Kehadiran sosok pria dari masa lalu Laila—mantan suaminya yang tiba-tiba datang ke kantor untuk urusan pembagian harta—ternyata memicu sisi gelap dalam diri Diki yang belum pernah terlihat. Melihat pria lain menatap Laila dengan tatapan posesif di lobi kantor membuat darah Diki mendidih. Begitu pria itu pergi, Diki langsung menarik Laila masuk ke ruang kerjanya, mengunci pintu dengan kasar, dan mendorongnya ke sofa kulit hitam yang dingin.
"Jadi dia pria yang dulu pernah memilikimu?" geram Diki, suaranya parau oleh kecemburuan yang membara. Ia merenggut blazer Laila hingga kancingnya berhamburan di lantai karpet.
Laila menatap Diki dengan napas terengah, ia bisa merasakan aura dominasi yang jauh lebih kuat dari biasanya. "Diki... itu hanya masa lalu. Dia tidak ada apa-apanya dibanding kamu."
"Aku ingin kau membuktikannya, Laila!" Diki langsung meraup kedua payudara Laila yang masif, meremasnya dengan tenaga yang hampir brutal. "Aku ingin aroma pria itu hilang dari ingatanmu. Aku ingin setiap inci tubuhmu hanya merasakan milikku!"
Diki tidak memberikan waktu bagi Laila untuk menjawab. Ia merobek pakaian dalam Laila yang tersisa dan langsung memposisikan wanita itu menungging di pinggiran sofa. Dari posisi ini, Diki bisa melihat bagaimana payudara Laila yang besar menggantung bebas dan bergoyang liar.
"Dadamu... akan kubuat memerah malam ini, Laila!" Diki membebaskan kejantannya yang sudah menegang maksimal, berdenyut-denyut seperti baja panas. Tanpa pemanasan yang lembut, ia langsung menghujamkan dirinya masuk ke dalam kehangatan Laila yang sudah sangat becek karena rasa takut yang bercampur gairah.
JLEBB! "OHHHH! DIKIII! SAKIT... TAPI NIKMAT! AH-AH-AHHH!" Laila memekik, wajahnya terbenam di bantal sofa kulit.
Diki memulai gerakan penetrasi yang sangat liar dan agresif. Setiap tumbukan pangkal pahanya ke bokong Laila yang lebar menghasilkan suara PLAK! PLAK! PLAK! yang sangat keras dan basah. Diki tidak lagi menggunakan ritme yang teratur; ia menghajar Laila dengan hantaman-hantaman dalam yang menabrak mulut rahim berkali-kali.
"Katakan siapa tuanmu, Laila! Katakan milik siapa rahim ini!" Diki menggeram, tangannya merayap ke depan, meremas kedua payudara Laila dan menariknya ke belakang dengan kasar seolah ingin memamerkan keindahan itu pada dirinya sendiri.
"Ah-ah-ahhh! Kamu, Diki! Hanya kamu! Milikmu... jauh lebih besar dan kuat! Ahhh, hancurkan aku! Hapus bayangan pria itu dengan milikmu!" Laila meracau, suaranya pecah oleh kenikmatan yang melampaui batas kewarasan.
Suara gesekan kulit dan cairan gairah yang meluap—crot, crot, plak—
Bersambung…….
Lanjutan Ceritanya KLIK DISINI
ns216.73.217.128da2


