4309Please respect copyright.PENANAFIi82jYeXz
Bab 3: Menuju Rumah Besar dan Rahasia yang Terbuka
4309Please respect copyright.PENANArwo3ozr8dl
Seminggu berlalu seperti angin yang berhembus terlalu cepat. Setiap malam setelah hari kerja, Tina dan Teguh kembali ke ritual intim mereka, tapi ada sesuatu yang berbeda. Ciuman Tina terasa lebih dalam, pelukannya lebih erat, seolah ia ingin menyimpan setiap detik sebelum semuanya berubah. Teguh memperhatikan itu semua tanpa banyak bertanya. Ia tahu istrinya sedang bergulat dengan rahasia keluarga yang belum sepenuhnya terungkap, dan ia memilih untuk memberi ruang. Janjinya malam itu masih bergema di telinga Tina setiap kali ia gelisah: “Aku tidak akan ninggalin kamu.”
4309Please respect copyright.PENANAujNrQTGh8w
Hari Sabtu pagi tiba. Mereka berangkat dari apartemen di Jakarta Selatan menuju rumah besar keluarga Tina di pinggiran Bogor, sekitar satu setengah jam perjalanan. Mobil SUV hitam Teguh melaju mulus di tol Jagorawi, musik jazz lembut mengalun dari speaker. Tina duduk di kursi penumpang, mengenakan dress midi putih sederhana yang menonjolkan lekuk tubuhnya tanpa terlalu mencolok. Rambut hitam panjangnya dikuncir ponytail tinggi, mata cokelatnya sesekali melirik Teguh yang fokus mengemudi.
4309Please respect copyright.PENANA0YCqGoOxX6
“Kamu tegang ya?” tanya Teguh sambil menyentuh tangan Tina yang dingin.
4309Please respect copyright.PENANAPR0ImtZuI4
Tina mengangguk pelan. “Sedikit. Sudah lama aku nggak pulang bareng suami. Terakhir kali sendirian pas tunangan dulu.” Ia tersenyum kecil, mencoba terlihat santai. “Keluargaku… ramai sekali. Ayahku anak sulung dari tujuh bersaudara. Jadi om dan tante banyak, plus anak-anak mereka yang sudah dewasa. Kamu bakal ketemu banyak orang baru.”
4309Please respect copyright.PENANALFOyMoE4ZK
Teguh tersenyum menawan, seperti biasa. “Aku siap. Yang penting kamu di sampingku.” Ia mencium punggung tangan Tina, gerakan kecil yang selalu membuat hati wanita itu hangat.
4309Please respect copyright.PENANA4sqh40qsvl
Rumah besar itu muncul di ujung jalan setapak yang dikelilingi pohon pinus. Villa bergaya kolonial modern dengan halaman luas, kolam renang infinity di belakang, dan aula besar yang terlihat dari gerbang besi hitam. Mobil-mobil mewah sudah parkir rapi di halaman: Mercedes, BMW, bahkan satu Range Rover yang Teguh tahu milik Om Malik. Bau tanah basah setelah hujan pagi bercampur aroma masakan dari dapur terbuka.
4309Please respect copyright.PENANAIOez3kKK96
Begitu mobil berhenti, pintu utama terbuka lebar. Ibu Tina—Bu Ratih—berusia lima puluh dua tahun tapi tubuhnya masih kencang dan terawat, berlari kecil menyambut putrinya. “Tina! Akhirnya datang juga pengantin baru!” Ia memeluk Tina erat, lalu menoleh ke Teguh dengan senyum lebar. “Wah, menantu ganteng. Masuk, masuk!”
4309Please respect copyright.PENANAQg4QiZV1XK
Di belakang Bu Ratih berdiri Pak Hari—ayah Tina—pria tinggi tegap berusia lima puluh lima tahun dengan kumis tipis dan senyum hangat. Enam om dan enam tante sudah berkumpul di teras, semuanya mengenakan pakaian santai tapi rapi. Om Yosep dengan kacamata tipisnya tersenyum penuh arti, Om Malik dengan tubuh atletisnya berdiri menyilang tangan, mata tajamnya langsung menilai Teguh. Tante-tante yang lain—Lina, Mira, Sinta, Rina, Dina, Vina—semuanya berusia empat puluhan hingga awal lima puluhan, tubuh mereka terjaga dengan baik, payudara dan bokong masih menonjol meski usia sudah tidak muda lagi.
4309Please respect copyright.PENANAEn2a0hdSDK
“Selamat datang, Teguh! Pasangan pengantin baru pertama di generasi ini,” seru Om Budi sambil menepuk pundak Teguh kuat. “Kita tunggu kalian dari kemarin.”
4309Please respect copyright.PENANAoOEHZLDvcz
Teguh membalas salam dengan sopan, tapi ia bisa merasakan tatapan yang berbeda. Bukan tatapan biasa keluarga besar yang penasaran dengan menantu baru. Ada sesuatu yang lebih… lapar di mata mereka. Tina menarik tangan Teguh masuk, berbisik pelan, “Tenang saja, Mas. Nanti malam baru mulai.”
