Bab 2: Rencana di Tengah Malam Panas
4577Please respect copyright.PENANANpdjnRb3q4
Malam semakin larut di rumah besar Pondok Indah itu. Jam dinding di ruang tamu sudah menunjukkan pukul sebelas lewat, tapi di kamar utama lantai dua terasa, udara semakin panas meski AC diatur ke suhu 18 derajat. Widya baru saja menutup pintu kamar dengan pelan setelah mengantar Dimas pulang tadi. Wajahnya masih menyimpan senyum tipis—senyum yang penuh rahasia dan hasrat yang sudah terlalu lama ia pendam.
4577Please respect copyright.PENANA4kbVgEH6dy
Ia melepas kimono sutra merah yang tipis itu, membiarkannya jatuh ke lantai seperti daun kering. Tubuhnya yang berusia 38 tahun masih terlihat hampir sempurna: payudara F-cup yang sama besar dan kencang seperti milik putrinya, pinggang ramping, bokong bulat besar yang selalu membuat Mulyo tergila-gila, dan kulit putih mulus yang seolah-olah tidak merasakan waktu. Puting pink kecilnya sudah terjadi karena antisipasi—ia tahu malam ini akan panjang.
4577Please respect copyright.PENANApSyPh5wC0M
Mulyo sudah menunggu di kasur. Ia duduk bersandar di kepala tempat tidur, telanjang bulat. Penisnya yang 19 cm berdiri tegak sempurna, urat-uratnya menonjol jelas di bawah kulit sawo matang yang sehat. Kepala penis besar itu sudah mengkilap karena tetesan cairan pra-ejakulasi yang keluar sejak tadi. Matanya tajam menatap istrinya, penuh dominasi yang selalu membuat Widya merinding nikmat.
4577Please respect copyright.PENANAFCRJOMDGs0
“Kamu lama sekali,” ujar Mulyo dengan suara dalam yang bergetar. “Ceritakan lagi.Detailnya.”
4577Please respect copyright.PENANAadeAkgKp9z
Widya turun ke atas ranjang, gerakannya seperti kucing betina yang sedang menggoda. Ia berlutut di antara kaki suaminya, tangannya langsung meraih batang penis tebal itu. Jarinya tidak bisa melingkari sepenuhnya—terlalu besar.
4577Please respect copyright.PENANAk0jIcSYV4k
“Tadi aku berdiri di pintu kamar Santi,” mulai Widya sambil mengocok pelan, ibu menggelitik menggosok kepala penis yang licin. "Dimas duduk di tepi ranjang. Tangannya meremas payudara kiri Santi yang sudah keluar dari crop top-nya. Putingnya pink, mengeras, dan setiap kali dia cubit, Santi mendesah pelan meski masih tidur. 'Mmmh…' begitu suaranya. Lalu Dimas mengeluarkan tititnya… kecil sekali, Sayang. Panjangnya hanya segini—" Widya menunjukkan jarak sekitar delapan sentimeter dengan jari telunjuk dan jempolnya. "Dia mengocoknya sambil terus meremas. Napasnya cepat, wajahnya merah. Aku hampir tertawa melihatnya. Dia terlihat sangat… lapar, tapi alatnya tidak sebanding dengan nafsunya."
4577Please respect copyright.PENANAJdkQRZgkdQ
Mulyo tersenyum licik. Penisnya berdenyut keras di tangan Widya.
4577Please respect copyright.PENANABB2sh1uN8v
“Dan kamu hanya berdiri melihat?”
4577Please respect copyright.PENANAKRJVLIqXMM
"Aku batuk pelan-pelan supaya dia sadar. Dia panik sekali, buru-buru masukin lagi. Wajahnya seperti mau nangis. Aku pura-pura tidak tahu apa-apa, antar dia ke pintu depan. Tapi dalam hati aku mikir… anak kita tidak akan pernah puas dengan ini."
4577Please respect copyright.PENANAi4xCAKMMFO
Widya menunduk, membuka mulut lebar-lebar. Ia menelan kepala penis Mulyo dulu, lalu perlahan menurunkan kepalanya lebih dalam. Bibirnya meregang lebar, pipinya menggembung. Ketika penis itu masuk sampai setengah, tenggorokannya mulai terasa penuh. Ia menarik napas dalam melalui hidung, lalu mendorong lagi—sampai hidungnya menempel di perut suaminya.
4577Please respect copyright.PENANAoQrgAFSkUd
*Gluk… gluk… gluk…*
4577Please respect copyright.PENANA9DxtX38VT5
Suara basah dan dalam bergema di kamar yang sunyi. Tenggorokan Widya terlihat mengembung jelas dari luar—bukti latihan bertahun-tahun yang dilakukan Mulyo padanya. Air liur menetes dari sudut tepi, jatuh ke selimut. Matanya menatap ke atas, penuh penyerahan dan kenikmatan.
4577Please respect copyright.PENANApDimAuxqZA
Mulyo menggenggam rambut hitam panjang istrinya, menekan kepalanya lebih dalam lagi.
