Obsesi Diki telah melampaui batas kewarasan. Setelah sesi brutal di atas sofa kulit, ia merasa bahwa memiliki tubuh Laila secara fisik saja tidak cukup. Ia ingin memiliki esensinya, ingin bisa melihat kembali setiap ekspresi kehancuran nikmat di wajah Laila kapan pun ia mau. Malam itu, di bawah lampu kantor yang temaram, Diki mengeluarkan ponselnya dan menyandarkannya di tumpukan buku di atas meja kerja, mengarahkan lensanya tepat ke arah sofa.
"Diki... apa yang kamu lakukan?" bisik Laila, suaranya serak, matanya menatap kamera kecil yang kini mulai merekam pergerakan mereka.
"Aku ingin melihatmu lagi dan lagi, Laila. Aku ingin melihat bagaimana dadamu bergoyang dan bagaimana matamu memutih saat aku berada di dalammu," geram Diki. Ia merangkak kembali ke arah Laila, menarik kaki wanita itu hingga posisinya kini menungging menghadap kamera, memamerkan keindahan tubuh bagian belakangnya yang polos dan berkilau oleh peluh.
Laila tidak menolak; adrenalin karena direkam justru membuat keintiman bawahnya berdenyut lebih hebat. "Kalau begitu... pastikan kau merekam bagian terbaiknya, Diki. Tunjukkan pada dunia—atau hanya untukmu sendiri—betapa jalangnya Kepala Bidangmu ini."
Diki tidak menunggu lagi. Ia memegang pinggul Laila dengan sangat kuat, lalu menghujamkan miliknya yang sudah kembali menegang maksimal ke dalam rahim Laila yang masih basah kuyup.
JLEBB! "AAHHH! DIKIII!" Laila menjerit tepat ke arah kamera, wajahnya menoleh ke samping sehingga ekspresi kenikmatannya terekam sempurna.
Diki memulai gerakan penetrasi yang sangat cepat dan eksplisit. Setiap tumbukan pangkal pahanya menghasilkan suara PLAK! PLAK! PLAK! yang sangat keras, bergema di ruangan sunyi itu. Ia mencengkeram kedua payudara Laila dari bawah, mengangkat gundukan masif itu agar terlihat jelas di dalam rekaman.
"Lihat ini, Laila! Lihat bagaimana dadamu membal-bal setiap kali aku menghantammu!" Diki menggeram liar. Ia mempercepat temponya, memberikan sentakan-sentakan pendek yang bertenaga tepat di titik paling sensitif Laila. Cairan pelumas alami Laila yang meluap menciptakan suara decakan SQUELCHING yang sangat keras dan erotis, terdengar jelas dalam kesunyian rekaman itu.
"Ah-ah-ahhh! Iya! Hantam aku lebih dalam, Diki! Aku ingin rekaman ini menangkap saat aku pecah karena milikmu!" Laila meracau, suaranya pecah, pinggulnya bergerak liar membalas setiap hunjaman Diki.
Intensitas gairah mereka mencapai titik didih. Diki mencengkeram rambut Laila, menarik kepalanya ke belakang hingga lehernya menegang cantik, sementara ia terus melakukan hantaman-hantaman brutal yang menabrak mulut rahim berkali-kali. Ia bisa merasakan rahim Laila mulai menjepit miliknya dengan kontraksi yang sangat kuat, tanda bahwa ledakan sudah sangat dekat.
"Aku akan meledak, Laila! Lihat ke kamera! Tunjukkan wajahmu saat aku membanjirimu!" Diki berteriak parau, wajahnya memerah penuh urat kenikmatan.
"YA! KELUARKAN! SEKARANG, DIKIII! AH-AH-AHHHH!"
Klimaks ini terasa abadi dan sangat destruktif. Diki melakukan belasan hantaman brutal terakhir yang tak kenal ampun, menekan tubuh Laila sekuat tenaga ke sofa. Ia mengerang panjang dan primitif saat merasakan benih panasnya menyembur deras dalam volume yang luar biasa besar, memenuhi rahim Laila dengan gelombang panas yang seolah meledak di dalam. Laila menjerit-jerit sejadi-jadinya
Bersambung…….
Lanjutan Ceritanya KLIK DISINI
ns216.73.217.128da2