4309Please respect copyright.PENANATqqrB2emQn
Mereka diantar ke ruang tamu luas. Meja panjang sudah disiapkan dengan makanan ringan: sate, rendang mini, es kelapa muda. Obrolan ringan mengalir. Teguh diajak ngobrol oleh para om—tentang bisnis, politik, mobil baru. Ia menjawab dengan ramah, tapi pikirannya terus kembali ke kata-kata Tina seminggu lalu: pesta seks, ruangan khusus, tradisi keluarga.
4309Please respect copyright.PENANAAEJWX5r4bg
Tiba-tiba Bu Ratih menepuk tangan. “Tina, ikut Mama sebentar ya. Ada yang harus disiapkan.” Nada suaranya manis, tapi ada tekanan halus di dalamnya.
4309Please respect copyright.PENANAqH8ng7xxNb
Tina menoleh ke Teguh, matanya memohon. “Aku sebentar ya, Mas. Kamu ngobrol dulu sama om-om.” Ia mencium pipi Teguh cepat sebelum mengikuti ibunya ke belakang rumah.
4309Please respect copyright.PENANARtqwz9BwFD
Teguh mengangguk, tapi dadanya mulai berdegup lebih kencang. Ia duduk di sofa panjang bersama Om Yosep dan Om Malik. Om Yosep langsung membuka percakapan.
4309Please respect copyright.PENANAAVv5JkwdCa
“Kamu tahu nggak, Teguh, keluarga ini punya tradisi khusus untuk pasangan baru?” tanyanya sambil tersenyum tipis, jari memainkan gelas whiskey.
4309Please respect copyright.PENANAlbLvsx26Lu
Teguh menggeleng pelan. “Tina bilang agak aneh, tapi belum cerita detail.”
4309Please respect copyright.PENANAiv2poYdvTo
Om Malik tertawa pelan, suaranya dalam. “Nanti malam kamu akan tahu sendiri. Yang penting… jangan kaget. Dan ingat janji kamu ke Tina. Kami semua di sini sudah melewati fase yang sama.”
4309Please respect copyright.PENANAekjFI5f2VG
Teguh merasa bulu kuduknya berdiri. Ia mencoba tetap tenang. “Saya janji akan jaga Tina. Apa pun itu.”
4309Please respect copyright.PENANAfJkoVwEGCN
Sementara itu, di belakang rumah, Tina dibawa ke sebuah sayap terpisah yang jarang ia lihat saat kecil. Pintu kayu tebal terbuka, memperlihatkan kamar mandi besar yang lebih mirip spa mewah. Lantai marmer putih, bathtub besar yang bisa muat sepuluh orang, shower rain besar, dan cermin dinding raksasa. Di dalam sudah ada enam tante yang menunggu, semuanya mengenakan lingerie seksi tipis berwarna hitam dan merah. Payudara mereka masih kencang, kulit berkilau karena cairan orgasme tubuh.
4309Please respect copyright.PENANAsAMX5iWph4
“Selamat datang kembali, Tina,” kata Tante Lina sambil tersenyum manis. “Tiga hari ke depan kita akan bersenang-senang. Biar hubungan keluarga semakin dekat.”
4309Please respect copyright.PENANAXhYlZnoVkF
Tina menelan ludah. Ia tahu momen ini akan datang, tapi tetap saja jantungnya berdegup kencang. “Aku… aku siap, Tante.”
4309Please respect copyright.PENANAGfOpaDS41i
Bu Ratih mendekat, tangannya langsung membuka resleting dress Tina dari belakang. Kain putih itu jatuh ke lantai, memperlihatkan tubuh langsing Tina yang telanjang kecuali bra dan celana dalam tipis. Para tante menghela napas kagum.
4309Please respect copyright.PENANALYkkfNQaUb
“Wah… badan masih sempurna sekali,” kata Tante Mira sambil meremas payudara F-cup Tina pelan. “Payudara besar begini pasti suami kamu puas banget.”
4309Please respect copyright.PENANAU9nSePjsle
Tante Sinta tertawa. “Sudah, jangan godain dulu. Cepat mandikan biar bersih dan siap.”
4309Please respect copyright.PENANA3qvILGwJmr
Mereka membawa Tina ke bawah shower rain. Air hangat mengguyur tubuhnya dari segala arah. Tangan-tangan lembut mulai menggosok tubuhnya dengan sabun beraroma mawar. Bulu halus di vagina dan ketiak dicukur habis dengan pisau cukur baru. Analnya dibersihkan dengan hati-hati menggunakan selang kecil khusus. Tina merasa malu tapi juga anehnya terangsang. Rasa tangan tante-tante di seluruh tubuhnya membuat kulitnya merinding.
4309Please respect copyright.PENANAbHDGbNftoO
Setelah bersih, mereka mengoleskan gel khusus yang membuat kulit Tina berkilau seperti mutiara. Bau manis gel itu memenuhi ruangan. Bu Ratih mengambil segelas cairan bening dari meja kecil.
