Sekarang, duduk di bangku taman menunggu Rafi, pikiran Salwa campur aduk. Aku takut kalau pertemuan ini akan jadi seperti itu. Tapi Rafi… Rafi selalu terlihat sopan. Selalu menjaga jarak. Selalu bicara dengan lembut.Pukul lima lewat tujuh menit, Rafi muncul dari arah masjid. Ia mengenakan kemeja putih lengan digulung hingga siku, celana hitam cingkrang, dan tas ransel kecil di bahu. Wajahnya tersenyum ramah saat melihat Salwa.
“Assalamualaikum, Salwa. Maaf telat bentar, abis bantu angkat sound system kajian minggu depan,” katanya sambil mendekat, lalu duduk di ujung bangku yang sama—dengan jarak sekitar satu meter penuh, cukup untuk satu orang lagi di antaranya
.“Waalaikumsalam. Nggak apa-apa,” jawab Salwa pelan, matanya menunduk ke pangkuan.Rafi memperhatikan Salwa sebentar. Ia bisa melihat gadis itu gelisah—tangan saling menggenggam erat, bahu sedikit tegang.
"Kamu baik-baik aja? Kayaknya agak capek," tanyanya lembut, nada penuh perhatian.Salwa mengangguk kecil. “Iya…alhamdulillah baik.Cuma…agak banyak mikir.”
Rafi tersenyum tipis. "Soal taaruf ya? Aku juga sih. Sekarang kampus lagi rame banget. Banyak yang mulai berani deket-deketan."
Salwa menggigit bibir bawahnya pelan. Akhirnya ia memberanikan diri berbicara. “Iya… aku lihat sendiri. Ada yang… pegangan tangan di taman. Ada yang… lebih dari itu.
Rafi mengangkat alis, tapi tetap tenang. “Lebih dari itu gimana?” Salwa ragu sebentar, wajahnya memerah lagi mengingat kejadian siang tadi.
“Tadi… aku tidak sengaja lihat di kelas kosong. Ada akhwat sama ikhwan… mereka berciuman. Dan… saling raba.”Rafi terdiam sejenak. Ia tidak terkejut—ia juga sudah mendengar rumor dari teman-temannya. Tapi ia tahu Salwa pasti kaget. Ia menghela napas pelan, lalu menatap Salwa dengan serius tapi lembut.
"Aku ngerti kamu kaget, Wa. Aku juga sebenarnya agak khawatir sama perkembangan ini. Kajian ustadzah memang membuka pikiran, tapi ada yang salah mengartikan. Taaruf itu bukan izin buat bebas sentuh-sentuhan sebelum halal."Salwa mengangguk pelan, merasa lega karena Rafi sependapat.
“Makanya aku seneng kamu mau ketemu hari ini,” lanjut Rafi. "Aku pengen kita ngobrol jujur. Aku nggak mau buru-buru, nggak mau maksa. Kalau kamu nggak nyaman, bilang aja. Aku janji jaga batasan."Kata-kata itu membuat Salwa sedikit rileks.
Ia akhirnya berani mengangkat wajah sambil menatap Rafi sebentar. Mata ikhwan itu lurus, tenang, tidak ada kilatan nafsu seperti yang ia takutkan. Mereka mulai ngobrol—awalnya tentang kajian, lalu visi misi nikah, pandangan tentang rumah tangga sakinah. Rafi banyak cerita, Salwa lebih banyak mendengar, tapi perlahan ia mulai ikut menjawab.Saat angin agak kencang, daun kering jatuh ke bangku di antara mereka. Rafi mengambil daun itu, lalu tanpa sengaja—benar-benar tanpa sengaja—tangannya menyentuh punggung tangan Salwa yang sedang merapikan jilbab.Sentuhan itu singkat. Hanya sepersekian detik.Tapi cukup membuat keduanya membeku.Salwa langsung menarik tangannya pelan, wajahnya merah padam, jantung berdegup kencang. Rafi juga langsung menarik tangannya, terkejut.
“Ma…maaf, Salwa. Aku nggak sengaja,” katanya cepat, suaranya agak serak. Salwa hanya mengangguk kecil, tidak berani menatap. Tapi anehnya… sentuhan itu tidak terasa menjijikkan. Malah terasa hangat. Lembut.Mereka diam beberapa detik, suasana jadi canggung.Rafi akhirnya tertawa kecil untuk mencairkannya.
“Ya Allah, aku jadi malu sendiri. Maaf ya.”Salwa ikut tersenyum tipis—senyum malu-malu yang pertama kali ia tunjukkan di depan Rafi secara langsung.
“Nggak apa-apa… gak sengaja kok.” Obrolan melanjutkan, tapi sekarang ada rasa baru di antara mereka. Rasa yang manis, hangat, tapi juga berbahaya.Saat matahari mulai tenggelam dan adzan Maghrib berkumandang, mereka pamit. Rafi mengantar Salwa sampai gerbang masjid dari jarak aman.
"Besok… boleh ketemu lagi nggak? Masih banyak yang pengen dibahas," tanya Rafi pelan sebelum berpisah.Salwa ragu sebentar, tapi akhirnya mengangguk kecil.
“InsyaAllah… boleh.”Malam itu, Salwa berbaring di kasur kosan sambil memandang langit-langit. Ia masih ingat hangatnya sentuhan tadi. Ia istighfar berkali-kali. Tapi di balik rasa bersalah, ada getar kecil yang tak bisa ia bohongi.Di kosan seberang kampus, Rafi sama sekali tidak bisa tidur.Ia terus mengingat kelembutan kulit tangan Salwa. Betapa rapuhnya dan hangatnya. Ia tahu ini baru awal. Dan ia tahu, batasan yang ia janjikan jaga itu… mulai terasa semakin tipis.
Cerita lengkap ada disini ada 36 bab
https://lynk.id/silviylstory5928Please respect copyright.PENANAAC5XFUfQJh