4577Please respect copyright.PENANAkfW6A5APcw
“Bagus… teruskan… telan semuanya seperti biasa.”
4577Please respect copyright.PENANA9zYwko3SSQ
Widya mengeluarkan penisnya sebentar untuk menarik napas, benang air liur masih menghubungkan ujungnya dengan kepala penis. Lalu ia kembali menelannya sampai habis, hidungnya ditekan kuat ke perut Mulyo. Ia menahan selama hampir dua puluh detik sebelum mundur, batuk kecil tapi tetap tersenyum.
4577Please respect copyright.PENANAsDoimmnczr
“Kontol kamu… selalu bikin tenggorokan aku penuh… selalu bikin aku merasa… dimiliki.”
4577Please respect copyright.PENANA8ENUsU4fnm
Mulyo menarik Widya naik, posisinya sehingga istrinya sekarang duduk di pangkuannya menghadap ke depan. Widya mengangkat pinggul, memposisikan vagina basahnya tepat di atas kepala penis besar itu. Ia menurunkan tubuh secara perlahan.
4577Please respect copyright.PENANAMggrZlGf5g
“Ahhh…!” jeritnya pelan saat kepala penis memaksa membuka bibir vaginanya yang sudah licin. Rasa penuh langsung menyerang—selalu begitu, meski sudah puluhan tahun ia merasakan ukuran yang sama. Dinding vaginanya terasa meregang secara maksimal, setiap inci yang masuk membuatnya menempel.
4577Please respect copyright.PENANAf6PqEtzb3Q
“Sakit… tapi enak… selalu begini rasanya…” desah Widya sambil terus menurunkan bokongnya sampai pangkal penis Mulyo tertanam sepenuhnya di dalam tubuhnya.
4577Please respect copyright.PENANA17qDm8Nxcj
Ia mulai menggerakkan pinggulnya naik-turun. *Plok… plok… plok…* suara bokong besarnya terdengar dengan paha suaminya terdengar ritmis, semakin cepat. Payudaranya bergoyang keras, puting pink-nya bergesekan dengan dada Mulyo yang berotot. Bau keringat dan hasrat mereka bercampur di udara—aroma maskulin Mulyo dan parfum vanila manis Widya.
4577Please respect copyright.PENANA1ypnClre7N
Mulyo meraih kedua payudara istrinya, meremas keras sampai jari-jarinya meninggalkan bekas merah samar di kulit putih itu. Ia menarik puting kiri ke depan, lalu menggigitnya dengan gigi depan—tidak terlalu keras, tapi cukup membuat Widya menjerit nikmat.
4577Please respect copyright.PENANAyIx947GZC9
"Aaahhh! Mulyo… gigit lagi… lebih keras…!”
4577Please respect copyright.PENANAHvey8o1QSv
Ia menggigit lebih kuat. Widya mengejang, vaginanya mengerut kuat di sekitar penis suaminya. Cairannya mulai menetes membasahi pangkal penis dan selimut di bawah.
4577Please respect copyright.PENANA9OboOCT1Bc
Di tengah gerakan pembohong itu, Widya berbisik di telinga Mulyo, suaranya terputus-putus karena desahan.
4577Please respect copyright.PENANAKNYklcjGrC
“Santi… anak kita… vaginanya sudah dibor bertahun-tahun… untuk titit besar seperti milikmu… dia tidak akan puas dengan titit kecil Dimas… dia butuh… yang bisa mengisi sampai rahim… yang bisa membuatnya menjerit… seperti aku sekarang…”
4577Please respect copyright.PENANA3d73Uk5TXF
Mulyo tersenyum gelap. Penisnya berdenyut lebih keras di dalam vagina Widya.
4577Please respect copyright.PENANAM4Mx0UsHaM
"Kalau begitu... malam pertama nanti kita buat dia puas. Aku akan memanggil lima temanku—semuanya punya titit 17 sampai 20 cm. Kita akan gangbang Santi di depan Dimas. Biar dia melihat istri menikmati apa yang sebenarnya dia butuhkan."
4577Please respect copyright.PENANAaXQFpL9R8R
Widya mengejang hebat mendengarnya. Orgasmanya datang tiba-tiba, cairannya menyembur deras membasahi perut Mulyo.
4577Please respect copyright.PENANA607lkSdtpf
“Aaahhh… setuju… aku setuju…! Biarkan Santi… merasakan titit besar… biarkan dia orgasme tanpa henti…!”
4577Please respect copyright.PENANAUyo7EkRuqx
Mulyo tidak membiarkan istrinya beristirahat. Ia menggambarkan tubuh Widya dengan kasar, memposisikannya nungging di ranjang. Bokong besar Widya terangkat tinggi, anusnya yang sudah dibor terlihat sedikit terbuka. Mulyo meludahi lubang di belakangnya, mengeluarkan air liurnya dengan jempol, lalu mendorong kepala penisnya masuk.
