.
Keesokan harinya, dengan jantung berdegup kencang, Mila berdiri tegak di depan pintu kaca besar sebuah gedung yang m enjulang tinggi, menjanjikan masa depan yang tidak pasti. Jemarinya yang lentik mencengkeram erat berkas lamaran berisi data diri, berusaha meredam kegugupan yang menyimpan jantung, membuat telapak tangan sedikit berkeringat, terasa lengket dan dingin.
"Ini kesempatan terakhirku. Aku tidak boleh gagal." Batinnya, menatap pantulan dirinya di pintu kaca. Abaya cokelat muda yang membalut tubuhnya terlihat elegan, namun ia merasa seperti sedang mengenakan baju perang.
Setelah menarik napas panjang untuk mengumpulkan keberani an, kaki melangkah memasuki gedung itu. Dinginnya udara dari pendingin ruangan menyambutnya, terasa begitu menyegarkan di wajahnya yang sedikit panas karena gugup. Matanya melihat terpana kemegahan ruang tunggu yang terbentang di hadapannya. Furnitur el egan berwarna abu-abu tua dengan aksen bantal biru muda menciptakan suasana yang nyaman namun tetap profesional. Dinding batu bata ekspos yang didekorasi dengan ornamen listrik artistik menambah kesan unik pada ruangan itu, memancarkan cahaya redup yang lembut.
Tubuhnya yang mungil nyaris tenggelam dalam empuknya kursi tunggu. Pandangannya menyapu sekel iling, sambil menanti giliran wawancara. Aroma kopi yang baru diseduh dari meja berbaur dengan parfum mahal pengunjung lain. Dari balik jendela besar, pemandangan panorama gedung-gedung tinggi terhampar, menciptakan lukisan urban yang memukau.
Keringat dingin membasahi telapak tangan Mila yang terkepal di pangkua nnya. Wawancara kerja pertama ini membuat jantungnya berdegup tak karuan, namun tekadnya untuk membantu keuangan keluarga membuatnya bertahan, menahan setiap getaran cemas. Ia merasakan setiap detak jantungnya memukul tulang rusuknya, seolah ingin meledak.
Mata yang sendu menatap berkas lamaran di tangannya, berharap kesempatan ini akan membuka jalan menuju kehidupan yang lebih baik. Dadanya naik turun mengatur nafas, berusaha menenangkan diri dari kegugupan yang melandanya, nafasnya terasa pendek dan tersendat.
"Apa yang akan mereka tanyakan? Apakah saya cukup baik untuk pekerjaan ini?" Pikirnya, menggigit bi bir di balik cadarnya. Ketakutan akan penolakan terasa lebih nyata daripada harapan akan keberhasilan. Namun, tekad yang kuat untuk membuktikan kemampuannya membuat Mila tetap tegar menantikan panggilannya, seolah ada benteng kokoh dalam dirinya.
Abaya cokelat muda yang membalut tubuh mungilnya mengalir lembut hingga menyentuh lantai keramik yang dingin. Potongan kain yang elegan itu menonjolkan penampilan posturnya yang ramping, mencipt akan siluet yang menawan di bawah cahaya lampu lobi. Sepatu hitam simpel yang dipilihnya mengetuk perlahan mengikuti irama langkahnya yang anggun. Perpaduan warna netral pada tampilannya memberikan kesan profesional yang tidak berlebihan, namun tetap memikat.
Cadar senada yang menutupi wajahnya menyisakan sepasang mata yang berkilau penuh harap. Jemarinya yang lentik sesekali merapikan lipatan abaya, memastikan penampilan tetap rapi selama menunggu. Kaus kaki cokelat yang membungkus eratnya dengan pas memberikan kehangatan sekaligus memenuhi kewajiban menutup auratnya. Bahan lembut itu memastikan kakinya nyaman, dia tetap fokus selama proses di awancara nanti. Handsock senada yang membalut lengan hingga siku melengkapi tampilan syar'inya yang anggun. Perpaduan warna cokelat muda pada abaya, cadar, dan handsock menciptakan harmoni yang menenangkan, memancarkan aura sederhana namun berkelas.
Cahaya lampu lobi yang temaram memantul lembut pada material abayanya, menciptakan kilau halus yang memperkuat kesan elegan pada tampilannya. Aroma natural vanila dari tubuhnya bercampur dengan pewangi ruangan yang manis, menciptakan perpaduan wangi yang unik dan lembut.
Mila duduk dengan nyaman di ruang tunggu ya ng dingin, tangannya memegang gelas air mineral yang menyegarkan. Dinginnya gelas itu terasa nyaman di telapak tangan yang berkeringat. Setiap tegukan air dingin itu seolah menenangkan saraf-sarafnya yang tegang, meredakan sedikit gejolak di dada.
