4803Please respect copyright.PENANA3iFPwIZy80
Dua hari setelah pertemuan singkat di koridor kampus, suasana kampus sudah berubah—meski hanya terasa di kalangan anak-anak Rohis.
Sepintas lalu, semuanya biasa saja: mahasiswa tetap kuliah, nongkrong di kantin, foto-foto di taman. Tapi di grup WhatsApp Rohis putra dan putri, di story Instagram akun-akun kajian, dan di bisik-bisik saat shalat berjamaah, topiknya sama: kajian Ustadzah Nadia.
“Taaruf boleh berdua selama niat serius.”
“Jangan kaku, kenali dulu calonnya.”
“Batasan tetap dijaga, tapi nggak usah takut bertemu.”
Kalimat-kalimat itu menjadi pembenaran baru bagi banyak ikhwan dan akhwat yang selama ini hanya bisa saling lirik dari perpisahan.
Aisyah, teman sekamar Salwa, jadi orang pertama yang “berani” di lingkaran mereka. Malam setelah kajian, ia langsung chat seorang ikhwan dari fakultas dakwah yang sudah lama menyukainya. Besoknya, mereka berjanjian bertemu di perpustakaan kampus—duduk di meja berbeda tapi saling berhadapan, ngobrol sambil pura-pura membaca buku. Aisyah pulang ke kosan dengan wajah merona, cerita panjang lebar ke Salwa dan Fira.
"Serius Wa, cuma ngobrol doang! Dia nanya visi misi aku, aku nanya pendapat dia soal rumah tangga. Nggak ada pegang-pegangan, sumpah! Tapi… ya Allah, deg-degannya luar biasa."
Fira yang biasanya pendiam ikut-ikutan bersemangat. Dua hari kemudian, ia mengobrol dengan ikhwan lain—teman panitia acara Ramadhan tahun lalu. Mereka berjanjian di masjid kampus setelah Maghrib, duduk di teras sambil diskusi tafsir surah Ar-Rum. Fira pulang dengan mata berbinar, berkata, “Aku baru sadar, ternyata ngobrol sama ikhwan yang niatnya baik itu…bikin hati tenang.”
Zahra, yang paling ketat di antara mereka karena memakai cadar, bahkan mulai membuka suara di grup akhwat:
“Kalau niatnya taaruf serius dan ada batasannya, insyaAllah tidak apa-apa. Tapi tetap harus lapor wali ya, akhwat.”
Sementara di kelompok ikhwan, ceritanya lebih ramai lagi. Rafi jadi salah satu yang paling sering ditanyai teman-temannya.
“Fi, beneran boleh berduaan gitu?”
“Lo udah ada target belum?”
“Cara ngajaknya gimana biar nggak ditolak?”
Rafi hanya tersenyum santai sambil berkata, “Yang penting niat lurus, jaga batasan, dan bikin akhwatnya nyaman. Jangan buru-buru.”
Padahal di dalam hati, ia sudah merencanakan langkah berikutnya untuk Salwa.
Hari Rabu sore, setelah shalat Ashar berjamaah di masjid kampus, Rafi melihat Salwa lagi. Kali ini Salwa bersama Aisyah, duduk di bangku taman dekat fakultas ekonomi sambil makan gorengan.
Rafi mengambil napas dalam, lalu mendekat dengan langkah tenang.
“Assalamualaikum, akhwat,” sapanya lagi, suaranya ramah seperti biasa.
“Waalaikumsalam!” jawab Aisyah langsung ceria. Salwa hanya mengangguk kecil, tapi kali ini ia tidak langsung menunduk ke dalam. Matanya sesekali melirik Rafi.
“Kebetulan banget ketemu lagi,” kata Rafi sambil tersenyum. “Lagi istirahat ya?”
“Iya, abis kelompok tugaas,” jawab Aisyah. "Eh Fi, lo denger nggak? Sekarang pada heboh taaruf-taarufan gara-gara kajian kemarin!"
