Kabar burung mulai terbang di koridor kantor. Tatapan mata Adi, sang Sespri, yang tampak gelisah setiap kali melihat Laila keluar dari ruangan Diki dengan rambut yang sedikit acak-acakan dan aroma parfum yang terlalu pekat, memicu spekulasi di grup percakapan rahasia para staf. Namun, bagi Diki dan Laila, risiko tertangkap justru menjadi bensin yang membakar gairah mereka lebih hebat lagi.
Sore itu, suasana kantor sangat sunyi. Diki meminta Laila untuk "merapikan berkas lama" di ruang arsip yang terletak di lantai paling bawah, tempat yang jarang dikunjungi staf karena suasananya yang gelap dan pengap. Begitu pintu besi berat itu tertutup, Diki langsung memojokkan Laila ke deretan lemari besi yang dingin.
"Semua orang membicarakanmu, Laila. Mereka membicarakan bagaimana dadamu selalu terlihat lebih menonjol setiap kali kamu keluar dari ruanganku," bisik Diki, suaranya parau penuh ancaman sekaligus nafsu.
Laila tertawa kecil, suara tawanya memantul di antara rak-rak arsip. Ia sengaja membuka kancing kemejanya satu per satu, memperlihatkan payudaranya yang besar dan berat yang seolah ingin segera membebaskan diri. "Biarkan mereka bicara, Diki. Bukankah itu membuatmu semakin ingin merasakannya? Bukankah itu membuat milikmu semakin keras saat ini?"
Diki tidak menjawab. Ia langsung meraup kedua payudara Laila yang masif itu, meremasnya dengan brutal hingga jemarinya tertanam dalam di daging yang kenyal dan hangat. Ia menarik puncak payudaranya dengan kasar, membuat Laila menjerit erotis yang tertahan oleh dinding ruang arsip yang tebal.
"Kamu benar-benar jalang yang haus, Laila. Kamu ingin aku menghajarmu di sini, di antara debu dan dokumen-dokumen ini?" geram Diki.
"Ya! Hantam aku, Diki! Aku ingin kau menandai tubuhku di tempat ini juga!" Laila meracau, tangannya dengan cepat membuka ikat pinggang Diki dan mengeluarkan kejantanan pria itu yang sudah menegang maksimal dan berdenyut hebat.
Diki mengangkat tubuh Laila, mendudukkannya di salah satu rak besi yang kuat. Ia memisahkan paha Laila yang lebar, memperlihatkan keintiman wanita itu yang sudah sangat becek dan memerah. Tanpa pelumas tambahan, Diki langsung menghujamkan miliknya ke dalam kehangatan Laila dalam satu hentakan bertenaga yang membuat lemari besi itu bergetar keras.
Jleb! "OHHHH! DIKIII! MASUK SEMUANYA!" Laila memekik, kepalanya menengadah ke langit-langit ruang arsip yang remang.
Diki memulai gerakan yang sangat liar dan destruktif. Setiap tumbukan tubuh mereka menghasilkan suara PLAK! PLAK! PLAK! yang sangat eksplisit, berpadu dengan suara decakan cairan gairah yang sudah meluap—crot, crot, plak. Diki mencengkeram payudara Laila, menariknya ke atas seolah ingin memamerkan keindahan itu pada kegelapan ruangan.
"Lihat bagaimana payudaramu bergoyang liar mengikuti irama hantamanku, Laila! Kamu seolah-olah memang diciptakan hanya untuk kupompa habis-habisan!" Diki menggeram, wajahnya memerah penuh ketegangan seksual yang mencapai puncak tertinggi.
"Ah-ah-ahhh! Iya... terus! Hantam aku lebih dalam, Diki! Aku suka caramu menguasai tubuhku di tempat kotor ini!" Laila merintih, suaranya kini benar-benar pecah oleh kenikmatan yang luar biasa. Ia melingkarkan kakinya erat di pinggang Diki, mencoba menghisap setiap inci kejantanan Diki lebih jauh ke dalam dirinya.
Diki mempercepat temponya secara membabi buta. Ia memberikan sentakan-sentakan pendek yang sangat cepat dan bertenaga di titik sensitif Laila, lalu diikuti dengan hantaman panjang yang menabrak mulut rahim wanita itu. Suasana di ruang arsip itu menjadi sangat panas dan pengap oleh uap gairah mereka berdua.
"Aku akan meledak, Laila! Aku akan membanjirimu sampai rahimmu sesak!" Diki berteriak parau, otot-otot lengannya menegang keras saat ia menopang tubuh seksi Laila.
"YA! KELUARKAN! SEKARANG, DIKIII! AH-AH-AHHHH!"
Bersambung…….
Lanjutan Ceritanya KLIK DISINI
ns216.73.217.128da2


