Sejak malam itu, kami mulai lebih sering berinteraksi. Bukan hanya sapaan di lorong, tapi percakapan yang lebih mendalam. Maya sering datang ke apartemenku, kadang hanya untuk minum kopi, kadang untuk menunjukkan lukisan terbarunya. Aku menemukan bahwa di balik penampilannya yang anggun, tersembunyi jiwa yang rapuh, seorang seniman yang merindukan apresiasi. Ia berbicara tentang hasratnya yang terpendam, tentang mimpinya yang tak tercapai. Aku, seorang jurnalis yang terbiasa menggali kebenaran, justru menemukan dirinya tertarik pada kebenaran emosional yang tersembunyi di balik senyum Maya.
Aku tahu ini berbahaya. Maya adalah istri Pak Wibowo, seorang pria yang punya koneksi kuat dan pengaruh besar. Tapi semakin aku mencoba menjauhinya, semakin kuat pula rasa ketertarikanku. Aku melihatnya bukan hanya sebagai istri tetangga, tapi sebagai seorang wanita yang membutuhkan cinta dan pengertian. Dan aku, aku merasa bahwa aku bisa memberikannya.
Suatu sore, Pak Wibowo menelepon Maya. Suaranya terdengar dingin dan menuntut. Maya tampak terpukul. Setelah panggilan berakhir, ia datang ke apartemenku, air mata mengalir di pipinya. "Dia akan pulang besok," bisiknya. "Dan aku... aku tidak siap untuk itu."
275Please respect copyright.PENANApwIE1DUtiQ