Rafi tertawa pelan. "Iya, aku juga denger. Banyak yang tanya-tanya ke aku. Kayaknya kajian itu beneran membuka pikiran banyak orang."
Aisyah langsung nyerocos, "Iya kan! Aku sama Fira aja udah… eh, pokoknya udah mulai kenalan lebih dalam sama beberapa ikhwan. Cuma ngobrol kok, serius!"
Salwa yang tadinya diam akhirnya angkat bicara, suaranya kecil tapi jelas. “Tapi… gak takut fitnah ya?”
Aisyah menggeleng cepat. “Awalnya takut sih, Wa. Tapi kalau kita jaga batasan, insyaAllah aman. Lagian kan nggak sendiri terus, ketemunya di tempat umum, nggak lama-lama.”
Rafi memanfaatkan momen itu. Ia menatap Salwa dengan lembut, tanpa ada sedikit pun nakal.
"Salwa, aku ngerti banget kamu takut. Aku juga dulu gitu. Makanya aku selalu bilang ke temen-temen: yang paling penting bikin akhwatnya merasa aman dan nyaman. Kalau dia nggak siap, ya jangan dipaksa."
Salwa mengangguk pelan, pipinya sedikit memerah. Ia merasa Rafi benar-benar memahami kegelisahannya.
Rafi melanjutkan, suaranya tenang dan meyakinkan, "Kalau kamu mau, kita bisa ngobrol lebih soal ini. Misalnya… besok sore, di taman belakang masjid? Tempatnya nada terbuka, banyak orang lewat, cuma sebentar aja. Hanya ngobrol, berbagi pendapat soal taaruf. Kalau kamu tidak nyaman, kapan aja boleh pulang.”
Salwa menjawab. Jantungnya berdegup kencang lagi. Ia melirik Aisyah yang langsung memberi kode mata super antusias: “Boleh banget, Wa!”
Rafi menambahkan dengan cepat, "Nggak ada paksaan kok. Aku cuma pengen kita sama-sama belajar. Kalau kamu nggak mau, aku ngerti banget."
Hening terdiam. Salwa menggigit bibir bawahnya pelan—kebiasaan kalau lagi tidak nyaman. Akhirnya, dia mengangguk kecil.
“Aku… insyaAllah besok boleh. Tapi… cuma sebentar ya.”
Rafi tersenyum lebar, tapi tetap terkendali. "Alhamdulillah. Makasih Salwa. Besok jam lima sore di bangku dekat pohon beringin ya? Aku tunggu."
Salwa mengangguk lagi, kali ini dengan senyum tipis.
Malam itu, di kosan masing-masing, keduanya sama-sama gelisah—tapi dengan rasa yang berbeda.
Salwa berbaring di kasur sambil memandang langit-langit, tangannya memegang guling erat. Aku takut. Ambil ini salah langkah. Takut jantungnya goyah. Tapi di saat yang sama, dia merasakan kehangatan yang aneh saat Rafi berbicara tadi—seperti ada seseorang yang benar-benar peduli pada perasaannya.
Rafi di kosannya duduk di meja belajar, tapi buku terbuka di depannya tak terbaca. Ia tersenyum sendiri, membayangkan besok duduk di dekat Salwa, melihat wajahnya lebih jelas, mendengarnya lebih lama. Ia tahu Salwa masih malu-malu, masih takut. Tapi justru itu yang membuatnya semakin bersabar.
Pengaruh ceramah Ustadzah Nadia sudah nyata: teman-teman di sekitar mereka mulai berani melangkah. Dan kini, giliran Salwa dan Rafi.
Besok adalah janji pertama mereka—dengan dalih “hanya ngobrol”.
Tapi keduanya tahu, dibalik kata-kata itu, ada getar yang mulai tak bisa lagi disembunyikan.4803Please respect copyright.PENANAQWqbzQddQQ


