Bab 2: Keraguan dan Putus
1107Please respect copyright.PENANAVinCj1fITV
Pagi setelah malam yang membakar itu, sinar matahari menyusup melalui tirai tipis apartemen Feby. Cahaya keemasan menyentuh kulit putihnya yang masih sedikit memerah karena bekas ciuman dan remasan semalam. Feby terbangun dengan tubuh yang terasa berat tapi puas. vaginanya masih terasa sensitif, setiap gerakan kecil membuatnya mengingat dorongan kontol Dimas yang dalam dan panas. Ia tersenyum kecil sambil menggeliat di seprai yang masih basah di beberapa bagian.
1107Please respect copyright.PENANAkmI9NovBLE
Dimas sudah bangun lebih dulu. Ia berdiri di dapur kecil apartemen, membuat kopi hitam seperti biasa. Tubuhnya yang sedikit berotot terlihat santai dalam kaus oblong hitam dan celana pendek. Rambut hitam lurusnya agak berantakan, tapi senyum menawannya tetap ada saat ia mendengar langkah Feby mendekat dari belakang.
1107Please respect copyright.PENANAzKsMq8pZ1U
“Pagi, sayang,” sapa Dimas sambil memutar tubuh dan mencium pipi Feby. Bau kopi bercampur aroma sabun mandi pria itu membuat Feby merasa hangat lagi.
1107Please respect copyright.PENANAAZn7q3Zenr
“Pagi…” balas Feby lembut. Ia memeluk Dimas dari belakang, dagunya bertumpu di bahu pria itu. “Semalam… luar biasa. Aku masih merasakannya.”
1107Please respect copyright.PENANAfi6lOUqqFh
Dimas tertawa pelan. “Obat itu memang ampuh. Kamu keluar berkali-kali sampai aku khawatir kamu dehidrasi beneran.”
1107Please respect copyright.PENANAFsxOaagG4h
Feby tersipu, tapi ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Semalam ia merasa begitu liar, begitu terbuka, tapi pagi ini ia ingin lebih dari sekadar kenikmatan fisik. Ia ingin kepastian. Ia ingin tahu apakah Dimas melihatnya sebagai sesuatu yang lebih serius.
1107Please respect copyright.PENANAJBGoMG1VmJ
Mereka duduk di meja makan kecil. Feby mengenakan kimono sutra tipis yang hampir transparan, payudara F-cupnya terlihat samar-samar, puting pinknya masih sedikit membengkak karena stimulasi semalam. Dimas memandangnya dengan mata penuh nafsu, tapi Feby memutuskan untuk bicara.
1107Please respect copyright.PENANAJ5yiS6pBh6
“Dimas… aku mikir,” mulai Feby pelan, jari-jarinya memainkan gagang cangkir kopi. “Kita sudah hampir setahun bareng. Kamu… kapan mau melamar aku?”
1107Please respect copyright.PENANAI1kAHWnoT8
Pertanyaan itu keluar begitu saja, tapi nada Feby tegas seperti biasa. Matanya coklat memandang Dimas langsung, mencari jawaban pasti.
1107Please respect copyright.PENANAmzpgY7SaIk
Dimas terdiam sejenak. Senyumnya memudar sedikit. Ia menatap kopinya, lalu menghela napas. “Feby… aku sayang kamu. Beneran. Tapi… aku belum siap untuk langkah itu. Bisnisku lagi berkembang, aku masih ingin fokus kerja keras dulu. Aku nggak mau buru-buru lalu nanti gagal.”
1107Please respect copyright.PENANA3tmdWNutkb
Feby merasa dadanya seperti ditusuk. Ia sudah menduga jawaban semacam itu, tapi mendengarnya langsung tetap menyakitkan. “Jadi… aku cuma pacar sementara buat kamu? Sampai kapan? Sampai kamu merasa ‘siap’?”
1107Please respect copyright.PENANA4dJhwKRIUh
“Bukan gitu,” bela Dimas cepat. “Aku cuma butuh waktu. Kita kan baik-baik aja sekarang. Malam tadi bukti kita cocok banget.”
1107Please respect copyright.PENANAA4uUVx37GR
Feby tertawa kecil, tapi tawanya pahit. “Cocok di ranjang, ya? Itu yang kamu maksud?”
1107Please respect copyright.PENANA6459QL5upH
Dimas menggeleng. “Feby, jangan gitu. Aku serius. Aku cuma belum mau janji yang besar-besaran sekarang.”
