Gedung Kantor tidak pernah benar-benar menyimpan rahasia. Sore itu, tak lama setelah Diki dan Laila keluar dari lift lantai tujuh dengan langkah yang berusaha tenang, seorang petugas kebersihan menemukan genangan cairan kental dan bening yang berbau amis khas di lantai lift. Kabar itu menyebar seperti api di grup WhatsApp staf, namun Diki yang sudah telanjur candu justru merasa tertantang oleh risiko yang semakin tinggi.
Diki memanggil Laila ke ruangannya untuk "Briefing Sore Tertutup". Begitu pintu dikunci, Diki tidak membiarkan Laila bicara. Ia langsung menyudutkan wanita itu ke jendela besar yang menghadap ke halaman kantor, di mana staf lain masih berlalu-lalang di bawah sana.
"Lihat ke bawah, Laila," bisik Diki parau. Ia menarik syal Laila dan merenggut kemeja sutranya hingga bahu Laila terekspos. "Mereka semua sedang membicarakan apa yang kita tinggalkan di lift tadi. Mereka sedang menebak-nebak, siapa wanita yang sudah diperas habis-habisan oleh seseorang di dalam sana."
Laila justru mendesah menantang, ia menempelkan payudaranya yang masif ke kaca jendela yang dingin. "Lalu kenapa, Diki? Bukankah itu yang kau inginkan? Kau ingin semua orang tahu bahwa Kepala Bidang ini adalah milikmu... Ahhh! Sentuh aku, Diki! Aku ingin kau menandai aku lagi tepat di depan jendela ini!"
Diki mengerang liar. Ia merobek kancing kemeja Laila hingga sepasang payudara yang sangat padat dan berat itu membal keluar, menempel pada kaca jendela. Putingnya yang sudah sangat keras tampak seperti ceri yang menggoda. Diki meraup keduanya dari belakang, meremasnya dengan sangat brutal hingga kulit putih Laila memerah.
"Dadamu... adalah piala kemenanganku, Laila!" Diki melahap leher Laila, memberikan gigitan-gigitan kecil yang sangat erotis. Tangan Diki yang lain turun ke bawah, merobek rok span Laila hingga ke pinggang. Tanpa celana dalam, keintiman Laila yang masih sisa-sisa basah dari kejadian di lift tadi tampak berkilau.
Diki membebaskan kejantannya yang sudah berdenyut-denyut menegang maksimal. Ia memutar tubuh Laila agar menungging menghadap jendela. "Lihat mereka di bawah sana, Laila! Aku akan menghajarmu tepat saat mereka berjalan menuju parkiran!"
Dengan satu sentakan brutal, Diki menghunjamkan dirinya kembali ke dalam rahim Laila.
JLEBB! "OHHHH MY GOD! DIKIII! MASUK LAGI!" Laila memekik, wajahnya menempel di kaca jendela yang mulai berembun karena napas panasnya.
Diki memulai gerakan doggy style yang sangat destruktif. Suara hantaman kulit mereka—PLAK! PLAK! PLAK!—bergema keras di ruangan yang sunyi, berpadu dengan suara desahan Laila yang sangat erotis. Diki mencengkeram rambut Laila, menarik kepalanya ke belakang sementara ia terus memompa dengan ritme yang semakin cepat dan bertenaga.
"Sempit sekali, jalang kecilku! Kamu seolah-olah ingin memerah habis seluruh nyawaku!" Diki menggeram, matanya menatap liar pada bokong Laila yang lebar yang bergoyang hebat menerima hantamannya.
"Ah-ah-ahhh! Iya! Hantam aku, Diki! Hancurkan rahimku! Aku ingin kau mengeluarkan semua benihmu di sini, di depan jendela ini!" Laila meracau, suaranya pecah oleh kenikmatan yang luar biasa. "Terus... lebih dalam! Aku ingin merasakannya menyentuh rahimku!"
Diki mempercepat temponya secara membabi buta. Cairan gairah Laila yang berlimpah menciptakan suara decakan SQUELCHING yang sangat keras setiap kali Diki masuk dan keluar. Ia memberikan sentakan-sentakan pendek yang bertenaga tepat di titik sensitif Laila, membuat wanita itu menjerit-jerit sejadi-jadinya,
Bersambung…….
Lanjutan Ceritanya KLIK DISINI
ns216.73.217.128da2


