Sampai malam ini.Sampai kajian Ustadzah Nadia itu.Rafi melihat Salwa dan teman-temannya berhenti di dekat gerobak es teh. Aisyah sedang memesan minuman, Salwa berdiri sedikit di belakang, tangannya memegang tas jinjing kecil berwarna krem.Ini saatnya, pikir Rafi.Ia mengambil napas panjang, lalu melangkah mendekat. Jantungnya berdegup kencang, tapi ia berusaha terlihat santai.
Ia berpura-pura baru saja keluar dari masjid juga, padahal sudah sepuluh menit berdiri di tangga mengamati.
"Assalamualaikum, akhwat," sapanya pada kelompok itu, suaranya dibuat rendah dan tenang."Waalaikumsalam," jawab mereka serempak. Aisyah langsung tersenyum lebar—ia kenal Rafi, karena pernah satu panitia acara Maulid."Eh Rafi! Kajiannya mantap banget ya tadi?" kata Aisyah antusias."Iya, Ustadzah Nadia berani banget ngomongnya," sahut Rafi sambil tersenyum. Matanya sesekali melirik Salwa yang berdiri diam, tangannya masih memegang tas erat-erat.Salwa hanya mengangguk kecil, tidak bicara. Matanya menunduk ke tanah.
Rafi tahu ia harus memulai dari sini. Pelan-pelan."Iya nih, aku jadi mikir ulang tentang taaruf. Selama ini aku takut banget kalau deket-deket sama akhwat, takut dikira pacaran. Tapi tadi ustadzah bilang kalau niatnya serius, boleh dong bertemu untuk kenalan lebih dalam?" kata Rafi, nada suaranya dibuat polos.
Aisyah langsung excited. "Bener banget! Aku juga mikir gitu. Daripada nanti nikah sama orang asing banget, mending kenalan dulu kan?"Fira dan Zahra ikut mengangguk. Salwa masih diam, tapi Rafi bisa lihat ia mendengarkan.Rafi memberanikan diri melirik Salwa langsung. "Kamu sendiri gimana pendapatnya, Salwa?"Salwa terkejut dipanggil nama. Ia mengangkat wajahnya pelan, mata sipitnya bertemu sebentar dengan mata Rafi, lalu cepat ditundukkan lagi."Aku... masih bingung sih. Takut salah paham," jawabnya pelan, suaranya hampir seperti bisikan.Rafi tersenyum dalam hati. Ini pertama kalinya Salwa menjawab lebih dari tiga kata padanya.
"Tenang aja, kita sama-sama belajar kok. Lagian kan banyak yang mulai taaruf setelah kajian ini," kata Rafi sambil tertawa kecil.Aisyah langsung nyamber, "Iya nih, katanya udah ada beberapa yang janjian ketemu besok!"Salwa hanya diam lagi, tapi Rafi bisa lihat pipinya sedikit memerah di bawah cahaya lampu.Saat es teh mereka datang, Rafi pamit dengan alasan ada janji. Tapi sebelum pergi, ia sempat berkata pada Salwa langsung."Kalau ada yang mau didiskusiin lebih lanjut soal kajian tadi, boleh kok chat aku. Aku pernah baca buku tentang taaruf juga," katanya sambil tersenyum ramah.Salwa hanya mengangguk kecil, tapi Rafi tahu itu sudah kemajuan besar.Malam itu, saat Rafi sudah di kosannya, ia berbaring di kasur sambil memandang langit-langit. Pikirannya penuh dengan Salwa.
Ia membayangkan bagaimana kalau benar-benar bisa duduk berdua dengannya. Ngobrol. Melihat wajahnya lebih dekat. Mencium aroma parfumnya. Merasakan kehangatan tubuhnya saat duduk berdampingan.Tangan Rafi tanpa sadar turun ke bawah, menyentuh bagian yang sudah tegang sejak tadi.Malam itu, untuk kesekian kalinya, Rafi bermimpi basah memikirkan Salwa.Tapi kali ini, mimpinya terasa lebih nyata.Karena sekarang ia punya alasan syar’i untuk mendekatinya.5291Please respect copyright.PENANASQIn42PK1C


