Obsesi Diki terhadap Laila telah mencapai tahap yang hampir tidak masuk akal. Baginya, Laila bukan lagi sekadar bawahan atau teman tidur; Laila adalah candu yang aromanya tertinggal di setiap sudut ruangannya. Pagi itu, Diki memanggil Laila ke ruangannya dengan dalih "koreksi laporan mendesak" hanya satu jam setelah jam kantor dimulai.
Laila masuk mengenakan blazer abu-abu yang pas di badan, namun seperti perintah Diki sebelumnya, ia tidak mengenakan bra. Blazer itu hanya dikancingkan oleh satu kancing tunggal di bagian tengah, membuat belahan dadanya yang masif tampak seperti jurang yang mengundang bahaya.
"Bapak memanggil saya?" bisik Laila. Ia tidak berdiri di depan meja, melainkan langsung berjalan ke belakang kursi kebesaran Diki.
Diki memutar kursinya, lalu menarik Laila hingga wanita itu berdiri di antara kedua pahanya. Diki membenamkan wajahnya tepat di tengah-tengah dada Laila, menghirup aroma parfum Vanilla yang bercampur dengan aroma kulit hangat Laila yang murni.
"Kamu tidak memakai bra... persis seperti yang aku perintahkan," geram Diki. Suaranya serak, penuh dengan ketegangan yang tertahan sejak ia bangun tidur.
Laila mendesah, tangannya merayap ke rambut Diki dan menekankan wajah pria itu lebih dalam ke dadanya. "Ahhh... Diki, rasakan betapa kerasnya putingku hanya karena membayangkan wajahmu di sini. Aku merasa sangat... telanjang di depan staf lain tadi."
Diki tidak lagi bisa menahan diri. Ia membuka satu-satunya kancing blazer Laila, membiarkan kedua payudara Laila yang besar dan padat itu membal bebas, menggantung dengan indahnya tepat di depan wajahnya. Kulitnya putih bersih, dengan ujung yang sudah menegang merah tua.
"Tuhan, Laila... mereka begitu berat dan panas," Diki meraup keduanya dengan tangannya yang lebar, meremasnya dengan brutal hingga dagingnya meluap di sela-sela jarinya. Ia mulai melahap salah satu puncaknya, menghisapnya dengan suara SLURP yang sangat basah dan berisik, seolah ingin menelan seluruh keindahan itu.
"AAHHH! Diki! Pelan sedikit... nanti ada yang dengar!" Laila merintih, namun ia justru semakin membusungkan dadanya agar Diki bisa lebih puas menikmatinya.
Diki berdiri, mengangkat tubuh Laila dan mendudukkannya di atas meja jati yang sudah menjadi saksi bisu berkali-kali. Ia merobek rok span Laila hingga ke paha atas, menemukan bahwa Laila kembali tidak mengenakan celana dalam.
"Kamu benar-benar ingin aku menghancurkanmu pagi-pagi begini, hah?" Diki membebaskan miliknya yang sudah berdenyut keras, menegang maksimal hingga urat-uratnya menonjol.
Tanpa basa-basi, Diki menghujamkan dirinya ke dalam kehangatan Laila yang sudah sangat banjir dan memanas.
JLEB! "OHHH MY GOD! DIKIII! MASUK LAGI!" Laila memekik, tubuhnya gemetar saat merasakan penetrasi yang begitu penuh hingga menabrak mulut rahimnya dalam satu sentakan.
Diki memulai gerakan yang sangat liar dan destruktif. Setiap tumbukan tubuh mereka menghasilkan suara PLAK! PLAK! PLAK! yang sangat eksplisit, berpadu dengan suara decakan cairan gairah yang sudah meluap—crot, crot, plak. Diki mencengkeram payudara Laila, menariknya ke arahnya sementara ia terus memompa dengan ritme yang semakin cepat.
"Rasakan ini, Laila! Rasakan bagaimana atasannmu merusakmu di pagi yang cerah ini!" Diki menggeram, matanya menatap liar pada payudara Laila yang bergoyang hebat mengikuti irama hantamannya yang brutal.
"Iiiihh... iya! Hancurkan aku! Aku ingin kau keluar di dalamku sekarang! Aku ingin kau memenuhiku sampai tumpah ke atas meja ini!" Laila meracau, tangannya mencakar-cakar punggung Diki, meninggalkan bekas merah yang perih namun nikmat.
Diki mempercepat temponya secara membabi buta. Ia memberikan sentakan-sentakan pendek yang sangat cepat dan bertenaga di titik sensitif Laila, membuat wanita itu menjerit-jerit kegirangan. Ruangan itu kini benar-benar panas oleh uap gairah yang meluap-luap.
"Aku akan meledak, Laila! Aku akan menghabisimu!
Bersambung…….
Lanjutan Ceritanya KLIK DISINI
ns216.73.217.128da2


