Namaku Ardi. Aku seorang jurnalis investigasi yang lebih suka bekerja dari rumah. Apartemenku yang sederhana, namun nyaman, adalah tempatku merangkai fakta menjadi sebuah narasi. Di unit sebelah, tinggallah keluarga Wibowo. Pak Wibowo, seorang pengusaha properti yang selalu bepergian, meninggalkan istrinya, Maya, sendirian di apartemen mewah itu. Aku sering melihat Maya dari balik jendela apartemenku. Ia adalah wanita yang cantik, dengan rambut ikal hitam dan mata yang selalu terlihat sedikit sedih. Ia sering terlihat duduk di balkon, menatap pemandangan kota yang gemerlap, seolah mencari sesuatu yang hilang.
Hubungan kami berawal dari kebetulan. Suatu malam, terjadi pemadaman listrik di seluruh gedung. Aku keluar apartemenku untuk mencari senter, dan kebetulan bertemu Maya di lorong. Ia tampak ketakutan.
"Mas Ardi," sapanya, suaranya bergetar. "Listrik padam. Saya takut sekali sendirian."
Aku menawarinya masuk ke apartemenku. Kami duduk di ruang tamu yang remang-remang, hanya diterangi cahaya senterku. Maya mulai bercerita tentang kesepiannya. Tentang suaminya yang tak pernah punya waktu untuknya, tentang hidupnya yang terasa hampa di tengah kemewahan. Aku mendengarkan, merasakan empati yang mendalam. Ia seperti bayangan diriku sendiri, terperangkap dalam kesendirian yang tak terucap.278Please respect copyright.PENANAzgQEPFXN1v


