Bab 2: Janji di Tengah Kehangatan Tubuh
4632Please respect copyright.PENANAZtp2Enxy2e
Tubuh mereka masih basah oleh keringat dan sisa cairan kenikmatan. Seprai satin hitam kini kusut dan lengket di beberapa bagian, aroma seks yang pekat bercampur dengan vanila dari lilin yang hampir habis terbakar. Tina terbaring miring menghadap Teguh, kepalanya bersandar di dada suaminya yang naik turun pelan. Payudara F-cupnya menempel lembut di kulit Teguh, puting pink yang masih mengeras sesekali bergesek pelan setiap kali ia menghela napas panjang. Bokong bulat besarnya terasa hangat di bawah selimut tipis yang mereka tarik setengah hati. Plug kecil yang tadi sempat dilepas kini tergeletak di lantai bersama kostum suster seksi yang sudah robek di bagian rok.
4632Please respect copyright.PENANAG4pk3rXUFi
Teguh memeluk Tina dari belakang, satu tangan melingkar di pinggang istrinya, jari-jarinya mengusap lembut perut rata yang masih bergetar sisa orgasme. Napasnya hangat menyapu leher Tina, membuat bulu kuduk wanita itu berdiri. “Kamu baik-baik saja, Sayang?” tanyanya pelan, suara romantisnya kembali muncul setelah badai nafsu tadi. Ia mencium pundak Tina, mencium bekas merah kecil yang ia tinggalkan saat menggigit pelan tadi.
4632Please respect copyright.PENANAXKjY0SyVT3
Tina tersenyum tipis, matanya cokelat memandang ke arah jendela di mana lampu kota Jakarta masih berkelap-kelip seperti bintang jatuh. “Lebih dari baik… aku merasa seperti habis lari maraton, tapi enak sekali.” Suaranya masih serak karena jeritan dan desahan tadi, tapi ada nada lucu yang khas dirinya. Ia memutar tubuh sedikit agar bisa menatap wajah Teguh. “Kamu tadi… kasar sekali di akhir. Aku suka.” Pengakuan itu keluar dengan nada malu-malu, pipinya memerah. Sifat pemarahnya yang biasa muncul saat marah kini lenyap, diganti rasa pasrah yang manis. Perlahan, sisi binalnya mulai mengintip dari balik topeng istri teguh yang selama ini ia jaga rapat.
4632Please respect copyright.PENANAnfvjR1ZMvE
Teguh tertawa kecil, suaranya dalam dan hangat. “Aku takut melukai kamu. Tapi setiap kali kamu minta ‘lebih dalam’, aku jadi lupa diri.” Ia mengusap rambut hitam panjang Tina, jari-jarinya menyisir helai demi helai yang basah oleh keringat. “Kamu luar biasa malam ini. Kostum suster itu… plug itu… semuanya membuatku gila.”
4632Please respect copyright.PENANAWgDDiWFOVs
Tina menggigit bibir bawahnya, ingatan akan sensasi kontol Teguh yang memenuhi analnya membuat vaginanya berdenyut lagi pelan. Ia merapatkan tubuh, paha mulusnya menggesek paha Teguh. “Aku juga gila sama kamu. Rasanya… aku ingin kamu terus menguasai aku seperti tadi. Tidak memberi aku istirahat. Membuat aku menjerit sampai habis suara.” Kata-kata itu keluar dengan nada rendah, hampir seperti bisikan rahasia. Tina merasa jantungnya berdegup lebih kencang. Ia belum pernah bicara seblak-blakan seperti ini sebelum menikah. Dua bulan sebagai istri membuatnya merasa lebih bebas menunjukkan sisi gelapnya.
4632Please respect copyright.PENANAWcg6ElglG0
Mereka terdiam sejenak, hanya mendengar suara AC yang pelan dan detak jantung masing-masing. Teguh menarik selimut lebih tinggi, menutupi tubuh mereka berdua. “Besok pagi aku ada meeting pagi. Kamu juga kan ada presentasi di kantor?” tanyanya, mencoba mengembalikan suasana ke kehidupan sehari-hari.
4632Please respect copyright.PENANAUpzyFiRSHU
Tina mengangguk pelan, tapi wajahnya tiba-tiba berubah. Senyumnya memudar, matanya menatap ke bawah. “Iya… tapi aku lagi mikirin sesuatu.” Suaranya menjadi lebih pelan, hampir ragu. Teguh langsung merasakan perubahan itu. Ia mengangkat dagu Tina dengan jari, memaksa istrinya menatapnya.
