Rafi memperhatikan reaksi Salwa—bahu yang sedikit tegang, tangan yang menggenggam peta erat-erat, mata yang selalu menunduk. Ia tahu gadis ini pemalu sekali, terutama sama ikhwan. Ia tidak ingin memaksa, tapi ia juga tidak ingin melewatkan kesempatan ini setelah kajian ustadzah yang memberi “pembenaran” baru.
“Eh, kemarin kajiannya bikin aku mikir ulang banget lho soal taaruf,” lanjut Rafi pelan, nada suaranya dibuat polos dan serius. “Aku dulu takut banget deket-deket akhwat, takut dikira pacaran atau fitnah. Tapi ustadzah bilang kalau niat serius dan ada batasan, boleh dong bertemu untuk kenalan lebih dalam?”Salwa menggigit bibir bawah pelan—kebiasaan saat gelisah. Ia angkat wajah sebentar, mata sipitnya bertemu mata Rafi hanya sepersekian detik, lalu cepat ditundukkan lagi.
“Iya… aku juga masih bingung. Takut salah paham aja.”Rafi mengangguk serius, tangannya disilangkan di dada untuk terlihat lebih santai.
"Wajar kok. Aku juga dulu gitu. Makanya aku selalu bilang ke temen-temen ikhwan: yang penting niat lurus, jaga batasan, dan bikin akhwatnya merasa aman. Kalau dia nggak nyaman, ya jangan dipaksa."Kata-kata itu membuat Salwa sedikit rileks. Rafi tidak memaksa, tidak genit, tidak memandang aneh-aneh seperti ikhwan lain yang pernah menyapa di koridor. Pandangan lurus ke wajah Salwa, tidak turun ke lekuk tubuh yang samar di balik gamis longgar.
“Iya… insyaAllah,” jawab Salwa akhirnya, suaranya kecil tapi lebih jelas dari tadi.Rafi tersenyum tipis, kali ini lebih lebar karena Salwa mulai menjawab lebih dari satu kata.
"Kalau kamu mau diskusi lebih lanjut soal taaruf atau kajian kemarin, boleh banget kok chat aku. Aku punya beberapa buku bagus tentang itu—karya Ustadz Hanan Attaki sama Ustadzah Halimah. Aku nggak maksa, tapi aku seneng kalau bisa saling sharing ilmu. Lagian kita sama-sama pengen yang terbaik buat akhirat, kan?" Kata-kata Rafi terdengar tulus—bicara soal ilmu, soal akhirat, bukan puji-pujian penampilan atau hal lain yang membuatnya risih. Ia ingat Aisyah pernah bilang Rafi orang baik, aktif di Rohis, sering bagi-bagi catatan kajian.
“Iya…makasih ya,” jawab Salwa pelan, kali ini ia berani mengangkat wajah sebentar dan tersenyum tipis—senyum malu-malu yang kecil, tapi cukup membuat Rafi merasakan dadanya menghangat.Rafi tersenyum lebar, tapi tetap terkendali.
"Sama-sama, Salwa. Eh, aku duluan ya, takut telat ke gedung sebelah. Semoga kuliahnya lancar hari ini!"Rafi melangkah mundur pelan, masih tersenyum, lalu berbalik arah menuju koridor lain.Salwa berdiri di tempatnya beberapa detik lagi, menjaga punggung Rafi yang menjauh. Jantungnya masih berdegup kencang, tapi kali ini ada rasa hangat aneh di dada—bukan hanya takut, tapi juga… nyaman. Ia masuk ke ruang kuliah yang masih sepi, duduk di barisan depan pojok, buka peta, tapi pikiran melayang. Ia ingat suara Rafi yang tenang, cara ia menjaga jarak, cara ia berbicara soal agama dengan serius tapi tidak menghakimi.Sepanjang kelas Makroekonomi, Salwa mencatat materi, tapi bolpoinnya sering berhenti bergerak. Ia ingat senyuman Rafi, aroma parfumnya, dan kata-katanya yang membuatnya merasa aman.Sementara itu, di gedung teknik sebelah, Rafi duduk di bangku kuliah Struktur Baja, tapi pikirannya sama sekali tidak di rumus-rumus dosen. Ia sendiri tersenyum mengingat senyum tipis Salwa tadi—pipinya yang merona, cara ia menggenggam map erat-erat seperti tameng, suaranya yang kecil tapi manis. Ia tahu Salwa masih takut, masih malu-malu. Tapi itu justru membuatnya semakin sabar—dan semakin ingin pelan-pelan mendekat-pelan.Langkah pertama sudah berhasil.Dan Rafi tahu, dengan dalih taaruf yang baru saja “diberkahi” ustadzah, ia punya alasan syar'i untuk terus mendekati Salwa—sampai batas yang selama ini Salwa jaga ketat mulai goyah.4914Please respect copyright.PENANAd1JS8SNkP9