1107Please respect copyright.PENANAZtGitrMKww
Kemarahan Feby mulai naik. Ia pemarah, tegas, dan tidak suka ditunda-tunda. “Aku nggak minta janji besar-besaran, Dimas. Aku cuma minta kepastian. Aku capek jadi ‘pacar yang enak diajak main’ tanpa arah. Kalau kamu nggak bisa kasih itu, mungkin kita lebih baik berhenti.”
1107Please respect copyright.PENANA3rrrAAdjDe
Kata-kata itu keluar lebih keras dari yang ia rencanakan. Dimas terkejut, matanya melebar. “Kamu serius mau putus gara-gara ini?”
1107Please respect copyright.PENANAEfOUQmbZTl
Feby berdiri, kimono sutranya terbuka sedikit memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah. “Iya. Aku serius. Aku ingin hubungan yang jelas, bukan cuma seks panas setiap malam. Kalau kamu belum siap, aku nggak mau nunggu entah sampai kapan.”
1107Please respect copyright.PENANABONQcxe0ni
Ruangan menjadi sunyi. Hanya suara AC yang berdengung pelan. Dimas menunduk, tangannya mengepal. Ia tahu Feby bukan tipe yang bisa dibujuk dengan kata manis saat sedang marah. Dan dalam hati kecilnya, ia memang belum benar-benar siap untuk komitmen besar. Bisnis obat-obatan eksperimentalnya—yang kadang melibatkan formula aneh seperti yang ia berikan semalam—masih membutuhkan fokus penuh.
1107Please respect copyright.PENANAz4JSdcPGQK
“Aku nggak mau kehilangan kamu,” kata Dimas akhirnya, suaranya rendah. “Tapi kalau ini yang kamu mau… aku hormati.”
1107Please respect copyright.PENANAPj6JkFjd56
Feby mengangguk, matanya mulai berkaca-kaca tapi ia menahannya. “Terima kasih. Aku butuh waktu sendiri sekarang.”
1107Please respect copyright.PENANAJKrkQqPTvB
Dimas bangkit, memeluk Feby sekali lagi. Pelukan itu hangat, tapi Feby merasa dingin di dalam. Ia membiarkan Dimas mencium keningnya, lalu pria itu mengambil jaketnya dan pergi tanpa kata lagi. Pintu apartemen tertutup pelan, meninggalkan Feby sendirian dengan hati yang retak.
1107Please respect copyright.PENANA75XaKMx0Xy
Beberapa hari berikutnya terasa seperti kabut. Feby tetap bekerja di kantor seperti biasa—posisinya sebagai marketing executive di perusahaan besar membuatnya sibuk. Tapi setiap malam, saat kembali ke apartemen, ia merasa kosong. Ia sering duduk di sofa, memandang kota besar dari jendela tinggi, lampu-lampu neon berkedip di kejauhan. Tubuhnya yang biasanya penuh energi terasa lelah. Payudaranya yang besar terasa berat, bokong bulatnya terasa sepi tanpa sentuhan.
1107Please respect copyright.PENANAVh8Qu4tUOS
Suatu malam, Feby membuka laptop dan mulai mencari liburan. Ia ingin pergi jauh, ke tempat yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk Jakarta. Matanya tertuju pada sebuah pulau kecil di Indonesia timur—pulau terpencil dengan hotel mewah tapi terbatas kamarnya. Pantai pribadi, spa eksklusif, dan hampir tidak ada turis lain. Sempurna untuk menyembuhkan luka hati.
1107Please respect copyright.PENANABOeCnQtmKI
Ia memesan tiket pesawat dan kamar suite untuk seminggu. Saat mengklik “konfirmasi”, ada perasaan lega bercampur sedih. “Aku harus move on,” gumamnya pada diri sendiri. “Aku layak dapat yang lebih baik.”
1107Please respect copyright.PENANALd5eJSyumr
Di kantor, Feby berusaha terlihat normal. Ia tetap tegas saat meeting, lucu saat bercanda dengan rekan kerja. Tapi Kevin—mantan keduanya yang kebetulan satu divisi—memperhatikan perubahan kecil itu. Kevin, pria 27 tahun dengan tubuh atletis, wajah tampan, rambut hitam ikal, dan kulit sawo matang, duduk di meja seberang. Ia sering mencuri pandang ke arah Feby. Dulu, saat mereka pacaran, Kevin tahu betul sisi gelap Feby—suka didominasi, suka disiksa pelan-pelan sampai memohon. Tapi hubungan mereka berakhir karena Kevin terlalu ekstrem dengan hobinya: BDSM, bondage, enema, dan segala bentuk penyiksaan sensual.
