Malam itu, kami tidak melakukan apa pun yang melewati batas. Kami hanya duduk berdekatan, saling menenangkan. Aku merasakan tangan Maya merayap ke tanganku, sebuah sentuhan yang lembut namun penuh makna. Di momen itu, kami berdua tahu, kami telah melampaui batas persahabatan. Kami adalah dua bayangan yang menemukan kehangatan dalam kegelapan satu sama lain.
Keesokan harinya, Pak Wibowo pulang. Suasana di apartemen Maya menjadi tegang. Ia tampak lebih menjaga jarak denganku, lebih formal. Aku mengerti. Kami harus kembali ke peran kami masing-masing. Ia istri Pak Wibowo, aku tetangga yang hanya ingin berinteraksi sebatas norma.
Namun, malam itu, sebuah kejadian tak terduga terjadi. Aku mendengar suara teriakan dari apartemen Maya. Lalu suara pecahan kaca. Aku khawatir. Aku memberanikan diri mengetuk pintu apartemennya.
Pintu terbuka sedikit. Maya berdiri di sana, wajahnya pucat, luka goresan terlihat di pipinya. "Ardi," bisiknya, "tolong aku."
Aku segera masuk. Pak Wibowo sedang marah besar, melempar barang-barang, berteriak-teriak. Maya meringkuk di sudut ruangan, gemetar ketakutan. Aku berusaha menengahi, tapi Pak Wibowo hanya semakin marah. Ia mengusirku.231Please respect copyright.PENANAMlEXDszNPY


