Bab 3: Rencana Gelap di Kantor
1171Please respect copyright.PENANAn5nUzb6G1M
Pagi di gedung perkantoran tinggi di kawasan Sudirman terasa seperti biasa: hiruk pikuk karyawan yang mengangkut ke lift, aroma kopi dari pantry, dan suara ketukan keyboard yang tak pernah berhenti. Feby berjalan masuk dengan langkah tegas seperti selalu. Ia mengenakan blazer hitam ketat yang menonjolkan lekuk payudara F-cupnya, rok pensil selutut yang membentuk bokong bulat besarnya dengan sempurna, dan sepatu hak hitam yang membuat tinggi 166 sentimeternya terlihat lebih menjulang. Rambut hitam panjangnya diikat ponytail rapi, mata coklatnya memancarkan aura percaya diri meski di dalam dada masih terasa sesak karena putus dengan Dimas baru beberapa hari lalu.
1171Please respect copyright.PENANAhaPzTtf635
Ia duduk di meja kerja, membuka laptop, dan langsung mengecek email. Tapi pikiran melayang ke pulau terpencil yang sudah ia pesan. Tiket pesawat sudah di tangan, kamar suite di hotel mewah sudah dikonfirmasi. Hanya tinggal lima hari lagi. “Aku butuh ini,” gumamnya pelan sambil menatap layar ponsel yang menampilkan foto pantai berpasir putih dan air biru jernih. “Jauh dari semua pria yang bikin aku gila.”
1171Please respect copyright.PENANAPAZDxLVCVw
Di seberang ruangan terbuka, Kevin duduk di posisinya. Pria 27 tahun itu tampak santai seperti biasa: kemeja putih lengan digulung menampilkan lengan atletisnya, rambut hitam ikal sedikit acak-acakan, kulit sawo matangnya terlihat segar setelah olahraga pagi. Ia sedang pura-pura membaca laporan, tapi matanya sesekali melirik ke arah Feby. Sudah tiga hari ia memperhatikan perubahan kecil pada wanita itu: senyumnya lebih jarang, datangnya lebih sering kosong, dan terkadang ia terlihat melamun sambil memegang ponsel.
1171Please respect copyright.PENANAyV0PEWJVhI
Kevin tahu bertahan apa yang terjadi. Ia pernah menjadi mantan kedua Feby—hubungan yang penuh gairah tapi juga penuh konflik. Kevin suka menyiksa wanita secara sensual: bondage ketat, masker dengan dildo 15 cm, enema, obat perangsang, menahan orgasme sampai batas kewarasan, bahkan membuat pasangannya menjadi eksibisionis di tempat semi-publik. Feby dulu suka itu semua, tapi akhirnya dia mundur karena merasa Kevin terlalu jauh ke arah kegelapan. “Kamu bikin aku takut pada diriku sendiri,” kata Feby waktu putus.
1171Please respect copyright.PENANAB68zD8GkNa
Tapi Kevin tidak pernah benar-benar melepaskannya. Ia masih menyimpan foto-foto lama Feby dalam pose terikat, tubuh putihnya berkilau keringat, mata coklatnya memohon dilepaskan tapi juga meminta lebih. Dan sekarang, melihat Feby yang tampak rapuh, hasrat lama itu bangkit lagi—bukan hanya nafsu, tapi juga balas dendam kecil karena Feby pernah meninggalkannya begitu saja.
1171Please respect copyright.PENANAtJC1b8wJvO
Siang itu, saat jam istirahat makan siang, Kevin melihat kesempatan. Feby duduk sendirian di pantry, memegang ponsel sambil memesan sesuatu. Layar ponselnya terbuka cukup lebar untuk Kevin yang kebetulan lewat melihat sekilas: nama pulau terpencil, tanggal keberangkatan, dan tulisan “Single Suite – Private Beach Access”. Kevin berhenti sejenak di belakang Feby, pura-pura mengambil air mineral dari dispenser.
1171Please respect copyright.PENANAA0X83Mi1VM
“Liburan sendirian, Februari?” tanyanya santai, suaranya rendah tapi jelas.
1171Please respect copyright.PENANAHbt370en4G
Feby tersentak, hampir menjatuhkan ponsel. Ia menoleh cepat, melebar sesaat sebelum kembali tegas. "Kevin? Ngapain kamu nguping?"
1171Please respect copyright.PENANAmpCTqodxI9
"Bukan nguping. Cuma kebetulan lihat. Pulau X ya? Bagus tuh, sepi. Cocok buat healing setelah putus."
1171Please respect copyright.PENANAU4u38ne8Pk
Feby mengerutkan kening. “Kamu tahu dari mana aku putus?”
1171Please respect copyright.PENANAksVtrAex2C
Kevin tersenyum tipis, senyum yang dulu selalu membuat Feby merinding—campuran antara menawan dan berbahaya. “Kantor kecil, gosip cepat nyebar. Lagian Dimas kelihatan murung beberapa hari ini.”
1171Please respect copyright.PENANA6lg3Ug7v7y
Feby memancarkan, tapi tidak membantah. Ia mematikan layar ponsel dan berdiri. “Ini urusan pribadi. Jangan ikut campur.”
1171Please respect copyright.PENANAWvp0BNGfBg
Kevin mengangkat tangan pura-pura menyerah. "Tenang. Aku cuma bilang, hati-hati aja di sana. Pulau sepi bisa… berbahaya kalau sendirian."
1171Please respect copyright.PENANAJWMG72glFw
Feby memandangnya tajam, tapi ada getar kecil di dadanya. Kenangan lama muncul: malam-malam ketika Kevin mengikatnya di ranjang, mata tertutup, tubuhnya disiksa pelan dengan listrik rendah di puting dan kristoris sampai ia memohon orgasme. Ia menggeleng cepat, mengusir bayangan itu. “Aku bisa menjaga diri sendiri.”
1171Please respect copyright.PENANAlCphyqg2Ko
Ia berjalan pergi, bokong bulatnya bergoyang sedikit di balik rok pensil. Kevin memandang ke belakang lama, senyumnya melebar.
1171Please respect copyright.PENANA4Dtdc3RkN5
Malam itu, di apartemen mewahnya di kawasan Kuningan, Kevin duduk di sofa kulit hitam sambil memegang gelas wiski. Ia membuka grup chat rahasia di ponsel—grup yang hanya berisi tiga nama: Dimas, Malik, dan dirinya. Grup itu sudah lama tidak aktif sejak Feby memutuskan dengan masing-masing, tapi sekarang saatnya hidupkan kembali.
1171Please respect copyright.PENANASnIdh1RBda
Kevin mengetik pesan panjang:
1171Please respect copyright.PENANACsA2lWan7I
"Feby putus sama Dimas. Lagi booking liburan sendirian ke Pulau X, hotel sepi dengan pantai pribadi. Tanggal keberangkatan 5 hari lagi. Aku lihat sendiri tadi di kantor. Ini kesempatan. Kita bisa 'mengingatkan' dia kenapa dulu dia gila sama kita berdua. Balas dendam kecil, tapi nikmat. Siapa ikut?"
LANJUTAN CERITA BISA DI AKSES DI https://lynk.id/novelhambilah
1171Please respect copyright.PENANAtCWQfN26RZ


