Bab 4: Hari Pertama – Sambutan Kasar Para Pria
5027Please respect copyright.PENANAn1SzeFyaPD
Ruangan besar itu terasa seperti arena yang dirancang khusus untuk nafsu. Dinding berpanel kayu mahoni gelap, lantai marmer hitam mengkilap, dan di tengah ruangan terdapat kasur king size bundar dengan kain satin merah darah yang tebal. Lampu sorot redup dari langit-langit menyorot tepat ke tengah, membuat tubuh Tina yang sudah berkilau oleh gel khusus terlihat seperti patung hidup yang menggoda. Lingerie hitam transparannya hanya menutupi sedikit; bra-nya terpotong rendah sehingga puting pinknya menonjol jelas, thong tipisnya membiarkan vagina dan anal terpapar hampir sepenuhnya. Bau manis obat perangsang masih menempel di kulitnya, membuat setiap hembusan napas terasa panas.
5027Please respect copyright.PENANA7e0ZjJlVDH
Tina berdiri di tengah, lututnya agak gemetar. Di sekitarnya, tujuh pria keluarga besarnya sudah melepas baju atasnya. Pak Hari—ayahnya—berdiri paling depan, tubuhnya masih tegap meski usia lima puluh lima tahun, tititnya sudah tegang penuh dengan vena menonjol. Di dekatnya, Om Budi yang paling berotot, Om Cakra yang tersenyum ceria, Om Dika yang suka unsur air, Om Eko dengan mengotak-atik dingin, Om Yosep yang membawa tas kecil berisi botol-botol obat, dan Om Malik yang sudah memegang tali bondage hitam tipis di tangan kanannya.
5027Please respect copyright.PENANAK7CvuB6lUK
Suara speaker dari ruangan sebelah terdengar samar-samar di telinga Tina, tapi ia tahu Teguh sedang melihatnya. Itu membuat sesak campur anehnya terangsang. Ia menarik napas dalam, mencoba mempertahankan sifat tegasnya yang biasa.
5027Please respect copyright.PENANAur8YYl1OPu
“Mulai sekarang, Tina,” kata Pak Hari dengan suara dalam yang tegas. "Kamu adalah pengantin baru. Sambut kami satu per satu dengan mulutmu. Tidak betapa kamu menghargai keluarga besar ini."
5027Please respect copyright.PENANA5w8CR2Z2HV
Tina menelan ludah. Panas obat perang sudah menyebar ke seluruh tubuhnya; vaginanya berdenyut pelan, analnya berkedut karena ingatan plug malam-malam sebelumnya. Ia berlutut perlahan di atas karpet tebal yang empuk. Yang pertama mendekat adalah Om Budi. tititnya besar dan tebal, hampir enam belas sentimeter, titiknya sudah mengkilap oleh cairan awal.
5027Please respect copyright.PENANAvSbFvCNJfM
Tina mendekatkan wajah, mencium dulu lembut seperti ritual. Aroma maksimal pekat langsung memenuhi hidungnya—campuran sabun dan hasrat pria dewasa. Ia membuka mulut lebar, lidahnya menjilat kepala titit itu melingkar sebelum menelannya perlahan. Mulut hangatnya mengulum kuat, pipinya cekung saat ia menarik napas melalui hidung. Suara basah gluk-gluk kecil terdengar saat ia mulai menggerakkan kepala maju mundur. Om Budi mengerang pelan, tangannya meraih rambut hitam panjang Tina dan memegangnya dengan lembut tapi tegas.
5027Please respect copyright.PENANAz8St7ResGn
“Bagus… baru dua bulan nikah sudah bisa deepthroat begini. Bakat alami,” gumam Om Budi sambil tersenyum puas.
5027Please respect copyright.PENANAXwMf5pBING
Tina merasakan titit itu menyentuh tenggorokannya. Ia menahan nafas, menelan semuanya sampai habis. Air liur hangat menetes dari sudut mulut, jatuh ke payudara F-cup yang bergoyang pelan. Rasa asin-manis memenuhi lidahnya, tekstur vena yang kasar terasa di langit-langit mulut. Ia menahan posisi itu hampir satu menit sebelum menarik kepala mundur dengan suara basah yang panjang. Benang air liur menghubungkan bibir merahnya dengan ujung titit yang mengkilap.
5027Please respect copyright.PENANAeDOuKajG0e
Satu demi satu mereka bergantian. Om Cakra lebih ceria; ia memegang kepala Tina dan menggerakkan pinggulnya pelan, membuat tititnya masuk-keluar dengan irama cepat. “Lihat mata kamu, Tina… sudah berkaca-kaca. Kamu suka kan?” godanya sambil tertawa kecil.
5027Please respect copyright.PENANAcsNOgtxyh9
Tina tidak menjawab, hanya mendesah pelan di sela-sela gerakan. Sifat pemarahnya masih ada di permukaan—ia berusaha menahan diri agar tidak terlihat terlalu menyerah—tapi tubuhnya mulai bertahan. vaginanya semakin basah, cairan orgasme tipis mulai menetes ke paha dalamnya.
5027Please respect copyright.PENANARZkho2Yz7g
Setelah semua titit diterima dengan mulut, Pak Hari memberi isyarat. “Sekarang giliran vaginamu.Berbaring.”
5027Please respect copyright.PENANAFwLuNwx8aY
Tina naik ke kasur bundar, berbaring telentang dengan kaki terbuka lebar. Lingerie-nya ditarik ke samping, menampilkan vagina berwarna pink yang sudah mengkilap. Pak Hari yang pertama. Ia memposisikan tititnya di depan lubang yang licin, lalu mendorongnya perlahan tapi pasti. Tina menjerit kecil saat kepala titit masuk, sensasi penuh langsung membuat punggung melengkung.
5027Please respect copyright.PENANA4GWUXfXQGn
“Ahh… Ayah… pelan…” desahnya, suaranya campur malu dan nikmat.
LANJUTAN CERITA BISA DI AKSES DI https://lynk.id/novelhambilah
5027Please respect copyright.PENANACEhERshKvl


