Rafi sudah mengenal Salwa sejak tahun pertama. Mereka satu angkatan, fakultas lain—ia di Teknik Mesin. Awalnya hanya sekilas di acara Rohis gabungan. Tapi lama-lama, berkerutnya selalu mencari Salwa di setiap kajian, di setiap pengajian kampus, di setiap acara halal bihalal.Bukan karena wajahnya—meski Salwa memang cantik, dengan mata sipit yang lembut dan kulit sawo matang yang bersih. Bukan.Yang membuat Rafi nyaman adalah tubuhnya.
Setiap kali Salwa berjalan di depannya, gamisnya yang longgar tetap tidak bisa menyembunyikan panjang pinggulnya yang lebar. Setiap kali Salwa duduk bersila di kajian, dada yang montok ditekan sedikit oleh posisi tangan yang menyilang, membuat lekuknya samar-samar terlihat. Setiap kali Salwa membungkuk mengambil air wudhu, bokongnya yang bulat membentuk siluet sempurna di balik kain.Rafi tahu itu salah. Ia sering istighfar dalam hati. Tapi nafsunya selalu menang.Ia sudah lama ingin mendekati Salwa. Tapi Salwa terlalu alim, terlalu menjaga jarak.
Rafi pernah mencoba menyapa sekali dua kali, tapi Salwa hanya tersenyum tipis lalu pergi.Sekarang, mendengar kata-kata Ustadzah Nadia, dada Rafi berdegup kencang.Ini kesempatan.Kalau taaruf boleh bertemu berdua... kalau itu bukan pacar...Maka dia punya alasan syar'i untuk mendekati Salwa. Untuk duduk di keterbukaan. Untuk bentuknya panjang. Untuk... lebih.Kajian diakhiri dengan doa penutup. Para jamaah mulai berdiri perlahan, saling bersalaman, berfoto dengan ustadzah, atau sekadar ngobrol.
Salwa bangun pelan, merapikan gamisnya. Ia merasa ada yang aneh di hatinya—campuran antara gelisah, penasaran, dan... sesuatu yang hangat di perut bagian bawah. "Wa, kamu dengerin tadi kan? Gila ya, Ustadzah Nadia berani banget bilang gitu," bisik Aisyah sambil menyenggol lengan.Salwa hanya mengangguk kecil. "Iya... entahlah benar apa nggak. Aku masih bingung." Saat mereka berjalan keluar masjid, Salwa tidak sadar bahwa ada sepasang mata yang terus mengikuti dari kejauhan.Rafi berdiri di pojok tangga masjid, berpura-pura ngobrol dengan temannya. Tapi anehnya terkunci pada Salwa yang berjalan menuruni anak tangga. Gamis abu-abunya bergoyang pelan mengikuti langkahnya, menampilkan sekilas bentuk pinggul yang membuat tenggorokannya kering. Malam ini, pikir Rafi dalam hati. Malam ini aku akan mulai.5917Please respect copyright.PENANAUGm9H9OiU5


