Pagi itu, kampus sudah mulai ramai meski baru pukul tujuh lewat tiga puluh. Matahari baru saja naik sepenuhnya, cahayanya menerangi melalui celah-celah pohon palem di koridor ekonomi. Bau kopi instan dari kantin lantai bawah bercampur dengan aroma gorengan yang baru matang, membuat udara terasa hangat dan hidup.
Salwa berjalan sendirian menuju ruang kuliah Makroekonomi di lantai dua. Ia sengaja datang lebih pagi agar bisa duduk di barisan depan—kebiasaannya sejak semester pertama untuk menghindari terjadinya dan terjadi ikhwan yang sering tidak sengaja (atau sengaja) melirik ke kejadian. Gamis navy panjangnya yang longgar bergoyang pelan mengikuti langkahnya, jilbab segi empat hitamnya dilipat rapi menutupi dada hingga pinggang, kaos kaki hitam tebal menutupi mata kaki. Tas jinjing kremnya digantung di bahu kanan, tangan kirinya memegang peta berisi print-out materi kuliah dan Al-Qur'an kecil untuk dibaca sambil menunggu dosen.Malam tadi ia hampir tidak tidur nyenyak.
Kata-kata Ustadzah Nadia dari kajian Senin malam terus berputar di kepalanya: “Taaruf boleh bertemu berdua selama niat serius dan ada batasan.” Ia juga ingat salam singkat Rafi di depan masjid malam itu, senyumnya yang ramah namun membuat jantung Salwa berdegup aneh. Rafi yang tinggi, berkulit sawo matang, janggut tipis rapi, selalu pakai kemeja lengan digulung dan celana cingkrang—banyak akhwat bilang dia tampan dan alim, tapi Salwa selalu menghindari kontak mata.Ia takut. Takut kalau terlalu sering melihat wajah Rafi, hatinya akan goyah. Takut nafsu. Takut fitnah.Salwa mempercepat langkah, hampir sampai di pintu ruang kuliah 204, ketika suara itu terdengar di belakangnya—tenang, hangat, dan familiar.
“Assalamualaikum, Salwa.” Salwa langsung berhenti melangkah, tubuhnya membeku seketika. Ia menoleh pelan, wajahnya sudah merona sebelum bertemu mata. Rafi berdiri sekitar tiga meter di belakangnya, tersenyum ramah sambil membawa tas ransel hitam yang sama seperti malam kajian. Ia mengenakan kemeja putih lengan digulung hingga siku, celana cingkrang hitam, dan kopiah putih kecil di kepala.
“Wa… waalaikumsalam,” jawab Salwa pelan, suaranya hampir hilang di tenggorokan. Tatapan langsung turun ke lantai ubin keramik yang mengkilap, tangannya menggenggam peta lebih erat seperti tameng.Rafi mendekat mendekat pelan, tapi tetap menjaga jarak aman—sekitar dua meter, cukup untuk tidak membuat Salwa gelisah tapi cukup dekat untuk bicara tanpa terlalu keras.
“Halaman banget ya ke kampus.Kuliah jam berapa?” tanya Rafi santai, suaranya hangat dan tidak ada sedikit pun nada genit.Salwa menarik napas pelan, mencoba menenangkan nada jantung yang berdegup kencang.
“Jam… delapan. Makroekonomi.”“Oh, aku juga ada kelas jam delapan—Struktur Baja di gedung teknik sebelah. Kebetulan lewat sini, liat kamu jalan sendirian dari jauh, ya sudah aku sapa aja,” kata Rafi sambil tertawa kecil, suaranya rendah dan menenangkan.Salwa hanya mengangguk kecil, penutupnya tertutup rapat. Ia ingin cepat masuk ruangan, tapi kakinya seperti tergeletak di tempat. Bau parfum Rafi—wangi kayu oud ringan yang maskulin—sudah tercium samar, membuat pipinya semakin panas.5114Please respect copyright.PENANAJZGIQB4IhG