4632Please respect copyright.PENANA4qlEcxAWnm
“Ada apa, Sayang? Kamu gelisah dari tadi sore sebenarnya. Cerita dong.” Nada Teguh penuh perhatian, matanya hitam menatap dalam, seperti selalu ketika ia ingin benar-benar mendengar.
4632Please respect copyright.PENANALH2jPQtrAC
Tina menarik napas dalam-dalam. Dadanya naik turun, payudara besarnya bergesek pelan di dada Teguh. “Sebentar lagi ada acara keluarga. Seminggu dari sekarang. Di rumah orang tuaku.” Ia berhenti sejenak, mencari kata yang tepat. “Acara khusus untuk yang sudah menikah.”
4632Please respect copyright.PENANAy8l4wH6emz
Teguh mengernyit kecil, tapi tetap tersenyum. “Acara keluarga biasa kan? Reuni, makan bersama, foto-foto… Aku sudah siap kok ketemu keluarga besar kamu. Ayah kamu kan punya enam adik, berarti banyak om dan tante ya? Aku harus bawa oleh-oleh banyak nih.”
4632Please respect copyright.PENANA6jCXUBPgk6
Tina tertawa kecil, tapi tawanya terdengar dipaksakan. “Bukan acara biasa, Mas.” Ia menunduk lagi, jari-jarinya menggambar lingkaran kecil di dada Teguh. “Ini… acara yang agak aneh. Khusus pasangan suami istri. Mereka bilang ini untuk mempererat hubungan keluarga. Tapi… aku gelisah sekali kalau kamu ikut.”
4632Please respect copyright.PENANAVk78c3kiUO
Teguh mengerutkan kening lebih dalam. Ia bisa merasakan ketegangan di tubuh Tina. “Aneh gimana? Kamu takut aku malu-malu di depan keluarga besar? Atau takut aku nggak cocok sama mereka?” Ia mencoba bercanda, tapi nada suaranya serius.
4632Please respect copyright.PENANAMx2V9ZzwW1
Tina menggeleng cepat. “Bukan itu. Aku… aku takut kamu berubah pikiran tentang aku setelah acara itu. Atau… takut kamu ninggalin aku.” Suara terakhirnya hampir hilang, seperti bisikan yang takut terdengar.
4632Please respect copyright.PENANA4iO8qDYF6j
Teguh langsung memeluk Tina lebih erat. Tubuh mereka menempel rapat, kulit panas bertemu kulit panas. “Hei, dengar aku.” Ia mengangkat wajah Tina lagi, kali ini dengan kedua tangan. “Aku janji, apa pun yang terjadi di acara itu, aku tidak akan ninggalin kamu. Kamu istriku. Aku mencintaimu apa adanya. Kalau acara itu membuat kamu gelisah, kita bisa skip kalau kamu mau. Aku ikut keputusan kamu.”
4632Please respect copyright.PENANAhfcE40452C
Tina menatap mata Teguh lama sekali. Air mata hampir jatuh, tapi ia tahan. “Aku nggak bisa skip, Mas. Ini… tradisi keluarga. Kalau aku nggak datang, mereka akan kecewa. Dan aku… aku juga ingin kamu lihat sisi lain dari aku. Sisi yang selama ini aku sembunyikan.” Ia menarik napas lagi. “Aku suka didominasi. Kamu sudah tahu malam ini. Tapi di keluarga aku… itu lebih dari sekadar suka. Itu… bagian dari cara mereka menjaga keharmonisan.”
4632Please respect copyright.PENANAcOVYHSA9Mi
Teguh terdiam. Ia mencerna kata-kata Tina perlahan. Pikirannya berputar, mencoba menebak apa yang dimaksud istrinya. “Maksud kamu… acara itu melibatkan… hal-hal intim?”
4632Please respect copyright.PENANAzO87oaAfCW
Tina mengangguk pelan, pipinya semakin merah. “Iya. Pesta… pesta seks. Untuk sambutan pengantin baru. Mereka punya ruangan khusus. Semua pasangan yang sudah menikah ikut. Ayah, ibu, om-om, tante-tante… semuanya.” Suaranya bergetar. “Aku takut kamu jijik. Atau takut kamu nggak bisa terima aku yang… yang ternyata suka hal-hal seperti itu.”
4632Please respect copyright.PENANAg1sYEEg9Ev
Teguh tidak langsung menjawab. Ia menarik Tina ke pelukannya lebih dalam, mencium kening istrinya lama sekali. Bau rambut Tina yang harum shampoo bercampur keringat membuatnya tenang. “Aku nggak akan jijik, Tina. Aku kaget, iya. Tapi aku mencintaimu. Kalau itu bagian dari kamu, dari keluargamu, aku akan coba pahami. Dan aku janji lagi—aku tidak akan berubah. Aku akan tetap di sampingmu. Mau itu jadi lebih liar, atau malah kita pulang lebih cepat, aku ikut kamu.”