4577Please respect copyright.PENANAefq6cGFHlA
Widya menjerit lagi. "Aaaahhh! Pelan… tapi jangan berhenti…! Masukin semuanya…!"
4577Please respect copyright.PENANAu8fEhZC8qh
Penis 19 cm itu masuk perlahan tapi pasti. Rasa terbakar dan penuh menyerang anus Widya—sensasi yang selalu membuatnya gila. Dinding anusnya meregang lebar, setiap inci yang masuk terasa seperti api kenikmatan. Ketika pangkal penis menyentuh bokongnya, Widya sudah gemetar hebat.
4577Please respect copyright.PENANARxB0kDhUYo
Mulyo mulai menggenjot—pelan dulu, lalu semakin cepat. *Plak… plak… plak…* suara paha dipicu dengan bokong terdengar keras. Widya menjambak penyiaran, mulut terbuka lebar mengeluarkan dan desahan bergantian.
4577Please respect copyright.PENANAkjxqTHYcSb
"Lebih keras…! Siksa aku…! Aku suka… kalau kamu kasar…!”
4577Please respect copyright.PENANACyvF4y8i4E
Mulyo menampar bokong kanan Widya dengan keras sekali. *Plak!* Bekas merah langsung muncul di kulit putih itu. Widya menjerit nikmat, vaginanya yang kosong meneteskan cairan lagi.
4577Please respect copyright.PENANAk8x0rIRIZU
“Anak kita akan seperti ini nanti,” ujar Mulyo sambil terus menggenjot anus istrinya. “Dia akan menjerit minta lebih… dia akan meminta titit besar… dan Dimas hanya bisa menonton… sambil titit kecilnya tegang tapi tidak berguna.”
4577Please respect copyright.PENANAYa5fV54SUU
Widya orgasme lagi—kali ini lebih hebat. Tubuhnya mengejang, anusnya mengerut kuat di sekitar penis Mulyo. Cairannya menyembur ke selimut, membuat noda basah besar.
4577Please respect copyright.PENANAQBxKtn3ldl
“Aaahhh… ya… biarkan Santi… jadi milik titit besar… aku mau lihat dia… diisi banyak titit… seperti aku sekarang…!”
4577Please respect copyright.PENANA2zmFDqo914
Mulyo mempercepat gerakan. Penisnya berdenyut keras di dalam anus Widya. Ia menarik rambut istrinya ke belakang, memaksa Widya menoleh.
4577Please respect copyright.PENANADqF8UnVD6K
“Lihat aku… lihat siapa yang menguasaimu…”
4577Please respect copyright.PENANAjK3VQTLuub
Widya menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca karena kenikmatannya. “Kamu… hanya kamu… tapi Santi… dia juga butuh banyak… seperti ibu…”
4577Please respect copyright.PENANA548C5n3kbe
Akhirnya Mulyo mencapai puncak. Ia menarik penisnya keluar dari anus, memposisikan kepala penis di depan mulut Widya yang sudah terbuka lebar. Widya langsung menelan sampai pangkal lagi, menahan penis itu di tenggorokan saat Mulyo menyemprotkan cairannya langsung ke dasar tenggorokan.
4577Please respect copyright.PENANAJO9I3B6sSi
*Gluk… gluk…*
4577Please respect copyright.PENANAzWhUkQdnWn
Widya menelan semuanya tanpa tersisa—setiap tetes sperma hangat itu masuk ke dalam perut. Ia menjilat bersih kepala penis suaminya, lalu tersenyum lelah tapi puas.
4577Please respect copyright.PENANAD5TR1jEF77
Mulyo menarik Widya ke pelukannya. Mereka berbaring bersama, napas masih tersengal.
4577Please respect copyright.PENANA7DZMEP3YIq
“Rencana malam pertama sudah jelas,” ujar Mulyo pelan. "Hotel itu sudah kita siapkan ruang sambungannya. Lima temanku akan masuk lewat pintu samping. Dimas tidak akan bisa lari. Santi akan puas… dan Dimas akan belajar di tempatnya."
4577Please respect copyright.PENANA5oA3quYR30
Widya mengangguk, jarinya mengelus dada suaminya. “Dia akan tetap menjadi istri Dimas… tapi tubuhnya… milik kita… milik titit besar yang bisa memuaskannya.”
4577Please respect copyright.PENANAloB34dhJrw
Malam itu berakhir dengan pelukan hangat, tapi di benak mereka berdua, gambar Santi yang akan menjerit kenikmatan di malam pernikahannya sudah terpampang jelas.
4577Please respect copyright.PENANAbIAYpF4IAP
Sementara itu, di apartemennya, Dimas tertidur dengan penis kecilnya yang masih setengah tegang karena mimpi basah tentang payudara Santi. Ia tidak tahu bahwa tiga hari lagi, mimpi itu akan menjadi kenyataan—tapi bukan seperti yang ia bayangkan.
LANJUTAN CERITA BISA DI AKSES DI https://lynk.id/novelhambilah
4577Please respect copyright.PENANARaxJ2Ufykr


