Rafi berdiri di tangga masjid kampus, tangan kanannya memegang tas ransel hitam yang sudah agak usang. Cahaya lampu taman mulai menyala satu per satu, menerangi halaman masjid yang perlahan sepi. Kebanyakan jamaah sudah berpencar—ada yang langsung pulang ke kosan, ada yang berkumpul di warung kopi dekat gerbang, ada pula yang masih ngobrol di pojok-pojok halaman.
5727Please respect copyright.PENANA9j65AD43aT
Tapi mata Rafi hanya tertuju pada satu arah.Salwa berjalan bersama Aisyah dan dua akhwat lain dari Rohis fakultas mereka. Langkahnya pelan, khas perempuan yang selalu menjaga adab—tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat. Gamis abu-abunya yang panjang sampai mata kaki bergoyang lembut setiap kali ia melangkah, menyapu dedaunan kering yang berserakan di trotoar.Dari tempatnya berdiri, Rafi bisa melihat siluet tubuh Salwa dengan jelas di bawah cahaya lampu kuning. Pinggulnya yang lebar membuat gamis itu membentuk lekukan halus di bagian bawah, meski kainnya longgar. Setiap kali Salwa menoleh ke temannya untuk menjawab sesuatu, jilbab hitamnya ikut bergeser sedikit, memperlihatkan leher putih mulus yang jarang sekali terlihat.
5727Please respect copyright.PENANAg6Z3GEv1N2
Rafi menelan ludah. Sudah bertahun-tahun ia seperti ini. Mengamati dari kejauhan. Membayangkan. Beristighfar. Lalu mengamati lagi.Ia ingat pertama kali melihat Salwa.Semester satu, acara orientasi mahasiswa baru Rohis kampus. Saat itu Salwa masih pakai jilbab segi empat biasa, belum pakai cadar atau layer-layer seperti sekarang. Ia duduk di barisan depan, mencatat dengan serius saat kakak tingkat menjelaskan visi misi organisasi. Wajahnya tenang, bibirnya tipis, matanya sipit tapi tajam.Tapi yang membuat Rafi langsung "terpaku" adalah saat Salwa berdiri untuk memperkenalkan diri.
5727Please respect copyright.PENANAuI2Xoy5nkH
"Nama saya Salwa Aulia, dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Saya ingin belajar lebih dalam tentang agama di sini, insyaAllah," katanya dengan suara lembut tapi jelas.Saat ia berdiri, gamis krem yang dipakainya saat itu agak ketat di bagian dada. Bukan ketat sengaja, tapi karena tubuhnya memang... penuh. Dada yang montok, pinggang kecil, dan bokong yang bulat sempurna. Rafi yang duduk di barisan ikhwan belakang langsung merasa panas di telinga.Sejak hari itu, ia selalu mencari Salwa di setiap acara. Di kajian bulanan, di pengajian Ramadan, di stand bazar amal. Bahkan di kantin fakultas teknik pun ia pernah "kebetulan" lewat hanya untuk melihat Salwa makan bersama teman-temannya.
5727Please respect copyright.PENANAxQMbYdL3cI
Ia tahu nama teman-teman dekat Salwa: Aisyah yang cerewet, Fira yang pendiam, dan Zahra yang suka pakai cadar. Ia tahu Salwa tinggal di kosan putri dekat kampus, lantai dua, kamar nomor 7—informasi yang ia dapat dari teman Rohis yang tanpa sengaja cerita. Ia tahu Salwa suka minum teh tarik tanpa gula, suka duduk di pojok perpustakaan lantai tiga kalau lagi ujian, dan suka pakai parfum yang wanginya manis lembut seperti bunga.
5727Please respect copyright.PENANAM9cSCAIh8K
Semua itu ia tahu tanpa pernah benar-benar mengajak Salwa bicara lebih dari dua kalimat.Karena Salwa terlalu alim. Terlalu menjaga batas. Setiap kali Rafi mencoba menyapa—"Assalamualaikum, Salwa, apa kabar?"—Salwa hanya menjawab "Waalaikumsalam, alhamdulillah baik" sambil tersenyum tipis, lalu buru-buru pergi.Rafi tahu Salwa takut fitnah. Ia juga tahu banyak ikhwan lain yang diam-diam naksir Salwa. Tapi tidak ada yang berani mendekat, karena Salwa seperti tembok tinggi yang tak bisa ditembus.5727Please respect copyright.PENANA94avtxEHyp