4632Please respect copyright.PENANASHFFgesWJ7
Tina menangis pelan di dada Teguh. Air matanya jatuh hangat ke kulit suaminya. “Terima kasih, Mas… aku cuma takut kehilangan kamu.” Ia mengangkat wajah, mencium bibir Teguh lembut. Ciuman itu berbeda dari tadi—bukan nafsu, tapi penuh rasa syukur dan cinta.
4632Please respect copyright.PENANAjTTfrDn7dP
Ciuman itu perlahan berubah. Bibir mereka bertemu lagi, kali ini lebih dalam. Lidah Tina menyusup masuk, menari pelan dengan lidah Teguh. Tangan Tina merayap ke bawah, menyentuh kontol Teguh yang mulai mengeras lagi meski baru saja selesai ronde panjang. “Mas… aku masih ingin kamu,” bisik Tina di sela ciuman. Suaranya kembali menggoda, sifat binalnya muncul lagi perlahan.
4632Please respect copyright.PENANAghNjw6Qbl4
Teguh tersenyum di antara bibir istrinya. “Kamu nggak capek?” tanyanya sambil menggigit bibir bawah Tina pelan.
4632Please respect copyright.PENANAO7dmR6ZRWt
“Capek… tapi aku ingin merasakan kamu lagi. Kali ini pelan-pelan. Biar aku bisa ingat setiap detiknya sebelum minggu depan.” Tina memutar tubuhnya, kini ia berada di atas Teguh. Payudara besarnya menggantung indah di depan wajah suaminya. Ia menggesekkan vaginanya yang masih basah ke kontol Teguh yang sudah tegang kembali. Sensasi licin dan hangat membuat keduanya mengerang pelan.
4632Please respect copyright.PENANAexRqHgOJFl
Teguh meraih pinggul Tina, membantunya menurunkan tubuh. kontolnya masuk perlahan ke vagina yang masih sensitif. Tina menggigit bibir, merasakan setiap inci yang memenuhinya. “Ahh… pelan saja, Mas… biar aku rasakan semuanya.” Ia mulai menggerakkan pinggul pelan, naik turun dengan irama lambat. Bunyi basah kecil terdengar setiap kali ia turun sepenuhnya. Payudaranya bergoyang lembut, puting pink bergesek di dada Teguh.
4632Please respect copyright.PENANAeiyHw7eniG
Teguh menatap wajah Tina dengan penuh cinta. Tangannya meremas bokong bulat besar istrinya, jari menekan daging lembut itu. “Kamu cantik sekali saat begini… penuh gairah, tapi juga rapuh.” Ia menarik Tina turun, mencium bibirnya lagi sambil terus digerakkan oleh pinggul istrinya.
4632Please respect copyright.PENANA0gxGtVBuSH
Mereka bergerak pelan, hampir seperti tarian. Setiap dorongan membuat Tina mendesah lembut, bukan jeritan seperti tadi. Orgasme datang pelan-pelan, seperti gelombang kecil yang naik perlahan. Tina mengejang ringan, vaginanya berdenyut menggenggam kontol Teguh. “Aku… keluar lagi… pelan-pelan… ahhh…” cairan orgasmenya membasahi pangkal kontol, membuat gerakan semakin licin.
4632Please respect copyright.PENANAQTjvTCfOsn
Teguh mengikuti tak lama kemudian. Ia mengerang pelan di telinga Tina, sperma hangatnya menyembur lagi ke dalam vagina istrinya. Mereka berpelukan erat, tubuh saling menempel tanpa mau lepas. Tina berbisik di telinga Teguh, “Janji ya, Mas… apa pun yang terjadi minggu depan, kamu tetap milikku.”
4632Please respect copyright.PENANAanLfT2kIZ9
Teguh mencium kening Tina lagi. “Janji. Aku milikmu. Selamanya.”
4632Please respect copyright.PENANAV4isDFFd5C
Mereka tertidur dalam pelukan, tubuh masih telanjang di bawah selimut tipis. Di luar jendela, Jakarta terus berdenyut dengan lampu-lampunya. Tina tidur dengan senyum kecil di bibir, tapi di hatinya ada campuran antara rasa aman dan ketakutan kecil yang belum hilang. Acara keluarga itu semakin dekat, dan ia tahu semuanya akan berubah. Tapi setidaknya malam ini, ia punya janji Teguh yang membuatnya merasa tidak sendirian.
4632Please respect copyright.PENANAySnesy9IuW