4309Please respect copyright.PENANAbuN3fsaKjy
“Minum ini, Sayang. Obat perangsang dosis sedang. Biar tubuh kamu terus panas dan siap kapan saja.” Nada ibunya lembut tapi tegas.
4309Please respect copyright.PENANAd5ulI4fZtc
Tina meneguk tanpa protes. Rasa pahit manis langsung menyebar di lidahnya. Tak lama kemudian, panas mulai menjalar dari perut ke seluruh tubuh. vaginanya berdenyut pelan, puting pinknya mengeras.
4309Please respect copyright.PENANAtQOGW0NZDL
Mereka memakaikan kostum terakhir: lingerie hitam transparan dengan potongan terbuka di bagian vagina dan anal. Bra-nya hanya menutup setengah payudara, thong-nya tipis sekali sehingga lubang-lubangnya terlihat jelas. Tina menatap bayangannya di cermin. Ia terlihat seperti boneka seks mewah. Matanya berkaca-kaca, tapi ada kilau nafsu di dalamnya.
4309Please respect copyright.PENANA50HtOj3wJv
“Cantik sekali,” bisik Tante Vina sambil mencium pipi Tina. “Sekarang para pria dipanggil.”
4309Please respect copyright.PENANAHSrGOJgvVK
Di ruangan sebelah—yang terpisah oleh kaca satu arah besar—Teguh tiba-tiba ditarik oleh Bu Ratih dan para tante. Ruangan itu lebih kecil, seperti ruang kontrol. Di depan ada kaca tebal. Dari sisi Teguh, ia bisa melihat jelas ke ruangan Tina. Dari sisi Tina, kaca itu hanya cermin biasa. Suara dari ruangan Tina disalurkan melalui speaker tersembunyi.
4309Please respect copyright.PENANAunZbtHDS7L
Teguh terpaku. Ia melihat istrinya berdiri di tengah, dikelilingi para om dan ayahnya yang sudah setengah telanjang. Tubuh Tina berkilau, lingerie terbuka memperlihatkan segalanya. Para pria mulai mendekat, kontol mereka sudah tegang.
4309Please respect copyright.PENANAzXH3bG1Wn5
“Ini… apa ini?” gumam Teguh, suaranya bergetar.
4309Please respect copyright.PENANAJyCQi2cHMs
Bu Ratih memeluk pinggang Teguh dari belakang. “Ini sambutan untuk pengantin baru, Nak. Tina akan dilayani oleh ayah dan om-omnya dulu. Kamu… harus melayani kami di sini. Biar kamu tahu ketangguhanmu sebagai suami.”
4309Please respect copyright.PENANA6hp9mUzh0r
Teguh menoleh, matanya melebar. Para tante sudah melepas lingerie mereka, tubuh telanjang yang masih kencang mendekat. Om Yosep dan Om Malik tersenyum dari sofa.
4309Please respect copyright.PENANAxlpJk9m6wd
Di ruangan sebelah, suara pertama terdengar melalui speaker.
4309Please respect copyright.PENANANPUy23Uj1Y
“Mulai, Tina. Ucapkan selamat datang dengan mulutmu,” kata Pak Hari dengan suara dalam.
4309Please respect copyright.PENANATtdCxCdSRa
Tina berlutut. Satu per satu kontol om dan ayahnya mendekat. Ia mengulum yang pertama—milik Om Budi—dengan mulut hangatnya. Suara basah terdengar jelas. “Wah… baru nikah dua bulan sudah jago ngulum. Bakat jadi pelacur keluarga nih,” canda Om Cakra sambil tertawa.
4309Please respect copyright.PENANAieRHOjqfHk
Teguh mengepal tangan. Dadanya sesak. Tapi di balik kaget, ada sesuatu yang aneh tumbuh di dalam dirinya—panas yang sama seperti yang dirasakan Tina. Ia menoleh ke Bu Ratih yang sudah berlutut di depannya, tangannya membuka celana Teguh.
4309Please respect copyright.PENANARFM1FrUOAH
“Kita mulai juga, Nak,” bisik Bu Ratih. “Lihat istrimu… dan rasakan kami.”
4309Please respect copyright.PENANA78Q9md70BP
Suara desahan Tina mulai terdengar lebih keras. kontol demi kontol masuk ke mulutnya, air liur menetes ke payudara besarnya. Teguh menutup mata sejenak, tapi speaker terus menyuarakan:
4309Please respect copyright.PENANA1Gy0B9WVxJ
“Ahh… Om… besar sekali…”
4309Please respect copyright.PENANAv7j4fQTm61
Teguh membuka mata lagi. Melalui kaca, ia melihat istrinya mulai dinikmati. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa campuran antara cemburu, marah… dan hasrat yang tak terduga.
4309Please respect copyright.PENANAXcofy0y0Jk
Malam baru dimulai.
4309Please respect copyright.PENANATo6OxLZ3sO


