6318Please respect copyright.PENANAreZ8qrIzK3
Langit sore di kampus itu berwarna jingga lembut, pendapat di antara celah-celah pohon mahoni yang mengelilingi masjid universitas. Udara masih hangat, bercampur aroma rumput basah setelah hujan siang tadi. Masjid kampus yang biasanya sepi di hari Senin sore, kali ini penuh sesak. Ratusan pelajar dan mahasiswi duduk berderet di lantai marmer dingin, dipisahkan oleh pembatas kain putih sederhana di tengah ruangan.
Di depan, seorang ustadzah muda bernama Ustadzah Nadia sedang berbicara. Ia dikenal di kalangan anak-anak kajian karena gaya dakwahnya yang santai, namun tegas. Wajahnya cantik, suaranya lembut tapi menggelegar, dan yang paling penting—ia berani menyentuh topik-topik yang selama ini dianggap tabu di lingkungan hijrah kampus.
Salwa duduk di baris ketiga bagian akhwat, tepat di belakang teman-temannya dari Rohis Fakultas Ekonomi. Ia mengenakan gamis abu-abu panjang yang longgar, jilbab segi empat hitam yang menutupi dada dengan rapi, dan kaos kaki hitam yang menutupi kakinya hingga mata kaki. Seperti biasa, tampil sempurna—alim, sopan, dan tidak mencolok. Tapi di balik gamis longgar itu, tubuh Salwa sama sekali tidak "longgar".
Ia memiliki lekuk tubuh yang montok alami: dada yang penuh, pinggang ramping, dan pinggul yang lebar. Banyak yang bilang dia mirip artis hijabers terkenal, tapi Salwa selalu menutupinya dengan pakaian syar'i yang ekstra lebar. Ia tahu betul melelehkan para ikhwan sering kali tidak suci, makanya ia selalu berusaha menjaga jarak.Malam ini, ia datang karena teman sekamarnya memaksa.
“Kajian Ustadzah Nadia seru banget, Wa! Kali ini temanya tentang taaruf,” kata Aisyah sambil menarik tangannya yang sakit tadi.Salwa awalnya ragu. Ia sudah sering mendengar rumor bahwa Ustadzah Nadia agak "liberal" dalam urusan pernikahan. Tapi karena penasaran, dia akhirnya ikut.Sekarang, dia menyesal sekaligus tidak.Ustadzah Nadia sedang berbicara dengan nada yang semakin meninggi.
"...jadi, saudara-saudari sekalian, jangan kalian terjebak dalam pemahaman kaku yang justru menjauhkan kalian dari sunnah Rasulullah! Taaruf itu bukan proses dingin tanpa interaksi. Taaruf itu mengenal calon pasangan dengan niat serius. Dan mengenal itu butuh waktu, butuh dialog, butuh bertemu!"
Beberapa akhwat di depan Salwa berbisik-bisik. Ada yang tersenyum kecil, ada yang mengangguk setuju."Kalau hanya salaman sekali, ngobrol sebentar di depan wali, terus langsung khitbah—itu bukan taaruf namanya, itu berspekulasi! Kalian mau beli kucing dalam karung? Kalian mau menikah dengan orang yang kalian bahkan tidak tahu cara dia tertawa, cara dia marah, cara dia memperlakukan orang lain?"Tawa kecil terdengar dari bagian ikhwan.
Ustadzah Nadia melanjutkan, "Dan yang paling penting: bertemu berdua untuk taaruf, selama niatnya serius dan ada batasan, itu bukan pacaran! Kalau sudah ada hubungan emosional haram, ada ciuman, pelukan, zina mata, zina hati. Tapi kalau kalian bertemu untuk saling mengenal, ngobrol dari hati ke hati, saling cerita visi misi—itu bagian dari taaruf yang direkomendasikan!"Ruangan hening suatu saat. Lalu, sorak kecil dan tepuk tangan pelan terdengar dari beberapa sudut.
Salwa merasakan jantungnya berdegup lebih cepat. Ia menunduk, memandangi jari-jarinya yang saling bertaut di pangkuannya. Pikirannya berputar.Bertemu berdua... bukan pacaran?Selama ini ia selalu menjaga jarak ketat dengan ikhwan. Apalagi kalau ada yang menyapa di koridor, ia hanya menjawab singkat lalu buru-buru pergi. Ia cocok takutnah, takut dosa, takut nafsu. Tapi kata-kata ustadzah itu... terdengar masuk akal. Terlalu masuk akal, bahkan.Di bagian ikhwan, tiga baris di belakang pembatas, Rafi duduk dengan tangan disilangkan di dada. Matanya tidak pernah lepas dari sosok Salwa sejak kajian dimulai.6318Please respect copyright.PENANAgGUrtmLOAy


