Hari Kamis sore, langit kampus berwarna oranye keemasan. Angin sepoi-sepoi menerpa daun-daun pohon beringin besar di taman belakang masjid, membuat bayangan bergoyang pelan di atas bangku kayu panjang. Tempat itu memang kajian favorit anak-anak: terbuka, banyak orang lewat, tapi cukup sepi untuk ngobrol tanpa terlalu terganggu.Salwa datang lima menit lebih awal. Ia sengaja memilih bangku paling ujung, dekat pohon besar, supaya terasa lebih aman. Gamisnya hari ini berwarna hijau botol longgar, jilbab hitamnya dilipat rapi menutupi dada hingga pinggang. Ia duduk dengan posisi tegak, kedua tangan di atas pangkuan, tas jinjing krem tergeletak di sebelahnya.Jantungnya berdegup tak karuan sejak siang. Ia sudah bergantian-balik istighfar, shalat istikharah dua kali, bahkan curhat ke Aisyah.
"Wa, santai aja. Rafi orang baik kok. Cuma ngobrol doang," kata Aisyah sambil tertawa.
“Lagian sekarang pada gitu lho.Taaruf-taarufan di mana-mana.”Dan memang benar. Sejak kajian Ustadzah Nadia itu, kampus Islami yang selama ini terkenal ketat dan “kaku” dalam pergaulan, perlahan berubah.Di koridor kampus, Salwa sering melihat ikhwan dan akhwat berjalan di dekatnya—jaraknya sudah bukan lagi satu meter seperti dulu, tapi hanya setengah meter. Ada yang berani duduk sebangku di kantin, ada yang saling memandang lama-lama sambil tersenyum.Kemarin pagi, saat Salwa lewat taman dekat gedung dakwah, ia melihat sepasang mahasiswa yang ia kenal dari Rohis: ikhwan tingkat akhir dan akhwat dari fakultas tarbiyah. Mereka duduk di bangku, tangan ikhwan itu memegang tangan akhwat—bukan gandengan erat, tapi jari-jari saling terkait pelan. Akhwatnya tersenyum malu-malu, kepala ditunduk, tapi tidak menarik tangannya.Salwa langsung cepat-cepat lewat, wajahnya panas. Ia tahu mereka bilang itu “taaruf serius”. Tapi tetap saja… rasanya aneh. Terlalu cepat.Yang lebih risih membuatnya terjadi siang tadi.
Setelah kelas Mikroekonomi selesai, Salwa kembali ke kelas untuk mengambil charger yang ketinggalan. Ruang kelas di lantai tiga itu sudah kosong, pintunya setengah terbuka. Saat ia mendekat, ia mendengar suara pelan—desahan kecil dan tawa lirih.Salwa membeku di depan pintu.Di dalam, di baris belakang dekat jendela, ada sepasang akhwat dan ikhwan yang ia kenal sekilas dari kajian bulanan. Akhwatnya memakai gamis panjang dan jilbab lebar, ikhwannya memakai kemeja cingkrang. Mereka duduk sangat dekat—paha menyentuh paha.Ikhwan itu sedang mencium pipi akhwatnya pelan, tangan melingkar di pinggang, sementara tangan kirinya naik ke dada yang tertutup gamis, meremas perlahan. Akhwatnya memejamkan mata, mulutnya sedikit terbuka, tangannya memegang lengan ikhwan itu seolah-olah tidak ingin dilepas.
“Mas… jangan di sini… nanti ada yang lihat,” bisik akhwatnya, tapi suaranya malah terdengar manja, bukan benar-benar menolak.
“Cuma sebentar, sayang… aku kangen,” jawab ikhwan itu serak, lalu mencium ciuman lagi, kali ini lebih dalam.Salwa langsung mundur pelan, jantungnya mau copot. Ia buru-buru turun tangga, wajahnya merah padam, napasnya tersengal. Ia tidak tahu harus marah, takut, atau… apa.Ia langsung ke toilet, berwudhu ulang, lalu duduk di masjid kampus sambil membaca Al-Qur'an sampai hati agak tenang. Tapi gambar itu terus muncul di kepalanya. Bagaimana bisa? Di kampus Islami ini? Di kelas kosong? Dengan dalih taaruf?
ns216.73.217.22da2


