Aku terpaksa keluar, tapi aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Aku menunggu di luar, di koridor. Tak lama kemudian, Maya keluar dari apartemennya, dengan tas kecil di tangannya, air mata masih membasahi pipinya. "Aku tidak bisa kembali ke sana," katanya lirih. "Aku akan pergi."
Aku menatapnya, hatiku campur aduk. "Ke mana?"
"Aku tidak tahu. Tapi aku harus pergi."
Saat itu, aku membuat keputusan yang mengubah segalanya. "Tinggallah bersamaku malam ini, Maya," kataku, suaraku mantap. "Kau tidak sendirian."
Malam itu, kami tidur di apartemenku, terpisah jarak, namun terhubung oleh kesepian dan ketakutan yang sama. Kami tahu ini adalah lompatan ke dalam jurang yang tak terduga. Kami tidak melakukan apa pun yang terlarang, tapi kehadiran kami berdua dalam satu ruang yang sama, tanpa kehadiran suami yang sah, adalah sebuah pengkhianatan.217Please respect copyright.PENANAPCw64Vc9oz


