Pukul dua siang, gedung kantor sedang berada di puncak kesibukannya. Namun, Diki dan Laila baru saja keluar dari ruang rapat di lantai dasar dengan sisa-sisa ketegangan yang belum tuntas. Saat mereka berjalan menuju lift khusus , Diki memberikan isyarat pada petugas keamanan untuk tidak ikut masuk. Begitu pintu lift tertutup rapat dan lampu indikator menunjukkan angka menuju lantai tujuh, Diki langsung menekan tombol Emergency Stop.
Lift itu terhenti di antara lantai tiga dan empat dengan sentakan kecil.
"Apa yang Bapak lakukan?" bisik Laila, meskipun matanya sudah berkilat penuh nafsu. Ia bersandar di dinding lift yang terbuat dari stainless steel dingin. Hari itu ia mengenakan rok span sangat ketat dan kemeja sutra tanpa lengan yang membuat dadanya yang besar menonjol ke depan dengan sangat provokatif.
"Aku tidak bisa menunggu sampai kita di ruangan, Laila," geram Diki. Ia langsung merangsek maju, menghimpit tubuh Laila ke dinding lift yang mengilap. "Aroma tubuhmu saat rapat tadi benar-benar menyiksaku. Kamu sengaja membusungkan dadamu di depan para kepala dinas, hah?"
Laila tertawa erotis, ia menarik kerah kemeja Diki. "Aku hanya ingin mereka tahu betapa beruntungnya atasanku memiliki 'aset' seperti ini." Ia kemudian menarik tangan Diki dan menekankannya ke atas payudaranya yang masif dan kenyal. "Lihat betapa kerasnya jantungku berdetak, Diki. Aku ingin kau menghajarku di sini, dengan risiko siapa pun bisa membuka pintu ini."
Diki tidak banyak bicara. Ia langsung merobek kancing kemeja Laila hingga dua teratas terlepas, membiarkan sepasang gundukan daging yang sangat padat itu meluap keluar. Karena Laila tidak mengenakan bra sesuai instruksi Diki, payudaranya langsung membal bebas, bergoyang mengikuti napasnya yang memburu.
"Tuhan, Laila... Mereka sangat berat," Diki melahap salah satu puncaknya, menghisapnya dengan sangat kasar hingga suara SLURP dan CHUP yang basah bergema di ruang lift yang sempit itu. Tangannya yang lain meremas payudara satunya dengan brutal, menciptakan bekas kemerahan yang mencolok di kulit putih Laila.
"AAHHH! Diki! Cepat... masuk sekarang!" Laila merintih, ia mengangkat rok spannya hingga ke pinggang, memamerkan paha mulusnya yang sudah sangat basah.
Diki membebaskan kejantannya yang sudah menegang maksimal, berdenyut-denyut seperti ingin meledak. Ia mengangkat tubuh Laila, membuat wanita itu melingkarkan kakinya yang jenjang ke pinggang Diki. Dengan satu sentakan bertenaga yang dibantu gravitasi, Diki menghunjamkan miliknya ke dalam kehangatan Laila.
JLEBB! "OHHHH MY GOD! DIKIII! MASUK SEMUANYA!" Laila menjerit, suaranya memantul di dinding besi lift.
Diki memulai gerakan yang liar dan cepat. Ia menumbuk Laila ke dinding lift, menciptakan suara benturan logam—DUNG! DUNG! DUNG!—yang berpadu dengan suara hantaman kulit yang basah—PLAK! PLAK! PLAK!. Adrenalin karena takut tertangkap membuat gairah mereka berlipat ganda.
"Sempit sekali, Laila! Kamu seolah ingin meremas habis milikku!" Diki menggeram, wajahnya memerah penuh urat kenikmatan. Ia mencengkeram payudara Laila, menariknya ke atas agar ia bisa menghisap putingnya sambil terus memompa dengan ritme yang tidak stabil.
"Ah-ah-ahhh! Iya! Hantam aku, Diki! Aku suka... aku suka caramu merusakku di lift ini!" Laila meracau, suaranya pecah. "Aku ingin kau mengisi rahimku sebelum pintu ini terbuka! Cepat, Diki! Hantam lebih dalam!"
Bersambung…….
Lanjutan Ceritanya KLIK DISINI
ns216.73.217.128da2