1107Please respect copyright.PENANAEsc9qkQ0zY
Suatu siang, Kevin melihat Feby di pantry sedang memesan tiket liburan di ponselnya. Layar terbuka sebentar, cukup untuk Kevin melihat nama pulau dan tanggal keberangkatan. Senyum tipis muncul di bibirnya. Ia tidak bicara apa-apa, tapi pikirannya langsung bekerja. Ia tahu Dimas dan Malik—mantan pertama Feby—juga masih punya dendam kecil terhadap wanita itu. Feby pernah meninggalkan mereka semua dengan alasan yang sama: kurangnya komitmen atau terlalu ekstrem.
1107Please respect copyright.PENANAoBS6fRks5k
Malam itu, Kevin mengirim pesan ke grup chat rahasia yang berisi ketiganya: Dimas, Malik, dan dirinya sendiri.
1107Please respect copyright.PENANAtsVOYdp7vv
“Feby lagi patah hati. Mau liburan sendirian ke Pulau X. Hotel sepi, pantai pribadi. Kesempatan bagus buat ‘balas dendam’ kecil. Siapa mau ikut?”
1107Please respect copyright.PENANAT9G2BDXyAj
Dimas membalas cepat: “Aku in. Dia baru putus sama aku. Aku punya obat baru yang lebih kuat.”
1107Please respect copyright.PENANANDCiKmQcpV
Malik menambahkan: “Aku bawa alat-alat custom. Kita bikin dia ingat kenapa dia dulu suka sama kita.”
1107Please respect copyright.PENANAFp1TAE3fyf
Kevin tersenyum lebar di kamarnya. “Oke. Kita berangkat duluan. Biar dia kaget pas sampai.”
1107Please respect copyright.PENANAg2DjkZK3Vm
Sementara itu, Feby di apartemennya sedang packing. Ia memilih bikini hitam yang seksi—bagian atasnya hanya menutupi separuh payudara F-cup, bagian bawahnya high-cut yang menonjolkan bokong bulat besarnya. Ia juga membawa lingerie seksi cadangan, meski ia bilang pada diri sendiri itu hanya untuk mood liburan. Tapi dalam hati, ada bagian kecil dirinya yang masih haus akan sentuhan.
1107Please respect copyright.PENANAGAuuuj27cG
Ia berdiri di depan cermin lagi, memandang tubuhnya. Kulit putih mulus, rambut hitam panjang, mata coklat yang kini terlihat sedih tapi tetap memikat. “Aku akan baik-baik saja,” katanya pada bayangannya. “Ini liburan untuk healing. Nggak ada pria, nggak ada drama.”
1107Please respect copyright.PENANAAHPt7dqX5G
Tapi ia tidak tahu bahwa tiga pria yang pernah mengisi hidupnya—dan tubuhnya—sedang merencanakan sesuatu yang jauh dari kata healing.
1107Please respect copyright.PENANA7HqVxegfuJ
Malam sebelum keberangkatan, Feby tidur dengan gelisah. Mimpi-mimpinya penuh dengan bayangan Dimas, Kevin, dan Malik. Tubuhnya panas lagi, vaginanya basah meski tak ada sentuhan. Ia terbangun tengah malam, tangannya tanpa sadar menyentuh cerinya yang membengkak. Ia menggeliat pelan, menggosok pelan sambil mengingat malam-malam liar bersama ketiganya dulu.
1107Please respect copyright.PENANAisYQbTCwb7
“Kenapa aku masih mikirin mereka?” gumamnya frustrasi. Tapi ia tidak berhenti. Jari-jarinya bergerak lebih cepat, membayangkan kontol- kontol mereka bergantian masuk. Orgasme kecil datang, cairan orgasme membasahi jemarinya. Ia menangis pelan setelah itu—bukan karena sedih, tapi karena campuran emosi yang rumit.
1107Please respect copyright.PENANA7ajXCoRo2n
Pagi harinya, Feby naik taksi ke bandara dengan koper kecil. Hatinya berat, tapi ada harapan kecil bahwa pulau terpencil itu akan memberinya kedamaian. Ia tidak tahu bahwa kedamaian itu akan segera berubah menjadi badai kenikmatan dan penyiksaan yang tak terbayangkan.
1107Please respect copyright.PENANAZsJt7ZWToi
Di pesawat, Feby memandang awan di luar jendela. “Ini akhir dari babak lama,” pikirnya. “Mulai sekarang, aku fokus pada diriku sendiri.”
1107Please respect copyright.PENANAO4OvRUPkon
Tapi takdir punya rencana lain. Dan rencana itu sudah dimulai oleh tiga mantan yang tak rela melepaskannya begitu saja.
1107Please respect copyright.PENANA23J4suSDgM
LANJUTAN CERITA BISA DI AKSES DI https://lynk.id/novelhambilah
1107Please respect copyright.PENANAYB9K0LrWss