Jantungnya seakan berhenti berdetak ketika suara seorang wanita memanggil namanya dari dalam ruangan wawancara. Tubuhnya yang mungil berbalut abaya cokelat muda itu bangkit dengan cepat namun tetap anggun, seolah tanpa beban.
“Ini dia saatnya. Bismillah, semoga semua lancar.” Batinnya, melangkah perlahan namun mantap.
Dengan langkah perlahan namun mantap, Mila mendorong pintu ruang wawancara. Suara pintu yang tertutup di belakangnya berbunyi pelan . Udara sejuk dari pendingin ruangan menyapa kulitnya yang tertutup abaya cokelat muda, namun kali ini rasa dinginnya tidak lagi membuatnya gemetar. Detak jantungnya yang sempat memburu mulai melambat, digantikan oleh keyakinan yang menguat dalam dirinya.
Pandangannya tampak pada sosok pria gagah yang berdiri di dekat meja. Postur tubuhnya yang mencapai 180 sentimeter membuat Mila harus mendongak untuk menatap wajahnya. Usia pria itu sekitar 35 tahun, dengan pembawaan yang tegas dan profesional, aura dominan terpancar jelas dari sorot matanya yang tajam. Rambutnya disisir rapi, menampilkan dahi yang lebar dan bersih.
Kaki langkah yang berbalut sepatu hitam menginjak karpet tebal berwarna navy. Handsock cokelatnya bergerak lembut saat dia merapikan abayanya, memastikan penampilannya tetap rapi sebelum memulai wawancara.
Tubuh mungil Mila yang hanya terletak di dada pria itu membuatnya merasa begitu kecil dan rentan. Namun, dengan cepat dia menguasai diri, menegakkan bahunya dan mengatur postur tubuhnya dengan anggun. Abaya cokelat mudanya berdesir lembut mengikuti gerakannya yang halus, seolah menari di udara.
“Silakan duduk,” ujar pria itu dengan suara bariton yang dalam, tangannya menunjuk ke arah kursi di hadapan meja kantor. Suaranya terdengar otoritatif, namun ada nada ramah di sana.
Mila duduk, meras akan empuknya bantalan kursi yang seolah menelan tubuhnya. Ruangan wawancara ini terasa begitu luas, dengan meja kerja besar dari kayu gelap yang mengilat. Aroma parfum pria itu kini lebih kuat, perpaduan musk dan rempah-rempah yang hangat dan menenangkan.
Alex mengulurkan tangan ya untuk berjabat, namun dengan sopan Mila menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada. Gestur sederhana namun penuh makna ini menunjukkan prinsip yang dia pegang teguh, batasan yang jelas, yang ia yakini akan dihargai oleh siapa saja yang ia temui.
"Salam kenal, Mila. Saya Alex, pemilik perusahaan. Saya sangat senang dapat bertemu dengan Anda hari ini. Silakan duduk."
Kepala Mila mengangguk penuh hormat, membuat cadar cokelat mudanya bergerak lembut mengikuti isyaratnya, anggun dan sopan.
"Terima kasih," bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar.
“Ini dia yang kucari, seorang gadis yang tertutup yang mengundang rasa penasaran.” Batin Alex, matanya tak lepas dari sosok mungil di hadapannya. Tubuh Mila ya ng hanya setinggi dadanya terbalut sempurna dalam abaya yang anggun, bersembunyi lekuk tubuhnya, namun entah mengapa justru memicu imajinasinya. Gerakan kecil Mila, cara dia menundukkan kepala dan menangkupkan tangan, menampilkan pertunjukan yang langka.
“Aroma tubuhnya pasti sangat alami.” Gumam Alex lagi dalam hati, matanya menyiratkan ketertarikan yang dalam, melampaui sekedar profesionalisme. Pandangannya menelusuri siluet Mila, merasa ada daya tarik kuat dari misteri yang terpancar dari ga dis bercadar itu. Ia membayangkan apa yang tersembunyi di balik cadar itu, warna bibirnya, lekuk wajahnya, semuanya menjadi teka-teki yang menarik. Jantungnya berdetak lebih cepat, sebuah reaksi yang tidak profesional dan sama sekali tidak ia duga.
"Tenang, Alex. Ini hanya wawancara. Dia adalah calon karyawanmu." Ia mencoba mengingatkan dirinya sendiri, tetapi menirunya tetap tidak bisa lepas dari sosok mungil di hadapannya.
Mila, merasakan tajamnya Alex yang seolah menembus cadarnya, merasa sedikit tidak nyaman. Jantungnya kembali berd tak kencang, kali ini bukan karena tegang, melainkan karena sensasi aneh yang ia rasakan. Ada sesuatu dalam pria itu yang membuatnya merasa sangat rentan, namun pada saat yang sama, ia juga merasakan semacam kekuatan yang aneh dan intens dari sana.25458Please respect copyright.PENANAZdyhjjcsV4


