Ketegangan di kantor mencapai titik didih yang paling berbahaya. Sore itu, Diki dan Laila berada di ruang arsip pusat di lantai basement yang sunyi, namun mendadak suasana berubah menjadi teror yang sensual ketika mereka mendengar suara pintu utama terbuka dan suara berat Kepala Dinas (Kadis) yang sedang berbicara dengan sespri-nya.
"Cari dokumen lelang tahun lalu di barisan rak C, cepat!" perintah Kadis, suaranya hanya berjarak sekitar lima meter, terhalang oleh deretan rak besi tinggi yang penuh dengan berkas.
Diki dan Laila membeku di sudut paling gelap, di belakang rak D. Diki sedang memojokkan Laila ke dinding beton yang dingin. Laila hanya mengenakan rok mini ketat yang sudah tersingkap ke pinggang dan kemeja sutra yang kancingnya sudah terbuka separuh. Adrenalin karena takut tertangkap di depan pimpinan tertinggi justru membuat kejantanan Diki berdenyut lebih keras dari sebelumnya.
"Sstt... diam," bisik Diki tepat di bibir Laila. Tangannya yang lebar membekap mulut Laila, sementara tangan lainnya meremas payudara Laila yang masif dari balik kemeja yang terbuka.
Laila menatap mata Diki dengan pupil yang melebar. Bukannya takut, ia justru meraih tangan Diki dan menuntunnya menuju keintiman bawahnya yang sudah banjir oleh cairan gairah. Ia memberikan tatapan yang seolah berkata: Lakukan sekarang, di sini.
Diki mengerang tanpa suara. Ia membebaskan kejantannya yang sudah menegang maksimal, urat-uratnya menonjol seperti ingin meledak. Dengan gerakan yang sangat lambat namun penuh tenaga, Diki mengangkat tubuh Laila dan menyandarkannya ke dinding beton. Ia menghujamkan miliknya masuk ke dalam kehangatan Laila yang menjepit luar biasa ketat.
Jleb... Laila memejamkan mata rapat-rapat, rintihannya tertahan oleh telapak tangan Diki. Sensasi penuh yang mendesak hingga ke mulut rahimnya terasa berkali-kali lipat lebih intens karena mereka harus tetap sunyi.
"Pak , sepertinya berkasnya terselip di rak sebelah sana," terdengar suara Sespri yang semakin mendekat ke arah rak D.
Diki tidak peduli. Ia memulai gerakan penetrasi yang sangat lambat, panjang, dan dalam. Setiap inci kejantannya menggosok dinding-dinding sensitif Laila yang sudah memanas. Suara decakan cairan yang sangat basah—squelch, squelch—terdengar begitu keras di telinga mereka dalam kesunyian ruangan itu.
"Ahhh... hnnnggg..." Laila merintih tertahan, kuku-kukunya mencengkeram bahu Diki hingga membekas. Ia menarik tangan Diki dari mulutnya dan mengganti posisinya dengan menggigit kerah baju Diki agar suaranya tidak pecah.
Diki mempercepat temponya. Ia mencengkeram kedua payudara Laila yang besar dan padat, meremas gundukan daging putih itu hingga meluap di antara jari-jarinya. Puting Laila yang merah tua dan sangat keras bergesekan dengan kain kemejanya, memberikan stimulasi ganda yang membuat Laila gemetar hebat.
"Sempit sekali, Laila... kamu ingin aku meledak sekarang, hah?" bisik Diki dengan suara parau yang penuh dominasi.
"Iiiihh... iya... hantam aku, Diki... biarkan dia dengar..." Laila membalas dengan bisikan yang sangat erotis, pinggulnya bergerak liar membalas setiap hunjaman Diki. "Hancurkan rahimku di depan Kadis... aku tidak takut!"
Diki melakukan hantaman-hantaman brutal yang sangat dalam. Setiap kali tubuh mereka beradu, Diki memastikan tidak ada suara benturan ke rak besi, namun suara hantaman kulit yang basah—plak, plak, plak
Bersambung…….
Lanjutan Ceritanya KLIK DISINI
ns216.73.217.128da2


